Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deklarasi Perang Sang Iblis
Keheningan di dalam ruang server setelah layar The Collector mati terasa jauh lebih mencekam daripada suara baku tembak sebelumnya. Bau ozon dari kabel yang terbakar dan amis darah para agen The Hive menguap di udara yang perlahan menghangat. Namun, fokus Kenzo kini hanya satu: data genetik yang berkedip di monitor, menunjukkan diagram DNA janin mereka yang berkelok dengan anomali yang mengerikan sekaligus luar biasa.
Aara masih menatap layar dengan mata yang tidak berkedip. Serum Project Valkyrie yang disuntikkan FBA ke tubuhnya bertahun-tahun lalu, yang ia kira hanya stimulan saraf biasa, ternyata adalah bibit untuk sesuatu yang jauh lebih gelap.
"Mereka menjadikanku inang," bisik Aara, suaranya parau. "FBA tidak pernah menginginkanku sebagai agen selamanya. Mereka hanya menungguku hamil untuk melihat apakah serum itu akan bermutasi pada generasi berikutnya."
Kenzo mengeraskan rahangnya. Tangannya yang masih memegang pisau taktis gemetar karena amarah yang tertahan. Ia tidak peduli pada proyek super-prajurit atau kunci biologis. Baginya, janin itu adalah anaknya, bukan properti laboratorium.
"Mereka melakukan kesalahan besar, Aara," suara Kenzo terdengar seperti guntur yang tertahan. "Mereka mengira bisa menjadikan anakku sebagai eksperimen. Mereka lupa siapa ayahnya."
Kenzo segera menarik Aara menjauh dari terminal komputer. "Kita tidak bisa tinggal di sini. Jika *The Collector* bisa meretas sistem komunikasi, dia bisa melacak koordinat cadangan bunker ini. Kita harus menghilang sebelum unit pembersih kedua datang."
"Tapi ke mana, Kenzo?" Aara mencoba menstabilkan napasnya, kembali ke mode agen profesionalnya. "Jika FBA dan The Hive bekerja sama atau setidaknya mengejar hal yang sama tidak ada tempat di peta yang aman bagi kita."
"Maka kita pergi ke tempat yang tidak ada di peta," jawab Kenzo. Ia mengambil sebuah *ldrive eksternal dan menyalin seluruh data medis Aara sebelum menghancurkan terminal itu dengan satu tembakan. "Kita pergi ke 'The Vault'. Markas rahasia lamaku di dasar tambang garam Siberia."
Aara mendongak, sedikit terkejut. "Siberia? Tempat itu legendaris di kalangan intelijen sebagai mitos hitam."
"Itu bukan mitos. Itu adalah tempat di mana aku menyimpan aset yang tidak ingin aku lihat lagi oleh dunia," Kenzo menarik Aara keluar ruangan. "Dan sekarang, itu akan menjadi benteng kita."
Sambil bergerak menuju hanggar pesawat rahasia di dalam bunker, Aara menggunakan perangkat komunikasi satelit miliknya yang terenkripsi. Ia tidak menghubungi FBA. Ia menghubungi seseorang dari masa lalunya yang ia tahu membenci sistem tersebut sama besarnya dengan dirinya.
"Leo, ini Cherry," ucap Aara singkat saat sambungan terhubung.
"Cherry? Kau seharusnya sudah mati dalam ledakan di Amalfi," suara pria di ujung telepon terdengar skeptis namun tertarik.
"Aku butuh 'bersih-bersih' tingkat tinggi. FBA mengaktifkan protokol Valkyrie padaku. Aku punya aset yang mereka inginkan di dalam rahimku," Aara bicara sambil berlari, sementara Kenzo menyiapkan pesawat kargo siluman.
Di ujung sana, terdengar desahan panjang. "Valkyrie? Gila. Mereka benar-benar melakukannya. Baik, aku akan mengalihkan radar satelit di atas Pegunungan Alpen selama dua belas menit. Setelah itu, kalian sendirian."
Aara mematikan sambungan. "Kita punya waktu dua belas menit untuk menghilang dari radar global."
