Qin Yue, agen elit paling mematikan dari dunia modern, mati dalam misi. Ia terbangun di tubuh Putri Feng Xiuying—gadis cantik, lemah lembut, dan terkenal bodoh seantero istana.
Tapi dunia akan segera tahu bahwa kelinci mungil ini kini bertaring.
Pedangnya lebih cepat dari lidah bangsawan istana, dan kelicikannya bahkan bisa mempermainkan para pejabat tua.
Hanya satu orang yang tak bisa ia taklukkan. Jenderal Han Ziyu, pria dingin berjulukan "Serigala Salju."
“Ayo bertarung!”
“Maaf, aku tak melawan kelinci,” katanya dingin.
Tapi ketika kelinci itu mulai menggoda pangeran lain, serigala itu menggeram pelan.
“Kelinci milikku... tak boleh bermain di kandang rubah lain.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seojinni_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Peringatan Dari Kaisar
Matahari baru saja terbit, tapi ibu kota sudah dipenuh dengan gosip yang berputar lebih cepat dari suara gong pagi istana.
“Apa kalian dengar... Mansion Bai diserang semalam!”
“Bai Qingsan bajingan! Dia membawa pasukan, mengepung rumah adiknya sendiri!”
“Kasihan putri Bai… gosipnya dia sangat terkejut. Dia bahkan menutup rapat gerbang, dan tak mau keluar kamar.”
“Benarkah? Kudengar dia menangis sampai pingsan.”
Semua orang ikut bergosip soal kejadian semalam. Bahkan ikut membumbui ceritanya. Padahal, di dalam mansion Bai, sang putri kecil yang katanya terguncang itu tengah berbaring malas di kursi taman, sambil menggigit kue bulan.
“Mm… damai sekali” gumam Xiuying, sambil mengibaskan kipasnya.
Di sebelah kursinya berserakan tumpukan surat. Surat lamaran, hadiah pertunangan, undangan jamuan. Sejak berita pertunangan nya batal, dia menerima begitu banyak surat dan hadiah. Tapi semuanya ia tolak, bahkan ada beberapa yang dikembalikan dengan catatan singkat...
“Maaf, aku tidak menjual diriku.”
“Putriku, mengapa kau menutup gerbang rapat-rapat?” tanya Rong Yi yang berdiri sambil menatap tumpukan surat.
Xiuying menjawab sambil menunjuk kearah tumpukan surat, “Aku sedang malas. Tidak ingin menerima surat atau hadiah apapun. Aku takut kehilangan kesabaran dan mendatangi mereka satu persatu. Jadi, biarkan saja orang-orang berpikir aku sedang terpukul. Toh Bai Qingsan yang akan disalahkan.”
Rong Yi terkekeh, ya... Mereka juga mendengar dia dan putrinya di panggil langsung oleh kaisar pagi ini. Sepertinya, dia akan cukup kesulitan.
***
Pengadilan Pagi yang Mencekam
Gong pagi istana berdentang seperti biasanya, para pejabat berbaris di aula pengadilan. Namun, udara di dalam ruangan begitu berat hingga napas pun terasa sesak. Semua orang tahu, akan ada badai yang pecah pagi ini.
Suara langkah Kaisar terdengar. Beliau naik ke kursi naga dengan langkah tenang. Matanya menyapu seisi ruangan, tajam dan dingin. Seketika, aula yang sudah sunyi menjadi semakin mencekam. Tak seorang pun berani mengangkat kepala.
“Panggil Bai Qingsan.”
Langkah kaki menggema. Bai Qingsan maju, berlutut dalam-dalam. Wajahnya dibuat sedih penuh kepura-puraan.
Kaisar mengetukkan jarinya di sandaran kursi naga—tok, tok, tok—suara kecil tapi membuat dada semua orang berdebar. Suaranya tenang, tapi berat menekan.
“Bai Qingsan. Apa alasanmu membawa pasukan untuk mengepung mansion keluarga Bai di malam buta?”
Para pejabat serentak menahan napas. Bahkan suara kain bergesek pun terdengar jelas.
Bai Qingsan segera bersujud.
“Yang Mulia, hamba hanya khawatir akan keselamatan Putri Bai. Beliau hanya seorang diri, hamba takut ada pihak luar yang mencuri masuk… Hamba bermaksud melindungi keluarga.”
Kaisar tersenyum tipis—senyum yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Melindungi keluarga?” katanya datar. “Sejak kapan melindungi keluarga berarti membawa pasukan untuk mengepung rumahnya sendiri?”
Riuh kecil terdengar di barisan pejabat. Beberapa orang saling pandang, tapi buru-buru menunduk lagi.
Bai Qingsan gemetar, buru-buru menunduk lebih dalam.
“Yang Mulia, hamba juga dirugikan! Anak haram itu menghunus belati pada putri hamba. Ia mengatakan belatinya beracun—”
Suara Kaisar memotong, dingin dan lambat,
“Beracun? Yang kudengar hanya luka dangkal di kaki. Itu pun karena kecerobohan putrimu sendiri.”
Ia bersandar perlahan, menatap tajam.
“Apakah seorang gadis remaja bisa menakut-nakuti Komandan Bai yang terkenal perkasa? Hanya dengan sebilah belati kecil?”
Beberapa pejabat menunduk makin dalam, menahan senyum kecut. Wajah Bai Qingsan merah padam, tapi tak bisa membantah.
Tiba-tiba Bai Liyan melangkah maju, suaranya lantang,
“Yang Mulia! Anak haram itu sengaja mencelakai—”
“Diam.”
