NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peta Buta & Janji Suci

Lokasi: Safe House BPCBAN, Surabaya. Pukul 10.00 WIB.

Aroma antiseptik dan kopi panas memenuhi udara di dalam apartemen bergaya minimalis itu. Topeng Rangda yang semalam mereka curi kini sudah aman di dalam koper lead-lined (berlapis timbal) untuk meredam aura mistisnya, siap dijemput oleh tim pembersih.

Dimas duduk di tepi tempat tidur, bertelanjang dada. Punggung dan pinggangnya memar ungu kehitaman akibat hantaman tongkat sihir Mr. Vaan semalam.

Sarah duduk di belakangnya, mengoleskan salep herbal buatan Sekar dengan telaten.

“Ssshh… pelan-pelan, Dok,” desis Dimas meringis.

“Makanya jangan sok jadi pahlawan aksi,” omel Sarah, meski tangannya bergerak lembut. “Kamu itu Profesor Sejarah, Dim. Bukan Captain America.”

“Ya kalau aku nggak maju, kamu yang kena,” jawab Dimas. Dia menoleh sedikit ke belakang, menatap istrinya. “Lagian, lukaku nggak seberapa dibanding kamu yang harus turun pakai tali dari lantai lima.”

Sarah terdiam. Dia menempelkan plester di punggung Dimas, lalu tangannya berhenti di bahu suaminya. Jarinya menyentuh cincin kawin platinum yang menggantung di leher Dimas (Dimas tidak memakainya di jari saat misi agar tidak tersangkut).

Sarah menghela napas panjang. Matanya menerawang.

“Kenapa, Sar?” Tanya Dimas, merasakan perubahan mood istrinya.

“Kadang aku mikir,” gumam Sarah pelan. “Apa kita bakal terus kayak gini sampai tua? Lari-larian, dikejar mafia sihir, hampir mati tiap minggu…”

Dimas memutar badannya, memegang tangan Sarah.

“Kamu nyesel?”

Sarah menatap mata Dimas. “Nggak. Aku cuma… kangen momen itu. Momen di mana kita cuma jadi Dimas dan Sarah. Bukan ‘The Archivist’.”

Dimas tersenyum hangat. Dia tahu persis momenn mana yang dimaksud Sarah.

Flashback: Dua Tahun Yang Lalu.

Lokasi: Pelataran Candi Ratu Boko, Yogyakarta. Sore Hari, Menjelang Matahari Terbenam.

Langit Yogyakarta berwarna jingga keemasan. Tidak ada dekorasi berlebihan. Kemegahan gerbang batu Candi Ratu Boko sudah menjadi latar belakang yang sempurna.

Hanya ada 50 tamu undangan. Keluarga inti dan sahabat terdekat.

Dimas berdiri di altar sederhana, mengenakan jas beskap modern berwarna krem. Dia tampak gugup, berkali-kali membetulkan letak blangkon-nya.

Di barisan depan, Arya Baskara duduk sambil memangku anaknya, Bumi. Arya tersenyum jahil, mengacungkan jempol pada adiknya.

“Tarik napas, Dek. Jangan pingsan,” goda Arya tanpa suara.

Musik gamelan lembut mengalun.

Sarah berjalan memasuki pelataran. Dia mengenakan kebaya putih klasik dengan veil (kerudung) panjang yang menyapu lantai batu. Dia terlihat sangat cantik, anggun, dan… manusiawi. Tidak ada kacamata taktis, tidak ada boots militer. Hanya Sarah wanita biasa yang sedang berjalan menuju pria yang dicintainya.

Dimas terpana. Baginya, Sarah lebih memesona daripada artefak emas Majapahit manapun yang pernah ia temukan.

Saat Sarah sampai di hadapannya, Dimas menyambut tangannya. Tangan yang hangat.

Penghulu memulai upacara. Sakral. Hikmat.

Lalu tibalah saat pengucapan janji pernikahan pribadi.

Dimas mengambil mikrofon. Tangannya sedikit gemetar, tapi suaranya mantap.

“Sarah Wijaya,” mulai Dimas. “Dulu, aku terjebak di masa lalu. Aku hidup di antara bayang-bayang sejarah yang kelam. Aku pikir, tugasku di dunia ini cuma untuk mencatat apa yang sudah mati.”

Dimas menatap mata Sarah dalam-dalam.

“Tapi kamu datang. Kamu menarikku ke masa depan. Kamu mengajarkan aku bahwa sejarah bukan cuma soal batu nisan, tapi soal kehidupan yang kita jalani sekarang.”

Dimas menarik napas.

“Di depan Candi ini, saksi bisu ribuan tahun… Aku berjanji. Aku akan menjagamu dari bahaya apapun—baik yang terlihat mata maupun yang tak kasatmata. Aku akan jadi tameng pertamamu, dan pedang terakhirmu.”

Dimas menggenggam tangan Sarah dengan erat.