Di dalam kokpit pesawat siluman yang menderu pelan, Kenzo fokus pada instrumen navigasi. Aara duduk di sampingnya, perlahan melepas jaket taktisnya yang berat. Di bawahnya, ia hanya mengenakan kaus hitam ketat yang mulai memperlihatkan sedikit lengkungan di perutnya—sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh mata yang sangat teliti.
Aara menoleh ke arah Kenzo. Meskipun mereka dalam pelarian, insting centilnya yang telah menjadi bagian dari mekanisme pertahanannya kembali muncul. Ia mendekatkan wajahnya ke bahu Kenzo, menghirup aroma maskulin suaminya yang bercampur dengan bau mesiu.
"Tahu tidak, Kenzo... ini pertama kalinya aku merasa sangat 'berharga' di mata dunia," bisik Aara, jemarinya merayap ke arah leher Kenzo, mencoba mencairkan ketegangan suaminya. "Semua orang menginginkan apa yang ada di dalam perutku. Tapi hanya satu pria yang memilikinya secara sah."
Kenzo tidak melepaskan tangannya dari kemudi, namun ia menoleh sedikit, menatap Aara dengan pandangan posesif yang membara. "Jangan menggoda pria yang sedang mengemudikan pesawat siluman di tengah badai, Nyonya Arkana. Kecuali kau ingin kita mendarat lebih cepat dari yang direncanakan."
Aara tertawa kecil, suara tawa yang sangat manis namun sarat akan provokasi. "Oh, aku tahu kau sangat mahir dalam mengendalikan... segala hal."
Kenzo tiba-tiba menarik tuas otomatis dan meraih tengkuk Aara, menciumnya dengan intensitas yang hampir menyakitkan sebuah ciuman yang menandakan bahwa ia akan membunuh siapa pun yang mencoba mengambil Aara darinya.
"Kau dan anak ini adalah hidupku sekarang," gumam Kenzo di depan bibir Aara. "Aku akan membangun kerajaan baru di atas abu musuh-musuh kita."
Pesawat mereka melesat menembus kegelapan, melintasi perbatasan negara tanpa terdeteksi, menuju hamparan putih tak berujung di Siberia. Saat mereka mendarat di landasan pacu tersembunyi yang ditutupi es, suhu di luar mencapai -40 derajat Celsius.
Di depan mereka, sebuah pintu baja raksasa yang tertanam di dalam gunung garam terbuka perlahan. Keluar dari sana adalah selusin pria bersenjata lengkap dengan seragam tanpa lencana tentara bayaran pribadi Kenzo yang telah ia "kubur" di sini selama bertahun-tahun untuk momen seperti ini.
Kenzo turun dari pesawat, menggandeng tangan Aara dengan erat. Para prajurit itu segera berlutut dengan satu kaki saat melihat Kenzo.
"Selamat datang kembali, Tuan," ucap pemimpin mereka.
Kenzo mengangguk kecil. "Siapkan laboratorium medis dan aktifkan sistem pertahanan perimeter tingkat satu. Kita punya tamu besar yang akan datang mencari nyawa."
Aara berdiri di samping Kenzo, menatap hamparan salju yang ganas. Ia tahu, pertempuran di Alpen hanyalah pemanasan. Di Siberia ini, di tengah kesunyian yang mematikan, ia akan melahirkan seorang pewaris yang akan ditakuti oleh dunia seorang anak yang lahir dari rahim seorang agen elit dan darah seorang raja mafia.
"Collector... FBA..." bisik Aara sambil tersenyum miring, senyum ratu mafia yang kini telah sepenuhnya menerima takdirnya. "Ayo datang dan ambil kunci kalian, jika kalian berani melewati neraka yang telah kami siapkan."
Malam itu, di kedalaman tambang garam Siberia, rencana serangan balik dimulai. Kenzo dan Aara tidak lagi hanya bertahan. Mereka mulai memetakan setiap simpul kekuasaan The Hive dan FBA di seluruh dunia. Target mereka bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan penghapusan total.
Satu demi satu, nama musuh tertulis di layar monitor utama. Dan di urutan paling atas, dilingkari dengan warna merah darah, adalah nama: The Collector.
Perang suci untuk melindungi benih masa depan telah resmi dideklarasikan.