Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: ISTANA YANG MENJADI PENJARA
Gerbang besi raksasa setinggi tiga meter itu terbuka perlahan, menyambut kepulangan sang putri mahkota. Mobil mewah yang membawa Vanya dan Reyhan meluncur mulus di atas jalanan aspal pribadi yang bersih, kontras dengan jalanan becek Gang Kelinci. Vanya menghirup napas dalam-dalam, aroma melati dari taman rumahnya seolah mengembalikan nyawanya yang sempat hilang.
Namun, bagi Reyhan, kemewahan ini terasa dingin. Ia turun dari mobil dengan ransel usangnya, menatap bangunan megah bergaya Eropa klasik di hadapannya.
"Ikut aku," perintah Angga dengan nada yang kini jauh lebih otoriter.
Mereka membawa Reyhan ke ruang kerja Bram Hutama. Di sana, Bram sudah menunggu di balik meja mahoni besarnya, mengisap cerutu dengan tatapan yang bisa menciutkan nyali siapa pun. Vanya berdiri di samping ayahnya, melipat tangan di dada dengan dagu terangkat—menikmati pemandangan Reyhan yang kini berdiri di tengah ruangan layaknya seorang terdakwa.
"Duduk, Gembel," suara Bram menggelegar, namun ia tidak menyediakan kursi. Reyhan tetap berdiri dengan tenang. "Aku akan buat kamu membayar rasa malu ku kemarin di balai desa, gara-gara kamu aku hampir kehilangan muka di orang-orang kampung itu..!!" batin Bramantyo geram.
"Dengar baik-baik. Kamu di sini jangan macam-macam," Bram menunjuk Reyhan dengan ujung cerutunya. "Kamu patuh saja pada perintahku. Aku sudah siapkan kamar di belakang, bekas gudang. Statusmu memang suami secara hukum, tapi di rumah ini, kamu aku anggap sebagai pembantu. Tugasmu adalah melayani kebutuhan putriku."
Bram mencondongkan tubuhnya, tatapannya menajam. "Dan jika ada relasiku atau kolega bisnisku datang, kamu harus bersikap biasa saja. Beraktinglah seperti suami yang layak untuk anakku. Jangan sampai mereka tahu latar belakangmu yang sampah itu. Paham?"
"Baik, Pak Bram," jawab Reyhan pendek.
Bram menggebrak meja. "Jangan panggil aku Pak! Panggil aku Tuan! Mengerti?!"
Reyhan terdiam sejenak. Ada kilat misterius di matanya, sebuah kilat yang biasanya muncul sebelum ia meruntuhkan lawan bisnisnya. Namun, ia menarik napas dan menundukkan kepalanya sedikit. "Mengerti, Tuan."
Vanya tersenyum puas. Inilah yang ia tunggu-tunggu. Melihat pria yang kemarin menceramahinya tentang sholat dan kesabaran, kini bersimpuh di bawah kekuasaan ayahnya. Vanya merasa taringnya telah tumbuh kembali sepenuhnya. Ia kembali menjadi Vanya yang penindas dan angkuh.
"Besok pagi-pagi sekali, kamu harus cuci mobilku sampai mengkilap!" perintah Vanya dengan suara melengking. "Dan jangan lupa, siram semua tanaman di taman depan. Aku tidak mau melihat ada daun yang layu sedikit pun!"
Reyhan menoleh ke arah Vanya, lalu kembali menatap Bram. "Tuan, bolehkah saya ajukan satu permintaan?"
Bram mengangkat alisnya. "Asal tidak melanggar perjanjian. Aku cukup berbaik hati untuk tidak membiarkanmu tidur di jalanan."
"Tolong izinkan motor saya dibawa ke sini. Saya butuh itu untuk mencari nafkah," ucap Reyhan.
"Apa?!" Bram tertawa meremehkan. "Kamu mau bikin malu aku dengan memarkir motor matik bututmu di garasi yang isinya mobil miliaran rupiah?"
"Bukan begitu, Tuan," suara Reyhan tetap stabil, tidak terpengaruh ejekan itu. "Saya sadar selama setahun ini Tuan tidak akan menggaji saya. Sementara saya punya cita-cita dan kebutuhan untuk masa depan saya. Bolehkah saya tetap mengojek di sela-sela pekerjaan yang Tuan perintahkan? Saya janji tidak akan mengganggu tugas saya di sini."
