Kehilangan orang yang dicinta untuk selama- lamanya membuat separuh jiwa terbang entah kemana. Rasanya dunia runtuh, hidup menjadi kosong. Wanita itu benar- benar merasa kehilangan kekasihnya.
"Aku sudah memaafkanmu, jangan mengikutiku lagi!" (Azalea Tanisha Anandhi)
"Bukan maaf yang aku inginkan, aku hanya ingin kita menikah!" (Aksa Arion Sanjaya)
Karena rasa bersalah terus saja menyelimuti, Presdir itu berusaha menggantikan kekasihnya. Tapi, mampukah wanita itu mengikhlaskan kekasihnya yang telah tiada dan membukakan pintu hatinya untuk sang Presdir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shintapuji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Main Hujan
"Za..." panggil Aksa. Ia sedikit heran dengan wanita di sampingnya karena keluar dari hotel Aza masih saja melamun entah apa yang ada di pikiran istrinya itu.
"Ah, iya?"
"Kamu nyesel ya nikah sama aku?" Aksa menanyakannya, karena ia pikir itu yang sedang Aza rasakan hingga membuatnya melamun terus dari tadi.
"Enggak kok."
"Terus kenapa ngelamun? Aneh banget jadi orang!" Ada sedikit kelegaan dalam hati Aksa ketika mendengar jawaban dari Aza yang ia pikir wanita itu menyesal telah menikah dengannya.
"Aku lagi mikirin kata- kata Sarah tadi."
"Memangnya apa yang cewek itu katakan?"
"Tadi Sarah bilang kalau kamu nanti malam mau belah durian. Kamu memangnya menyiapkan durian di rumahmu ya?" ucap Aza polos.
Aksa tertawa mendengarnya, ia paham betul apa yang dimaksud Sarah tapi ternyata Aza sangatlah polos hingga tak mengerti apa itu belah durian.
"Terus dia bilang apa lagi sama kamu?" tanya Aksa dan masih terkekeh sembari sesekali menatap jalanan.
"Katanya aku bakal kesakitan nanti. Emangnya kamu nggak pakai pisau ya belahnya? Apa kamu melemparkannya ke kepalaku hingga membuatku kesakitan nantinya?"
Perkataan Aza lagi- lagi membuat Aksa tertawa terpingkal- pingkal, lelaki itu terpaksa menepikan mobilnya sejenak karena takut jika malah terjadi sesuatu nantinya.
"Kok kamu malah ketawa sih? Bener ya kalau belah duriannya pakai kepala aku?" Aza menatap lekat lelaki yang tertawa lepas seraya memegang perutnya.
"Bukan durian beneran, Za. Kamu tuh polos banget sih!" Aksa mengacak- acak rambut Aza, sangat gemas, ingin sekali ia memakan wanita itu.
Tringg...
Ponsel Aza berbunyi, pertanda ada pesan WhatsApp yang masuk. Sarah mengirimkan beberapa pesan. Aza membukanya, wajahnya memerah. Kini Aza telah mengetahuinya. Pantas saja Aksa tertawa ketika mendengar ceritanya tadi, ternyata durian yang dimaksud itu.....
"Ah, Sarah!!! Awas saja kamu besok!" balas Aza. Aksa mengintip ponsel milik Aza membaca beberapa pesan yang dikirimkan Sarah, ia kembali tertawa.
"Sekarang kamu udah tahu apa itu belah durian yang sesungguhnya?" tanya Aksa menggoda. "Aku akan melemparkan durian itu ke kepalamu setelah itu kita makan deh," sambung Aksa tergelak.
Aza memukul perut lelaki itu dan keluar dari mobil. Ia merasa sangat malu dengan lelaki yang telah menjadi suaminya itu. Aksa ikut turun dari mobil mengikuti langkah istrinya yang entah mau kemana.
Aza melangkahkan kakinya masuk ke taman, karena mereka tadi berhenti tepat di depan taman kota. Wanita itu duduk di ayunan berwarna putih di tengah taman. Menatap anak- anak kecil yang masih semangat bermain. Sangat menggemaskan.
Aksa ikut duduk di samping Aza, mereka sama- sama terdiam menatap orang- orang yang berlalu lalang di sana. Ada yang bermain skateboard, berpacaran, mengajak anaknya bermain, dan masih banyak lagi.
Langit tiba- tiba mendung, hujan akan segera turun. Orang- orang pun berhamburan pergi meninggalkan taman, tapi tidak bagi Aza dan Aksa.
"Pulang yuk, sebentar lagi hujan," ajak Aksa menatap ke arah langit yang semakin menghitam dan suara guntur pun terdengar samar- samar.
"Aku ingin main hujan-hujanan sebentar, Sa. Kamu kembalilah ke mobil dulu biar nggak kehujanan." Aza menolak. Ia ingin menikmati hujan kembali, sama seperti yang Ayah dan dirinya lakukan ketika hujan datang.
"Nanti sakit!"
"Enggak, aku udah terbiasa sama hujan."
Gerimis mulai datang, wajah wanita itu terlihat semakin cerah. Senyum lebar terlihat jelas dari wajahnya. Ia menyukai setiap tetes air yang membasahi tubuhnya.
