NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Mantan

Terjebak Cinta Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

Setelah tiga tahun berpisah, Rocky kembali menggemparkan hati Ariana dengan membawa calon tunangannya.
Siapa sangka CEO tempat Ariana bekerja adalah sang mantan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Nelly

*****

" Nama nya Ariana kan, Jhon?" Tanya Nelly dengan mata yang memperhatikan jalan ketika dia duduk di bangku belakang mobil yang di kendarai Jhoni.

Jhoni seketika langsung kaget sewaktu Nelly menyebut nama Ariana. Dia tahu betul siapa orang yang Nelly maksud kan pada nya.

" Saya tahu hubungan mereka. Dan saya juga tahu kalau Rocky sangat mengejar - ngejar mantan nya itu. Tapi sayang, mantan nya nggak mau lagi sama dia kan?" Ucap Nelly lagi karena Jhoni hanya diam.

" Siapa yang nona maksud? Saya tidak mengerti." Jawab Jhoni berbohong.

Nelly tersenyum. Menatap Jhoni sebentar dari kaca spion di atas. Lalu kembali mengalihkan mata nya ke jalan.

" Nggak usah sok nggak tahu, Jhoni. Di bayar berapa kamu sama Rocky untuk menutupi kebohongan nya?"

" Saya bukan hanya tahu nama nya saja. Saya juga tahu orang nya, rumah nya, pekerjaan nya. Saya tahu semua nya. Semua nya tentang perempuan murahan itu, Jhoni." Tambah Nelly.

Rasa amarah Jhoni ingin meledak ketika ia mendengar Nelly menyebut Ariana sebagai wanita murahan.

Hatinya terasa teriris mendengar ucapan itu. Ariana, yang telah dekat dengannya sejak pertama kali bertemu saat ia berpacaran dengan Rocky, bukanlah sosok yang pantas untuk dicemarkan namanya.

Amarahnya semakin memuncak mendengar cercaan itu, namun sebagai bawahan, dia terpaksa menelan rasa frustasinya dan terjebak dalam ketidakberdayaan, hanya bisa merasakan getirnya mendengarkan tanpa bisa membela.

" Sampai kan sama bos kamu. Dia harus lebih hati - hati lagi menyembunyikan simpanan nya itu. Jangan sampai saya menemukan nya dan melakukan hal yang tidak bisa di sangka oleh Rocky. Saya punya kendali penuh atas Rocky. Tidak ada perempuan yang berhak menjadi milik Rocky kecuali Nelly. Apa lagi hanya karyawan biasa seperti Nelly." Ancam Nelly menatap nyalang pada Jhoni.

" Sudah berapa lama mereka berhubungan?" Tanya Nelly.

" Maaf nona, saya tidak tahu." Jawab Rocky.

" Terserah kamu jika kamu masih ingin menutupi nya. Nama nya juga kacung, yah... Kamu pasti membela majikan kamu lah." Sindir Nelly menyeringai.

" Saya bisa pastikan jika Ariana tidak akan mendapatkan Rocky dari saya. Tapi, jika bos kamu itu masih ngotot ingin mempertahan kan hubungan nya dengan Ariana. Tentu dia tahu akibat nya. Selama Tante Yusnita berada dalam genggaman saya, dia tidak akan bisa berbuat apa - apa." Sambung Nelly lagi.

Ponsel di saku kanan Jhoni mendesis seperti ular yang marah, suaranya terdengar jelas membelah keheningan malam, bahkan Rocky di seberang sana bisa merasakannya.

Setiap kata yang terlontar dari mulut Nelly adalah bagai peluru yang menerjang, penuh dengan ancaman yang menggema menembus telinga Jhoni, meninggalkan rasa takut yang membekas di udara.

" Berengsek kamu, Nelly." Ucap Rocky kaleng minuman nya.

Emosi di hati Rocky seakan ingin meledak mendengar Nelly mengatai Ariana dan mengancam akan melakukan apa pun pada Ariana jika mereka masih berhubungan.

Telinga nya sudah tidak tahan lagi mendengarkan lanjutan pembicaraan mereka. Dia segera mematikan ponsel nya dan mengirim kan pesan pada Jhoni.

( Kosong kan tempat nya besok.)

Sebuah pesan yang menjadi sebuah pesan misterius untuk di artikan orang lain.

*

*

*

Saat sedang asyik menikmati acara nya, Lily di kagetkan dengan kehadiran Rocky yang tiba - tiba menyentuh lengan nya dari belakang.

" Pak Rocky? Ada apa?" Tanya Lily kaget.

Wajah Lily terlihat kaget juga bingung kala itu. Karena ini untuk pertama kali nya dia berhadapan begitu dekat dengan Rocky. Selama ini, dia hanya melihat Rocky dari jauh.