Vanya mencibir. "Dengar ya, Begal! Di sini kamu sudah dapat makan dan tempat tinggal. Masih mau ngojek? Memangnya berapa sih hasil menarik ojek seharian? Tidak sampai harga satu botol parfumku!"
Namun, Bram tampaknya melihat ini sebagai kesempatan untuk semakin merendahkan Reyhan. "Baik. Aku izinkan. Tapi ingat satu hal: kalau ada relasiku yang melihatmu di jalanan mengenakan jaket ojol itu, kamu jangan bikin malu aku. Jangan pernah sebut nama keluarga Hutama!"
"Siapa Tuan," jawab Reyhan mantap.
Setelah sesi "sidang" itu berakhir, Vanya menggiring Reyhan menuju bagian belakang rumah. Mereka melewati lorong panjang yang menuju ke arah dapur dan area servis. Vanya berhenti di depan sebuah pintu kayu yang agak kusam di dekat gudang penyimpanan mesin rumput.
"Ini kamarmu," Vanya menunjuk pintu itu dengan kaki yang terbungkus sepatu hak tingginya. "Kecil, pengap, dan mungkin banyak tikusnya. Tapi setidaknya ini lebih mewah dari kontrakan busukmu itu, kan?"
Reyhan membuka pintu tersebut. Sebuah kamar sempit dengan satu tempat tidur kayu tua dan sebuah meja kecil. Benar-benar bekas gudang. Namun Reyhan hanya meletakkan ranselnya di atas kasur tanpa mengeluh.
"Heh, Begal! Sekarang kamu tidak bisa ngapa-ngapain lagi di rumahku," ejek Vanya sambil bersandar di kusen pintu. "Kamu tidak bisa lagi sok mengaturku atau menceramahiku."
Reyhan berbalik, menatap Vanya dengan tatapan yang membuat gadis itu tiba-tiba merasa tidak nyaman. "Kata siapa, Nona Man—"
Vanya melotot tajam, memperingatkannya untuk tidak menyebut kata 'manja'.
"—Nona Vanya manis," lanjut Reyhan dengan sedikit seringai di sudut bibirnya. "Aku kan masih bisa tidur, mandi, dan melakukan hal-hal lain. Kalau aku sudah tidak bisa apa-apa, berarti aku sudah mati. Dan selagi aku hidup, aku masih punya cara untuk membuatmu kesal."
"Ih! Kamu ya, Begal! Benar-benar bikin aku naik darah!" Vanya menghentakkan kakinya ke lantai. "Awas ya! Besok pagi jam 5 kamu harus sudah ada di garasi. Kalau telat satu menit, aku suruh Angga membuang motormu ke tempat rongsokan!"
Vanya berbalik dan berjalan pergi dengan angkuh, meninggalkan suara dentum sepatu yang bergema di lorong.
Reyhan menutup pintu kamarnya. Ia duduk di pinggir tempat tidur yang keras. Ia mengeluarkan ponselnya, melihat rekaman video Derian dan Sherly yang ia simpan dengan rapi. Ia lalu membuka laptopnya kembali, masuk ke jaringan data yang lebih dalam.
"Tuan Bram... Anda tidak tahu siapa yang Anda bawa masuk ke rumah ini," bisik Reyhan pada kegelapan kamar. "Silakan nikmati peranmu sebagai penguasa sekarang. Karena dalam setahun, aku tidak hanya akan menyelesaikan kontrak ini, tapi aku akan memastikan orang-orang yang mengincar Vanya akan menyesali perbuatan mereka."
Reyhan kemudian merebahkan tubuhnya. Pikirannya melayang pada Vanya. Meski gadis itu sangat menyebalkan dan angkuh, ada sesuatu dalam sorot matanya yang menunjukkan ketakutan yang disembunyikan dengan amarah. Dan Reyhan tahu, di rumah mewah yang penuh aturan ini, Vanya sebenarnya lebih kesepian daripada saat mereka berada di kontrakan sempit tempo hari.
Malam itu, di bawah atap istana Hutama, sang "Begal" mulai memetakan langkahnya. Bukan sebagai pelayan, tapi sebagai pelindung yang tak terlihat, di tengah serigala-serigala yang mulai mengepung harta keluarga Vanya.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan