Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 PGS
Hari ini Sherina tidak mengajar dulu karena tubuhnya masih lemas. "Kak, ini gua belikan bubur," seru Syarif.
"Iya, terima kasih Dek," lirih Syarif.
"Makan dulu lah, mau gua suapin?" tawar Syarif.
"Gak usah, kakak bisa makan sendiri," sahut Sherina.
Meskipun kelihatan seperti cuek, tapi Syarif begitu sangat menyayangi kakaknya. Setelah menyimpan bubur dan air putih, Syarif pun keluar. Dia terkejut dengan penampilan Mommynya dengan pakaian serba panjang dan topi pantai.
"Astaghfirullah, Mommy mau ke mana dengan pakaian seperti itu?" tanya Syarif kaget.
"Mommy mau ikut kamu ke kebun, mau gantiin Daddy kamu," sahut Mommy Wita.
"Yaelah, sudah Mommy diam saja di rumah jaga Kakak jangan sok-sokan mau ikut ke kebun nanti Mommy sakit dan kalau sampai Daddy tahu, dia bisa ngamuk sama Syarif," sahut Syarif.
"Daddy kamu gak bakalan tahu, Mommy bosan di rumah terus kalau masalah kakakmu, dia sudah mendingan lagi pula dia gak mau Mommy jagain. Kaya yang gak tahu kakakmu saja, setiap dia sakit dia paling gak mau ada yang nungguin jadi sekarang Mommy mau ikut kamu ke kebun titik," ucap Mommy Wita.
"Janganlah Mom, capek. Mommy gak bakalan kuat," sahut Syarif.
"Hai, kamu meremehkan kekuatan Mommy?"
"Bukanya meremehkan, tapi Syarif yakin kalau Mommy nantinya akan sakit badan," bujuk Syarif.
Wita cemeberut, dia melempar topinya lalu duduk di sofa dengan penuh emosi. "Pokoknya kalau kamu tidak ngizinin Mommy ikut, Mommy akan mogok makan, mogok mandi, mogok tidur, biar kamu tahu rasa. Nanti kalau Daddy tahu, kamu yang akan kena amukan dia," ketus Mommy Wita.
"Astaga." Syarif mengusap wajahnya kasar.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Syarif pun mengizinkan Mommynya ikut. Walaupun ancamannya nyeleneh, tapi ucapan Mommynya memang selalu benar. Dan jika sampai Daddynya tahu, maka Syarif akan berada dalam posisi yang sangat membahayakan.
"Baiklah, Mommy boleh ikut tapi ingat, Mommy jangan terlalu capek jika capek Mommy bilang sama Syarif," ucap Syarif.
"Ok."
Wita bangkit dari duduknya dengan wajah yang sumringah. Wita pamit kepada Sherina dan segera pergi ke kebun bersama Syarif. Sementara itu di sekolah, Ariel tampak celingukan mencari keberadaan Sherina.
"Nining, apa Sherina tidak masuk hari ini?" tanya Ariel.
"Ah iya Pak, saya lupa memberitahukan jika Sherina masih sakit dan tidak bisa mengajar dulu," sahut Nining.
"Dasar anak manja, kaya anak orang kaya saja," ledek Fuja.
"Fuja, kamu tidak boleh berkata seperti itu," tegas Ariel.
Fuja langsung terdiam dan menekuk wajahnya. "Ibu dan Bapak guru, sepertinya nanti pulang sekolah kita harus ke rumah Sherina untuk menjenguknya," seru Ariel.
"Baik, Pak!"
"Lah, kok dijenguk sih Riel? baru satu hari juga dia gak masuk, nanti kalau dia sudah gak masuk selama tiga hari baru kita jenguk," protes Fuja.
"Memangnya menjenguk orang sakit harus nunggu sampai tiga hari dulu? bagaimana kalau sakitnya parah? sudah jangan banyak protes, pokoknya nanti kita sama-sama jenguk Sherina," ucap Ariel tegas.
Fuja merasa sangat kesal. "Awas kamu, Sherina kamu memang pengganggu di sini," batin Fuja dengan kesalnya.
***
Siang itu Ariel dan rekan-rekan guru memutuskan untuk menjenguk Sherina. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di depan rumah Sherina. Fuja tampak cemberut, dia sama sekali tidak mau masuk untuk menjenguk Sherina.
Ketukan pertama tidak ada yang buka, hingga ketukan kedua pintu pun terbuka. "Bu Sherina!" teriak Bu Herlin dan Pak Budi.
