Arumi Kurnia Ningsih seorang gadis berusia dua puluh tahun. Dia bercita-cita ingin menjadi desainer terkenal. Namun harapan itu pupus ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak juragan teh.
Bagaimanakah hari-hari yang dijalani Arumi setelah menikah, akankah bahagia atau menderita. Yuk segera baca🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Semua masakan Arumi sudah jadi. Ia segera menghidangkannya di atas meja makan. Karena ibu dan mbaknya sudah menunggu.
" Lama banget masaknya"
Arumi hanya diam saja, ia tidak ingin berdebat dengan mbaknya. Selesai menghidangkan makanan, Arumi kembali ke dapur untuk membersihkan peralatan dapur yang ia pakai tadi.
Tok.
Tok.
Tok.
" Assalamualaikum "
" Wa'alaikumsalam"
Arumi segera menghentikan pekerjaannya. Ia segera membukakan pintu untuk tamunya.
" Kamu Ran "
" Iya, emang kamu pikir siapa, pangeran berkuda"
" Emang ada pangeran berkuda yang mau datang ke desa"
" Kayanya nggak ada deh"
Kedua gadis itu pun tertawa.
" Gimana, jadi pergi nggak?"
" Jadi dong Ran, tapi aku selesaikan pekerjaan aku dulu"
" Kerjaan apalagi"
" Cuci piring, sebentar ya. Kamu duduk nyantai aja dulu di sini"
" Aku bantuin kamu deh"
" Makasih, tapi kerjaannya sedikit lagi kok. Jadi kamu duduk manis aja disini "
" Baiklah "
Arumi kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya tadi.
" Siapa yang datang?"
" Rani, Buk"
" Ngapain dia kesini"
" Cuma mau berkunjung aja Buk"
Selesai mencuci piring, Arumi menemui sahabatnya.
" Yuk Ran berangkat "
" Udah selesai cuci piringnya "
" Alhamdulillah sudah, yuk berangkat"
" Nggak dandan dulu "
" Nggak usah "
Rani geleng kepala melihat sahabatnya. Ia memang tidak pernah melihat sahabatnya itu berdandan. Paling cuma pake bedak bayi sama lip tint saja.
" Mau kemana kalian"
" Mau ke pasar mba " jawab Rani.
" Kamu bilang nggak ada uang Rum, tapi kok kamu pergi ke pasar "
" Arumi cuma nemanin aku mba. Kami jalan dulu mba, Assalamualaikum "
" Wa'alaikumsalam "
Rani dan Arumi segera pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk dagangan mereka nanti malam.
" Mba mu minta uang lagi ya "
" Iya Ran, tadi sepulang kerja "
" Terus kamu kasih"
" Nggak, aku nggak ada megang uang lagi. Kamu kan tau sendiri uang gaji ku diambil ibuku semua. Uang upah jahitku juga di ambil sama ibu. Katanya buat beli bahan masak. Tapi tadi pas aku mau masak bahan masakan cuma ada tempe sama kacang panjang "
" Paling uangnya dikasih sama mba kamu "
" Mungkin Ran. Aku nggak tau harus bagaimana lagi Ran. Padahal aku mau beli mesin jahit yang baru, tapi uangku udah di ambil ibu semua "
" Kamu harus simpan di tempat lain Rum. Kalau begini terus, uang mu tidak akan pernah terkumpul "
" Gimana aku mau menyimpan di tempat lain, ibu tau gajiku. Nanti kalau ngasihnya kurang, ibu pasti tanya uangnya kemana "
" Ya bilang udah terpakai untuk beli bedak atau apalah"
" Ibuku kan tau kalau aku nggak suka beli bedak"
" Iya juga sih. Nanti untung penjualan gorengan kita bagi dua. Uangnya biar aku yang simpan, biar kamu ada tabungannya"
" Iya Ran "
Karena jalannya sambil ngobrol, tidak terasa mereka sudah sampai saja di pasar. Suasana di pasar pada siang itu lumayan ramai. Walaupun tidak hari pasar.
" Mau beli apa dulu Ran"
" Kita beli sosis dulu"
Kedua gadis cantik itu segera menuju toko kelontong. Di toko itu memang menyediakan aneka makanan yang sudah di Frozen.
Sebelum mengambil sosis dan kawan-kawannya, Rani menanyakan dulu pada penjualnya mana jajanan yang paling laku sekarang dikalangan anak-anak. Karena target penjualannya anak-anak. Jadi harus cari makanan yang menarik untuk anak-anak juga.
Penjual itupun tidak pelit, dia memberitahu Rani jajanan apa yang paling populer di kalangan anak-anak. Dia juga memberi diskon yang lumayan untuk Rani.
Setelah membayar semua belanjaan, Arumi dan Rani pun meninggalkan toko kelontong itu.
" Mau cari apa lagi Ran"
" Makan dulu yuk, aku udah lapar"
Rani membawa sahabatnya makan bakso gerobak. Bakso gerobak yang ada di pasar memang sudah terkenal karena enak.
" Mang pesan dua porsi bakso"
" Mau setengah atau penuh"
" Penuh Mang"
" Tunggu ya Neng "
" Ok Mang "
Abang penjual bakso membuatkan pesanan untuk kedua gadis cantik itu.
" Udah lama kan kita nggak makan bakso"
" Hhmmm"
Arumi tidak ingat kapan terakhir kali ia makan bakso. Yang pasti sudah sangat lama ia tidak makan bakso.
" Makasih ya Ran sudah ngajak aku makan bakso"
" Kamu nggak usah berterima kasih sama aku. Kita berdua kan sahabat, jadi kita harus berbagi dengan sahabat kita. Suka duka kita harus tetap bersama"
" Aku jadi pengen nangis"
" Jangan dong, aku ngajak kamu kesini bukan untuk melihat air mata kamu. Tapi untuk makan bakso bareng "
Arumi tersenyum mendengar ucapan Rani. Sekarang Arumi cuma punya sahabat yang selalu mau mendengarkan keluh kesahnya.
" Silakan Neng "
" Makasih Mang"
Arumi kaget melihat isi mangkoknya.
" Kenapa?"
" Apa ini nggak kebanyakan"
" Nggak, kita kan sudah lama nggak makan bakso. Jadi hari ini kita puas-puaskan makan baksonya"
" Baiklah "
Arumi juga baru kali ini melihat bakso yang hampir Segede kepala bayi. Terlebih dahulu Arumi mencicipi kuah baksonya. Kuah baksonya terasa gurih. Setelah itu barulah ia memberi sambal sama kecap.
Nggak heran kalau pembelinya rame, karena baksonya memang enak dan dagingnya berasa. Berbeda dengan bakso yang ia beli dulu, yang lebih kentara rasa tepung dibandingkan dagingnya.
Walaupun susah payah, Arumi akhirnya berhasil juga menghabiskan baksonya. Begitu juga dengan Rani.
" Berapa Mang dua porsi bakso penuh"
" Ada tambahannya"
" Nggak"
" Lima puluh ribu aja "
Rani menyerahkan uang satu lembar lima puluh ribu.
" Makasih Mang "
" Sama-sama Neng "
Setelah membayar baksonya, Arumi dan Rani memutuskan untuk pulang. Karena semua bahan-bahan untuk dagangan nanti malam sudah didapat semua.
" Kenyang banget perut aku, Rum"
" Sama Ran, aku juga"
" Nggak apa-apa, sekali-kali nyenangin perut sendiri. Apalagi perut kita jarang-jarang di kasih makan enak"
" Iya Ran"
Apa yang dikatakan sahabatnya ada benarnya. Sekali-kali menyenangkan diri sendiri tidak ada salahnya.
" Rum "
Arumi menghentikan langkahnya saat mendengar namanya di panggil.
" Ibuk mau ke rumah kamu"
" Buk mandor"
" Panggil buk Rita aja. Inikan bukan di jam kerja"
" Baik Buk Rita"
" Ibuk mau mengantarkan kain dasar yang ibu bilang tadi pagi"
" Oh iya, ayo Buk ke rumah. Biar sekalian ukur badannya"
Arumi berpisah dengan sahabatnya, karena mereka sudah sampai di depan rumah Arumi. Arumi membawa buk mandor masuk ke dalam rumahnya.
" Silakan duduk Buk "
" Terima kasih"
Arumi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk buk mandor.
" Buat teh untuk siapa Rum"
" Untuk buk mandor Buk"
" Mandor kamu kesini"
" Nggak, cuma istrinya aja"
" Ngapain dia kesini"
" Katanya mau jahit baju"
" Ya udah cepat kamu antarkan minumnya"
" Iya Buk "
Ibu Arumi senang karena nanti putrinya akan mendapatkan upah. Kebetulan ada barang yang ingin dia beli. Jadi dia bisa meminta uang upah jahit pada Arumi.
" Maaf Buk menunggu lama"
" Aduh Rumi, nggak usah repot-repot buatkan minum untuk ibuk"
" Nggak repot kok Buk, silakan diminum tehnya"
" Makasih Rumi"
Selesai meminum teh dan mengobrol sebentar, Arumi pun mengukur badan buk mandor.
" Kira-kira kapan ibuk jemput Rum?"
" Kalau udah selesai Rumi aja yang mengantarkannya ke Rumah ibuk"
" Nggak usah, mana ada orang yang jahit yang mengantarkan bajunya. Ibuk aja yang jemput "
" Gimana kalau saya bawakan ke tempat kerja Buk"
" Baiklah"
" Bayarannya gimana?, mau sekarang atau nanti aja "
" Nanti aja Buk setelah bajunya jadi"
" Baiklah, kalau begitu ibuk permisi dulu"
Arumi mengantarkan ibuk mandor sampai ke depan pintu.
" Ibuk pulang dulu ya Rum, Assalamualaikum"
" Iya Buk, Wa'alaikumsalam "
Setelah ibuk mandor menjauh dari pandangannya, barulah Arumi menutup kembali pintu rumahnya.
To be continued.
Jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian.
Happy reading 🤗🤗
ibuk macam apa itu pilih kasih..
Arumi diruh itu ini diambik lagi gajinya..
Memeras aja kerjanya.. huh..