NovelToon NovelToon
Buried By Love, Reborn As Disaster

Buried By Love, Reborn As Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Budidaya dan Peningkatan / Harem / Balas Dendam
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.

Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.

Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.

Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Mengintai

Udara pagi di area latihan terasa berbeda sejak awal. Kabut tipis masih menggantung rendah, namun bukan kesejukan yang menyentuh kulit Lin Feiyan—melainkan tekanan samar, seperti sesuatu yang menempel di punggungnya tanpa bobot.

Ia berdiri di tengah lapangan batu, menarik napas perlahan, mencoba menenangkan aliran Qi yang belum sepenuhnya pulih. Gerakan awalnya rapi, sesuai kebiasaan. Langkah kaki mantap, posisi tubuh seimbang. Namun setelah beberapa tarikan napas, dahi Feiyan berkerut tipis.

Ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

Bukan rasa sakit. Bukan pula kelelahan yang jelas. Lebih seperti… kesadaran bahwa ruang di sekitarnya terlalu hening.

Ia mengayunkan lengan, membentuk aliran Qi sederhana. Energi bergerak, tapi terasa berat, seolah harus melewati udara yang lebih kental dari biasanya. Feiyan menghela napas, mengira ini hanya sisa kelelahan mental setelah beberapa hari terakhir yang penuh tekanan.

“Aku terlalu banyak berpikir,” gumamnya pelan.

Ia melanjutkan latihan.

Namun setiap kali ia bergerak, perasaan itu kembali muncul. Seperti ada sesuatu yang menunggu di sela-sela bayangan. Tidak mendekat. Tidak menjauh. Hanya ada.

Feiyan memutar tubuhnya, melontarkan teknik sederhana ke arah batu latihan. Hantaman Qi mengenai sasaran, tapi sudutnya sedikit melenceng. Retakan di batu tidak rapi seperti biasanya.

Ia terdiam sesaat.

Kesalahan kecil.

Hal yang seharusnya tidak terjadi.

Feiyan mengerutkan alis, mencoba lagi. Kali ini ia lebih berhati-hati, mengatur napas lebih panjang, memusatkan pikiran. Namun justru di saat itulah, sensasi diawasi menjadi semakin jelas. Bulu kuduknya meremang halus.

Ia menoleh ke kiri.

Tidak ada siapa pun.

Ke kanan.

Kosong.

Atap paviliun latihan berdiri sunyi, pilar-pilarnya diam membisu. Para murid lain belum datang. Area ini seharusnya aman. Sepi.

Namun rasa itu tidak pergi.

Feiyan memaksa dirinya bergerak lagi, namun langkahnya melambat tanpa ia sadari. Ada jeda-jeda kecil yang tidak perlu di antara gerakan. Ragu yang muncul sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.

Di sudut pandangnya, bayangan sebuah pilar tampak bergeser sedikit.

Feiyan tersentak dan berbalik cepat.

Tidak ada apa-apa.

Hanya bayangan biasa, jatuh karena perubahan cahaya matahari yang mulai naik.

Ia menekan dadanya pelan. Void Crack di dalam sana berdenyut lemah—bukan nyeri, bukan panas, melainkan kehampaan yang dingin, seperti ruang kosong yang terbuka lebih lebar dari sebelumnya.

“Aneh…” bisiknya.

Ia mencoba menutup mata sejenak, mengatur ulang pikirannya. Namun justru dalam gelap itu, sensasi kehadiran menjadi lebih nyata. Seolah ada tatapan yang tidak membutuhkan mata untuk melihat.

Feiyan membuka mata dengan cepat.

Keringat tipis muncul di pelipisnya.

Ia tidak tahu bahwa di atas atap paviliun, menempel rapat pada bayangan genteng, sesuatu yang bukan sepenuhnya manusia sedang mengamati setiap tarikan napasnya.

Bayangan itu tidak memiliki bentuk jelas. Hanya lipatan gelap yang mengikuti kontur cahaya, berdenyut pelan seiring aliran Qi Feiyan. Tidak ada niat menyerang. Tidak ada dorongan untuk bergerak lebih dekat.

Tugasnya hanya satu.

