NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Ujian Murid Inti

Langit pagi di pegunungan Sekte Langit Biru tampak lebih cerah dari biasanya. Embun menetes di ujung dedaunan pinus, kabut tipis menggantung di lembah, dan suara gong besar bergema tiga kali dari aula utama sekte. Tanda bahwa hari ujian murid baru resmi dimulai.

Ratusan murid baru yang telah mendaftar berkumpul di lapangan luas di depan aula pelatihan. Mereka mengenakan jubah abu-abu sederhana, wajah-wajah muda itu menunjukkan berbagai ekspresi: ada yang penuh percaya diri, ada yang gugup, dan tidak sedikit pula yang hanya berharap bisa bertahan tanpa mempermalukan diri.

Lin Feng berdiri di antara kerumunan itu. Pandangannya tenang, tetapi hatinya berdebar. Ia tahu hari ini akan menjadi titik balik: hari di mana ia membuktikan bahwa tubuhnya yang aneh bukanlah kutukan, melainkan berkah tersembunyi. Di sebelahnya, Mei Xue berdiri dengan mata tajam, penuh semangat namun tetap berhati-hati. Sementara tidak jauh dari mereka, Zhao Liang berdiri dengan dagu terangkat, jelas ingin menonjolkan dirinya.

Di sisi arena, beberapa kursi batu disediakan khusus bagi tetua sekte dan murid inti. Di antara mereka, seorang pemuda dengan wajah tampan namun penuh kesombongan sedang duduk sambil menyilangkan tangan di dada—Liu Tian. Tatapannya tajam, seakan menembus kerumunan, mencari seseorang yang selama ini yang telah mengusiknya.

Seorang tetua berusia lanjut melangkah ke depan. Jubah biru tuanya berkibar ditiup angin, rambutnya putih namun tubuhnya masih tegap. Dialah Tetua Mo, salah satu penanggung jawab ujian murid baru tahun ini.

“Para murid!” suaranya menggema, penuh wibawa. “Hari ini kalian akan menjalani ujian untuk menentukan apakah layak menjadi bagian dari Murid Inti Sekte Langit Biru. Ingat, ujian ini tidak hanya mengukur kekuatan tubuh, tetapi juga hati, tekad, dan potensi kalian.”

Suasana hening. Semua murid menundukkan kepala dengan hormat.

Tetua Mo melanjutkan, “Ada tiga tahap ujian. Tahap pertama: pengukuran dasar kekuatan spiritual dan tubuh. Tahap kedua: ujian ketahanan mental dalam formasi ilusi. Tahap ketiga: duel antar murid.”

Sorak-sorai kecil terdengar dari kerumunan. Bagi banyak orang, tahap ketiga adalah yang paling ditunggu.

Sementara itu, Liu Tian duduk santai, matanya melirik ke arah Lin Feng yang berdiri di barisan tengah. Bibirnya melengkung tipis.

“Hmph, Lin Feng... aku ingin tau sudah sejauh apa perkembangan mu…” gumamnya pelan. Ia mengingat bisik-bisik tentang Lin Feng: tubuhnya berbeda, memiliki ketahanan abnormal, dan berhasil menarik perhatian beberapa tetua kecil.

Di samping kursi Liu Tian, berdiri Zhao Liang yang sengaja menunggu kesempatan. Begitu Liu Tian menoleh, Zhao Liang segera menunduk dengan hormat.

“Senior Liu Tian,” bisiknya dengan nada penuh hormat, “aku sudah menyelidiki anak bernama Lin Feng itu.”

Liu Tian menatap sekilas, “Oh? Apa yang kau ketahui?”

Zhao Liang menahan senyumnya, lalu mendekatkan mulutnya agar tak terdengar orang lain. “Tubuhnya… berbeda dari manusia biasa. Saat berlatih, tubuhnya bisa menyerap energi lebih cepat, tapi juga mengalami sakit yang luar biasa. Beberapa murid bilang itu bukan bakat, melainkan kutukan. Dia hanya bertahan karena kebetulan belum pecah.”

Liu Tian mengangkat alis, matanya berbinar dingin. “Kutukan, ya? Menarik…”

Zhao Liang menambahkan dengan nada penuh racun, “Jika dia dibiarkan, mungkin suatu hari tubuhnya benar-benar meledak. Tapi jika ia terus tumbuh… bisa jadi dia menjadi ancaman bagi Senior.”

Ucapan itu membuat tatapan Liu Tian makin tajam. Ia menatap ke arah Lin Feng dengan kebencian yang lebih dalam. “Kalau begitu, aku akan pastikan dia tidak pernah mencapai puncak. Terima kasih, Zhao Liang. Kau tahu apa yang harus kau lakukan saat berhadapan dengannya?”

