[Proses Revisi]
Empat orang gadis memiliki kemampuan yang semua orang tidak miliki, melihat mahluk halus? melihat masa depan? melihat masalalu? merasakan aura disekitar? Mengerikan bukan? Tentu saja. Siapa yang baik-baik saja ketika memiliki kemampuan tersebut.
Kadang melihat sesuatu yang mengerikan itu sangat melelahkan.
Tapi semua itu membaik ketika mereka bertemu dengan Kakak senior di sekolah barunya, memiliki aura yang notabenenya mereka butuhkan selama ini.
Bagaimana kisah cinta mereka dan kisah mereka dengan para mahluk tak kasat mata?
On IG: @ry_riuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKIT
BARA POV
Beberapa jam berlalu, mereka semua sudah mengisi perutnya dan bersiap-siap untuk menuju ke alam mimpinya, karena sudah sangat larut, apa lagi ini dirumah sakit, bisa-bisa mereka bisa diusir karena terlalu banyak orang.
"Aira sama Kakak yu tidurnya di sofa." ujar Hanin.
"Boleh kak." ucap Aira.
"Ayo, biar enak tidurnya." kata Hanin.
"Ayo kak." Ujar Aria antusias.
"Vivi tidur di sofa satu lagi ya." ucap Ivy.
"Mau dibawah sama Azka juga gak apa-apa dengan senang hati." kata Nathan.
"Maunya Kak Nathan, biar enak tidurnya." ujar Ivy.
"Bar tidur dimana?" tanya Azka.
"Di kursi aja." jawab Bara.
"Bagus deh, karpet nya juga udah gak muat, cukup buat dua orang aja." Ujar Azka.
Beberapa menit kemudian mereka semua sudah menjemput alam mimpinya, mungkin sekarang mereka sedang bermimpi indah, kecuali Bara. Dia masih membuka matanya menatap pemilik wajah yang cantik, kulit putih bersih, bibir pucat pasi, dan pemilik senyum yang begitu manis, kini masih menutup matanya seolah masih ingin menetap dengan mata terpejam, seolah nyaman dengan keadaan seperti ini.
"Ca, cepet bangun Kakak nunggu kamu." ucap Bara sambil berbisik ditelinga Echa.
"Kakak sayang sama kamu." Ujar Bara sambil menggenggam tangan Echa.
Jika kalian bertanya sejak kapan semua ini terjadi? Bara juga tidak mengerti dengan perasaannya kenapa bisa secepat ini menyukai pemilik senyum yang sangat manis itu, kalian juga pasti pernah merasakan hal yang sama seperti Bara, jatuh cinta tiba-tiba tanpa alasan apapun tanpa perlu perjuangan bagi Echa, tidak seperti wanita lain yang mengantri pada Bara untuk mendapatkan hatinya, tapi kenapa Echa bisa semudah itu mendapatkan hati Bara hanya dengan senyuman? Entahlah semua seolah tiba-tiba dan secara perlahan.
ECHA POV
Echa menyesuaikan matanya dengan cahaya yang sangat silau dan dengan warna putih yang memantulkan cahaya itu.
"Kenapa kepala Caca pusing banget." ujar Echa dalam hati sambil memegang kepalanya yang sangat sakit itu.
Echa sedang menyesuaikan matanya dengan cahaya, seolah dia sudah lama terlelap dalam tidurnya dan menahan rasa sakit di kepalanya. Secara perlahan rasa sakitnya itu sudah tidak terasa lagi dan Echa sudah menyesuaikan matanya dengan cahaya itu. Dia juga baru sadar bahwa dirinya tak sadarkan diri setelah kejadian tabrak lari itu.
"Aira." ujar Echa dengan nada lemah.
"Kenapa tangan Caca berat banget? apa Caca lumpuh?" tanya Echa dalam hati.
Echa langsung melihat kearah tangannya, dia melihat Bara yang tertidur sangat pulas diatas tangannya, terlihat tanpa beban apapun dan menenangkan. Echa suka melihat wajah Bara yang seperti itu, perlahan Echa mengelus rambut Bara sambil tersenyum sangat manis, senyum yang sangat Bara inginkan, namun sayang Bara tidak bisa melihat senyum Echa yang sangat manis itu.
"Kok Caca seneng ya megang rambut Kak Bara." kata Echa yang masih mengelus rambut Bara.
Echa tidak menyadari perasaannya itu, perasaan yang sama dengan Bara. Echa masih saja mengelus kepala Bara, Sang pemilik rambut itu malah semakin terlelap dalam tidurnya.
"Kak Bara gak sakit gitu tidur disini? bangunan jangan ya?" tanya Echa dalam hatinya.
"Eh tapi kalau dibangunin nanti gak surprise lagi. Sebentar lagi juga mau pagi. Biarin aja kali ya, mungkin mereka cape udah jaga Caca." jawab Echa pada dirinya sendiri.