Kini jarak mereka begitu dekat, bahkan Lily bisa mencium aroma maskulin yang menyeruak dari tubuh Rocky. Bahkan Lily bisa melihat betapa tampan nya seorang Rocky yang kini berdiri di hadapan nya.

" Ya Tuhan... aku mimpi apa semalam? Kenapa dia begitu tampan?" Bathin Lily memuji ketampanan Rocky.

" Lily..." Panggil Rocky menyadarkan Lily dari lamunan nya.

" Ehhh ya Pak Rocky? Ada perlu apa ya pak? Bapak ke sini?" Tanya Lily berusaha biasa menjauhkan rasa grogi nya saat ini.

" Saya butuh bantuan kamu." Jawab Rocky.

" Bantuan saya?  Bantuan apa, pak? Apa ada masalah?"

" Tolong bawa kan tas Ariana pada saya."

" Tas Ariana? Memang nya Ariana dimana, pak? Kenapa dia nggak minta langsung sama saya?" Lily menaikkan suara nya satu oktaf karena dia begitu kaget.

" Ssttt... kamu dengar kan saya. Ariana mabuk, dan saya harus membawa dia pulang sekarang. Jangan katakan pada siapa pun kalau Ariana pulang dengan saya. Kalau ada yang bertanya soal Ariana, katakan saja kalau Amelia sudah menjemput nya."

" Tapi, pak...."

" Sudah jangan tapi - tapi. Saya tidak punya waktu banyak untuk berlama - lama di sini." Potong Rocky sebelum Lily sempat melanjutkan kebingungan nya.

Lily mengangguk cepat walaupun di dalam hati nya seribu pertanyaan siap untuk meluncur kapan saja.

" Lily..."

" Ya, pak?" Lily kembali menoleh pada Rocky.

" Saya mohon sama kamu, tolong simpan rahasia ini. Saya akan jelaskan sama kamu semua nya, jika situasinya memungkinkan." Ucap Rocky dengan wajah memohon.

" Baik, pak. Sebentar, saya ambil tas Ariana dulu." Balas Lily, dia pun melangkah dan berlalu dari hadapan Rocky.

Selang beberapa menit, Lily kembali dengan tas Ariana.

" Ini, pak." Kata Lily menyerahkan tas Ariana.

" Terima kasih." Jawab Rocky menerima tas itu.

" Tapi Ariana baik - baik saja kan, pak?" Tanya Lily khawatir.

" Kamu bisa percayakan Ariana pada saya. " jawab Rocky dengan penuh keyakinan.

Lily mendesah pelan. Walau pun masih bingung, setidak nya dia dapat melihat wajah Rocky yang begitu serius soal keamanan Ariana.

" Ini yang salah gue apa memang gue yang bengok ya? Kalau dia mau macam - macam sama Ariana bagaimana? Bodoh banget sih gue... Kenapa nggak gue aja sih tadi yang ngasi langsung tas nya sama Ariana? Kan gue bisa lihat tuh Ariana beneran mabuk apa tidak." Gumam Lily merutuki diri nya sendiri.

*

*

*

Ariana terbangun di ruangan yang asing, hanya dengan tank top tipis yang menempel di tubuhnya. Dia melirik sekeliling, tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain.

" Aku dimana? Kenapa tidak ada orang?" Gumam Ariana memandangi sekitar nya.

" Apa ini hotel? Siapa yang sudah membawa aku kesini?"

Pandangannya tertumbuk pada sebuah jas yang tergeletak di atas kursi, mengingatkannya pada kejadian malam sebelumnya. Pikirannya mulai terputar kembali ke momen ketika dia mabuk dan Marvin, dengan senyumnya yang penuh arti, membawanya ke ruangan ini. Ariana ingat jelas, hampir mereka berciuman.

" Astaga pak Marvin? Apa yang sudah kami lakukan?" Gumam Ariana tak percaya dengan ingatan sesaat nya itu.

" Apa dia sudah melakukan nya di saat aku mabuk?" Tanya Ariana bermonolog sendiri.

Realisasi itu menghantamnya keras, dan dengan tiba-tiba, air mata mulai mengalir deras dari matanya. Dia menarik lengan bajunya ke atas, menutupi mulutnya untuk menahan suara isakannya yang pecah dalam keheningan.

Dalam diam, dia merasakan kesedihan yang mendalam, memeluk dirinya sendiri dalam upaya untuk merasa aman lagi.

" Ariana... kenapa kamu begitu bodoh?"

Air mata menetes deras, membasahi pipinya yang pucat. Sesekali, tangannya menghapus air mata yang terus menderas, tapi hatinya tetap tak bisa dibendung.

Ariana terguncang oleh realitas pahit, dia telah mempercayai Marvin, pria yang dikenalnya selama ini adalah pria baik terlihat begitu menghormati nya.

