Juru masak di bistro bernama Ruby River yang diminta bekerja di mansion milik keluarga kaya. Di mansion mewah itu, Ruby bertemu dengan pria dingin, arogan, dan perfeksionis bernama Rhys Maz Throne, serta si tengil dan rebel, Zade Throne. Zade jatuh hati pada Ruby pada pandangan pertama. Rhys, yang selalu menjunjung tinggi kesetaraan dan menganggap hubungan mereka tidak pantas, berupaya keras memisahkan Ruby dari adiknya. Ironisnya, usaha Rhys justru berbuah bumerang; ia sendiri tanpa sadar jatuh cinta pada Ruby, menciptakan konflik batin yang rumit.
Perasaan Rhys semakin rumit karena sifatnya yang keras kepala dan keengganannya mengakui perasaannya sendiri. Sementara itu, Ruby harus menghadapi dua pria dengan kepribadian yang sangat berbeda, masing-masing menawarkan cinta dengan cara mereka sendiri. Di tengah dilema ini, Ruby harus memilih: mengikuti kata hatinya dan menerima cinta salah satu dari mereka, atau menjaga harga dirinya dan memendam cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyraastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETUKAN TERAKHIR
Di ruang sidang The Chicago Justice Center yang dingin, dua perempuan duduk berdampingan, namun dipisahkan oleh jurang emosi yang dalam. Ruby wajahnya pucat, duduk dengan Clarissa. Di seberang ruang sidang, Madam Rose, bos dari ibu Archie di tempat bordil, duduk tegak berkuasa, dikelilingi beberapa anteknya. Hari ini, putusan atas kasus pembunuhan Ibu Archie akan dijatuhkan. Amos, duduk lesu di kursi terdakwa, wajahnya semakin kacau, bercampur aduk antara ketakutan, penyesalan, dan sisa-sisa amarah yang membatu. Rambutnya semakin panjang, janggutnya tumbuh semakin lebat, mencerminkan minggu-minggu penantian yang menyesakkan. Amos tampak seperti bayangan dirinya sendiri, sebuah patung yang hancur dihantam badai penyesalan. Arogansinya telah hilang, untuk melihat sejenak Ruby dan Clarissa saja tak bernyali, hanya bisa membungkuk dalam di kursi terdakwa. Ia bahkan tak berani menatap kedua wanita itu, hanya mampu membungkuk dalam di kursi terdakwa, sesekali menggigit bibirnya yang kering.
Si pengacara utusan madam Rose, dengan suara lantang dan penuh intonasi, merangkum bukti-bukti yang tak terbantahkan. Sidik jari Amos ditemukan pada pisau berlumuran darah yang digunakan untuk membunuh Ibu Archie. Rekaman CCTV dari rumah bordil memperlihatkan dengan jelas perselisihan antara Amos dan ibu Archie terkait pembayaran jasa. Amos menolak membayar, dan perkelahian pun terjadi, berujung pada kematian ibu Archie.
"Yang Mulia," suara pengacara itu bergema, "bukti forensik, rekaman CCTV, semuanya menunjukkan satu kesimpulan: terdakwa, Amos, bersalah atas pembunuhan Ivana. Tidak ada keraguan, tidak ada ruang untuk pembelaan. Keadilan menuntut hukuman yang setimpal atas tindakan keji ini."
Amos hanya menunduk, tak berani menatap siapa pun. Ia tak membela diri, seolah mengakui kesalahannya.
Hakim mengetuk palunya, suara kerasnya memecah keheningan. "Terdakwa, Amos," suaranya berat, "setelah mempertimbangkan semua bukti yang telah disajikan, pengadilan menyatakan Anda bersalah atas tuduhan pembunuhan."
"Hukuman yang dijatuhkan adalah..." Hakim menjeda, membuat ketegangan mencapai puncaknya. "... dua puluh tahun penjara."
Ruby tetap diam, matanya memanas. Dua puluh tahun penjara terasa terlalu singkat untuk membayar nyawa seseorang, tetapi di sisi lain, ia juga merasakan sedikit kelegaan. Mungkin dengan ini, rasa berdosanya dengan Archie akan terbayar, walaupun hanya secuil biji kacang. Ia melihat pada Clarissa sepintas, yang mengepalkan tangannya dengan erat, menahan sesuatu yang entah Ruby tidak tahu.
