(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Rapat yang menegangkan
Farhan berdiri mematung di tempatnya, napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya, untuk pertama kalinya sejak bekerja di Pradipta Grup, jabatan yang selama ini begitu ia banggakan terasa tidak berarti sama sekali.
Raka mengalihkan pandangannya seolah pembicaraan itu telah selesai, tidak ada bentakan, tidak ada ancaman cukup menunjukan ketenangannya, semua orang bisa merasakan ketegangan yang tak kasat mata.
“Pak Dion,” ucap Raka tenang pada Direktur Operasional.
“Ya, Tuan muda.”
“Lakukan evaluasi ulang seluruh divisi operasional, aku ingin laporan lengkap minggu ini, termasuk kinerja manager dan penggunaan anggaran tiga kuartal terakhir.”
Direktur Operasional langsung menegakkan tubuh. “Baik, Tuan muda.”
Raka mengangguk tipis lalu melirik sekilas pada Farhan.
“Untuk sementara,” lanjutnya datar, “tetap bekerja seperti biasa.”
Farhan refleks mengangkat kepala cepat, secercah lega muncul di wajahnya. Namun sebelum sempat bernapas lega terlalu jauh, kalimat berikutnya membuat tenggorokannya kembali terasa kering.
“Karena aku lebih suka mengambil keputusan setelah melihat semuanya secara utuh.”
Nada suaranya tetap tenang, tetapi siapa pun di sana cukup mengerti makna di balik kalimat itu.
Farhan sedang berada di ujung tanduk, Raka kemudian berbalik tanpa berkata apa-apa lagi. Jack langsung mengikuti di sisi kanan, sementara Selina berjalan santai di sebelah kiri sambil sesekali melirik Farhan dengan ekspresi sulit dijelaskan.
“Kasihan juga,” gumamnya pelan tanpa benar-benar terdengar iba. “Pagi-pagi sudah cari masalah.”
Lift eksekutif terbuka beberapa saat kemudian, begitu pintu tertutup, suasana di luar baru terasa hidup kembali, bisik-bisik langsung terdengar pelan di antara staf.
Farhan tetap berdiri diam, telapak tangannya mulai terasa dingin, dan untuk pertama kalinya, bayangan wajah Rasti muncul di kepalanya dengan cara yang sama sekali tidak nyaman.
Lantai paling atas gedung utama Pradipta Grup terasa jauh lebih sunyi dibanding area operasional di bawah. Lorong berlapis marmer dengan kaca tinggi memantulkan cahaya pagi, sementara beberapa sekretaris dan staf eksekutif tampak berdiri lebih tegak ketika lift pribadi terbuka.
“Selamat pagi, Tuan muda.”
Sapaan terdengar hampir bersamaan, Raka hanya mengangguk kecil sebelum melangkah menuju ruang rapat utama.
Pintu besar terbuka perlahan, ruangan luas bernuansa modern itu langsung memperlihatkan belasan direksi dan kepala divisi senior yang sudah duduk rapi di tempat masing-masing. Beberapa wajah terlihat tegang, beberapa lainnya tampak penuh rasa ingin tahu.
Di kursi utama ujung meja, Tuan Rendra duduk tenang sambil menyilangkan tangan.
Tatapannya langsung tertuju pada putranya. “Duduk,” ucapnya singkat.
Raka menarik kursi di sisi kanan posisi utama, langkahnya tenang tanpa terlihat sedikit pun gugup, ruangan sempat hening beberapa detik.
Lalu Tuan Rendra membuka suara.
“Mulai hari ini, Raka Pradipta akan turun langsung menangani restrukturisasi internal perusahaan.”
Beberapa wajah berubah samar, sebagian tampak serius, sebagian lagi terlihat tidak terlalu senang.
“Dalam tiga tahun terakhir,” lanjut Tuan Rendra tegas, “perusahaan tidak ada perkembangan yang signifikan. Banyak kebijakan stagnan, efisiensi turun, dan kedisiplinan mulai longgar.”
Jack berdiri di sisi ruangan lalu mulai menampilkan data besar di layar utama.
Grafik profit, penurunan performa, pembengkakan biaya. Beberapa direktur langsung mengubah posisi duduk mereka.
Raka melirik data itu singkat sebelum membuka map di depannya. “Sederhana saja,” ucapnya datar. “Mulai minggu ini, evaluasi performa akan diperketat, sistem kedekatan personal dihapus. Promosi dan posisi hanya berdasarkan hasil kerja.”
Suasana langsung berubah sedikit tegang.
“Jam kerja fleksibel untuk level tertentu akan ditinjau ulang, pemborosan anggaran dihentikan, dan seluruh kepala divisi wajib menyerahkan laporan mingguan langsung ke pusat evaluasi.”
Belum selesai ia bicara, suara kursi bergeser pelan terdengar, seorang pria paruh baya berkacamata mengangkat tangan.
Herman, paman dari Raka, direktur senior yang dikenal cukup lama berada di perusahaan.