Echa melihat ke kanan, dia melihat Aira dan Hanin yang tertidur sangat pulas, Echa juga melihat Aira yang terlihat baik-baik saja.
"Syukurlah Aira baik-baik aja." Ujar Echa dalam hati.
Echa juga melihat ke sofa satu lagi, dia melihat Ivy yang tertidur, dia juga melihat kebawah ternyata Kak Nathan dan Kak Azka ikut menginap disini.
"Kepala Caca kenapa sakit lagi?" tanya Echa dalam hati sambil memegang kepalanya.
Echa merasakan seperti ruangan ini seakan-akan berputar, Echa juga merasakan kepalanya seperti ditusuk-tusuk benda yang sangat tajam. Dia menahan rasa sakitnya dan juga menahan agar tidak berteriak. Tapi kepalanya semakin ditahan semakin sakit.
"Caca bangunin kak Bara aja ya? kepala Caca makin sakit takutnya kenapa-kenapa." ujar Echa bermonolog.
"Kak Bara." panggil Echa lemah sambil menggerakkan tangannya.
Bara masih belum bangun dari tidurnya dan kepala Echa semakin menjadi-jadi sakitnya. Seberapa kuat ditahan kepalanya akan semakin sakit.
"Kak Bara." panggil Echa memegang kepalanya yang sakit.
Pemilik nama itu sedikit menggerakkan kepalanya, dan perlahan bangun dari atas tangan Echa, yang belum membuka mata sepenuhnya.
"Kepala Caca sakit. Bantuin Caca Kak." ujar Echa.
Refleks Bara langsung membuka matanya, melihat kearah Echa yang sedang memegang kepalanya.
"Caca? Ini beneran Caca?" tanya Bara masih setengah sadar.
"Iya ini Caca, bantuin Caca, kepala Caca sakit banget." jawab Echa sambil memegang kepalanya.
Bara langsung memencet tombol yang berada disamping Echa beberapa kali untuk memanggil dokter dan perawat.
"Caca tunggu sebentar ya." ucap Bara sambil memegang tangan Echa seolah memberi kekuatan.
"Caca gak kuat Kak, sakit banget." Ujar Echa sambil memegang kuat tangan Bara, seolah menjadikan kekuatan bagi Echa.
Beberapa menit kemudian dokter dan perawat datang dengan beberapa alat medisnya.
"Mba tolong berbaring." ucap dokter itu.
Dokter itu melihat mata Echa dan memeriksa detak jantung Echa, lalu memegang beberapa titik nadi.
"Mba minum obatnya ya, bisa kan?" tanya dokter itu sambil memberikan obat dan segelas air minum. Echa hanya menganggukan kepalanya.
Bara membantu Echa untuk bangun dari tidurnya.
"Gimana baikan?" tanya dokter itu.
"Tidak terlalu sakit, tapi apa semua ini terjadi karena benturan dikepala saya?" tanya Echa dengan suara lemah.
"Benturan itu tidak terlalu keras, jadi Mba gak usah khawatir benturan itu tidak memiliki efek yang serius, hanya saja untuk saat ini hati-hati jika ada benda yang mengenai kepala dan sakit itu hanya untuk menyesuaikan diri setelah beberapa jam dalam masa pemulihan." jawab dokter itu.
"Terimakasih dok." ujar Echa.
"Baik, saya permisi dulu." ucap Dokter itu sambil berlalu pergi.
"Caca mau tidur lagi?" tanya Bara khawatir.
"Gak usah Kak, Caca mau gini dulu." jawab Echa.
"Tapi kamu masih sakit. Istirahat dulu, nanti kepalanya sakit lagi." ujar Bara panik.
"Kakak gak usah khawatir aku udah baik-baik aja kok." kata Echa.
"Ya udah kalau mau kamu itu, Kakak bangunin yang lain." Ujar Bara sambil melangkahkan kakinya, namun dicegah oleh Echa.
"Jangan Kak, biarin aja." ucap Echa sambil tersenyum.
Bara terpaku lagi pada senyuman itu, senyuman yang sudah beberapa jam tidak dia lihat, seolah menjadi penyembuh atas semua kekhawatirannya itu.
setelah 3 thun lalu aku baca 3 kali, tahun ini baca lagi yng ke empat saking bagusnya ni cerita 😍😍
di baca deh, di jamin bakalan nagih 🥳👍
saking suka buat nama panggilan jdi caca🤭
but thanx ya.....lanjut ghostvilla......bye²
Othorr TANGGUNG JAWAB!!!😭😭😭😭
di online pengen ad yg jual tp semua nihil
hbsnya greget sma lnjutnn si teror
ini ulng baca dr awal terus tp tenag gl bosan" kok