Masih kelanjutan dari PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN.
Petualangan Aji kali ini lebih kelam. Tidak ada Pretty, dkk. Hanya dirinya, Sari (adiknya), bidadari nyentrik bernama Nawang Wulan, Tumijan, Wijaya, dan beberapa teman barunya seperti Bonar dan Batubara.
Petualangan yang lebih kelam. Agak-agak horor. Penuh unsur thriller. Sungguh tak bisa ditebak.
Bagaimanakah dengan nasib Pretty, dkk? Oh, tenang, mereka masih memiliki porsi di serial ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IG @nuellubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sari Pulang Kampung
Ternyata kapten kapal itu jujur. Kapal itu sempat menepikan diri di salah satu pelabuhan di utara Yawadwipa. Untuk ukuran peta abad modern, kapal itu mungkin mendarat di utara provinsi Jawa Timur.
Sari dan perempuan-perempuan lainnya diturunkan di pelabuhan tersebut. Salah seorang awak kapal sepertinya sedang mengarahkan Sari letak ibukota Kerajaan Majapahit. Setelah itu, Sari terus berjalan mengikuti arahan si awak kapal.
"Sari?"
Sari langsung menoleh ke arah belakang. Ternyata itu Suripto, suaminya Lestari, yang merupakan adik bungsu Sari. Kebetulan sekali bisa bertemu dengan Suripto. Meski Sari pun benar-benar bingung. Entah apa yang terjadi. Sampa sekarang, pertanyaan itu belum terjawab. Tentang apakah Sari juga sama seperti Aji. Sama-sama menjalani petualangan waktu.
Sari terpaku beberapa saat. Suara itu terasa asing sekaligus akrab, seperti gema dari kehidupan yang seharusnya sudah ia tinggalkan. Suripto berdiri di hadapannya, lebih kurus dari terakhir kali Sari melihatnya, kulitnya legam oleh matahari pesisir, namun sorot matanya tetap sama—lugu dan penuh keheranan.
“Mas… Suripto?” suara Sari bergetar. Kakinya nyaris goyah.
Suripto tersenyum kecil, lalu mendekat. “Kau benar-benar Sari. Aku kira aku salah lihat. Lestari mencarimu ke mana-mana. Kami semua mengira kau sudah—”
Sepertinya Suripto ragu. Itulah kenapa ia memilih untuk tak melanjutkan kalimatnya.
Sari menarik napas panjang. Ia ingin menangis, tapi justru kepalanya dipenuhi ribuan pertanyaan. “Bagaimana kau bisa di sini? Sejak kapan Majapahit berdiri?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa ia sadari.
Suripto mengernyit. “Sejak beberapa tahun lalu. Kau… kau baik-baik saja, kan?”
Selanjutnya Suripto menatap Sari dengan tatapan penuh selidik, seolah mencoba memastikan bahwa perempuan di depannya bukan bayangan atau tipu daya makhluk halus.
Sari mengangguk pelan. “Aku… masih hidup. Itu saja yang bisa kupastikan.”
Mereka berjalan menyusuri jalan tanah yang mengarah ke pedalaman. Pelabuhan itu perlahan tertinggal, digantikan hamparan sawah dan hutan kecil. Suripto bercerita tentang kehidupan di dekat ibu kota Majapahit. Pun, tentang pasar yang semakin ramai, tentang prajurit yang lalu-lalang, tentang kabar-kabar peperangan yang sering terdengar dari mulut para saudagar.
“Nama Gajah Mada sering disebut,” kata Suripto. “Katanya, dia orang besar di Kerajaan ini. Orang-orang bilang Majapahit akan menyatukan banyak negeri.”
Nama itu membuat jantung Sari berdegup lebih kencang. Nama yang sama pernah Aji sebut dalam ceritanya, sebelum mereka terpisah. Ia menggenggam kain di dadanya, seolah ingin memastikan dirinya masih berada di dunia nyata.