Melihat.

Setiap perubahan napas Feiyan tercatat. Setiap jeda ragu. Setiap gerakan yang sedikit lebih lambat dari standar sebelumnya. Bahkan denyut Void Crack yang nyaris tak terasa itu, ditangkap dan diterjemahkan menjadi pola.

Feiyan melanjutkan latihan, tapi tubuhnya mulai melawan. Bukan dengan rasa sakit, melainkan dengan ketidakselarasan. Qi yang biasanya patuh kini terasa seperti arus yang tidak sepenuhnya mau menyatu.

Satu kesalahan kecil muncul lagi.

Lalu satu lagi.

Feiyan menggertakkan gigi. “Fokus,” katanya pada diri sendiri.

Ia meningkatkan tekanan latihan, berharap tubuhnya kembali ke ritme lama. Namun langkah itu justru memperparah keadaan. Aliran Qi bergetar, dan Void Crack di dadanya merespons dengan denyut kosong yang lebih dalam.

Bayangan di atap mencatat semuanya.

Di sudut lain lapangan, di balik dinding rendah yang terkena cahaya miring, bayangan kedua bergerak sedikit, menyesuaikan posisi agar sudut pandangnya lebih sempurna. Tidak ada komunikasi verbal di antara mereka. Data mengalir melalui koneksi yang tidak kasatmata.

Feiyan tiba-tiba berhenti.

Napasnya memburu, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena rasa tertekan yang tidak memiliki sumber jelas. Ia menoleh ke sekeliling sekali lagi, lebih lambat kali ini, dengan mata yang waspada.

“Kenapa aku merasa…” Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Perasaan itu tidak memiliki nama.

Ia hanya tahu bahwa dirinya terasa kecil di tengah lapangan yang luas, seolah setiap gerakannya dipantulkan kembali oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Void Crack berdenyut lagi.

Lebih dalam.

Feiyan menekan dada dengan telapak tangan, mencoba menenangkan diri. Sentuhan itu tidak mengurangi apa pun. Kehampaan tetap ada, dingin dan luas, seperti lubang yang perlahan melebar.

Ia menurunkan tangan, bahunya jatuh sedikit.

Latihan hari ini… terasa salah.

Di kejauhan, bayangan-bayangan itu tetap diam, setia pada peran mereka. Tidak satu pun bergerak untuk mengakhiri sesi ini. Tidak satu pun menunjukkan keberadaan mereka.

Karena tujuan mereka bukan intervensi.

Melainkan pengamatan penuh.

Dan Lin Feiyan, tanpa menyadarinya, telah membuka seluruh dirinya—setiap kelemahan kecil, setiap keraguan, setiap denyut kosong di dalam dada—untuk dicatat tanpa ampun.

Sementara matahari naik perlahan, dan cahaya menyapu lapangan latihan, bayangan-bayangan itu tetap bertahan.

Mengintai.

Menunggu.

...****************...

Di ruang yang jauh dari area latihan, jauh dari keramaian sekte, cahaya redup memantul di permukaan meja batu hitam. Udara di sana dingin dan bersih, tanpa aroma dupa atau suara kehidupan. Hanya ada keheningan yang terjaga rapi.

Ru Lan duduk dengan punggung tegak, jari-jarinya yang ramping bergerak pelan di atas lembaran tipis berwarna gelap. Itu bukan kertas biasa, melainkan lembar catatan yang terhubung langsung dengan bayangan-bayangan pengintai miliknya. Setiap denyut informasi mengalir ke sana tanpa suara.

Satu demi satu pola terbentuk.

Ia membaca tanpa ekspresi, seolah yang tertera hanyalah angka dan garis, bukan keadaan hidup seseorang.

“Lambat di langkah ketujuh,” gumamnya pelan. “Ragu sebelum serangan ketiga.”

Tatapannya berhenti sejenak pada satu catatan kecil yang ditulis lebih rapat dari yang lain.

— Denyut Void Crack meningkat saat tekanan mental, bukan fisik.

Sudut bibir Ru Lan terangkat sangat tipis. Bukan senyum, melainkan pengakuan sunyi bahwa dugaannya selama ini tidak salah.

