NovelToon NovelToon
Menikahi Adik Ipar Bos

Menikahi Adik Ipar Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dini ratna

Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu

~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.

Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.

BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Yang Indah

Pagi ini Essa dibuat sibuk dengan tugas sekolah. Ciuman semalam membawanya hanyut ke atas awan, kewarasannya hampir hilang karena memikirkan ciuman pertamanya dengan pria dewasa sekaligus suaminya.

Essa dibuat merinding ia tidak bisa tidur dan lupa jika hari ini adalah ujian pertamanya. Oh, shit. Bagaimana dia bisa melupakan itu, menghapal dalam waktu lima menit sangat tidak memungkinkan, bukan rumus-rumus atau ilmu pengetahuan yang terngiang di kepalanya yang ada bayangan Alex dan ciuman itu.

"Ya, ampun hari pertama ujian saja sudah begini lalu bagaimana dengan hari esok," umpat Essa seraya menalikan ikatan sepatunya.

"20 menit lagi bel berbunyi, aku harus segera pergi."

Essa menyisir rambutnya asal, tidak ada ikatan daun kelapa, kuncir kuda, atau untun Jepang. Biasanya Essa selalu mengutamakan rambutnya yang dihias secantik mungkin tapi kali ini semua itu tidak berarti, tidak ada yang peduli penampilannya semua orang pasti sibuk mempersiapkan ujian hari ini.

Essa menyambar tasnya, berlari keluar yang hendak berjalan ke arah pintu utama. Namun, panggilan Alex menghentikan langkahnya hingga berbalik. Saking terburu-burunya Essa tidak melihat kehadiran Alex yang berada di dapur.

"Essa!"

"Iya Om—"

Sedetik Essa mematung, netranya terpaku debaran jantung yang tak biasa. Penampilan Alex pagi ini sungguh membuatnya tergoda, oh Tuhan godaan apa lagi ini, rambut basah, kancing kemeja terbuka, lengan kemeja yang dilipat sampai siku dan ... apron hitam yang melekat pada tubuh atletisnya.

Sungguh pemandangan yang sangat indah, jika tidak karena ujian Essa, ingin sekali memandang wajah dan tubuh indah itu lebih lama.

"Pagi Om," sapanya kikuk.

"Kenapa terburu-buru, sarapanlah dulu."

"Makasih Om, tapi ... aduh ... bukannya gak mau cuman gak ada waktu. Dua puluh menit— ya, dua puluh menit lagi bel berbunyi, aku tidak bisa bersantai karena masih ada jalanan padat yang harus kulewati, belum naik bus yang lajunya sangat lama dan mungkin membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di sekolah. Ini ujian pertama di semester kedua aku tidak mungkin terlambat, kan Om."

"Duduklah dan sarapanlah ini perintah," tegas Alex yang meletakkan kedua piring nasi goreng di atas meja. Alex, berjalan lagi ke arah meja bar untuk mengambil segelas susu dan kopi lalu ia letakkan lagi di atas meja.

Kedua tangannya bergerak cepat membuka tali apron yang saling mengikat di belakang punggungnya. Setelah kain itu terlepas, barulah tubuh atletis Alex terlihat jelas, sampai Essa menelan salivanya berulang-ulang.

Godaan apa lagi ini, kenapa setelah malam itu Om Alex semakin terlihat tampan.

Oh, tidak. Essa langsung menepis pikiran itu dari kepalanya.

"Essa, cepat masih ada waktu. Kamu tidak akan fokus ujian jika perutmu kosong."

"Bagaimana aku bisa fokus, yang ada bayangan Om terus yang muncul," gumam Essa sedikit kesal tapi tidak terdengar oleh Alex. Jika pria itu mendengar sudah pasti tersenyum bangga saat ini.

"Jangan khawatir nanti aku yang antar, tiga menit cukup untuk mengantarkanmu. Sekarang cepatlah sarapan."

"Tiga menit apanya, memangnya naik karpet terbang bisa cepat tanpa kendala. Sudah tahu jalanan ibu kota macet." Essa menggerutu tapi walau begitu ia tetap berjalan ke arah meja makan.

Essa, menarik kursi ke belakang sebelum ia duduki. Bokongnya mendarat di sana walau ekspresi wajah tidak menginginkan. Dengan saru tarikan nafas, Essa hendak mengambil garpu dan sendok tapi Alex, malah menyuruhnya untuk mengeluarkan buku.

"Keluarkan buku mu."

Essa tercengang dan bengong. "Buku apa?"

"Buku pelajaran pertama ujian mu pagi ini."

"Tapi untuk apa? Om, aku sudah nggak ada waktu."

"Buka dan baca, setidaknya kamu membacanya sedikit walau tidak menghafal. Masih ada waktu lima menit." Kata Alex melihat jarum arlojinya.

Alex tahu betul jika Essa tidak sempat belajar yang langsung tertidur setelah berbincang lama dengannya. Alex tidak ingin ujiannya gagal hanya karena dirinya, semalam Alex hampir saja lupa dengan janjinya. Ciuman mereka hanyut sampai tidak sadar keduanya sudah berada dalam satu ranjang. Entah, kapan dan bagaimana caranya Alex membawa Essa ke atas kasur empuk itu, padahal mereka hanya bertukar saliva tidak lebih.