“Mas,” ucap Sari pelan, “pernahkah kau merasa… seolah hidupmu melompat-lompat, tidak berjalan lurus?”
Suripto tertawa kecil. “Hidup siapa yang lurus, Sari? Sejak Sriwijaya di sana runtuh, semua orang merasa dunia berubah terlalu cepat.”
Jawaban itu tak sepenuhnya menenangkan Sari. Ia tahu, yang ia alami bukan sekadar perubahan zaman. Ada celah-celah waktu yang terasa koyak, ada bayangan masa depan dan masa lalu yang saling tindih dalam ingatannya.
*****
Sementara itu, di Tanah Melayu, Aji berdiri dengan napas tersengal di balik perisai kayu yang retak. Tanah di sekelilingnya basah oleh darah dan hujan yang turun mendadak. Perang dengan pasukan Chola tidak pernah berjalan lurus. Mereka menyerang cepat, lalu menghilang ke balik hutan bakau dan sungai-sungai kecil.
“Aji!” teriak Gema dari kejauhan. “Yang terluka di sini!”
Aji berlari, berjongkok di samping seorang prajurit yang pahanya tertancap mata tombak. Tangannya bergerak reflek. Ia spontan membersihkan luka, menekan pembuluh darah, meracik ramuan dari kantong kecil yang selalu ia bawa. Ia sendiri tak tahu sejak kapan ia mampu melakukan semua itu. Seolah ada tangan lain yang menuntunnya, ingatan asing yang berbisik di kepalanya.
Di sela hiruk-pikuk perang, wajah Sari tiba-tiba melintas di benaknya. Aji terdiam sesaat, nyaris lengah, sebelum suara benturan senjata menyadarkannya kembali.
“Bertahanlah,” kata Aji iba, pada prajurit itu. “Kau akan hidup, aku berjanji.”
Ketika malam tiba dan pertempuran mereda, Aji duduk sendirian di tepi perkemahan. Api unggun menari-nari, memantulkan bayangan wajah-wajah lelah. Ia menatap langit, mencari rasi bintang yang pernah ia kenal di kampung halamannya.
“Jika kau masih hidup, Sari,” gumam Aji menahan kesedihan, “di mana kau sekarang?”
*****
Beberapa hari kemudian, Sari akhirnya tiba di permukiman dekat ibu kota Majapahit. Lestari menangis begitu melihat kakaknya, memeluknya erat seolah tak ingin melepaskan. Malam itu, di rumah kayu sederhana, Sari menceritakan sebagian kisahnya. Ada yang tentang pelarian, kapal dagang, dan perasaan terlempar ke dunia yang asing. Ia menyimpan rapat bagian tentang aji-aji, tentang perasaan melompati waktu.
Suripto mendengarkan dengan dahi berkerut. “Mungkin kau terlalu lelah,” katanya hati-hati. “tapi, yang penting, kau selamat.”
Namun di dalam hati, Sari tahu, jawabannya tak sesederhana itu.
Beberapa malam kemudian, Sari bermimpi. Ia melihat Aji berdiri di pantai yang asing, dengan bendera Majapahit berkibar di belakangnya. Di antara mereka, air laut berkilau seperti cermin, memantulkan wajah mereka berdua. Namun dengan bayangan zaman yang berbeda.
Sari terbangun dengan napas terengah. Keringat dingin membasahi keningnya. Ia duduk lama, menatap gelap, menyadari satu hal: jika Aji benar-benar berada di medan perang jauh di seberang sana, maka perjalanan mereka belum selesai.
Entah oleh kehendak para dewa, oleh permainan waktu, atau oleh nasib yang terlalu rumit untuk dipahami manusia, jalan Aji dan Sari jelas belum berakhir. Mereka bergerak di lintasan yang sama, namun di waktu yang mungkin tak sepenuhnya sejalan. Sementara Majapahit hanya menjadi panggung besar tempat takdir mereka terus dipertaruhkan.