“Maaf, Tuan muda,” katanya dengan nada formal namun jelas terdengar tidak sepenuhnya setuju. “Perubahan secepat ini bisa mengganggu stabilitas kerja.”
Di sisi lain meja, seorang pria lebih muda ikut menyandarkan tubuh ke kursi.
Kevin.
Kepala strategi regional.
“Saya setuju,” katanya santai sambil menyilangkan tangan. “Karyawan sudah terbiasa dengan ritme yang sekarang, kalau terlalu mendadak, produktivitas bisa turun.”
Ruangan mendadak lebih sunyi, beberapa orang mulai melirik hati-hati, karena ini pertama kalinya ada penolakan langsung setelah kedatangan Raka.
Selina yang duduk tak jauh dari belakang hanya mengangkat alis kecil, Jack diam tanpa ekspresi.
Sementara Raka sendiri hanya menyandarkan tubuh sedikit ke kursinya, tatapannya berpindah dari Herman ke Kevin secara perlahan.
Beberapa direksi yang sejak tadi hanya memperhatikan mulai saling melirik sekilas, jelas mencoba membaca arah situasi. Tidak ada yang benar-benar berani ikut berbicara lebih dulu, terlebih setelah melihat bagaimana ekspresi Raka sama sekali tidak berubah.
Raka menyandarkan tubuh sedikit ke kursinya, jemarinya bertaut santai di atas meja sebelum pandangannya berhenti pada Herman beberapa detik lebih lama.
“Gangguan stabilitas kerja?” ulangnya tenang.
Herman berdeham kecil lalu mengangguk. “Benar, Tuan muda, perusahaan sebesar ini tidak bisa diubah terlalu cepat. Ada proses yang perlu dijaga agar ritme kerja tetap stabil.”
Kevin ikut menimpali sambil mengangguk kecil. “Saya rasa pendekatan bertahap lebih realistis. Kalau terlalu agresif, bukan tidak mungkin performa justru turun karena tekanan internal.”
Raka tidak langsung menjawab, ia hanya mengangguk kecil seolah mendengar dengan serius, lalu melirik layar besar di belakang yang masih menampilkan grafik performa perusahaan.
“Menarik,” ucapnya akhirnya.
Suasana kembali hening. “Kalau boleh tahu,” lanjutnya santai, “ritme stabil yang kalian maksud ini yang seperti apa?”
Kevin sedikit mengernyit. “Maksud Anda?”
Raka menekan remot kecil di tangannya, layar presentasi langsung berubah memperlihatkan angka-angka evaluasi internal, grafik penurunan efisiensi, biaya operasional yang membengkak.
Komplain klien yang meningkat perlahan selama tiga tahun terakhir.
Ruangan mendadak terasa lebih tegang. “Karena dari data yang sedang kita lihat,” ucap Raka datar, “aku justru melihat perusahaan mulai banyak penurunan.”
Tatapannya berpindah pelan ke arah Herman. “Stabilitas tanpa perkembangan pada akhirnya hanyalah stagnasi.”
Herman sedikit menegang, sementara Kevin mulai mengubah posisi duduknya.
Raka melanjutkan tanpa meninggikan suara sedikit pun. “Kalian mengatakan produktivitas bisa turun kalau aturan diperketat.” Ia berhenti sesaat. “Pertanyaannya, produktivitas tinggi yang mana?”
Tangannya bergerak pelan menunjuk grafik di layar.
“Target regional turun sebelas persen, pemborosan anggaran meningkat, rotasi staf tidak stabil, dan tiga proyek utama terlambat tanpa evaluasi yang jelas.”
Kevin membuka mulut seperti hendak menyela, tetapi urung, Raka tetap berbicara dengan nada yang sama tenangnya. “Kalau kondisi seperti ini masih dianggap efisien, maka mungkin standar kita memang sudah terlalu rendah.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali senyap, beberapa kepala divisi mulai menundukkan pandangan ke dokumen masing-masing.
Tuan Rendra yang sejak tadi diam tampak menyesap kopi dengan santai, tetapi sudut bibirnya bergerak samar, jelas memperhatikan bagaimana putranya mengendalikan situasi.
Herman menarik napas pelan sebelum kembali membuka suara, kali ini jauh lebih hati-hati.
“Kami hanya khawatir perubahan drastis akan menimbulkan resistensi internal, Tuan muda.”
Raka mengangguk kecil. “Bagus,” jawabnya singkat.
Herman tampak sedikit bingung, Raka lalu menyilangkan jemarinya kembali.
“Jika ada resistensi,” katanya tenang, “berarti orang tersebut tidak cocok berada di bawah kepemimpinanku.”
Tatapannya menyapu seluruh ruangan secara perlahan. “Dan orang seperti itu,” lanjutnya tanpa perubahan nada, “biasanya orang yang paling pertama harus dievaluasi.”
Kevin refleks menelan ludah, sementara Herman terdiam beberapa detik lebih lama dari sebelumnya.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km