Kaelen Voss, pemuda yang dianggap sampah karena tak memiliki kekuatan apa pun seketika mendapatkan kekuatan legendaris Sistem Penguasaan Elemen. Dia mampu mengendalikan segala elemen, dari dasar hingga yang terkuat. Melalui perjalanan dan pertempuran, dia bangkit dari keterpurukan, mengungkap rahasia masa lalu, dan akhirnya mengalahkan penguasa kegelapan untuk menjadi sosok terhebat yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterkejutan Tiga Mata-Mata
Bola kristal itu pecah berkeping-keping, dan kabut hitam tebal menyembur keluar memenuhi seluruh ruangan dalam sekejap mata. Menghalangi segala pandangan dan indra penglihatan. Itu adalah kabut pemecah konsentrasi dan penutup jejak. Alat andalan organisasi untuk melarikan diri dalam situasi genting.
"Pergi! Kita lapor ke atasan! Sasaran jauh lebih berbahaya dari data!" teriak suara Kadal dari balik kabut hitam yang bergulung-gulung.
Namun mereka lupa satu hal penting. Kabut, Udara, Partikel Debu. Smua itu adalah wilayah kekuasaan elemen Angin milik Kaelen.
"Kalian mau pergi? Secepat itu?" suara Kaelen terdengar jelas di mana-mana, seolah datang dari setiap butiran kabut itu sendiri.
Angin kencang tiba-tiba berputar kencang di dalam ruangan sempit itu, dan berubah menjadi pusaran angin tajam yang memotong kabut hitam itu menjadi kepingan-kepingan kecil. Menyapu bersih kabut itu dalam sekejap mata. Di depan mereka, Kaelen masih berdiri di tempatnya. Namun kini di sekelilingnya berputar empat elemen besar yaitu Tanah yang kokoh, Api yang menyala, Angin yang menderu, dan Petir yang menyambar.
Tiga mata-mata itu terperangah. Tubuh mereka tertekan ke dinding oleh tekanan angin yang kuat. Mereka melihat pemuda di hadapan mereka mengangkat satu tangan ke atas. Di telapak tangannya, energi berwarna-warni berputar menyatu membentuk tombak cahaya yang panjang dan tajam. Memancarkan hawa kematian yang membuat nyali mereka ciut.
"Aku bisa menghancurkan kalian sekarang juga," kata Kaelen dingin. Matanya menatap tajam menembus topeng mereka hingga ke jiwa terdalam mereka. "Aku bisa mematahkan leher kalian dan mengirimkan mayat kalian sebagai pesan ke markas besar kalian. Tapi aku tidak akan melakukannya."
Kaelen menurunkan tangannya perlahan, namun tekanan kekuatannya tidak berkurang sedikit pun.
"Aku membiarkan kalian hidup. Aku membiarkan kalian pergi. Tapi ada pesan yang harus kalian sampaikan kepada atasan kalian, kepada para Jenderal, dan kepada Raja Bayangan kalian itu."
Kaelen melangkah maju selangkah, dan dengan satu gerakan tangan dia merobek udara kosong di depan mereka, seolah membuka tirai pemisah dunia.
"Katakan pada mereka. Kekuatan yang mereka inginkan. Kekuatan yang mereka rencanakan untuk dicuri sekarang sudah menjadi milikku sepenuhnya. Empat elemen dasar sudah sempurna. Elemen baru terus bertambah. Katakan pada mereka. Jika mereka ingin menjadikan aku wadah milik kegelapan, mereka harus datang sendiri ke hadapanku. Mereka harus sanggup menahan amarah Penguasa Elemen."
Suara Kaelen bergema penuh wibawa membuat ketiga mata-mata itu gemetar hebat. Rasa takut yang mendalam menjalar dari tulang belakang hingga ke ubun-ubun. Mereka sadar, pemuda ini bukan sekadar bakat besar. Dia adalah monster yang sedang tumbuh. Sosok yang keberadaannya saja sudah mengancam eksistensi organisasi mereka.
"Dan satu hal lagi," tambah Kaelen. Senyum dingin kembali terukir di bibirnya. "Kalian pikir kalian sudah menyusup diam-diam? Kalian pikir hanya kalian yang mengawasi? Mulai hari ini setiap langkah yang kalian ambil. Setiap rencana yang kalian buat. Setiap napas yang kalian hembuskan ku akan tahu. Karena di dunia ini segala sesuatu yang bergerak. Segala sesuatu yang memiliki bentuk dan energi, semuanya berada di bawah penglihatanku."