Suara Kaisar pelan. Tapi gema satu kata itu membuat seisi aula bergetar.
Mata Kaisar beralih padanya, tajam menusuk.
“Jika kau berani bicara lagi, jangan salahkan aku bila kau dikurung bersama anjing istana selama sebulan.”
Bai Liyan pucat pasi, tubuhnya gemetar. Ia mundur terbata-bata, wajahnya hancur menahan malu.
Kaisar kembali menatap Bai Qingsan. Suaranya rendah tapi setiap kata menohok dada.
“Kau ingin merebut kedudukan keluarga Bai, bukan?”
Tubuh Bai Qingsan bergetar, keringat dingin menetes.
“T-tidak, Yang Mulia… Hamba tidak berani…”
“Cukup.” Kaisar menepuk sandaran kursinya sekali lagi.
“Aku masih mengakui Bai Zen sebagai pewaris sah keluarga Bai. Selama aku belum mencabut titah itu, siapa pun yang mencoba melawan akan kulenyapkan lebih dulu. Ingat kata-kataku, Bai Qingsan.”
Hening menyelimuti aula. Para pejabat menunduk makin rendah, tak berani bernapas. Sudah lama sekali mereka tak melihat Kaisar semarah ini—bukan dengan teriakan, melainkan dengan dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Bai Qingsan akhirnya ditarik mundur, wajahnya hitam seperti arang.
Dan di luar istana… gosip langsung menyebar lebih cepat daripada angin.
“Komandan Bai dipermalukan di depan pengadilan pagi!”
“Bahkan putrinya dimarahi Kaisar, dan hampir dikurung di kandang anjing istana!”
“Katanya, wajah Komandan Bai sampai menghitam, tak berani angkat kepala!”
Ibu kota pun kembali riuh.
***
Setelah Pengadilan Pagi
Para pejabat mulai bubar, tapi hawa tegang masih menggantung di udara...
Begitu aula agak lengang, seorang utusan kepercayaan Kaisar maju, berlutut.
“Yang Mulia, mengenai gosip yang beredar… kami telah memastikan. Gerbang mansion Bai memang ditutup rapat. Kami bahkan harus memanjat tembok untuk masuk.”
Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.
“Namun, Putri Bai menangkap basah kami. Dan… ternyata beliau baik-baik saja. Bahkan, terlalu baik-baik saja. Beliau berkata akan menemui Yang Mulia dalam beberapa hari.”
Kaisar mengetukkan jarinya pelan di sandaran kursi naga. Matanya menyipit.
“Jadi… gosip tentang dirinya yang terguncang itu palsu?”
Utusan itu tersenyum kaku.
“Sepertinya ia sendiri yang menyebarkannya, Yang Mulia.”
Sejenak, Kaisar menunduk, lalu menghela napas kecil.
“Bocah itu… selalu membuat caranya sendiri.” Sebuah senyum samar terbit di bibirnya, tapi segera ditutupi dingin yang biasa.
Lalu seorang kasim masuk, berlutut.
“Yang Mulia, Jenderal Han Ziyu menunggu di luar. Ia memohon menghadap, terkait masalah mansion Bai.”
Kaisar bangkit berdiri. “Bawa dia ke taman istana.”
***
Taman Kaisar
Kaisar berjalan pelan di jalan setapak berbatu, tangan bersedekap di belakang. Han Ziyu mengikuti setengah langkah di belakangnya, postur lurus, wajah tanpa ekspresi.
“Ziyu,” Kaisar bersuara ringan, meski matanya tajam. “Kenapa kau tiba-tiba menawarkan diri untuk menjaga Putri Bai? Biasanya kau tidak pernah mencampuri urusan pribadi.”
Han Ziyu terdiam sebentar. Hanya suara angin dan kicau burung terdengar.
Akhirnya ia menjawab singkat, datar...
“…Tidak tahu.”
Kaisar menoleh, alisnya terangkat. “Tidak tahu?”
Han Ziyu menundukkan sedikit pandangannya, suaranya rendah.
“Tanpa kusadari… hari-hariku dipenuhi dirinya.”
Sejenak ia berhenti, lalu menambahkan dengan nada datar,
“Menjengkelkan.”
Kaisar terdiam, lalu… tiba-tiba tertawa pendek. “Hahaha… men-jeng-kel-kan, ya?” Tatapannya menyipit, seolah menilai. “Kalau begitu, kau sudsh terjebak pesonanya.”
Han Ziyu tidak menjawab. Wajahnya tetap tenang, hanya jemarinya mengepal samar di balik lengan bajunya.
Kaisar tersenyum, lalu mendongak menatap langit. Senyumnya memudar, berganti tatapan sendu yang jarang ia tunjukkan.
“Entahlah… Aku juga, hanya menyayanginya begitu saja.”
Suaranya pelan, nyaris seperti gumaman.
“Seperti seorang putri…”
Han Ziyu menoleh sekilas, matanya bergetar tipis, tapi ia tidak berkata apa-apa.
Kaisar kembali melangkah, suaranya sudah normal lagi.
“Sudahlah. Aku hanya ingin bocah itu bebas berbuat sesukanya—tanpa ada yang berani menyentuhnya.”
Han Ziyu menunduk dalam, suaranya mantap.
“Hamba mengerti.”
baru ini nemu MC yang pemalas🤣
😘😘
q tak rela pisan cepat' am xiuying Thor....
sehat2 ya, semangat selalu dalam berkarya