Karena tak kunjung hamil, Sekar Arunika- wanita muda berusia 25 tahun, harus mendapati kenyataan pahit suaminya menikah lagi. karena tidak ingin di madu, Sekar memilih mundur dan merantau.
namun sepertinya Tuhan masih belum ingin membuatnya tenang. karena saat sudah bahagia, Sekar justru di pertemukan kembali dengan orang-orang yang menyakitinya.
bagaimana langkah selanjutnya yang akan di ambil Sekar? memaafkan atau memilih menyimpan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhevy Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Setelah berjalan hampir 15 menit, Sekar pada akhirnya sudah sampai di depan rumah Bu Risty.
Ya memang, mereka masih satu kampung hanya terhalang oleh beberapa rumah saja. karena memang Bu Risty melarang Rangga untuk berjauhan dengan alasan wanita tua itu sudah banyak umur sehingga tidak ingin ditinggal oleh anak-anaknya.
Dan karena tidak ingin ambil pusing pada akhirnya Sekar yang mengalah dan membuat rumah berdekatan dengan mertuanya. Orang tua Sekar juga tidak terlalu ambil pusing atas keputusan besan sekaligus teman kecilnya itu.
Lagi pun, memang sudah menjadi kewajiban seorang istri jika ikut suaminya mau ke manapun suaminya itu pergi.
" Sekar, Sedang apa kamu ada di sini? "
Suara dari seseorang membuat Sekar sedikit tersentak dan menoleh perlahan ke arah belakang.
Tak lama senyuman tipis terbit dari bibir Sekar, " Mbak Ayu, ini aku mau ngasih masakan aku sama ibu. Ibu ada di rumah kan, Mbak? " tanya Sekar Seraya menatap kembali ke arah rumah Ibu mertuanya.
raut wajah Ayu sedikit tegang namun itu hanya beberapa detik sebelum akhirnya kembali ke setelan awal.
" Ibu nggak ada di rumah dia ada di rumahku, Memangnya ada apa? jangan bilang kamu mau ngasih makanan tidak seberapa kamu itu, nggak perlu! lebih baik kamu bawa pulang saja makanan itu, makananku jauh lebih bergizi daripada makananmu! " Tandas Ayu dengan suara sedikit lantang.
Hal itu tentu saja membuat beberapa tetangga yang tidak sengaja melihat dan mendengar perlahan mulai mendekat.
" Kenapa ini Ayu? " tanya salah satu tetangga dengan raut wajah kepo.
Ayu mendengus sinis, " ini loh bu, masak di datang ke rumah ibu mertua cuman mau kasih sayur lodeh sama tahu, Ibu Aku mana doyan makanan kayak gitu, sedangkan di rumah aku aja makanannya daging. " sahut Ayu dengan blak-blakan.
" Waduh Neng, masak datang ke rumah ibu mertua cuman mau ngasih makanan kayak gitu? Padahal kalau anak ibu datang semua dibeli loh masa kamu suaminya Gajinya besar cuman ngasih sayur lodeh tahu gitu aja, " cetus ibu-ibu itu dengan raut wajah prihatin.
" Iya bener Neng Sekar, Bu Risty itu lumayan terpandang di sini, jadi Mana mau dia makan makanan kayak gitu, " sahut yang lain dengan nada suara sinis.
Sekar yang mendengar itu Tangannya sudah gemetar hebat. tidak tahukah mereka jika Sekar hanya dijatah satu juta satu bulan? Sementara sisa uangnya semua diserahkan pada ibu mertuanya?
Kalau dia mempunyai uang banyak mungkin menu makanannya tidak akan seperti itu.
Ingin sekali Sekar berteriak dan mengatakan fakta itu. Tapi saat membayangkan wajah marah dari Rangga suaminya, keinginan Sekar langsung Terhempas ke dalam jurang.
" kalau gitu aku pamit Mbak, " lirih Sekar pada akhirnya dan memilih berlalu dari sana.
Sementara ibu-ibu itu kembali membicarakan Sekar. mereka bertanya-tanya ke mana gaji suami perempuan itu sehingga lauk dan sayurannya hanya sesederhana itu?
Sementara Ayu memilih untuk masuk ke dalam rumah ibunya dengan tersenyum puas.
" gimana Dia udah pergi? " Bu Risty bertanya saat putrinya baru saja masuk.
Ayu yang mendengar itu segera mengangguk, " Rasanya puas sekali bisa mempermalukan dia. " katanya dengan tersenyum lebar.
memang sedari awal, Ayu tidak menyukai Sekar dan lebih berpihak pada mantan kekasih adiknya. menurutnya Rangga dan Sekar tidak sepadan dan lebih sepadan pada mantan Rangga yang sekarang entah ke mana.
" udah, Ayo buat sesuatu, " ajak Bu Risty menarik tangan putrinya.
" Memangnya ada apa? "
Bu Risty hanya tersenyum tipis dan langsung menarik tangan putrinya untuk menuju dapur.
****
Sekar baru saja sampai di rumah dan langsung mendudukkan dirinya di kursi ruang tamu.
"ya Tuhan, Kuatkan Aku. " lirih Sekar sembari mengusap wajahnya secara kasar.
Ting!
pandangan sekarang langsung teralihkan saat mendengar notifikasi dari ponselnya.
Mas Rangga :[ aku nanti malam pulang terlambat, Jangan Tunggu Aku langsung tidur! ]
Sekar tersenyum getir setelah membaca pesan itu.
" sampai kapan Ini semua berakhir? " tanya Sekar dengan nafas berat.