Di tengah dunia yang terbelah antara realita modern dan kiamat zombie, Shinn Minkyu—seorang cowok berwajah androgini dengan pesona misterius—mendadak mendapatkan sebuah sistem unik: Sistem Pengasuh.
Dengan kemampuan untuk berpindah antar dunia, Shinn berniat menjalani hidup damai... sampai seorang gadis kecil lusuh muncul sambil dikejar zombie. Namanya Yuki. Imut, polos, dan penuh misteri.
Tanpa ragu, Shinn memutuskan untuk merawat Yuki layaknya anaknya sendiri—memotong rambutnya, membuatkannya rumah, dan melindunginya dari bahaya. Bersama sistem yang bisa membangun shelter super canggih dan menghasilkan uang dari membunuh zombie, keduanya memulai petualangan bertahan hidup yang tak biasa.
Penuh aksi, tawa, keimutan maksimal, dan romansa menyentuh saat masa lalu Yuki perlahan terungkap...
Apakah Shinn siap menjadi ayah dadakan di tengah kiamat? Atau justru… dunia ini membutuhkan keimutan Yuki untuk diselamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F R E E Z E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
“Yuki, jangan lari-lari sambil bawa sendok! Nanti jatuh!”
Shinn berseru dari dapur mini mereka, wajahnya penuh tepung dan tangan masih sibuk ngaduk adonan pancake. Yuki, yang udah duduk manis lima menit lalu, mendadak kayak roket begitu cium bau makanan.
“Tapi aku laper banget, Papa!” jawab Yuki sambil tertawa, berputar-putar di ruang tengah sambil bawa sendok kayak pedang.
Elia duduk di meja makan, rambut panjangnya diikat sederhana, matanya menatap anak dan ‘pengasuh dadakan’ itu dengan tatapan lembut. “Yuki, kalau kamu duduk manis, Mama bakal kasih kamu sirup spesial. Gimana?”
Yuki langsung berhenti. “Beneran, Ma? Yang rasa stroberi yang kemarin?”
“Hmm, iya. Tapi duduk dulu, ya.”
Anak kecil itu langsung duduk di kursinya, badannya tegak kayak tentara, ekspresi mukanya serius banget. Shinn ngelirik dan ngakak kecil.
“Elia, kamu jago banget bikin dia nurut. Aku kayak badut tiap pagi.”
Elia senyum, “Namanya juga ibu. Udah hafal triknya.”
Setelah beberapa menit, pancake hangat udah tersaji di atas meja. Yuki langsung menyerbu, mulutnya belepotan sirup, tapi ekspresinya puas banget.
“Pancake nya enak! Papa jago!”
Shinn duduk dan ngelus rambut Yuki, “Yang penting kamu kenyang, biar kuat lawan zombie.”
Tiba-tiba sistem muncul di depan mata Shinn, panel transparan biru melayang dengan suara khasnya.
> [Notifikasi Sistem: Serangan Zombie Kelas C terdeteksi dalam radius 500 meter. Waktu kedatangan: 10 menit.]
Shinn langsung berdiri. “Ada serangan zombie. Kelas C. Sepuluh menit lagi.”
Elia juga langsung serius. “Yuki, habisin makannya, terus kita ke ruang bawah, ya.”
Yuki mengangguk cepat, kayak udah terbiasa. Shinn bergerak cepat ke ruang perlengkapan, pakai rompi pelindung dan senjata energi kecil yang dia rakit dari sisa-sisa alat teknologi.
Shelter mereka dilindungi pagar listrik dan sistem pertahanan otomatis, tapi tetap aja, zombie kadang bisa nembus kalau mereka lagi dalam mode mutasi agresif.
“Papa, hati-hati,” bisik Yuki sambil megang ujung baju Shinn.
Shinn jongkok dan meluk Yuki, “Papa balik cepet, oke? Lindungi Mama, ya.”
