NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Krisis Terakhir

​Area parkir VIP di dekat gerbang sekolah terasa panas dan berdebu. Aspal memantulkan terik matahari siang yang menyengat, tapi Julian dan Alea tidak merasakannya. Keringat yang membasahi tubuh mereka adalah sisa adrenalin dari panggung.

​Julian berhenti berlari tepat di depan mobil sedan hitam milik ayahnya. Napasnya memburu. Dadanya naik turun.

​Di sana, bersandar di pintu mobil dengan tangan bersedekap, berdiri sosok Dokter Prasetyo.

​Ternyata beliau belum pergi.

​Pak Wahyu, sang supir, berdiri kaku di sampingnya, memegang koper Julian yang sudah dikeluarkan dari bagasi. Koper itu berdiri tegak seperti nisan penanda nasib.

​Alea, yang berdiri di samping Julian, langsung meremas tangan Julian erat. Insting protektifnya menyala.

​"Om," sapa Alea duluan, suaranya serak tapi berani. "Om liat tadi kan? Julian nggak salah. Julian justru pahlawan. Dia yang bongkar korupsi Rian. Dia yang nyelamatin uang sekolah."

​Dokter Prasetyo tidak menatap Alea. Tatapan tajamnya terkunci lurus pada Julian. Pada kemeja batik Julian yang basah oleh keringat, pada kacamata yang miring, dan pada tangan Julian yang menggenggam tangan gadis "berandalan" itu.

​"Masuk mobil," perintah Dokter Prasetyo datar. "Kita sudah terlambat ke bandara."

​Hati Julian mencelos.

​Setelah semua itu? Setelah pembuktian di panggung? Setelah nilai try out sempurna? Ayahnya masih tidak peduli?

​"Nggak adil, Om!" protes Alea, maju selangkah menghalangi pintu mobil. "Om nggak bisa bawa Julian gitu aja! Dia punya hak buat milih!"

​"Alea, minggir," kata Dokter Prasetyo dingin. "Ini urusan keluarga."

​"Saya juga keluarganya! Saya band-nya!" teriak Alea. Air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya. "Om buta ya? Anak Om itu jenius! Dia bisa Fisika, dia bisa mimpin organisasi, dan dia bisa main gitar kayak dewa! Kenapa Om malah mau buang dia?!"

​"ALEA!"

​Bentakan Julian menghentikan teriakan Alea.

​Gadis itu menoleh kaget. Julian melepaskan genggaman tangan mereka. Dia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan ayahnya. Dia tidak lagi menunduk. Dia berdiri tegak, setinggi ayahnya.

​"Biar Julian yang ngomong," kata Julian tenang.

​Alea mundur setengah langkah, memberikan panggung terakhir untuk Julian.

​Julian menatap mata ayahnya. Mata yang selama 17 tahun selalu membuatnya takut dan merasa kecil. Tapi hari ini, Julian tidak merasa kecil. Resonansi musik tadi masih bergetar di tulang rusuknya.

​"Pa," Julian memulai. Suaranya tidak bergetar. "Papa liat di layar tadi? Bukti korupsi itu? Julian yang kumpulin datanya. Julian analisis laporan keuangannya. Julian pake logika dan ketelitian yang Papa ajarin buat nangkep orang jahat."

​Dokter Prasetyo diam, mendengarkan.

​"Papa liat nilai try out Julian kemarin? 100. Sempurna. Julian belajar mati-matian buat itu."

​Julian menunjuk ke arah panggung di kejauhan, di mana suara riuh penonton masih terdengar meneriakkan namanya.

​"Dan Papa liat Julian main gitar tadi? Itu juga Julian, Pa. Itu bukan aib. Musik itu yang bikin otak Julian tetep waras di tengah tekanan Papa. Musik itu yang bikin Julian punya temen yang tulus kayak Alea. Musik itu..."

​Suara Julian melembut, matanya berkaca-kaca.

​"...musik itu satu-satunya cara Julian ngerasa deket sama Mama."

​Rahang Dokter Prasetyo mengeras mendengar kata "Mama". Pertahanan wajah datarnya retak sedikit.

​"Kamu pikir dengan main gitar di panggung, kamu sudah jadi laki-laki hebat?" tanya Dokter Prasetyo sinis. "Kamu pikir hidup itu cuma soal tepuk tangan?"

​"Bukan soal tepuk tangan, Pa," jawab Julian tegas. "Ini soal keberanian menjadi diri sendiri. Selama ini Julian jadi robot Papa. Julian lakuin semua yang Papa mau. Tapi hari ini, Julian lakuin apa yang Julian mau."

​Julian mengambil napas panjang.

​"Kalau Papa tetep mau kirim Julian ke Magelang, silakan. Julian bakal pergi. Julian bakal jadi dokter bedah hebat kayak mau Papa. Tapi Papa harus tau satu hal..."

​Julian menatap ayahnya lekat-lekat.