“Aku nggak bisa janji hidup kita bakal normal. Kamu tahu itu. Kita bukan pasangan yang nonton Tv tiap malam minggu. Kita pasangan yang mungkin harus berhadapan sama dukun atau monster.”

“Tapi… selama kamu ada di sampingku, mau di hutan Kalimantan, atau di dasar laut Banda… aku akan selalu menemukan jalan pulang. Karena rumahku… ada di kamu.”

Tamu undangan tersentuh. Kirana menyeka air matanya di barisan depan. Bahkan Sekar yang duduk di sudut tampak tersenyum tipis.

Giliran Sarah.

Sarah tersenyum geli mendengar janji unik suaminya itu. Dia meraih mikrofon, matanya berkaca-kaca namun penuh determinasi.

“Dimas Pradipa,” jawab Sarah. “Dulu aku cuma sejarawan yang skeptis. Aku nggak percaya hal mistis. Sampai kamu muncul dan menghancurkan logika ilmiahku.”

Para tamu tertawa kecil.

“Tapi kamu juga menghancurkan tembok hatiku. Kamu nunjukin bahwa ada hal yang lebih besar sekedar fakta sejarah. Yaitu cinta dan pengorbanan.”

Sarah menatap langit Yogyakarta yang mulai memerah.

“Aku berjanji, Mas. Aku akan jadi matamu saat kamu buta. Aku akan menjadi penunjuk arahmu saat kamu tersesat di peta buta. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu sendirian, mau di masa lalu atau masa depan.”

“Kita partner seumur hidup. Sampai maut memisahkan.”

Dimas mencium kening Sarah dengan lembut. Kembang api kecil meletup di langit, bukan sebagai perayaan pesta pora, tapi sebagai tanda kemenangan dua jiwa yang berhasil bertahan dari badai masa lalu.

Itu bukan sekedar pernikahan. Itu adalah Aliansi Abadi.

KEMBALI KE MASA SEKARANG.

Sarah mengerjapkan matanya, menarik kembali kesadarannya dari memori indah itu. Tangannya masih memegang kalung Dimas.

“Aku kangen Candi Boko,” bisik Sarah pelan.

“Nanti kita kesana lagi, Sar,” jawab Dimas lembut. “Mungkin bawa Bumi sekalian, biar dia belajar sejarah.”

Dimas berdiri perlahan, merasakan nyeri di punggungnya mulai reda berkat salep dari Sekar.

Dia berjalan ke meja kerja, menyalakan proyektor hologram portabel. Peta digital Indonesia muncul di udara.

“Tapi sekarang,” kata Dimas serius, kembali ke mode Profesor. “Kita punya tugas negara. Cuti nikah udah habis 2 tahun lalu.”

Sarah tertawa kecil, menghapus jejak air mata nostalgianya. Dia kembali memasang wajah profesional.

“Oke, Prof. Mission Briefieng.”

Sarah mengetik cepat di tabletnya. Layar proyektor menampilkan citra satelit Kalimantan Selatan, tepatnya di perbatasan Kabupaten Kotabaru.

“Saranjana,” kata Sarah. “Kota Gaib legendaris. Konon katanya peradaban maju yang tersembunyi di dimensi lain.”

“Banyak orang hilang di sana,” tambah Dimas. “Tukang ojek, pendaki, bahkan helikopter SAR pernah lenyap tanpa jejak di koordinat ini.”

Dimas menunjuk sebuah titik buta di peta digital. Titik di mana satelite Google Earth selalu blur.”

“Masalahnya, Prof,” lanjut Sarah. “Mr. Vaan juga mengincar tempat ini. Sadapanku ke komunikasi mereka menunjukkan kalau mereka mencari ‘Mandau Sumpah’.”

“Mandau Sumpah?” Dimas mengernyit. “Senjata pusaka Dayak Kuno yang konon bisa membelah dimensi waktu?”

“Tepat. Kalau Vaan dapet itu… dia bisa ngancurin pembatas antara dunia manusia dan dunia gaib. Dia bisa bikin pasukan hantu masuk ke Jakarta.”

Dimas menghela napas panjang. Dia menatap Sarah.

“Berarti ini bukan heist biasa. Ini Race Against Time.”

“Kita harus masuk ke hutan Kalimantan besok pagi. Sebelum anak buah Vaan nemuin gerbang masuknya,” kata Sarah tegas.

Dimas mengangguk. Dia mengambil tas ransel taktisnya, memasukkan kompas kuno, flare gun, dan beberapa jimat perlindungan.

“Sar,” panggil Dimas sebelum mereka bersiap.

“Ya?”

“Janji pernikahan kita masih berlaku kan?”

Sarah tersenyum miring, memasukkan pistol bius ke sarung paha taktisnya.

“Selalu, Mas. Kamu tamengku, aku petunjuk arahmu. Ayo kita cari kota hantu itu.”

1
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!