Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Biru
#25
Waktu Isya’ telah berlalu, namun Biru tak kunjung menampakkan wajahnya. Sementara Firza pun terlihat gelisah, ragu hendak mengatakan apa yang terjadi beberapa saat sebelum Biru menghilang.
Ismail mulai bertindak, ia mengirimkan pesan melalui grup warga desa, meminta bantuan agar menyampaikan padanya bila ada yang melihat keberadaan Biru.
“Terima kasih, Pak Kades,” ucap Ismail sebelum mengakhiri panggilan.
Pria itu baru saja melapor pada Pak Kades tentang hilangnya Biru.
“Firza!” panggil Ismail pada putranya.
Firza yang tengah berpura-pura membaca buku, segera berjalan menghampiri Ayahnya. “Iya, Ayah?”
“Duduklah, Nak. Ayah mau cakap sesuatu padamu.” Ismail mempersilahkan Firza untuk duduk.
Firza duduk perlahan di seberang Ismail. “Ada apa, Yah?”
“Kira-kira dimana Biru? Apa kau tahu tempat yang biasa ia datangi?”
Firza menunduk sambil memainkan kuku tangannya. “Tahu, Yah, perpustakaan. Tapi jam segini, perpustakaan pasti sudah tutup.”
“Kira-kira kemana lagi, dia?” sambung Ismail kembali bertanya.
“Duh, Bang, apa tak sebaiknya Abang keliling desa saja, siapa tahu bertemu Biru. Aku tak tenang bila kita hanya menunggu di rumah,” rengek Karmila hampir menumpahkan tangisnya.
Dengan sabar, Ismail menggenggam tangan istrinya, “Kita dengar dulu jawaban Firza, setelah itu, Abang janji, Abang sendiri yang akan mencari Biru.”
Melihat kedua orang tuanya menanti jawaban, Firza jadi sedikit gelisah. “Firza, sebenarnya apa yang terjadi? Tak biasanya kalian aneh begini?” tanya Ismail.
“Yah— Mak— sebenarnya tadi sore ada sebuah kejadian, dan aku rasa ini adalah penyebab Biru tiba-tiba menghilang.”
Ismail dan Karmila semakin penasaran, mereka bahkan mencondongkan tubuh pada Firza demi mendengarkan apa yang hendak anak itu ceritakan.
“Tadi sore, Ibunya Bayu berkata bahwa Biru anak— anak—” Firza terlihat ragu, takut membuat kedua orang tuanya tersinggung.
“Jangan berbelit-belit, cepat katakan yang sebenarnya?!” jerit Karmila tak sabar.
“Anak— seorang na— ra— pidana, apa itu benar, Yah? Mak?” tanya Firza yang penuh dengan keraguan, dan sejujurnya Firza pun berharap bahwa itu hanya berita bohong.
Deg!
Deg!
Bergemuruh dada kedua orang tua Firza, rahasia yang sekian lama mereka jaga, akhirnya terlontar tanpa sengaja dari mulut orang tak bertanggung jawab.
Bukan mereka tak mau mengatakan yang sebenarnya, tapi mereka memilih untuk menunggu sebentar lagi, hingga mental Biru siap menghadapi kenyataan tersebut.
“Astaghfirullah—” ucap Karmila berkali-kali.
“Dan kebetulan juga kami bertemu Nenek, jadi Biru segera menanyakan kebenarannya.”
Karmila menggenggam kedua bahu Firza, “Lalu?”
“Awalnya Nenek diam, Mak. T-tapi— justru kalimat yang nenek ucapkan terdengar seperti sabetan belati, Mak. Nenek bilang, ibunya Biru menjadi narapidana setelah membunuh putra nenek, itu salah, kan, Mak? nenek bohong, kan, Mak?” tanya Firza, pemuda tanggung itu, tak kuasa menahan derai air matanya.
Sejak bayi tumbuh bersama, berbagi ASI, berbagi mainan, berbagi kasih sayang. Hingga tak ada jarak yang mampu memisahkan perasaan mereka berdua. Kini ketika Biru terluka hatinya, Firza seolah ikut merasakan sakitnya.
Karmila mulai terisak, begitu pula Ismail yang diam tak mampu berkata-kata.
“Sebaiknya Ayah pergi sekarang, Mak. Ayah akan meminta bantuan warga untuk sama-sama mencari Biru. Semoga saja Biru masih di sekitar desa,” pamit Ismail, karena merasa bahwa masalah ini mungkin memicu konflik yang besar dalam diri Biru.
“Yah, aku ikut,” pinta Firza.
“Ya, sudah, ayo,” pungkas Ismail.
“Hati-hati, Bang,” pesan Karmila.
“Segera hubungi Abang, bila Biru sudah pulang.”
“Insya Allah, Bang.”
Ismail kembali menghidupkan motornya, barusan pria itu mengirimkan pesan ke grup warga, guna meminta bantuan mencari keberadaan Biru.