​"...Papa bakal kehilangan anak Papa selamanya. Karena Julian yang pulang ke rumah nanti cuma cangkang kosong. Hatinya udah mati di Jakarta."

​Hening.

​Angin panas berhembus, menerbangkan debu jalanan. Alea menahan napas, tangannya menutup mulut, takut isakannya terdengar. Pak Wahyu menunduk, tidak berani melihat drama keluarga majikannya.

​Dokter Prasetyo menatap Julian lama. Sangat lama. Dia melihat bayangan istrinya di mata Julian. Dia melihat keras kepala yang sama. Dia melihat... nyawa.

​Selama bertahun-tahun, dia memang berusaha mematikan sisi seni Julian karena dia takut. Takut Julian akan menjadi lemah. Takut Julian akan gagal. Takut Julian akan meninggalkannya seperti istrinya meninggalkannya.

​Tapi melihat Julian berdiri tegak, berkeringat, dan penuh gairah hidup... Dokter Prasetyo sadar. Dia hampir saja membunuh jiwa anaknya sendiri.

​Dokter Prasetyo menghela napas panjang, lalu merogoh saku jasnya.

​Dia mengeluarkan tiket pesawat Jakarta-Jogja.

​Julian memejamkan mata, siap menerima nasib.

​KREK.

​Suara kertas dirobek terdengar jelas.

​Julian membuka mata. Tiket itu sudah terbelah dua di tangan ayahnya.

​"Pa?" Julian ternganga.

​Dokter Prasetyo membuang sobekan tiket itu ke tempat sampah kecil di dalam mobil.

​"Masuk mobil," kata Dokter Prasetyo, nadanya masih kaku tapi tidak sedingin tadi. "Kita pulang. Ke rumah."

​"Maksud Papa... Julian nggak jadi pindah?"

​"Menurut kamu?" Dokter Prasetyo menatapnya tajam. "Kalau tiketnya sudah Papa robek, kamu mau jalan kaki ke Magelang?"

​Air mata Julian tumpah. Bukan air mata sedih, tapi air mata lega yang luar biasa. Bahunya yang tegang merosot lemas.

​"Makasih, Pa... Makasih..."

​"Jangan senang dulu," potong ayahnya cepat. "Syarat tetap berlaku. Nilai tidak boleh turun dari 90. Dan..."

​Dokter Prasetyo melirik Alea yang masih bengong dengan wajah sembab.

​"...dan kalau kamu mau main musik lagi, mainkan yang benar. Jangan main di tempat kumuh yang banyak asap rokok. Papa tidak mau paru-paru kamu rusak sebelum masuk kedokteran."

​Alea membelalak. "Hah? Jadi... Om bolehin Julian nge-band?"

​Dokter Prasetyo menatap Alea dengan tatapan menilai.

​"Saya tidak bilang boleh. Saya bilang: mainkan yang benar. Dan kamu, Nona..."

​Alea langsung berdiri tegak. "S-siap, Om!"

​"Tolong pastikan anak saya tidak bolos bimbel lagi demi nonton film hantu di bioskop."

​Wajah Julian dan Alea memerah padam bersamaan.

​"Om... Om tau?" cicit Alea.

​"Saya punya mata-mata di mana-mana," kata Dokter Prasetyo datar. "Masuk, Julian. Pak Wahyu, masukkan koper ke bagasi lagi."

​Julian berbalik menatap Alea. Senyumnya merekah lebar, senyum paling bahagia yang pernah dilihat Alea.

​"Gue... gue nggak jadi pergi, Le," kata Julian, seolah masih tidak percaya.

​Alea tertawa sambil menangis. Dia meninju pelan bahu Julian. "Dasar anak manja! Bikin panik orang se-kecamatan aja lo!"

​"Nanti malam gue kabarin. HP gue kayaknya bakal dibalikin," bisik Julian.

​"Oke. Gue tunggu. Awas lo ilang lagi."

​Julian mengangguk. Dia masuk ke dalam mobil.

​Sebelum kaca jendela naik, Dokter Prasetyo tiba-tiba bersuara lagi, tanpa menoleh ke arah Julian.

​"Teknik shredding kamu tadi... clean. Tapi bending di nada tinggi masih kurang presisi sedikit. Persis kayak ibumu dulu."

​Kaca jendela menutup.

​Mobil sedan hitam itu melaju pergi meninggalkan sekolah.

​Di dalam mobil, Julian tersenyum sambil menangis diam-diam. Itu adalah pujian pertama tentang musik yang keluar dari mulut ayahnya setelah enam tahun.

​Di parkiran, Alea melompat-lompat kegirangan sambil berteriak, "YES! YES! MERDEKA!" sampai Pak Satpam geleng-geleng kepala.

​Boss terakhir telah dikalahkan. Bukan dengan pedang, tapi dengan kejujuran dan distorsi gitar.

...****************...

Bersambung......

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!