"Seumur hidup. Itulah hukuman yang pantas dia terima," lirih Clarissa terdengar.
Ruby bereaksi, ia mengangkat wajahnya, kembali menoleh sepenuhnya pada wajah sang bibi. Ia mencerna, kemudian berani melontarkan kata. "Pengadilan sudah memutuskan, Bibi. Kita tidak bisa... menentang hukum. Putusannya sudah final."
Clarissa menatap tajam. "Jangan membelanya. Dia telah merenggut nyawa seseorang; dua puluh tahun tak cukup baginya agar bisa membusuk di penjara."
"Bibi, aku tidak membelanya. Aku mengatakan yang sebenarnya. Hanya saja..." Ruby menggantungkan kalimatnya.
"Hanya apa?" sambar Clarissa, suaranya meninggi. Amarahnya semakin menjadi-jadi. "Kau hanya merasa kasihan padanya? Setelah apa yang telah dia lakukan? Bahkan kata 'membusuk di penjara' pun tidak pantas untuknya. Dia selalu merepotkan dan hanya bisa membuatku malu saja. Bahkan setelah tindakan bodohnya itu, aku pun ikut menderita, mendengar semua orang tiada henti menggosip tentang diriku."
Kalimat terakhir Clarissa terlontar dengan penuh penekan nan miris. Tanpa menunggu jawaban Ruby, wanita itu berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruang pengadilan, membiarkan Ruby yang masih terduduk tenang. Ruby tak berusaha mencegah, hanya mampu menyaksikan punggung tegap sang bibi menghilang di balik pintu. Ia mengerti amarah bibinya. Merasa terbebani oleh tekanan dan pandangan orang-orang, akan membuat Clarissa semakin sensitif. Memberikan ruang kesendirian, akan sedikit merendam amarah yang terbakar.
Atensi Ruby kembali tertuju ke depan. Pandangannya jatuh pada sosok Amos, wajahnya tak terbaca di balik kerumunan petugas yang mulai membawanya pergi. Tak ada keinginan sedikit pun dalam dirinya untuk bertemu Amos. Ia mulai bangkit, langkah pelannya meninggalkan ruang sidang yang hampa.
.........
Ruby melangkahkan kakinya ke rumah kecil yang beberapa hari ini jarang ia singgahi. Suasananya masih sama, lembab dan sepi. Yang berbeda adalah, tidak ada botol alkohol berserakan atau figur Amos yang biasanya terkapar di kursi kayu.
Ruby menghembuskan nafasnya yang terasa begitu berat. Udara di sekitarnya terasa menipis, seiring langkah kakinya semakin dekat dengan kursi yang di tempati Clarissa. la memilih duduk di sampingnya, mungkin menikmati takdir pahit bersama sedikit melegakan. Sesaat keheningan di antara mereka lebih berat, jauh lebih dari batu besar yang menindih. Tidak ada pergerakan dari Clarissa begitupun dengan Ruby, pandangan mereka lurus ke depan, hanya tatapan kosong dari sorot mata keduanya.
"Bagaimana dengan keadaan putranya?" Clarissa tiba-tiba bersuara.
Ruby terdiam lama, matanya masih lurus ke depan. Pikirannya melayang pada sosok Archie, anak kecil yang kini harus menanggung beban kehilangan yang begitu berat. Akhirnya, ia menjawab, suaranya serak dan pelan, "dia baik-baik saja. Mencari ibunya adalah hal yang wajar. Tapi, aku belum bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya."
Clarissa mendengus. "Kau ingin membuat masalah ini semakin runyam? Lebih baik anak itu tahu sekarang, daripada kau harus menanggung beban kebohongan selamanya."
"Aku juga ingin Archie tahu, tapi bukan sekarang. Dia masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan pahit ini. Aku perlu waktu untuk mempersiapkannya, untuk memilih kata-kata yang tepat, agar dia tidak semakin terluka. Memberitahunya secara tiba-tiba hanya akan membuatnya hancur."
