sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Tiga tahun telah berlalu sejak nama Lin terakhir kali disebut dengan nada takut.
Dan tiga tahun pula sejak aku berhenti berlari.
Aku menulis ini bukan sebagai ninja, bukan sebagai pembalas dendam, tapi sebagai Kenzy Tong—seorang yang akhirnya belajar hidup setelah terlalu lama bertahan.
Dulu, setiap pagi aku bangun dengan satu pertanyaan: siapa yang harus kuwaspadai hari ini?
Sekarang, aku bangun dengan suara angin dan langkah kaki orang-orang Tong yang tidak lagi bersembunyi. Kami menetap di lembah kecil yang bahkan tidak tercatat di peta lama. Bukan tempat strategis. Justru itu alasannya aman.
Scarlet runtuh dengan caranya sendiri. Lin menghilang dari percakapan dunia ninja. Banyak yang mengira aku membunuhnya. Tidak. Aku membiarkannya hidup dengan hal yang paling ia takuti—tidak relevan.
Tiga tahun lalu, aku pikir kemenangan berarti membuat musuh tak mampu berdiri. Aku salah. Kemenangan sejati adalah ketika mereka tak lagi layak untuk diingat.
Aku masih mengingat duel strategiku dengan Lin Weishen. Tidak ada pedang, tidak ada teriakan. Hanya dua orang yang sama-sama lelah memainkan permainan panjang. Saat itu aku sadar—jika aku terus melangkah, aku akan menjadi versi lain dari dirinya. Dan aku menolak itu.
Kini, aku melatih anak-anak Tong bukan untuk bertarung, tapi untuk membaca dunia. Aku mengajarkan mereka kapan harus melangkah maju, dan—yang lebih penting—kapan harus berhenti. Kekuatan tanpa arah hanya akan menciptakan Scarlet baru. Aku tidak ingin itu terjadi lagi.
Kadang, saat malam terlalu sunyi, kenangan Aokawa datang tanpa diundang. Api, suara runtuhan, dan wajah ayahku saat menyuruhku bersembunyi. Luka itu tidak pernah benar-benar hilang. Tapi sekarang, ia tidak lagi mengendalikan langkahku.
Aku sering bertanya pada diriku sendiri:
Jika ayah melihatku sekarang, apakah ia akan bangga?
Aku tidak tahu jawabannya. Tapi aku tahu satu hal—aku tidak lagi hidup hanya untuk membalas kematian. Aku hidup untuk memastikan tidak ada anak lain yang tumbuh dengan dendam sebagai kompas hidupnya.
Dunia ninja masih penuh intrik. Akan selalu ada Lin lain, Scarlet lain. Aku tidak naif. Tapi aku juga tidak lagi merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki segalanya sendirian.
Jika suatu hari namaku kembali disebut, aku ingin itu bukan sebagai legenda pembalas dendam. Aku ingin dikenang sebagai seseorang yang berhenti tepat waktu.
Karena terkadang, keberanian terbesar bukanlah melanjutkan pertarungan—
melainkan memilih untuk hidup setelah semuanya selesai.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun,
aku tidur tanpa bayangan di belakangku.
Aku berumur dua puluh delapan tahun sekarang.
Jika kau menemuiku di jalan desa kecil ini, kau mungkin tidak akan mengenaliku sebagai siapa pun. Aku bukan legenda. Aku bukan kepala klan. Aku hanya pria yang bangun pagi lebih awal, menyiapkan teh, lalu memeriksa ladang sebelum matahari benar-benar naik. Pedangku masih ada, tersimpan rapi—bukan untuk dipamerkan, tapi untuk diingatkan bahwa aku pernah menjadi seseorang yang hidup dari konflik.
Tiga tahun terakhir mengajarkanku bahwa hidup setelah perang jauh lebih sulit daripada perang itu sendiri.
Dulu, setiap langkahku punya tujuan jelas: melindungi Tong, membaca musuh, mengantisipasi pengkhianatan. Sekarang, tujuanku lebih sederhana—memastikan keluarga kami bisa hidup tanpa harus terus menoleh ke belakang. Keluarga Tong tidak lagi bersembunyi, tapi kami juga tidak menonjol. Kami ada. Dan itu sudah cukup.
Aku mengajar anak-anak setiap sore. Bukan hanya teknik bertahan, tapi cara berpikir. Aku selalu bilang pada mereka: jangan cepat merasa benar. Dunia tidak hitam putih. Scarlet pernah merasa mereka benar. Lin merasa ia paling rasional. Aku sendiri dulu merasa dendamku adil. Semua itu nyaris menghancurkan segalanya.
Kadang aku lelah. Bukan secara fisik, tapi lelah menimbang keputusan-keputusan kecil yang menentukan masa depan orang lain. Menjadi dewasa berarti sadar bahwa setiap pilihan punya harga, dan tidak semua harga bisa dibayar dengan keberanian.
Aku masih bermimpi tentang Aokawa. Tidak sesering dulu, tapi cukup untuk mengingatkanku bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Bedanya, sekarang aku tidak terbangun dengan tangan mengepal. Aku bangun, menarik napas, lalu kembali ke hidup yang sedang kubangun.
Orang-orang bertanya kenapa aku tidak menikah, tidak membangun klan besar, tidak memanfaatkan namaku. Aku hanya tersenyum. Mereka tidak tahu betapa mahalnya hidup dengan nama besar. Aku pernah hidup dengan nama yang dibenci, dan itu cukup seumur hidup.
Jika ada satu hal yang kupelajari di umur dua puluh delapan, itu adalah: kekuatan sejati bukan tentang seberapa keras kau memukul dunia, tapi seberapa lembut kau bisa hidup di dalamnya tanpa kehilangan prinsip.
Sesekali, kabar dari luar datang—tentang konflik baru, klan baru, ancaman baru. Aku mendengar, menimbang, lalu membiarkannya lewat. Bukan karena aku takut, tapi karena aku tahu tidak semua masalah membutuhkan kehadiranku.
Aku masih Kenzy Tong. Darah itu tidak berubah. Tapi aku tidak lagi hidup untuk membuktikan apa pun.
Malam hari, saat angin lembah bergerak pelan dan lampu-lampu rumah menyala satu per satu, aku duduk di beranda dan berpikir: mungkin inilah kemenangan yang sebenarnya. Bukan dunia yang tunduk, bukan musuh yang jatuh—melainkan hidup yang akhirnya tenang tanpa rasa bersalah.
Dan jika suatu hari aku harus kembali menjadi bayangan, aku akan melakukannya sebagai pria dewasa yang tahu kapan harus melangkah… dan kapan harus pulang.