Dengan satu jentikan jari Kaelen, pintu kamar yang terkunci rapat terbuka lebar, dan aliran angin kencang mendorong ketiga sosok itu keluar ruangan. Tubuh mereka terlempar melayang menembus jendela melewati halaman, dan jatuh terguling jauh di luar pagar pertahanan akademi dengan selamat namun penuh rasa malu dan sakit hati.
Mereka bangkit berdiri dengan susah payah. Tatapan mata mereka menatap ke arah gedung akademi yang kini tampak tenang kembali di kejauhan.
Namun bagi mereka, tempat itu tidak lagi terlihat seperti lembaga pendidikan biasa, melainkan seperti sarang naga tidur yang baru saja mereka bangunkan. Tulang-tulang mereka masih terasa ngilu hanya karena terkena sedikit saja tekanan energi yang dipancarkan pemuda itu.
"Monster," gumam Kadal dengan suara parau menahan rasa sakit di dadanya. Wajahnya yang tertutup topeng memucat pasi. Matanya penuh ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. "Dia benar-benar monster. Bagaimana mungkin seorang anak muda memiliki kekuatan sebesar itu? Bahkan pemimpin cabang kita pun belum tentu mampu mengalahkannya."
"Kakak Pemimpin. Apa yang harus kita laporkan ke atasan?" tanya salah satu rekannya dengan suara gemetar. Masih belum bisa percaya apa yang baru saja dialaminya. "Apakah kita katakan bahwa misi gagal total, dan sasaran justru mengusir kita dengan mudah sambil memberi peringatan ancaman?"
Kadal mengertakkan gigi, namun rasa malu itu segera tertutup oleh rasa takut yang lebih besar. Dia menggeleng pelan. "Laporkan semuanya apa adanya. Katakan bahwa data yang kita miliki selama ini salah besar. Kaelen Voss bukan sekadar bakat besar. Dia adalah ancaman tingkat tertinggi. Dan sampaikan pesannya persis seperti yang dia ucapkan. Biarkan Jenderal dan Yang Mulia Raja Bayangan sendiri yang memutuskan langkah selanjutnya. Kita... kita tidak akan sanggup menangani ini lagi."
Mereka bertiga segera menghilang kembali ke dalam kegelapan malam. Melarikan diri secepat mungkin seolah dikejar oleh ribuan setan. Tidak berani menoleh ke belakang sedikit pun. Mereka sadar, malam ini mereka telah bertemu dengan sosok yang akan mengubah jalannya sejarah dan bukan ke arah yang menguntungkan organisasi mereka.
Sementara itu, di dalam kamar yang kembali hening. Kaelen berdiri diam di dekat jendela yang terbuka. Angin malam bertiup masuk. Menyapu rambut hitamnya yang berantakan, namun dia sama sekali tidak merasakan dingin. Di dalam dadanya, api kekuatan berkobar stabil, dan pikirannya kini jauh lebih jernih daripada sebelumnya.
Kaelen tahu, tindakannya membiarkan mereka hidup bukanlah tindakan belas kasihan, melainkan langkah strategis yang tepat. Dia sengaja membiarkan mereka kembali agar pesan yang dia sampaikan sampai ke telinga para pemimpin Organisasi Bayangan. Dia ingin mereka tahu bahwa dia bukan lagi anak muda polos yang bisa dicuri atau diambil paksa seperti barang tak bertuan. Dia ingin mereka sadar bahwa untuk mendapatkan kekuatannya, mereka harus membayar harga yang sangat mahal.
"Pesan sudah terkirim," gumam Kaelen pelan, matanya menatap ke arah bulan purnama yang bersinar terang di langit. "Sekarang, tinggal menunggu bagaimana kalian merespons. Apakah kalian akan mundur ketakutan, atau justru datang dengan kekuatan penuh karena semakin menginginkanku?"
Kaelen tersenyum tipis. Di dalam hatinya, dia berharap mereka memilih opsi kedua. Semakin cepat mereka bergerak. Semakin cepat dia bisa menyelesaikan urasannya dengan organisasi jahat itu.
Namun Kaelen juga sadar bahwa kejadian malam ini hanyalah permulaan kecil. Mata-mata tingkat rendah seperti mereka hanyalah alat, bukan kekuatan sesungguhnya. Di belakang mereka masih ada pemimpin cabang, ada para Jenderal, dan ada sosok paling mengerikan dari semuanya yaitu Raja Bayangan. Kekuatan yang baru saja dia tunjukkan malam ini mungkin mengerikan bagi mata-mata biasa, tapi belum tentu cukup untuk menghadapi kekuatan inti organisasi itu.