"Za..." Aksa mencekal tangan Aza tapi wanita itu menepisnya dan tak mau pulang.
Hujan semakin deras, baju mereka telah basah. Aza berdiri dan menari di tengah hujan. Menengadahkan wajahnya supaya air hujan semakin membasahinya. Sedangkan Aksa hanya terdiam, ia sangat tak terbiasa dengan hujan seperti ini.
"Kembalilah ke mobil, biarkan aku di sini sebentar. Aku merindukan Papa." Aza merindukan Papanya, dengan hujan seperti ini rindu sedikit terobati. Dulu mereka selalu menari- nari di kala hujan mengguyur membasahi bumi.
Papanya penikmat hujan, lelaki itu sangat menyukai salah satu rahmat yang diberikan Tuhan itu. Hujan bisa menyamarkan kesedihan, mengobati rindu kepada seseorang. Papanya sangat merindukan orang yang ia cintai, tapi ia tak pernah menunjukkan kepada anaknya.
Papanya suka hujan karena ia bisa menyamarkan tangisnya hingga tak terlihat orang- orang. Tapi Aza sangat tahu jika lelaki itu menangis, mungkin merindukan istrinya yang entah dimana keberadaannya.
Aza hanya bisa memeluknya erat, memberikan papanya itu kekuatan meskipun ia juga masih membutuhkannya. "Masih ada Aza, Pah. Jangan memikirkan Mama lagi," ucap Aza ketika memeluk papanya.
Kaki Aza lunglai, wanita itu merosot ke tanah. Ia tersedu- sedu kembali teringat dengan sang Papa. Aksa langsung mendekat dan membantunya berdiri, memeluknya erat menciumi puncak kepala Aza.
"Aku kangen Papa..." lirihnya saat terduduk di tanah.
"Besok kita menemuinya, aku akan mengantarkanmu."
"Janji ya." Aza mengacungkan jari kelingkingnya dan tersenyum, disambut dengan jari kelingking Aksa tak lupa dengan senyuman juga.
"Ayo kita menari!" ajak Aza menggenggam kedua tangan lelaki itu. Mereka menari sebisanya, berputar- putar dan membiarkan tubuh menggigil karena kedinginan.
Menginjak- injak air yang menggenang, melompat ke sana kemari, bernyanyi- nyanyi tak jelas. Hal yang sangat menyenangkan dan belum pernah dirasakan oleh Aksa sebelumnya.
Lelaki itu tak pernah bermain hujan seperti ini, ia sangat tak suka sebelumnya. Hujan hanya akan membuatnya sakit dan akan menghambat semuanya. Tapi pikirannya selama ini salah, hujan sangatlah menyenangkan. Mulai saat ini ia akan sering bermain dengan hujan bersama orang yang ia cintai.
Aksa menatap wajah ceria milik Aza, wanita itu terlihat tegar meskipun tadi sempat rapuh teringat dengan sang papa. Aksa sangat kagum dengan wanita yang telah menjadi istrinya itu.
"Aku nggak salah telah menikah denganmu. Tetaplah bersamaku, aku tak akan membiarkanmu pergi," batin Aksa.
"Seru, kan?" tanya Aza.
"Iya sangat seru. Tapi sudah mau malam, ayo kita pulang," ajak Aksa
"Nanti mobilmu basah, biarkan baju kita kering dulu. Ayo kita berteduh di sana!" Aza menunjuk warung bakso yang tak jauh dari taman. Aksa pun mengiyakan, ia mengikuti langkah istrinya.
Mereka terdiam di depan warung bakso, Aza terlihat menggigil dan pucat. Begitu juga dengan Aksa, ia langsung memeluk istrinya erat. Menggenggam kedua tangannya supaya sedikit hangat, "sudah kubilang jangan main hujan- hujanan, jadi kedinginan gini kan. Puas ngeyelnya?"
"Tak apa, hanya dingin sedikit. Peluk saja biar hangat. Jangan banyak bicara," ucap Aza. Wanita itu memeluk dan menyembunyikan wajahnya di tubuh suaminya. Meskipun Aksa basah dan dingin, wanita itu tetap merasa dekapan Aksa hangat.
LUCUNYA KENO GK TEGAS, CMA BSA KESAL KYK ORG BODOH..
TPI SANGAT BAGUS,, KLO JDI BESAN,, NNTI ENAK2 ALFA DEKAT LGI SAMA AIRA, KRN BESANAN JUGA BSA TERJALIN SKANDAL..
KYAK NOVEL SUAMIKU SAHABAT PACARKU, DN SEQUELNYE MY BROTHER, MY BELOVED, MY HUSBAND.. KRYA,OTHOR CINTYA..
DGN PNAMPILAN APA ADANYA, JUSTRU AKN AMAN AZA DRI PANDANGAN LAKI2...
SPRTI APA KMATIAN KITA, ITU HNYLALH SEBAB..
KPN, DIMANA, KRN APA, PSTI SEMUA YG BRNYAWA AKN MATI.. ITU SUNATULLAH.. DN TAKDIR YG TELAH MNJADI KETETAPN ALLAH..