Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Kyra merasakan jantungnya mencelos mendengar kata-kata polos Aldian. Merasa punya ayah. Kalimat itu menghantamnya, mengingatkannya pada betapa ia telah merenggut hak Aldian untuk memiliki sosok ayah seutuhnya.
Ia menatap Bagas, yang kini berbaring miring menghadap Aldian, senyum tulus terukir di wajahnya.
“Oh, ya? Jadi sekarang Om Bagas itu Ayah Aldian?” goda Bagas, matanya berbinar.
Aldian mengangguk cepat, wajahnya bersinar. “Iya! Om Bagas itu kayak Ayah. Yang kuat, yang baik, yang beliin banyak mainan dan makanan enak!”
Kyra segera memotong, berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum situasi semakin tidak terkendali.
“Sudah, sudah. Aldian harus tidur sekarang. Besok pagi harus bangun pagi,” kata Kyra, menarik selimut tipis hingga menutupi dada Aldian.
Aldian bergeser sedikit, menempel ke Kyra, dan juga mendekat ke Bagas. Ia menaruh kepalanya di lengan Bagas.
“Om Bagas harus janji, ya. Besok Om Bagas jangan langsung pergi. Om temenin Aldian sarapan dulu,” pinta Aldian, matanya sudah setengah tertutup.
“Janji, Jagoan,” balas Bagas, mencium puncak kepala Aldian.
“Bunda juga jangan pergi ya,” gumam Aldian pada Kyra, lalu ia terlelap di antara kehangatan keduanya, memeluk boneka beruang besar yang dibelikan Bagas.
Keheningan melanda ruangan. Kyra dan Bagas kini berbaring berdampingan, dipisahkan oleh tubuh mungil Aldian.
“Aku tidak akan menyentuhmu, Kyra. Tenang saja,” bisik Bagas. “Kecuali aku mau mengambil kembali selimut yang kau curi.”
Kyra tersentak, menyadari bahwa tanpa sadar ia telah menarik sebagian besar selimut tipis itu ke arahnya. Ia melirik Bagas. Pria itu menatapnya dengan senyum nakal di sudut bibirnya.
“Ngga lucu tau” balas Kyra berbisik.
“Aku serius. Dingin, Kyra,” desak Bagas, sedikit menarik selimutnya.
Kyra dengan enggan melepaskan sedikit tarikannya. “Cepat pulang besok pagi sebelum orang-orang melihatmu keluar dari sini.”
Bagas menghela napas. “Aku tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang-orang di sini, Kyra. Aku hanya peduli denganmu dan Aldian.”
Ia mengubah posisinya, kini berbaring terlentang.
“Apa yang dikatakan ibuku tadi malam… itu tidak akan terjadi lagi,” bisik Bagas, suaranya kini kembali serius. “Papa sudah tiada. Aku yang pegang kendali penuh. Aku membawa kalian ke rumah itu untuk menunjukkan pada Mama bahwa kalian adalah keluargaku. Titik.”
Kyra terdiam. Ia ingat ekspresi terkejut dan marah Widya. Ia tahu Bagas pasti melalui perdebatan yang sangat hebat dengan ibunya malam tadi demi mereka.
“Kenapa?” tanya Kyra, suaranya sangat lirih. “Kenapa kau melakukan semua ini? Setelah lima tahun. Kau bisa melupakanku, mencari wanita lain yang jauh lebih baik, yang tidak punya beban anak dari masa lalu.”
Bagas memejamkan mata sejenak.
“Karena aku tidak pernah melupakanmu, Kyra,” jawabnya, jujur. “Aku tidak pernah melupakan janji pernikahan kita. Dan kini, aku tahu aku punya putra. Putra yang tidak tahu aku ayahnya. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya? Bagaimana mungkin aku bisa tidur tenang" ucap Bagas dengan suara pelan agar tidak membangunkan Aldian.
Bagas memejamkan mata lagi. “Tidurlah."
Malam itu kyra tidur dengan perasaan was-was, meskipun mereka pernah lebih sedekat ini tapi itu dulu .
Waktu merayap perlahan. Aldian, yang berada di antara mereka, tidur pulas tanpa terusik, nafasnya teratur dan tenang. Kyra juga, setelah ketegangan mereda, jatuh ke dalam tidur lelap.
Namun, Bagas tidak bisa tidur.
Ia berbaring terlentang, menatap langit-langit kontrakan yang rendah itu. Meskipun lelah, pikirannya terlalu ramai.
Ia menoleh ke kanan, mengamati profil tidur Kyra. Wajah Kyra tampak damai saat tidur, jauh dari ekspresi keras kepala yang selalu ia tunjukkan saat bangun. Rambutnya sedikit acak-acakan di bantal.
Namun, matanya tak sengaja tertuju pada piyama yang dikenakan Kyra. Piyama katun tipis yang longgar itu tampak nyaman, tetapi ada satu detail kecil yang membuat jantung Bagas berdenyut lebih cepat dan tenggorokannya tercekat.
Kancing teratas piyama Kyra terlepas, mungkin karena pergerakan saat ia berbaring, atau memang tidak dikancingkan sempurna sebelumnya. Lubang kancing yang terbuka itu menampakkan sedikit belahan dada Kyra. Pemandangan itu, meskipun tidak sepenuhnya terlihat, cukup untuk membangkitkan ingatan lama dan hasrat yang Bagas coba kubur selama lima tahun.
Bagas langsung merasa panas dingin. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan dirinya. Bagaimanapun, dia adalah pria normal, dan Kyra adalah wanita yang pernah menjadi istrinya, wanita yang ia cintai.