"Dia... dia tidak seharusnya membawaku ke sini," Gumamnya lirih, suaranya tersekat oleh isak tangis.

Ingatannya masih kabur tentang malam itu, namun satu yang pasti, dia tidak pernah menyangka Marvin akan mengambil keuntungan dari keadaannya yang tidak sadar.

Pikiran Ariana melayang pada ciuman yang mereka bagi di pesta itu, sebuah tindakan yang seharusnya sederhana dan tidak berarti, tapi sekarang terasa seperti sebuah perangkap.

" Ternyata dia tidak sebaik yang aku bayangkan. Berengsek kamu Marvin..." Batin Ariana, matanya nanar menatap ke luar jendela, mencari jawaban di keheningan tak berjawaban.

Dalam keheningan kamar itu, hanya suara isak tangis Ariana yang terdengar, seolah melodi kesedihan yang tak berkesudahan. Dia merasa dikhianati, tubuhnya gemetar setiap kali ingatan tentang malam itu mencoba menerobos masuk ke pikirannya. Dalam hatinya, dia berharap ini hanya mimpi buruk yang segera berakhir.

Rocky, dengan rambutnya yang masih basah setelah mandi, melangkah keluar dari kamar. Ia terhenti sejenak ketika melihat Ariana, yang duduk meringkuk di atas ranjang dengan airmata yang terus mengalir.

Dengan langkah hati-hati, Rocky mendekati Ariana, duduk di sampingnya, dan dengan lembut bertanya.

"Ari, ada apa? Kenapa kamu menangis?" Tanya Rocky dengan lembut.

Ariana menatap Rocky dengan mata yang sembab, bibirnya gemetar mencoba untuk menjawab, namun hanya isak tangis yang terdengar. Walau pun sebenar nya juga masih bingung dengan keberadaan Rocky di sana.

Rocky, dengan rasa iba yang mendalam, memeluk Ariana dengan erat, mencoba memberikan kehangatan dan kenyamanan. Di dalam pelukan itu, Ariana merasa aman dan perlahan membuka hatinya.

" Kenapa kamu ada di sini, Rocky?" Tanya Ariana.

Dia mulai berbicara dengan suara yang serak.

"Aku... aku kira itu Marvin, Rocky. Aku takut dia telah...," Kata-kata Ariana terputus oleh tangisnya yang kembali pecah.

Rocky mengusap punggung Ariana dengan lembut, seolah memberikan sedikit ketenangan buat Ariana yang sekarang di landa rasa frustasi.

"Tidak, Ari. Marvin tidak melakukan apa pun pada mu. Aku yang membawa mu kesini. Aku yang menjagamu, aku yang di sampingmu. Marvin tidak menyentuhmu." Ucap Rocky dengan penuh keyakinan agar Ariana tidak semakin berfikir kemana - mana.

Kata-kata itu seperti obat penenang bagi Ariana.

Kesalahpahamannya terhadap situasi malam itu terklarifikasi, dan ia menangis lebih keras, kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena lega dan bersyukur.

Dalam pelukan Rocky, Ariana menumpahkan semua kekhawatirannya, merasa bersyukur memiliki seseorang yang melindunginya di saat paling rentan.

*

*

*

" Makanan nya sudah datang. Kita sarapan dulu. Kamu pasti lapar kan? Ini juga ada pereda mabuk untuk kamu. Aku sudah telpon Lily kalau hari ini kamu nggak usah ke kantor dulu. Marvin pasti tahu alasan nya kenapa." Ucap Rocky saat dia menyiapkan makanan ke meja.

" Kamu punya nomor nya Lily?" Tanya Ariana heran.

" Aku hubungi dari hp kamu." Jawab Rocky santai.

" Kamu hubungi Lily pake hp aku? Terus kamu bilang apa? Kalau dia curiga kenapa laki - laki yang memegang hp ku, bagaimana?" Tanya Ariana lagi panik.

" Dia juga tahu kalau semalam, aku yang membawa mu pulang. Nanti kamu saja yang jelaskan dengan dia. Nggak perlu berbohong, aku lihat orang nya bisa jaga rahasia kok." Jawab Rocky dengan santai.

" Aku harus jelaskan apa sama Lily? Aku bilang saja kalau kamu itu mantan pacar aku, iya?"

" Salah. Bukan mantan pacar, tapi pacar, sayang.  Sudah lah, sekarang ayo kita makan. Setelah ini aku harus pulang. Semalam aku sudah menghubungi Amel, sebentar lagi dia akan datang untuk menemani kamu sampai aku kembali."

" Kalau pulang, pulang saja. Nggak perlu kembali kesini lagi. Aku bisa pulang dengan Amel nanti."

" Memang nya aku tidak boleh kembali ke sini? Apa kamu nggak kangen sama aku?" Tanya Rocky mengerlingkan sebelah mata nya.

