Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.
Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.
Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.
Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Istri Patuh
Ayu Puspita akhirnya tertidur menjelang subuh, kelelahan fisik dan mental setelah melewati malam yang penuh keintiman yang menyakitkan namun memuaskan bagi suaminya. Ia terbangun karena gerakan lembut di sampingnya.
Lingga Mahardika, sang CEO yang biasanya terbangun dengan ketegangan dan kaku, kini bangun dengan suasana hati yang luar biasa segar. Penderitaan karena hasrat yang menggebu-gebu selama berbulan-bulan telah hilang, digantikan oleh ketenangan sementara setelah pelepasan semalam—meski hanya melalui sentuhan Ayu.
Lingga menatap Ayu, senyum kecil, santai, dan penuh kepemilikan terukir di bibirnya. Ia terlihat lebih muda, lebih manusiawi. Aura dinginnya berkurang, digantikan oleh kehangatan seorang pria yang telah menemukan kedamaian yang dicuri.
"Pagi, Istriku," bisik Lingga, suaranya dipenuhi kemalasan yang nyaman.
Ayu tersipu, masih malu akan memori malam itu. Ia teringat segala deskripsi yang ia temukan dengan tangannya sendiri. "Pagi, Li—Lingga."
Ayu mencoba beranjak, tetapi tangan Lingga melingkari pinggangnya, menariknya kembali ke dada yang telanjang.
"Mau ke mana?" tanya Lingga, nada suaranya menguasai. "Hari ini adalah hari pertama kita sebagai suami istri. Tidak ada pekerjaan di jam ini."
Lingga membalikkan tubuh Ayu menghadapnya. Ia menangkup wajah Ayu dengan kedua tangannya, seperti yang ia lakukan saat mencuri ciuman pertama dulu. Namun, kali ini, ada hak dan kepastian.
"Aku akan pergi bekerja. Kau akan kembali menjadi asistenku yang dibayar penuh. Tapi sebelum kita keluar dari kamar ini, aku harus memuaskan diriku dulu," kata Lingga.
Lingga mencium Ayu. Itu adalah ciuman yang dalam, penuh klaim yang puas, dan sangat berbeda dari ciuman terlarang sebelumnya. Lingga menciumnya sepuas-puasnya, mengisi energi yang telah ia buang semalam, menikmati kebebasan untuk menyentuh, mencicipi, dan memiliki bibir Ayu tanpa rasa bersalah.
Ayu, meskipun awalnya malu, perlahan merespons ciuman itu. Ia menyadari bahwa di mata Lingga, ciuman ini adalah penanda dari status baru mereka. Ia membiarkan dirinya ditarik ke dalam intensitas itu, menginternalisasi perannya sebagai istri rahasia yang harus memuaskan kebutuhan suaminya.
Setelah ciuman panjang itu berakhir, Lingga melepaskan Ayu, napasnya berat, tetapi matanya bersinar.
"Itu adalah klaim Istri Mahardika," kata Lingga, menyentuh bibir Ayu dengan ibu jarinya. "Dan sekarang, kita kembali ke neraka profesional."
Mendefinisikan Batasan Baru.
Lingga bangkit, aura CEO-nya kembali, tetapi dengan lapisan keintiman yang baru. Ia mulai mengenakan bathrobenya, sementara Ayu berusaha menenangkan jantungnya.
"Dengarkan baik-baik, Ayu," kata Lingga, suaranya menjadi dingin dan tegas. "Mulai detik ini, status kita adalah rahasia terbesar. Ken tahu, dan dia akan bungkam. Kita kembali ke 'Jarak Profesional' yang tidak dapat ditembus."
Lingga mulai mendikte aturan baru:
Di Luar Kamar: Kau adalah Asisten Pribadi dengan gaji penuh. Bicara hanya tentang pekerjaan. Tidak ada sentuhan mata yang terlalu lama. Tidak ada interaksi yang menunjukkan keakraban.
Di Dalam Kamar: Kau adalah Istriku. Kewajibanmu adalah melayani suamimu. Dan saat aku membutuhkanmu, kau harus siap.
Keuangan: Gaji penuhmu akan ditransfer hari ini. Dan aku akan mengurus pendaftaran universitas dan beasiswamu secara diam-diam.
"Paham, Istriku?" tanya Lingga, menatap Ayu.
Ayu mengangguk. "Paham, Lingga. Tapi... bagaimana jika Ken atau tim keamanan melihat kita di lorong? Mereka tahu saya tidur di kamar Anda sekarang."
"Ken akan menutup mata. Tim keamanan hanya akan melihatku meninggalkan kamar, bukan kau," Lingga menjelaskan. "Kau akan keluar dari kamar ini 15 menit setelah aku keluar. Kau harus selalu kembali ke kamarmu di sayap timur sebelum Ken bertugas malam. Kita harus menjaga ilusi."
Lingga berjalan ke lemari, memilih jas mahal. Ia tersenyum sinis. "Kau baru saja belajar, Ayu. Menjadi istri CEO jauh lebih sulit daripada menjadi asistennya."
Lingga mendekat, mencium dahi Ayu dengan cepat, sebuah sentuhan kasih sayang yang lembut.
"Sekarang, bergegaslah. Kita punya pertemuan jam sembilan. Dan jangan lupa, telepon ibumu dan beritahu dia kau sudah mendapatkan pekerjaan tetap, bukan freelancer. Kau tidak perlu lagi berbohong."
Ayu bangkit dari tempat tidur, tubuhnya sedikit gemetar. Ia melangkah keluar dari kamar Lingga, memasuki kembali kamar tamunya yang dulu. Ia melihat ponselnya yang sudah terisi daya—Lingga telah mengembalikannya, seperti yang dijanjikan Ken.
Di satu sisi, ia adalah istri dari pria terkaya dan terkuat. Di sisi lain, ia harus berperan sebagai asisten yang lugu dan berjarak, menyembunyikan memori panas dan sentuhan posesif dari suaminya yang hanya beberapa meter darinya.
***
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....