Yuki mengangguk. Shinn keluar, dan langsung aktifkan sistem pelindung level 2. Cahaya biru muncul di sekeliling shelter, membentuk semacam kubah energi tipis.
Di luar, suara langkah berat mulai terdengar.
“Jumlah mereka… delapan. Tapi ini kelas C, harusnya bisa ku tangani.”
Dari kejauhan, muncul siluet zombie-zombie besar. Tubuh mereka lebih kekar, kulit pecah-pecah, dan mata bersinar merah samar. Salah satu dari mereka bahkan punya lengan ekstra di punggung.
“Mutasi parsial…” gumam Shinn.
Ia mengangkat senjata plasma kecilnya, membidik, dan—
"ZRAK!"
Tembakan pertama mengenai kepala zombie paling depan. Tubuhnya roboh dengan asap mengepul. Tapi sisanya malah makin agresif.
“Waktunya pemanasan!”
Shinn berlari menyamping, memancing perhatian. Sistem langsung aktifkan jebakan ranjau kecil di titik tertentu, dan—
"BOOM!"
Dua zombie terlempar, tapi satu dari mereka bangkit lagi dengan geraman. Shinn langsung maju, lompat, dan hantam zombie itu dengan pedang energi pendek.
Satu per satu, zombie berhasil dia kalahkan. Tapi yang terakhir—zombie berlengan tiga—tiba-tiba nyerang dengan kecepatan tinggi.
“Wah, ini serius!”
Zombie itu hampir menabrak Shinn, tapi sistem langsung mengaktifkan perisai darurat. Serangan tertahan, dan Shinn balas dengan menancapkan pisau plasma ke dada makhluk itu.
"ZRAK!"
Zombie mengerang keras dan akhirnya jatuh. Nafas Shinn ngos-ngosan.
> [Notifikasi: Semua zombie kelas C telah dieliminasi. +800 koin sistem diterima.]
“Hah… akhirnya.”
Dia kembali ke shelter, keringat masih menetes, tapi wajah lega. Saat dia buka pintu, Yuki langsung lari dan meluk kakinya.
“Papa menang?”
Shinn ngelus kepalanya. “Iya dong. Papa kan jago.”
Elia datang bawa handuk kecil, mengelap wajah Shinn. “Kamu baik-baik aja?”
“Iya, cuma lelah dikit. Tapi aku dapet koin lumayan. Besok bisa beli alat penyaring air yang kamu pengen itu, Elia.”
Mata Elia bersinar. “Serius? Wah, itu penting banget!”
Shinn duduk di sofa, Yuki naik ke pangkuannya dan mulai main-mainin dagunya. “Papa lucu deh kalau capek, mukanya kayak puffer fish!”
“Eh?! Masa kayak ikan buntal?!”
“HAHA iya!” Yuki ngakak keras. Elia juga ketawa pelan, sambil duduk di samping mereka.
Malam harinya, setelah mereka makan bareng dan Yuki udah tidur, Shinn dan Elia duduk di atap shelter, liat bintang-bintang yang masih tersisa di langit abu-abu itu.
“Elia…” kata Shinn pelan, “aku seneng kamu dan Yuki di sini. Dulu aku pikir aku cuma pengasuh dadakan. Tapi sekarang rasanya…”
“Kamu udah jadi bagian keluarga kami, Shinn,” jawab Elia tanpa ragu.
Mereka saling pandang. Wajah Elia terlihat bersinar dalam cahaya bulan.
“Terima kasih,” kata Shinn pelan. “Aku bakal terus lindungi kalian, sampai dunia ini aman lagi.”
Elia mengangguk. Dan di saat itu, untuk pertama kalinya, dia menggenggam tangan Shinn.
Hati Shinn berdetak lebih kencang. Tapi dia nggak nolak.
Dan malam itu, di tengah dunia yang hancur, ada satu titik kecil yang tetap hangat: cinta dan keluarga.
mampir kak