" Tunangan kamu pasti sedang menunggu kamu sekarang. Pulang lah. Aku belum lapar. Aku akan sarapan setelah Amel datang nanti." Jawab Ariana dengan datar.

Wajah Ariana menunjukkan kalau dia sedang tidak marah sekarang. Tapi wajah seperti ini lah yang membuat Rocky harus menjelaskan tanpa Ariana menjadi salah faham seterus nya.

Dia meletakkan piring makanan dan berjalan mendekati ranjang. Dia duduk di ujung ranjang, menyentuh tangan Ariana, mata nya juga menatap ke netra hitam itu.

" Sungguh aku tidak mengetahui kalau kami akan bertunangan. Ini semua rencana mama dan Nelly. Papa bahkan tidak tahu tentang rencana mereka. Aku tidak bisa berbuat apa - apa semalam. Banyak relasi kerja papa yang hadir di acara itu. Kalau aku protes, sama saja aku akan mempermalukan keluarga ku. Maaf kan aku, Ari. Aku menyesal, sungguh aku menyesal karena tidak bisa mencegah semua rencana mereka." Ucap Rocky dengan tulus.

" Aku nggak papa. Aku juga tidak berhak marah kan. Aku bukan siapa - siapa kamu. Sekarang ini, masa depan kamu adalah Nelly. Kembalilah pada nya, lupakan aku." Balas Ariana dengan serius. Kini dia begitu ikhlas jika harus melepaskan Rocky pada orang lain.

" Look at my eye's, Ariana. Lihat betapa dalam nya cinta ku padamu." Rocky menangkupkan kedua tangan nya menyentuh pipi Ariana agar Ariana dapat menatap wajah nya dengan intens.

" Katakan, kalau kau tidak mencintai aku, Ari. Katakan jika tidak ada lagi cinta untuk ku." Paksa Rocky dengan suara sendu.

" Apa gunanya cinta jika kita tetap tidak akan bisa bersama?"

" Sekali saja kamu bilang, kalau kamu masih mencintai aku, aku akan berjuang sekali lagi untuk cinta kita." Mohon Rocky.

Dalam kedalaman matanya yang misterius, Ariana menatap Rocky. Tatapan itu seolah menembus jiwa, mencari seribu kata yang tak terucapkan. Ada kehampaan, ada pertanyaan, ada luka yang tak terobati, semuanya terpampang jelas dalam kilauan mata Ariana yang sayu.

" Aku tidak mencintai, mu." Ucap Ariana dalam satu tarikan nafas.

Rocky menjatuhkan tangan nya dan menunduk.

" Baiklah, aku pulang dulu. Sampai nanti. Tapi biarkan aku berjuang untuk kembali menyentuh hatimu." Rocky bangkit dari ranjang, dia mengambil jas nya dan berjalan menuju pintu.

Ariana merasakan dentuman berat di dadanya, sebuah perasaan yang mencekik setiap denyut nadi. Memandangi langkah Rocky yang gontai, kesadaran itu datang menghantam.

Dia tahu betul kesalahannya. Menolak untuk berjuang bersama orang yang dicintainya adalah kekeliruan yang tak terampuni.

"Tidak," Bisiknya pelan namun penuh keyakinan.

"Aku tidak bisa dan tidak akan melepaskan Rocky. Kami harus bertahan bersama." Bathin Ariana.

" Rocky..." Panggil Ariana, dia kini bahkan sudah berdiri di depan ranjang.

Rocky berhenti namun tidak mengalihkan pandangan nya.

" Aku mencintaimu. Aku masih mencintaimu. Aku masih sangat mencintaimu. Dulu, sampai sekarang. Tidak ada tempat untuk orang lain di hatiku, selain kamu. Only you." Ucap Ariana dengan jelas dan penuh keyakinan.

Rocky sontak berbalik. Beberapa dia detik dia memandangi Ariana yang kini tersenyum pada nya. Jas yang dia jatuh seiring langkah nya mendekati Ariana. Di peluknya tubuh mungil itu erat - erat. Seolah tak memberi celah sedikit pun untuk Ariana lari dari nya.

Kini Ariana tidak lagi menyembunyikan perasaan nya. Dia menguatkan tekad di hatinya. Bukan hanya Rocky yang akan berjuang, dia pun akan berjuang untuk menyatukan cinta mereka yang sempat kandas oleh keegoisan masing - masing.

1
Ara putri
Hay kak, jika berkenan mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
kalea rizuky
laki g tegas keluar dr pekerjaan aja lah dripada ketemu. mantan goblok
kalea rizuky
trs arina pergi knp ini bapak nya Rocky kayak dukung lo apa emak nya Rocky yg buat ariana pergi
kalea rizuky
masih menyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!