"Aku masih belum cukup kuat," batin Kaelen, tekad di matanya semakin membara. "Meskipun empat elemen dasarku sudah sempurna. Meskipun aku sudah memiliki Kristal dan sedikit Gelap, masih ada begitu banyak kekuatan besar yang belum kupegang. Cahaya, Ruang, Waktu, Kehidupan. Elemen-elemen mitos itulah yang akan memberiku kekuatan mutlak untuk berdiri setara bahkan melampaui Raja Bayangan itu."
Kaelen berbalik dari jendela dan berjalan menuju meja belajarnya. Di sana gulungan dokumen emas pemberian akademi masih tergeletak rapi. Gelar Bakat Terbesar dalam Seratus Tahun Terakhir itu kini terasa lebih berat maknanya. Gelar itu bukan hanya kehormatan, tapi juga beban tanggung jawab dan sasaran empuk musuh.
"Di sini aku hanya bisa bertahan," pikir Kaelen sambil meremas ujung meja hingga kayu itu retak halus di bawah cengkeraman tangannya. "Di balik tembok akademi ini aku tidak akan bisa tumbuh lebih besar lagi. Semua pengetahuan dasar sudah kuambil. Semua teknik standar sudah kuasai. Langkah selanjutnya harus dilakukan di luar sana, di dunia yang luas dan keras itu."
Pikirannya kembali tertuju pada rencana keberangkatannya ke Ibu Kota Kerajaan. Di sanalah letak Akademi Pusat. Di sanalah Arsip Agung disimpan, dan di sanalah misteri-misteri besar elemen kuno menunggu untuk dibuka. Lebih dari itu, di sanalah jaring-jaring utama Organisasi Bayangan bergerak paling aktif.
"Aku akan pergi," tekad Kaelen bulat. "Segera setelah persiapan selesai, aku akan meninggalkan tempat ini. Aku akan pergi ke tempat di mana kekuatan sesungguhnya berada. Dan di sana, di hadapan bahaya yang jauh lebih besar. Aku akan terus tumbuh. Terus menyerap, dan terus menguasai segala elemen yang ada di dunia ini hingga aku mencapai puncak tertinggi hingga aku benar-benar menjadi Penguasa Elemen Mutlak."
Malam semakin larut, namun Kaelen tidak kembali tidur. Dia duduk kembali bersila di tengah ruangan. Menutup matanya, dan kembali menyelami lautan energi di dalam dirinya. Kali ini bukan sekadar menjaga kestabilan, tapi mulai mencoba hal baru yaitu Penggabungan Elemen.
Di dalam kesadarannya, Kaelen memanggil elemen Tanah yang kokoh dan elemen Api yang membara. Dia memaksa keduanya bertemu, berpadu, dan menyatu. Awalnya ada gesekan. Ada pertentangan.
Namun dengan penguasaan tingkat sempurna dan pemahaman mendalam akan esensi keduanya, perlahan namun pasti batas pemisah itu hilang.
Suara mendidih bergema samar di dalam tubuhnya. Panas yang luar biasa menyebar, namun dikendalikan dengan presisi mutlak. Di dalam inti energinya, cahaya Cokelat dan Merah menyatu menjadi warna baru yaitu merah tua yang pekat dan berat.
[PENGGABUNGAN BERHASIL!]
[ELEMEN BARU DIPEROLEH: MAGMA.]
[SIFAT: MEMBAKAR DAN MELELEHKAN SEGALANYA, KEPADATAN TINGGI, KEKUATAN PENGHANCUR MUTLAK.]
Kaelen membuka matanya, napasnya sedikit tersengal karena usaha besar itu, namun senyum kemenangan mengembang di bibirnya.
"Satu kunci terbuka," bisiknya penuh semangat. "Masih banyak lagi kombinasi lain. Badai, Es, Logam, Asam, Petir Suci. Semuanya akan menjadi milikku."
Di luar sana, bahaya mengintai, musuh bersiap, dan takdir besar menanti. Namun di dalam ruangan itu, seorang pemuda telah memulai langkah pertamanya menaklukkan hukum alam itu sendiri.
Cerita ini berakhir dengan keberanian yang dinyatakan. Acaman yang disampaikan, dan kekuatan baru yang lahir. Kisah Kaelen Voss telah berubah dari sekadar perjalanan belajar menjadi perang besar melawan kekuatan kegelapan dan penaklukan atas seluruh elemen alam semesta.