"Kalian kenapa ke sini?" tanya Sherina kaget.
"Kami semua mau jenguk kamu, kenapa ucapan kamu seperti itu?" ketus Ariel.
"Aku rindu sama kamu, Sher," ucap Nining sembari memeluk Sherina.
"Alhamdulillah, aku sudah mendingan," sahut Sherina dengan senyumannya.
"Hai, kamu tidak punya sopan santun banget. Kamu tidak mau mempersilakan kami masuk!" ketus Fuja.
"Ah iya, silakan masuk," seru Sherina.
Semuanya pun masuk ke dalam rumah Sherina. Mereka tampak terkejut dengan isi rumah Sherina. "Gila, dari luar rumah ini tampak biasa-biasa saja tapi kenapa di dalamnya barang-barang mewah semua," batin Fuja.
Tidak hanya Fuja, ternyata Nining dan yang lainnya juga tampak kaget. Nining selama ini tidak pernah masuk ke rumah Sherina hanya sebatas di teras saja. "Kalian mau minum apa? maaf hanya ada air putih," ucap Sherina.
"Tidak apa-apa Bu Sherina, kamu lebih baik diam saja jangan banyak bergerak dulu," seru Bu Herlin.
"Hebat juga ya, kamu. Padahal orang tua kamu bekerja di kebun milik Ariel tapi barang-barang di rumahmu canggih semua, dari mana kamu bisa membelinya?" ledek Fuja.
"Fuja, kamu tidak boleh ngomong seperti itu!" sentak Ariel.
"Jangan-jangan gosip ibu-ibu yang saat ini sedang hangat diperbincangkan benar kalau Ibu kamu ada main dengan Papanya Ariel," tuduh Fuja.
"Fuja, kamu sudah keterlaluan!" bentak Ariel.
"Kok kamu bentak aku sih? aku 'kan hanya menerka saja, coba kamu pikir mereka dapat barang mewah dari mana jika bukan hasil merayu Papa kamu," sahut Fuja dengan lantangnya.
Sherina bangun dari duduknya membuat semua orang menoleh ke arah Sherina. "Pergi kalian semua! puas kamu Ariel? kamu sengaja bawa mereka ke sini karena kamu ingin menghina aku 'kan?" teriak Sherina penuh amarah.
Nining bangun dan berusaha menenangkan Sherina. "Pergi kalian semua, aku gak butuh ditengok sama kalian. Dan satu lagi, mulai detik ini aku mengundurkan diri jadi guru!" bentak Sherina sembari memegang kepalanya.
"Sher, kamu harus tenang," seru Nining mencoba menenangkan.
"Pergi aku bilang!" teriak Sherina.
"Dasar wanita gila," ketus Fuja.
Ariel pun meminta semuanya untuk keluar, dia tidak menyangka jika Fuja akan mengatakan hal yang sangat tidak sopan. "Ning, lebih baik kamu juga pulang, aku mau istirahat," seru Sherina.
"Tapi Sher, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Nining khawatir.
Sherina mengangguk pelan. Nining tidak mau mengganggu Sherina, akhirnya Nining pun memutuskan untuk pulang. Ariel menarik tangan Fuja dengan kasar membuat Fuja meringis kesakitan.
"Apaan sih Riel, sakit tahu," kesal Fuja.
"Kamu itu kenapa? selalu membuat masalah? kita niatnya untuk menjenguk dia bukan menghina dia dengan gosip murahan seperti itu?" bentak Ariel.
"Kenapa kamu jadi membela Sherina? itu bukan gosip, sudah banyak Ibu-ibu yang melihat Papa kamu datang ke rumah ini malam-malam, kalau tidak percaya kamu bisa tanyakan semuanya kepada Papa kamu," sahut Fuja dengan kesalnya.
"Tidak mungkin Papa melakukan hal seperti itu, kamu jangan ngarang cerita," geram Ariel.
"Ya, sudah kalau kamu tidak percaya tapi jangan salahkan aku jika nanti Mamanya sisca Sherina benar-benar merebut Papa kamu dari Mama kamu." Fuja langsung pergi dan masuk ke dalam rumahnya.
Ariel masih terdiam dengan napas ngos-ngosan. Dia juga intinya tidak percaya dengan gosip itu, tapi memang benar banyak sekali Ibu-ibu yang sudah memergoki Papanya datang ke sini. "Aku harus menyelidikinya sendiri," batin Ariel.
kalian harus perlihatkan siapa kalian biar tama dan yg lainnya kicep, kesel sumpah