Ismail mendatangi balai desa, karena seluruh warga yang ingin ikut membantu diharapkan berkumpul di sana.
Setibanya Ismail dan Firza di balai desa, para warga pun baru saja berdatangan.
“Sudah coba di telepon?” tanya Pak Kades.
“Kalau sedang main bola, ponsel kami tinggal di rumah, Pak,” jawab Firza.
“Jadi, Biru tidak bawa ponsel?”
Firza mengangguk membenarkan, “Ya, sudah, ayo kita berpencar, menjadi 4 kelompok. Kelompok satu ke arah waduk, kelompok dua ke arah makam, kelompok tiga ke arah sawah, dan kelompok empat ke arah hutan bambu.”
“Baik, Pak!”
“Laksanakan, Pak!”
Para warga menjawab dengan suara serempak, deru motor mulai dinyalakan, mereka berkeliling dengan menggunakan motor berkecepatan rendah, sambil menyalakan klakson berkali-kali, sebagian lagi ada yang berjalan kaki, agar bisa melakukan pencarian dengan lebih teliti.
“Biru!”
“Biru!”
Suara teriakan orang-orang mulai terdengar, setelah masing-masing kelompok bergerak sesuai instruksi Pak Kades.
Suasana malam yang sunyi, seketika ramai karena banyak warga yang semula tak tahu, kini jadi tahu dan ikut pula dalam rombongan pencarian.
Dulu, cerita soal Lembayung Senja yang dituduh menjadi pelaku pembunuhan suaminya sendiri, sempat menjadi buah bibir yang menggemparkan seluruh warga desa. Sebagian percaya, sebagian tidak, sebagian lagi memilih tidak berbicara karena takut salah menuduh.
Karena sejujurnya mereka pun menyangsikan wanita yang menjadi saksi utama kejadian naas tersebut. Tentang siapa Anjani, apa pekerjaannya, bagaimana tabiatnya, semua sudah tahu.
Karena tingkahnya yang kerap mengumbar kemolekan tubuhnya, atau sifat pemarahnya sudah biasa menjadi buah bibir warga desa.
Namun, mereka orang desa, dan saat itu tak tahu apa-apa soal hukum kriminal, dan bagaimana cara kerjanya. Hingga merasa aneh saja, karena Ayu yang semula dikenal baik dan sangat ramah. Justru berubah status menjadi tersangka utama hanya dalam waktu semalam saja.
Lama kelamaan, cerita tersebut menjadi rahasia umum, apalagi setelah Biru di bawa pulang dan dirawat oleh Ismail dan Karmila. Mereka seolah iba, hingga memilih ikut diam dan menyimpan rahasia besar tersebut, demi kesehatan mental Biru, si anak malang yang tidak tahu apa-apa.
“Biru!” teriak Firza, sementara Ismail mengikuti putranya yang berkeliling dengan menaiki motor matic sang Ayah. Sementara di belakang Ismail berjalan bersama beberapa warga yang membawa senter seadanya.
Dalam hatinya, Ismail terus berdzikir dan berdoa, agar Biru senantiasa mendapat perlindungan dari Allah. Agar putranya tak kekurangan suatu apapun juga.
Mereka terus bergerak ke arah jalan menuju makam desa, tiba-tiba Firza mempercepat laju motornya. “Ayah, itu Biru!” teriak Firza dari arah depan, karena ia yang memimpin pencarian di kelompok tersebut.
Ismail dan para warga yang mendengar teriakan Firza, segera menyusul, dan ternyata memang itu Biru. Remaja itu berjalan seorang diri di tengah pekatnya malam, yang minim pencahayaan.
“Biru!”
Firza melompat turun dari motor dan memeluk Biru erat-erat. “Biru, kamu dari mana saja?” tanya Firza sambil memeluk erat tubuh Biru.
Begitupun Ismail yang baru saja tiba, pria itu memeluk kedua putranya, sementata Biru? Wajahnya datar, dengan tatapan mata kosong. Semula ia tak tahu apa-apa. Dan secara mendadak ia ditampar kenyataan pahit yang sungguh di luar dugaan.
Pencarian berakhir, tak lupa Ismail berterima kasih pada para warga yang ikut serta mencari putranya.
Setibanya di rumah.
Karmila menghembuskan nafas lega, ia berlari ke halaman menyongsong kedatangan Biru, bersama Firza dan suaminya. “Dari mana saja kau, Nak,” bisik Karmila ketika memeluk erat tubuh Biru.
Karmila memeriksa suhu badan Biru, dan rasanya sangat dingin, serta bibirnya pucat. “Dingin sekali badanmu, ayo masuk, Mamak buatkan air panas untuk kau mandi.”
Karmila memapah Biru, yang kini diam seperti mayat hidup. Batin Karmila menjerit tak tega setelah melihat kondisi Biru yang jauh dari kata baik-baik saja.
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah