Alicia Roses hidup di panti asuhan sejak dia berumur lima tahun, setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
Bibinya Melinda Stone merampas seluruh harta warisan milik Alicia dan membuang Alicia kecil ke panti asuhan.
Hidup selama dua puluh lima tahun dengan membawa dendam, untuk memuluskan rencana balas dendam nya Alicia menerima lamaran dari pria yang sangat terobsesi dengan nya.
Revano Ace Draco pria gila yang memiliki kekuasaan mengerikan di dunia gangster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
...****************...
Di sebuah gedung tua yang tampak tidak mencolok di pinggiran ibu kota, sebuah pertemuan rahasia sedang berlangsung.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi lampu meja yang redup.
Di tengah ruangan duduk seorang pria paruh baya dengan wajah keras dan penuh tekanan.
Dia adalah Alessandro Glusen, pemimpin organisasi pembunuh bayaran Red Devils.
Di hadapannya duduk seorang wanita elegan dengan gaun mahal berwarna gelap.
Wanita itu tampak anggun dari luar.
Namun tangannya yang sedikit gemetar menunjukkan kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan.
Dia adalah Miranda Stone.
Bibi dari Alicia Roses dari pihak ibunya.
Alessandro menatap Miranda dengan mata tajam.
Tatapan yang cukup untuk membuat siapa pun merasa seperti mangsa.
"Jadi.., Apa sudah membuahkan hasil."
Suara Alessandro rendah dan penuh tekanan.
"Sudah belasan tahun."
Ia menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Lalu katakan padaku, jangan bertele-tele Miranda..!!"
"Di mana Alicia Roses sekarang?"
Miranda langsung menundukkan kepala.
Beberapa detik ia tidak berani menjawab.
"Sa.. saya.."
Alessandro menyipitkan mata.
"Aku tidak suka menunggu."
Miranda menelan ludah sebelum akhirnya berkata dengan suara pelan.
"Alicia.. hilang dari panti asuhan sekitar beberapa tahun lalu."
Ruangan itu langsung terasa lebih dingin.
Alessandro menatapnya tanpa berkedip.
"Hilang?"
Miranda buru-buru menjelaskan.
"Kami sudah mengawasi panti itu selama bertahun-tahun."
"Tapi suatu hari.. dia menghilang begitu saja."
"Kami mencoba melacaknya tapi.., tidak berhasil"
BRAK!!
Tangan Alessandro menghantam meja dengan keras.
Meja kayu tebal itu bergetar.
Miranda langsung tersentak ketakutan.
"Wanita bodoh!!"
Suara Alessandro menggema di ruangan.
"Kau tidak bisa mengawasi seorang anak?!"
Miranda menunduk lebih dalam.
"Saya sudah mencoba sebisa mungkin, tapi..."
"Diam!!"
Alessandro berdiri dari kursinya.
Aura kemarahannya membuat dua pengawal di belakang ruangan ikut tegang.
Ia berjalan perlahan mendekati Miranda.
"Belasan tahun lalu.."
"Akulah yang memberimu ide untuk menyembunyikan Alicia di panti asuhan."
Miranda tidak berani menatapnya.
Alessandro melanjutkan dengan suara dingin.
"Agar dunia percaya bahwa putri Adrian Roses hanyalah anak yatim piatu biasa."
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Miranda.
"Dan sekarang kau mengatakan padaku.."
"...bahwa dia hilang?"
Miranda menggenggam gaunnya dengan kuat.
"Saya benar-benar tidak tahu ke mana dia pergi."
Alessandro tertawa kecil.
Namun tawa itu terdengar menyeramkan.
"Menarik."
Ia kembali berjalan ke kursinya.
"Kau tahu kenapa aku membiarkan anak itu hidup?"
Miranda terdiam.
Alessandro melanjutkan.
"Karena Adrian Roses adalah pria paling paranoid yang pernah kutemui."
Ia mengetuk meja dengan jarinya perlahan.
"Dia pasti menyembunyikan proyek Helios di tempat yang hanya bisa ditemukan oleh orang tertentu."
Miranda perlahan mengangkat kepalanya sedikit.
Alessandro menatapnya tajam.
"Dan orang itu pasti.."
"Adalah putrinya."
Miranda langsung membeku.
Alessandro bersandar di kursinya.
"Selama ini aku menunggu waktu yang tepat."
"Menunggu Alicia cukup dewasa dan bisa bekerja di bawah perintah ku"
"Menunggu dia mulai mencari jejak ayahnya."
Matanya menyipit.
"Karena saat dia melakukannya.."
"Dia akan membawa kita langsung menuju Helios."
Miranda menggigit bibirnya.
"Ta.. tapi sekarang dia hilang."
Alessandro tersenyum dingin.
"Itulah yang membuatku sangat marah, wanita sialan..!!"
Ia menunjuk Miranda.
"Kau kehilangan satu-satunya kunci menuju Helios."
Miranda gemetar.
"Saya akan terus mencarinya."
"Saya bersumpah."
Alessandro tidak langsung menjawab.
Ia mengambil cerutu lalu menyalakannya.
Asap tipis memenuhi ruangan.
"Aneh sekali."
Miranda menatapnya gugup.
"Aneh?"
Alessandro menghembuskan asap.
"Beberapa tahu terakhir,"
"Seorang hacker bernama Mr A membuat kehebohan di kalangan elit global."
Miranda tidak berkata apa-apa.
Alessandro melanjutkan.
"Dia menghancurkan bisnis tambang emas ilegal dengan sangat mudah," ungkapnya sejenak.
"Dan sekarang gudang senjataku dihancurkan dengan begitu mudahnya."
Matanya perlahan menyipit.
"Orang itu sangat cerdas, dan juga berani, pintar dan licik."
Alessandro menatap Miranda tajam.
"Kadang aku bertanya-tanya," ujarnya terjeda.
"Apakah ini hanya kebetulan?"
Miranda menegang. " i..itu tak mungkin kan..?"
Alessandro tersenyum tipis.
"Seorang anak yang hilang dari panti asuhan." wajahnya seakan mencari benag merah di antara beberapa kejanggalan yang terjadi akhir-akhir ini.
"Lalu muncul hacker misterius yang cukup pintar untuk mempermalukan Red Devils."
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kau tidak merasa ada yang menarik?"
Miranda buru-buru menggeleng.
"Itu pasti hanya kebetulan."
Alessandro menatapnya cukup lama.
Kemudian ia tertawa kecil.
"Mungkin."
Ia mematikan cerutunya di asbak.
"Lanjutkan pencarian Alicia."
"Gunakan semua sumber daya yang kau punya."
Miranda mengangguk cepat.
"Baik."
Alessandro berkata dengan suara dingin.
"Karena jika Alicia ditemukan oleh orang lain terlebih dahulu"
Ia berhenti sebentar.
"Kau akan menjadi orang pertama yang kubunuh Bodoh ..!!"
Miranda langsung pucat.
"Saya mengerti."
Pertemuan itu pun berakhir, namun di dalam pikiran Alessandro.
sebuah kemungkinan mulai terbentuk.
" Dimana keberadaan mu putri Adrian ?"
...****************...