NovelToon NovelToon
Upstage My Heart

Upstage My Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romansa / Showbiz / Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:499
Nilai: 5
Nama Author: meongming

Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : hadiah dari mu

Setelah keluar dari gedung audisi, Noah menatap langit yang sudah sore.

“Udah jam segini aja, ya…” gumam Lyla sambil menatap sekitar.

Noah meliriknya, lalu tersenyum.

"Kamu belum makan siang, kan?”

Lyla mengedip. “Hah? Eh… iya sih.”

“Yuk makan dulu. Aku tahu café kecil nggak jauh dari sini, tempatnya enak buat istirahat.”

Tanpa menunggu jawaban, Noah berjalan lebih dulu. Lyla sempat bingung sebentar, tapi akhirnya mengikuti dari belakang dengan pipi yang entah kenapa terasa panas.

Café itu mungil tapi nyaman, dengan wangi kopi dan roti panggang memenuhi udara mereka duduk. Noah membuka menu, sementara Lyla sibuk memainkan sedotan di gelas airnya, berusaha terlihat santai padahal jantungnya berdebar kencang.

“Mau yang manis atau asin?” tanya Noah.

“Huh?” Lyla menoleh cepat. “E—eh… apa aja deh, aku ikut kamu.”

Noah tertawa kecil.

“Nanti kalau aku pesen yang aneh jangan nyesel ya.”

“Aku nggak bakal nyesel,” jawab Lyla cepat, lalu baru sadar dan buru-buru menunduk.

"Maksudnya… aku percaya selera kamu…”

Noah tersenyum lembut, menatapnya beberapa detik “Kamu lucu banget kalau gugup.”

“J-jangan bilang begitu, Noah…” Lyla menunduk, pipinya merah.

Makanan datang dua piring pasta dan dua gelas cokelat hangat.

Sambil makan, Noah mulai cerita tentang suasana audisi, ekspresi para juri, dan bagaimana ia sempat hampir salah ucap

Lyla mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya berbinar setiap kali Noah bicara.

“Aku senang kamu nemenin hari ini,” kata Noah tiba-tiba.

Lyla hampir tersedak. “Hah?!”

“Kalau kamu nggak ada, mungkin aku bakal terlalu gugup buat masuk ruangan tadi.”

Lyla menggenggam sendoknya erat, menatap meja “Aku… juga senang bisa nemenin kamu.”

Mereka saling tersenyum hangat, dan tanpa berkata-kata, di luar jendela hujan tipis mulai turun tapi di antara mereka… suasananya justru terasa hangat sekali.

Saat mereka keluar dari café, langit sudah berubah jadi abu-abu. Hujan rintik-rintik turun pelan, membasahi jalan.

Lyla menatap ke atas, wajahnya sedikit khawatir “Aduh… hujan lagi…”

Noah membuka tasnya, tapi menggeleng. “Payungku ketinggalan di bus tadi.”

"Aku juga nggak bawa…” jawab Lyla pelan, nada suaranya terdengar menyesal.

Beberapa orang mulai berlari sambil menutupi kepala dengan tas atau tangan Noah menatap sekitar, lalu menatap Lyla yang berdiri di bawah atap café sambil memeluk tas di dada.

"Yaudah, lari aja yuk!” katanya tiba-tiba.

“Hah? Nggak, nanti bajuku basah—”

Belum sempat protes, Noah sudah menarik tangan Lyla. Mereka berlari kecil menembus hujan, tawa mereka pecah di tengah suara rintik air. Lyla menutup wajah dengan tangan satu, sementara tangan lainnya masih digenggam Noah erat air hujan membasahi ujung rambutnya, tapi entah kenapa, dia malah tertawa.

Mereka berhenti di depan halte, terengah-engah.

Noah melepas jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Lyla “Biar kamu nggak kedinginan.”

Lyla terdiam, menatapnya dari bawah jaket itu Pipi mereka sama-sama memerah, tapi bukan karena udara dingin.

“Kamu juga basah, Noah…”

“Nggak apa-apa.” ujarnya sambil tersenyum.

Beberapa detik terasa seperti berhenti. Hujan, napas yang berat, dan jantung Lyla yang berdetak cepat semuanya terasa dekat sekali.

bus datang, tapi Lyla malah berharap hujannya tidak cepat reda ,karena di bawah hujan itu… Noah menggenggam tangannya lebih lama dari biasanya. 

Bus melaju pelan. Lyla duduk di dekat jendela, sementara Noah di sebelahnya. Tidak banyak yang mereka bicarakan setelah makan di kafe hanya diam yang terasa nyaman begitu bus berhenti di halte dekat rumah Lyla, ia berdiri pelan sambil menatap Noah.

“Aku turun dulu, ya…” katanya lembut

Noah ikut berdiri, lalu seolah baru ingat sesuatu Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya, lalu menyerahkannya pada Lyla.

"Tunggu… ini buat kamu.”

Lyla menatap kotak itu dengan bingung.

"Hm? Ini apa?”

“Hadiah. Karena kamu udah nemenin aku hari ini.” Senyum Noah muncul, lembut tapi hangat.

Lyla menerima kotaknya dengan dua tangan, menunduk sedikit “Terima kasih… tapi kamu nggak perlu repot.”

“Bukan repot,” sahut Noah ringan. “Aku cuma ingin kamu punya sesuatu yang bisa kamu lihat kalau aku lagi nggak di dekat kamu.”

Lyla terdiam. Pipi hangatnya makin memerah “Jangan bilang hal kayak gitu, nanti aku… nggak bisa tenang,” bisiknya pelan.

Noah tertawa kecil ''Yaudah, anggap aja itu bonus biar kamu tetap semangat les.”

Bus berhenti sempurna. Lyla menatapnya sebentar sebelum turun.

“Aku buka nanti di rumah, ya.”

“Oke.”

Begitu Lyla turun, pintu bus menutup pelan. Dari jendela, Noah masih melambaikan tangan kecil sambil tersenyum. Lyla membalas dengan senyum malu-malu, lalu memeluk kotak kecil itu di dadanya.

*

Malamnya, kamar Lyla duduk di tepi ranjang, masih memegang kotak kecil dari Noah yang tadi ia simpan di tas, tangannya ragu-ragu membuka pita di atasnya.

Klik. Tutupnya terbuka perlahan di dalamnya,  sebuah kalung sederhana dengan bandul berbentuk bintang kecil.

Lyla menatapnya lama senyumnya perlahan muncul, hangat, tapi juga sedikit gugup.

“Kalung…” bisiknya pelan. “Lucu banget.”

Ia menyentuh bandul kecil itu dengan ujung jarinya di bagian belakangnya terukir huruf kecil: N & L.

Pipi Lyla langsung memerah, ia buru-buru menutup mulutnya sendiri, mencoba menahan tawa dan teriakan kecil yang hampir keluar.

“Noah… kenapa manis banget, sih…”

Dengan hati-hati, ia mengalungkan kalung itu ke lehernya cermin di depannya memantulkan bayangan dirinya yang sedang tersenyum malu-malu.

“Kalau kamu lagi nggak di sini…” bisiknya pada pantulan dirinya sendiri, “…aku bakal lihat ini, dan inget kamu.”

Lyla kemudian berbaring di ranjang, memeluk bantal kecilnya sambil menatap kalung di dadanya jantungnya berdebar pelan, dan senyum itu tak juga hilang sampai matanya terpejam.

Malam terasa lembut karena di dalamnya, ada rasa rindu dan bahagia yang bercampur jadi satu. 

1
StellaY
semangat terus thor💪
meongming: yesss💪💪
total 1 replies
StellaY
uwu banget😍😍
meongming: seneng ada yang suka 🤩 makasih dukungan mu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!