NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amukan Naga di Gerbang Langit

Hening yang mencekam itu hanya bertahan tiga detik sebelum akhirnya pecah oleh teriakan histeris para tamu. Tubuh Gao Shuo jatuh berdebam dari kursinya, wajahnya sudah tidak berbentuk karena racun Tulang Jiwa yang menghancurkan syaraf dari dalam.

"TUTUP SEMUA GERBANG! JANGAN BIARKAN DIA LOLOS!"

Suara genderang perang bertalu-talu dari menara pengawas. Dalam sekejap, halaman kediaman yang tadinya penuh penari kini dipenuhi oleh kilatan ujung tombak. Pasukan Garda Kerajaan, yang dikenal sebagai prajurit paling disiplin di daratan tengah, mulai merapat, membentuk barisan perisai baja yang rapat.

Song Yuan berdiri di atas meja utama, dikelilingi oleh makanan mewah yang kini bersimbah darah. Ia tidak gemetar. Ia menarik busur besarnya, memasang tiga anak panah sekaligus.

Sret!

Tali busur itu mengeluarkan suara mendengung yang rendah, tanda bahwa tenaga dalam yang dialirkan Yuan sudah mencapai puncaknya. Ia melepaskan tembakan. Tiga anak panah itu melesat bukan dengan jalur lurus, melainkan melengkung di udara—seolah-olah memiliki nyawa sendiri—dan menembus celah sempit di antara perisai baja.

Tiga prajurit di barisan depan tumbang tanpa sempat mengerang.

"Maju! Dia hanya satu orang!" teriak seorang kapten pasukan sambil menghunus pedang.

Yuan melompat dari meja, gerakannya seringan kapas namun secepat kilat. Ia tidak lari menuju pintu keluar yang sudah dijaga ketat, melainkan memanjat pilar kayu raksasa yang menopang atap aula. Dari ketinggian, ia menjadi hantu yang tak terjangkau.

Satu per satu anak panahnya menyambar. Setiap kali tali busur berdentang, satu nyawa melayang. Yuan tidak membidik sembarangan; ia membidik titik saraf di leher atau sela-sela armor yang terbuka. Teknik ini adalah hasil dari ribuan jam penyiksaan yang dilakukan Mo Chen di dalam gua gelap—memanah dengan perasaan, bukan hanya penglihatan.

"Gunakan panah api! Bakar atapnya!" perintah sang kapten.

Hujan panah api mulai berjatuhan. Kediaman megah itu mulai terbakar, persis seperti Desa Songjia tujuh tahun lalu. Melihat kobaran api itu, amarah di dalam dada Yuan semakin membara.

"Kalian suka api?" desis Yuan dengan mata yang berkilat kuning tajam. "Maka nikmatilah neraka ini."

Yuan merogoh kantong kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebuah botol berisi bubuk hitam pekat—salah satu ciptaan paling berbahaya dari gurunya. Ia menaburkan bubuk itu ke ujung anak panahnya, lalu menembakkannya ke arah guci-guci tuak besar yang berjejer di sudut aula.

BOOM!

Ledakan hebat terjadi. Api hijau yang aneh menjilat ke segala arah, menciptakan asap beracun yang membuat para prajurit terbatuk-batuk darah. Dalam kekacauan asap itu, Yuan melesat keluar melalui atap yang hancur.

Ia berlari di atas genteng-genteng rumah penduduk Ibukota, dikejar oleh ratusan obor dari bawah. Namun, saat ia hampir mencapai tembok kota, sesosok bayangan menghalangi jalannya.

Pria itu mengenakan jubah putih bersih, kontras dengan kegelapan malam. Di tangannya terdapat sebuah busur panjang yang terbuat dari perak murni. Inilah Ketua

Unit Elang Pusat,orang yang melatih para pemanah yang dibantai Yuan di hutan.

"Kau telah melangkah terlalu jauh, putra Song Yan," ucap pria itu tenang. "Guru kau mungkin seorang iblis, tapi kau hanyalah manusia yang penuh luka."

"Iblis atau manusia, aku akan melewati mayatmu untuk keluar dari sini," jawab Yuan sambil memasang posisi kuda-kuda rendah yang kokoh.

Dua pemanah terbaik di daratan itu kini berdiri berhadapan di atas gerbang kota. Angin malam bertiup kencang, menerbangkan rambut mereka. Tidak ada suara, hanya detak jantung yang saling beradu.

Pria berbaju putih itu menarik talinya lebih dulu. Gerakannya sangat halus, hampir tanpa suara. Namun Yuan lebih cepat dalam merespons getaran udara. Ia melepaskan satu anak panah yang berputar kencang, menabrak anak panah musuh di tengah udara hingga keduanya hancur berkeping-keping.

Tanpa menunggu, Yuan melepaskan tembakan beruntun. Enam anak panah meluncur dalam pola formasi Bintang Jatuh. Pria berbaju putih itu terpaksa mundur selangkah demi selangkah, terkejut dengan kekuatan tekanan yang dihasilkan oleh setiap tembakan Yuan.

"Teknik ini... ini bukan teknik klan Song!" teriak pria itu panik.

"Ini adalah teknik pembalasan dendam!" sahut Yuan.

Anak panah terakhir Yuan berhasil menembus busur perak pria itu hingga patah, lalu terus melaju dan menggores pundaknya. Memanfaatkan momen kejutan itu, Yuan melompat dari tembok kota setinggi tiga puluh meter.

Di bawah, sungai besar Ibukota mengalir deras.

Byuur!

Yuan menghilang ke dalam air yang gelap, tepat saat hujan panah dari pasukan di atas tembok menghujani permukaan sungai.

Beberapa menit kemudian, di pinggir sungai yang sunyi di luar tembok kota, Yuan muncul ke permukaan. Ia terengah-engah, tubuhnya penuh luka memar dan goresan, tapi ia tersenyum. Gao Shuo sudah mati. Langkah pertama balas dendamnya selesai.

Namun, ia tahu Ibukota sekarang akan gempar. Ia bukan lagi sekadar buronan; ia adalah ancaman bagi takhta kaisar.

Dari kejauhan di balik pohon besar, Mo Chen berdiri memperhatikannya. "Kau masih hidup, Cacing Kecil. Sekarang, bersiaplah. Karena mulai besok, seluruh dunia akan memburumu."

Di dalam kegelapan air sungai yang dingin, untuk sesaat Yuan merasa damai. Suara teriakan dan denting pedang di atas sana terdengar sangat jauh. Di sana, di dasar sungai yang sunyi, ia seolah melihat bayangan wajah ayahnya yang mengangguk pelan. Tugas pertama telah tuntas, namun air sungai yang merah oleh darahnya sendiri mengingatkannya bahwa perjalanan ini masih sangat jauh dari kata berakhir.

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: Yuan-er panggilan khusus ayah ke anaknya dalam gaya wuxia...kalau secara langsung panggilan sayang julukan
total 3 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!