"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23 Pelukan Terakhir
Rintik gerimis membasahi bumi, mengiringi air mata duka yang kembali jatuh.
Rapuh.
Perih.
Hancur.
Xavier enggan membawa tubuhnya bangkit. Ia ingin tetap menemani Gea, tak rela meninggalkan gadis yang dicintainya itu terbaring sendiri di dalam perut bumi.
Terselip keinginan untuk menghentikan denyut nadi demi menyusul ke alam abadi. Namun, permintaan terakhir yang dituturkan oleh Gea terus berdengung di telinga.
"Vier..." Ryuga menyentuh lembut bahu Xavier.
Rasa empati mendorongnya untuk tetap menemani, membesarkan hati, dan menguatkan jiwa yang tengah rapuh.
"Gea udah nggak sakit. Dia udah beristirahat damai. Sekarang, tugas lo doain dia. Ikhlasin, biar Gea tenang dan jalannya nggak tersendat."
Xavier meraup udara. Ia memeras kelopak mata, memeluk erat kayu nisan, lalu menciumnya. Seakan-akan tengah memeluk dan mencium Gea untuk yang terakhir kali.
Tak ada kata yang terucap. Hanya isak tangis yang kini mewakili seluruh frasa yang ingin terlontar.
"Vier, kalau lo cinta Gea, lo mesti kuat. Jangan bikin dia sedih di dalam sana," Ryuga kembali bertutur pelan.
Xavier mengindahkan ucapan Ryuga. Ia mengurai pelukan, menyeka sisa air mata, lalu perlahan membawa tubuhnya bangkit berdiri.
"Ada yang mau gue tanyain sama lo," ujarnya tanpa menatap lawan bicara. Suaranya terdengar datar dan dingin.
Ryuga mengulas senyum tipis, lalu menepuk pelan bahu Xavier. "Pasti gue jawab. Kita ngobrol di Kafe Kenangan, dekat sini."
Xavier mengangguk samar. Ia berjalan dengan kaki yang terasa teramat berat untuk melangkah, mengikuti ayunan kaki Ryuga.
Setibanya di Kafe Kenangan, Ryuga memesan dua cangkir Americano dan seporsi French Fries. Tanpa menunggu waktu lama, pesanan sudah tersaji di atas meja, menemani obrolan yang akan dimulai.
"Lo yang ngasih tahu Gea kalau gue ngehancurin hidup Sukma? Menodai sampai bikin dia hamil?" tanya sekaligus tuduh Xavier setelah meneguk Americano miliknya. Nada suaranya masih dingin.
Ryuga mengerutkan dahi. Ia menatap lekat lelaki yang duduk tepat di hadapannya.
"Gue nggak ngasih tahu apa-apa ke Gea. Lagian gue jarang banget ketemu sama dia, apalagi ngobrol. Dan lo mesti ingat, gue bukan tipikal orang yang demen nusuk dari belakang. Menghalalkan segala cara buat hancurin lo--kakak ipar gue," ujar Ryuga. Suaranya tenang, tapi terdengar sangat tegas. Khas pembawaan seorang Presma yang melekat kuat pada dirinya.
"Gue cuma ngasih tahu anak-anak BEM inti, bukan ke yang lain. Gue jamin, mereka nggak bakal nyebarin rahasia itu, apalagi ngasih tahu Gea."
"Lantas, siapa pelakunya? Siapa yang bikin Gea meninggal?!" Nada suara Xavier sedikit meninggi. Ia frustrasi, mencari pelampiasan emosi atas takdir semesta yang dirasanya terlalu kejam.
"Apa yang bakal lo lakuin setelah tahu pelakunya? Lo mau ngeluapin amarah dengan ngebunuh dia? Kalau itu yang mau lo lakuin, mending lo nggak usah tahu. Karena bukannya nyelesaiin masalah, lo malah nyiptain masalah baru. Dan gue pastiin, Gea bakal tambah sedih kalau tahu kelakuan lo."
Hening sejenak hadir seusai Ryuga bertutur.
"Insaf, Vier. Renungi dosa besar yang pernah lo perbuat. Jangan sampai lo ngelakuin dosa besar lagi dan bikin hidup lo makin hancur."
Xavier menunduk. Ia menelaah rangkaian kata penuh tamparan yang baru saja didengarnya.
"Gue punya janji sama Gea," ucapnya setelah sekian detik terdiam membisu.