'Tidak, Bagas. Jangan gila. Dia tidur. Aldian ada di sini, rutuknya dalam hati.'
Ia membalikkan badan, memunggungi Kyra, memejamkan mata erat-erat. Ia merasakan ada sesuatu yang terbangun di bawah sana.
Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat tubuhnya dari ranjang, bergerak selembut mungkin agar kasur tidak berdecit dan Aldian tidak terbangun. Ia menahan napas sampai kakinya menyentuh lantai kayu.
Ia berdiri tegak di samping ranjang sejenak, menatap Kyra dan Aldian. Ia mengambil bantal tipis dari ranjang, lalu berjalan ke ruang tamu yang gelap.
Di sana, ia melihat sofa panjang yang digunakan Aldian untuk tidur saat ia demam tempo hari. Sofa itu memang tidak nyaman, tetapi setidaknya, itu jauh dari godaan yang mematikan.
Bagas menjatuhkan diri di sofa itu. Ia menaruh bantal di bawah kepalanya dan mencoba meringkuk. Tubuhnya terlalu besar untuk sofa kecil itu, membuatnya kesulitan menemukan posisi nyaman.
*****
Kyra terbangun perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan tubuh kecil Aldian di sisinya. Hal kedua yang ia sadari adalah kehangatan di sisi lain, yang seharusnya kosong.
Ia membuka mata dan memalingkan wajahnya. Sisi ranjang di mana Bagas berbaring sudah kosong.
Kyra menghela napas lega. "Syukurlah, dia sudah pulang". Ia bangkit dengan gerakan pelan, tidak ingin mengganggu tidur Aldian.
Ia menyibak tirai yang memisahkan area tidur dari ruang tamu. Langkah kakinya terhenti.
Bagas tidak pulang.
Pria itu meringkuk di sofa panjang dekat televisi, menggunakan bantal tipis Aldian sebagai alas kepala. Posisinya terlihat sangat tidak nyaman kakinya yang panjang menjulur melewati ujung sofa, dan jas yang ia gunakan sebagai selimut hanya menutupi sebagian badannya. Wajahnya terlihat kusut dan sangat lelah.
Bunyi air mendidih di ketel rupanya mengganggu tidur Bagas. Pria itu bergerak, mengerang pelan, lalu membuka mata.
Bagas membutuhkan waktu beberapa detik untuk mengingat di mana ia berada. Ia mengerjap, mengamati pemandangan Kyra yang berdiri membelakanginya di dapur.
"Selamat pagi," suara serak Bagas memecah keheningan.
"kenapa kau masih disini, seharusnya dari tadi malam kau sudah pulang. Sekarang pulanglah sebelum Aldian bangun"
"Aku akan mencuci muka. Setelah itu, aku akan membangunkan Aldian," kata Bagas, berjalan lurus menuju tirai pemisah kamar.
"Bagas! Jangan! Aldian masih tidur!" bisik Kyra, berusaha menahan langkah Bagas, tetapi pria itu terlalu cepat.
Bagas menyibak tirai tanpa peduli, memasuki area tidur. Ia berlutut di samping ranjang, mencondongkan tubuhnya ke arah Aldian.
"Aldian, bangun. Sudah pagi," bisik Bagas lembut, mengusap punggung kecil Aldian.
Aldian menggeliat, matanya terbuka perlahan, dan segera bersinar saat melihat Bagas.
"Om Bagas!" seru Aldian gembira, langsung memeluk leher Bagas.
"Tentu saja Om tidak pergi. Om sudah janji kan?" balas Bagas, memeluk putranya erat. "Ayo bangun, kita sarapan. Om sudah lapar."
Sebuah ketukan terdengar di pintu depan kontrakan.
Kyra dan Bagas serentak menoleh ke arah pintu.
"Siapa itu?" bisik Kyra cemas. Ia melirik jam dinding. Masih terlalu pagi untuk tamu.
"Biar aku yang buka," kata Bagas, berjalan keluar dari area tidur.
"Jangan! Aku saja!" sergah Kyra, mendahului Bagas. Ia dengan cepat berjalan ke pintu, khawatir itu adalah tetangga yang penasaran dengan mobil mewah yang pasti terparkir di ujung gang.
Kyra menarik napas, mengatur ekspresinya, lalu membuka pintu sedikit.
Di sana, berdiri Dika, asisten Bagas, berpakaian rapi seperti biasa, memegang tas pakaian besar yang terbungkus rapi.
"Selamat pagi, Nona Kyra," sapa Dika sopan. "Maaf mengganggu pagi-pagi. Saya membawakan pakaian ganti untuk Pak Bagas."
Mata Kyra membelalak. Ia menatap Dika, lalu menatap tas pakaian di tangan Dika.
"Pakaian?" ulang Kyra, suaranya tercekat. "Kau tahu Bagas ada di sini?"
Dika tersenyum maklum. "Tentu saja, Nona. Pak Bagas menelepon saya pukul lima pagi dan meminta saya membawakan setelan baru,"
Dika menjulurkan tas pakaian itu ke Kyra. "Pak Bagas juga minta saya membawakan sarapan dari restoran langganan"
"Terima kasih, Dika," ucap Kyra pasrah.
Saat Dika berbalik untuk mengambil sarapan, Kyra menutup pintu. Ia berbalik, menatap Bagas, yang kini sudah berdiri di ruang tengah sambil menggendong Aldian. Wajah Bagas terlihat puas dan sedikit geli.