"Terserah, bila itu mau mu." Clarissa berdiri dari duduk. Tak menengok pada Ruby untuk melanjutkan ucapannya, "jika nanti terjadi masalah, jangan libatkan aku. Sudah cukup aku menderita karena pamanmu itu."
"Aku hanya tidak ingin memperburuk keadaannya sekarang. Dan ku pastikan, bibi tidak akan terlibat ke dalam masalah Archie."
Clarissa memutar tubuhnya. "Bagus jika kau sadar diri. Karena aku ingin bahagia sekarang, tanpa bayangan siapa pun." Ada jeda. Tapi jeda yang tak berlangsung lama. "Aku akan menikah dengan pria kaya. Kami sudah merencanakannya sejak lama. Aku muak bersembunyi. Aku ingin hidup yang baru, tanpa penderitaan yang terus menghantuiku.”
Ruby menatapnya, ada keterkejutan di wajah pucatnya. Tapi ia tidak bereaksi apa-apa. Hanya menggenggam erat tangannya sendiri, mencoba menelan kenyataan baru itu. "Bibi tidak prihatin dengan keadaan paman?"
"Prihatin, untuk apa?" Clarissa mendengus pelan, matanya menerawang ke jendela. "Kami berdua sama saja, Ruby. Aku selingkuh, iya. Tapi Amos juga. Jangan pikir dia pria suci yang jadi korban di sini. Kami sudah sama-sama hancur sejak lama. Jadi sekarang, aku hanya mengambil kembali kendaliku sendiri."
"Tapi tidak harus sekarang, kan? Bibi tahu keadaan sedang seperti ini, jangan buat semakin rumit," potong Ruby, air matanya mengancam untuk tumpah.
"Apa yang kau maksud keadaan? Aku sudah cukup lama hidup dalam keadaan yang buruk. Aku lelah. Aku ingin bahagia. Dan Amos? biarkan saja dia menikmati apa yang telah dia dapatkan sekarang."
Ruby menatap kosong ke arah Clarissa, suaranya pelan dan patah, “Dulu aku pikir, seburuk apa pun sikap kalian padaku, setidaknya aku masih punya tempat untuk pulang. Tapi sekarang… setelah Paman, Bibi juga akan meninggalkan aku sendiri di sini.”
Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya, mencoba menelan tangis yang hampir pecah. Beberapa detik kemudian, setelah menarik napas gemetar, ia akhirnya bersuara lagi— tetap pelan, tapi jelas. "Tolong jangan pergi sekarang. Aku tahu semuanya berat untuk kita, tapi menikah lagi bukan satu-satunya jalan menuju bahagia. Bibi dan aku bisa mulai dari awal… sama-sama."
"Aku ingin bebas. Dan itu berarti… lepas dari semua yang membuatku terluka dan menderita. Termasuk dirimu," timpal Clarissa tegas, tak lagi dapat dibantah.
Ruby membeku. Tangan yang sempat terulur kini perlahan turun, dan dalam diam, tubuhnya seakan kehilangan bobot. Ia tidak menangis, tidak juga marah. Justru hening—sepi yang membentang di dalam dirinya, seperti ruang kosong tanpa dinding. Ia mengangguk kecil, refleks, walau tak yakin apa yang ia setujui. Ia tidak tahu harus merasa apa. Sedih? Mungkin. Kecewa? Sudah terlalu sering.
Dalam sekejap, Clarissa menghilang dari pandangan—pergi begitu saja, tanpa sedikit pun menoleh, tanpa rasa bersalah. Hanya langkahnya yang menjauh, meninggalkan jejak yang tak akan mudah hilang.
Ruby tersenyum tipis, bukan karena rela, tapi karena lelah. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu yang sempit dan sunyi. Namun nyatanya, ruangan ini seperti dirinya—tak lagi utuh.
Rasanya sesak jika terlalu lama, tapi tempat yang dulu ia coba hindari dengan kenangan perihnya, jauh lebih baik dibandingkan membiarkannya kosong—tanpa Amos dan Clarissa, nantinya.
Dengan langkah yang terhuyung, ia berucap pelan, suaranya tercekat, "Aku sama menderitanya, Bibi. Bahkan lebih menderita daripada yang Bibi bayangkan." Ia menoleh sekali lagi, sebelum pintu itu tertutup.