Zhao Liang menunduk. “Tentu, Senior. Aku akan membuatnya tidak pernah lupa siapa yang harus dia takuti.”

Tahap Pertama Ujian Dimulai

Gong kembali berdentum. Tetua Mo mengangkat tangan. “Kita mulai tahap pertama: pengukuran dasar kekuatan spiritual!”

Di tengah lapangan, sebuah batu pengukur energi yang tinggi didirikan. Batu itu berkilau samar, dengan ukiran unik yang bercahaya setiap kali disentuh murid.

Satu per satu murid maju. Mereka menempelkan tangan di permukaan batu, lalu cahaya akan menunjukkan tingkat kekuatan dasar mereka.

Murid pertama: batu memancarkan cahaya kuning samar. Tetua Mo mengangguk, “Biasa saja, cukup untuk murid luar.”

Murid kedua: cahaya hijau. Beberapa penonton bersorak, tanda bakat menengah.

Murid ketiga: cahaya hampir pudar, tanda potensi lemah. Ia segera dipulangkan dengan wajah malu.

Ujian terus berlanjut. Beberapa murid tampak kecewa, beberapa bersorak gembira.

Mei Xue melangkah ke depan. Tangannya menempel pada batu. Cahaya biru lembut memancar, stabil, bersinar cukup terang.

“Bakat menengah-tinggi,” ujar Tetua Mo. “Bagus, kau punya pondasi yang solid.” Mei Xue menunduk hormat dan mundur dengan senyum tipis.

Tak lama kemudian, giliran Zhao Liang. Ia menempelkan tangan pada batu, cahaya hijau terang muncul, sedikit berkilau. Penonton bersorak kagum.

“Haha! Lihat itu, bakat kuat!” gumam salah satu murid.

Zhao Liang berdiri dengan bangga, melirik sekilas ke arah Lin Feng dengan senyum mengejek.

Akhirnya, nama Lin Feng dipanggil. Semua mata menoleh padanya. Ada bisik-bisik, sebagian penasaran, sebagian meremehkan.

Lin Feng menarik napas dalam, melangkah maju, lalu menempelkan tangannya ke batu.

Awalnya, batu itu tidak menunjukkan reaksi. Beberapa murid mulai tertawa kecil. Namun, detik berikutnya—Bzzztt! Cahaya biru tua bercampur ungu tiba-tiba meledak dari dalam batu, membuatnya bergetar hebat.

“A-apa?” beberapa murid berseru kaget.

Batu itu mengeluarkan suara retak halus seakan tak sanggup menahan energi yang diserap.

Tetua Mo mengerutkan kening, matanya menatap tajam pada Lin Feng. “Energi… sangat unik. Tidak stabil, tapi jumlahnya di atas rata-rata.”

Sorakan dan bisikan memenuhi lapangan.

“Dia siapa?”

“Kenapa batunya sampai bergetar begitu?”

“Apakah itu bakat langka?”

Lin Feng menarik tangannya perlahan, mencoba menutupi kegugupannya. Tubuhnya sedikit bergetar karena efek samping. Ia tahu, tubuhnya tidak biasa, dan setiap kali menyerap energi, ada rasa sakit yang hanya bisa ia tahan sendiri.

Zhao Liang menyipitkan mata. Senyumnya kaku. Sementara itu, Liu Tian yang duduk di kursi batu menatap Lin Feng dalam-dalam, semakin yakin bahwa anak itu harus disingkirkan.

Tahap pertama berakhir. Banyak murid gugur, hanya sebagian yang lolos. Nama Lin Feng tercatat di antara murid dengan hasil paling mencolok.

Tetua Mo mengumumkan, “Tahap kedua akan segera dimulai. Siapkan mental kalian, karena berikutnya yang diuji adalah hati dan jiwa kalian.”

Kerumunan murid bergemuruh, sebagian takut, sebagian bersemangat.

Di sudut lapangan, Zhao Liang mendekati Liu Tian lagi, berbisik, “Lihatlah, Senior. Anak itu mungkin terlihat menonjol sekarang… tapi aku akan pastikan dia hancur di tahap berikutnya.”

Liu Tian menyipitkan mata, senyum tipis muncul di wajahnya. “Bagus. Jangan hanya hancurkan tubuhnya, hancurkan juga hatinya.”

Lin Feng yang berdiri di tengah kerumunan tidak tahu, bahwa hari ini bukan hanya ujian masuk sekte—melainkan kelanjutan dari permusuhan yang akan membawanya pada jalan penuh darah dan duri.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!