Dan Alex, hampir saja melakukan lebih.

Kembali pada Essa yang sedikit cemberut sambil mengeluarkan bukunya.

"Katanya disuruh sarapan tapi malah disuruh baca bu—" Belum sempat Essa melanjutkan perkataannya, mulutnya sudah penuh dengan nasi goreng yang Alex siapkan.

"Kamu baca saja bukumu, biar aku yang menyuapimu."

Sedetik Essa tercengang, dadanya bergetar hebat mendapat perhatian lebih dari Alex. Sungguh dunia terasa milik berdua ketika perlakuan romantis itu ditunjukkan.

Essa, terus membuka dan membaca lembar demi lembar. Sesekali ia membuka mulutnya saat Alex mengarahkan satu sendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya. Alex, menyuapinya dengan telaten hampir satu piring kosong tak tersisa hanya untuk menyuapi istrinya tapi Alex, pria itu belum sempat memakan nasinya, yang ia pindahkan ke dalam kotak bekal untuk istri kecilnya nanti.

Bagi pria meneguk kopi hangat di pagi hari sudah cukup mengisi perut kosongnya, Alex tidak pernah merokok yang memilih dua lembar roti untuk asupan gizinya di pagi ini. Setelah selesai, Alex meminta Essa untuk membereskan bukunya dan bersiap.

"Ayo kita berangkat. Masukan bukumu dan ini bekalmu. Jangan lupa diminum susunya." Alex seperti seorang ayah yang mengurus anaknya. Dan cerewetnya hampir mirip dengan ibunya.

Tidak hanya tampan, pintar dan jago memasak Alex juga cekatan yang hanya dalam hitungan menit dia sudah siap dengan setelan kantornya. Hanya saja hari ini berbeda, bukan jas yang dia pakai tetapi jaket kulit yang khas seperti anak geng motor di luar sana.

"Tunggulah di bawah," ujar Alex yang langsung pergi setelah menuju basemen. Essa, tidak sempat bertanya padahal ia penasaran dengan penampilan Alex pagi ini.

Mengingat waktu semakin berjalan, Essa cepat pergi meninggalkan apartemen yang langsung menuju lobby dan menunggu Alex di sana.

Tubuhnya sudah tidak nyaman berdiri, hatinya pun sudah mulai gelisah karena karena Alex tak kunjung muncul. Essa semakin khawatir, apa dia akan dihukum dan melewatkan ujian pertamanya.

"Ya, ampun. Di mana Om Alex, kenapa lama sekali."

Tidak berselang lama sebuah motor sport hitam berhenti di depannya. Essa, awalnya bengong matanya menatap heran si pemotor itu. Tapi tidak setelah kaca helm dibuka. Mulut Essa menganga lebar dengan mata membulat.

"Om—"

"Cepat naiklah."

Essa, segera naik. dan lagi-lagi Alex membantunya, tangannya terulur menggenggam pergelangan tangan Essa yang hendak naik ke atas motornya. Beruntung Essa memakai traning olah raga, saran Alex itu selalu ia ingat sehingga ketika naik motor paha mulus nya tidak terekspose.

"Surah?" tanya Alex sedikit menoleh.

"Sudah," jawab Essa dengan anggukan.

"Kalau begitu turun," ujar Alex membelalakan mata Essa.

"Kok turun? Om niat gak sih nganterin. Udah terlambat juga."

"Ya, katanya sudah."

"Maksudku sudah naiknya bukan sampai di sekolah," ketus Essa dengan marah. Alex, tersenyum dibalik helmnya. Ia hanya bercanda dan sedikit menggoda istrinya. Entah kenapa sikap usilnya selalu muncul ketika di hadapan Essa.

"Bercanda sayang."

"Sayang?"

Essa hampir terpaku, hatinya mendadak berdebar ketika panggilan itu lolos dari mulut Alex. Sejak kapan Alex memanggilnya sayang, tidak pernah.

Essa masih terpaku hingga tidak sadar ketika tangannya ditarik Alex agar memeluk perut pria itu. "Pegangan, jangan sampai jatuh nanti."

"Ah!" teriak Essa, ketika Alex mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi.

1
Khoirun Nisa
lanjutkan kakak ceritanya,
Inez Putri
sudah 3hari gak up, kok cm 1 up nya thour..
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.
Inez Putri
semangat thour
panjul man09
uh , cerita yg sama
panjul man09
jangan tumbuhkan rasa suka alex pada essa, tunggulah sampai essa tamat smu ,beri kesempatan essa kuliah dulu.
panjul man09
jangan terlalu banyak konflik seperti cerita di novel lain , alex harus lebih sabar menghadapi essa ,selalu mengalah , walaupun tidak saling cinta ,alex harus memperlihatkan keromatisannya pada essa
Dini_Ra
Jangan lupa komentar like dan Vote 💪🙏
Dini_Ra
Jangan lupa like dan Vote komentarnya🙏
Dini_Ra
Ayo dong like dan komentarnya 🙏
Dini_Ra
Tinggalkan jejak sedikitlah 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!