Ia menutup mata sejenak, membiarkan aliran informasi dari bayangan meresap ke dalam pikirannya. Di benaknya, gerakan Lin Feiyan terulang seperti bayangan air—setiap kesalahan kecil diperbesar, setiap jeda ragu disorot tanpa ampun.

“Masih terlalu jujur,” bisiknya.

Sementara itu, di lapangan latihan, Feiyan akhirnya benar-benar berhenti. Tubuhnya terasa berat, seolah udara menekan dari segala arah. Ia menurunkan kedua lengannya, napasnya tidak lagi teratur.

Ada perasaan aneh yang menetap di dadanya.

Kosong.

Bukan seperti kelelahan setelah latihan keras, melainkan seperti sesuatu yang telah diambil tanpa ia sadari. Ia berdiri di sana cukup lama, mencoba mengingat kapan perasaan itu mulai muncul.

Tidak ada jawaban.

Void Crack berdenyut lagi, kali ini lebih jelas. Bukan menyakitkan, tapi cukup untuk membuat Feiyan mengerutkan dahi. Ia merasa seolah ada ruang dingin di dalam dadanya yang tidak bisa disentuh atau diisi.

“Apa aku… benar-benar semakin lemah?” pikirnya.

Pertanyaan itu muncul begitu saja, tanpa ia undang.

Bayangan di atap paviliun bergeser sedikit, mencatat perubahan postur dan ekspresi Feiyan. Satu pengintai lainnya menyusup lebih dalam ke sudut gelap pilar, memastikan tidak ada detail yang terlewat.

Feiyan menghela napas panjang dan akhirnya melangkah pergi dari lapangan latihan. Setiap langkahnya terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Punggungnya menegang, seolah ia membawa beban yang tidak terlihat.

Ia tidak tahu bahwa rasa tidak berdaya itu bukan kebetulan.

Di ruang gelapnya, Ru Lan membuka mata.

Ia menuliskan satu baris terakhir di catatan hitamnya, lebih lambat dari sebelumnya, seolah memastikan setiap kata memiliki bobot yang tepat.

— Subjek mulai meragukan dirinya sendiri. Respons sesuai prediksi.

Jarinya berhenti.

Ru Lan menyandarkan punggung ke kursi batu, menatap ke arah kosong di depannya. Dalam bayangan pikirannya, sosok Lin Feiyan berdiri jelas—rapuh, terbuka, dan perlahan terkikis oleh tekanan yang bahkan tidak ia sadari.

“Pengintaian tanpa luka,” ucapnya lirih. “Efeknya selalu lebih dalam.”

Ia menutup catatan itu dengan satu sentuhan ringan. Bayangan-bayangan di area latihan menerima perintah baru, bukan untuk mundur, melainkan untuk tetap berada di tempat mereka.

Observasi berlanjut.

Di luar, Feiyan berhenti sejenak di lorong menuju asrama. Ia menoleh ke belakang, entah mengapa merasa perlu memastikan bahwa tidak ada siapa pun di sana.

Lorong itu kosong.

Hanya bayangan tiang yang memanjang di lantai batu.

Feiyan menggeleng pelan, menyalahkan pikirannya sendiri, lalu melanjutkan langkah. Ia tidak tahu bahwa sejak saat itu, setiap tarikan napasnya telah menjadi bagian dari perhitungan yang lebih besar.

Di balik tirai bayangan yang tak pernah ia lihat, Ru Lan membuka bibirnya sedikit dan bergumam, suaranya nyaris menyatu dengan keheningan.

“Dia sudah berada di perangkapku.”

Dan di kejauhan, bayangan-bayangan itu tetap mengintai, setia dan tanpa emosi, sementara kekosongan di dada Lin Feiyan perlahan tumbuh—tenang, dingin, dan tak terhindarkan.

1
lix
like dan komen nya jangan kelupaan😁👍
miss_e story
iklan buatmu
mary dice
Jika retak tak akan pernah kembali utuh namun kebangkitan Feiyan akan menumbuhkan tunas baru yang lebih kuat
Shadow: what ???
total 1 replies
knovitriana
update Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!