Ryuga menegakkan posisi tubuhnya. Ia melipat tangan di dada, mengunci atensi pada satu objek, bersiap mendengar kalimat yang ingin diutarakan oleh Xavier.
"Gea minta gue buat nyari Sukma dan nikahin dia..." Xavier menjeda ucapannya. Ia menelan ludah, lalu kian menundukkan kepala.
"Sukma hamil," imbuhnya lirih.
Ryuga membuang napas berat. Ia paham dengan apa yang tengah dirasakan oleh Xavier saat ini. Pria di depannya bukan hanya hancur karena kepergian Gea, tapi juga hancur karena janji sekaligus tanggung jawab besar yang mesti segera ditunaikannya.
"Gue bakal bantu lo nyari Sukma," sahut Ryuga serius.
"Gue nggak tahu mesti gimana menghadapi Sukma. Pasti dia masih marah. Mungkin juga dendam. Kalau dia nggak mau gue nikahin, apa yang mesti gue lakuin?"
"Yang penting lo berusaha dulu. Cari Sukma, penuhin janji, dan jalanin tanggung jawab. Nggak usah terjebak sama pikiran yang belum tentu benar."
Hening kembali hadir memberi jeda. Namun, hanya untuk sekian detik.
"Soal kepergian Aluna ke Inggris, gue mau tahu alasan yang sebenarnya," Xavier kembali membuka suara, mengalihkan topik obrolan. Ia perlahan mengangkat wajah, menatap intens sepasang mata Ryuga, menuntut adik iparnya itu untuk segera menanggapi.
Tanpa ragu, Ryuga membeberkan alasan utama kepergian Aluna ke Inggris yang ternyata dipicu oleh rasa cemburu dan salah paham. Ia sudah sangat siap jika Xavier kembali mengamuk dan melampiaskan amarah dengan menghajarnya hingga tak berbentuk.
Rahang Xavier seketika mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat.
Ia ingin sekali melayangkan pukulan telak ke wajah Ryuga, tapi kalimat sarkas yang sempat dilontarkan oleh Tara tiba-tiba kembali berdengung di telinganya.
Pada akhirnya, Xavier hanya membuang napas--kasar. Ia berusaha keras mengendalikan emosi, meski tangannya terdorong kuat untuk memberi hukuman pada lelaki yang sudah membuat Aluna nekat pergi ke Inggris.
"Gue... cinta Aluna. Gue bakal lakuin apa pun buat nebus kesalahan yang bikin dia terluka. Gue juga bakal berusaha bahagiain dia," ucap Ryuga bersungguh-sungguh.
"Gue pegang janji lo. Sekali lagi lo berani nyakitin Aluna, gue bakal jemput dia pulang ke rumah dan nggak ngizinin lo buat ketemu adek gue lagi," ujar Xavier pelan. Namun, suaranya penuh penekanan dan tersirat ancaman yang bukan main-main. Tidak bisa diabaikan ataupun dianggap remeh sedikit pun.
.
.
Di dalam kamar bernuansa biru muda, Nara duduk terpaku di atas ranjang. Ia menopang dagunya di atas lutut, menatap sendu rintik air hujan yang masih setia membasahi bumi.
Rasa bersalah dan sesal masih mendekapnya erat. Namun, nuraninya sebagai seorang sahabat membenarkan langkah yang tadi ia ambil, meski pada akhirnya... berakibat fatal, "Gea meninggal".
"Gea, maaf..." Nara berucap lirih. Air matanya jatuh, tubuhnya seketika bergetar hebat. Sungguh, ia tidak pernah menyangka jika rasa empati serta kasih sayangnya pada Sukma malah membawa petaka--mencabut nyawa gadis sebaik Gea, kekasih yang teramat dicintai oleh Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti.
Tak terbayang jika Sang Narendra sampai mengetahui penyebab utama kematian Gea, mungkin lelaki bermata elang itu akan murka dan memberikan balasan yang jauh lebih keji.
Nara didekap rasa takut yang teramat sangat. Ia butuh perlindungan. Ia butuh penjagaan dan solusi atas masalah besar yang tanpa sengaja telah diciptakannya.
Haidar...
Satu nama yang tiba-tiba terpikir olehnya. Seseorang yang ia percaya bisa melindungi, menjaga, dan menunjukkan jalan terbaik.
🍁🍁🍁
Bersambung
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier