KARYA INI MERUPAKAN KARYA JALUR KREATIF.
"Jejak Virtual SAGA" adalah sebuah novel fiksi yang menggambarkan perjalanan Gaffi dan Salsa di dunia virtual demi sebuah Misi.
Gaffi dan Salsa adalah dua orang dari seratus programmer yang mengembangkan aplikasi cerdas untuk masa depan. Mereka menciptakan aplikasi revolusioner yang memungkinkan pengguna untuk memasuki dunia virtual yang mendalam dan menarik.
Ditengah kebahagiaan atas sempurna nya aplikasi itu. Satu kabar justru harus mereka dengar dari Tim Profesor.
"Tidak ada jalan lain.Semua programmer sudah di uji. Hanya Kalian yang bisa masuk ke dunia Virtual itu. Kita harus mencegahnya. Jika tidak masa depan generasi kita akan hancur." Ucap Professor Kim.
"Tapi kenapa harus menikah?!" Teriak Gaffi dengan tatapan marah.
"Karena hanya sepasang orang yang menikah di dunia nyata yang bisa memiliki hologram itu. satu-satunya cara menyelamatkan aplikasi ini dari virus itu."
Salsa dan Gaffi terpaksa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Salsa VS Ifah
Satu bulan berada di dunia virtual, membuat kondisi perut Salsa kian membesar. Mereka tak bisa melanjutkan perjalanan karena tak mungkin membiarkan Ifah sendirian di gua itu dalam keadaan ia sendiri tak bisa berjalan.
Gaffi sibuk di luar gua. Ia sedang menjemur beberapa ikan. Setelah selesai ia pergi menaiki kuda. Ia sedang memikirkan kondisi janin Salsa.
"Aku adalah kepala rumah tangga, kini istri ku sedang mengandung. Dari kemarin ia hanya makan buah. Maka protein apa yang ia dapatkan." Gumam Gaffi selama perjalanan. Tiba-tiba setelah beberapa kilometer meter, ia tersenyum bahagia. Sebuah pohon kelapa yang cukup tinggi menarik perhatian nya. Gaffi mengambil kelapa itu. Namun seorang anak Sultan keturunan Pradipta, bukan perkara mudah untuk mendapatkan sebutir kelapa di saat pohon itu tinggi menjulang dan keterbatasan peralatan. Ia sekali menatap ke arah pohon tersebut.
"Kini aku baru tahu bahwa kenapa harga minyak mahal.... Untuk mendapatkan sebutir kelapa saja harus luar biasa perjuangan." Gerutu Gaffi yang melepaskan kedua sepatunya. Ia melepaskan sabuk nya. Hingga ia lilitkan di pohon pisang dan menjadi penahan tubuhnya.
"Kini aku paham kenapa orang tua itu lebih di minta meninggalkan ilmu pada anak-anaknya daripada harta. Lihat kamu Gaffi, harta kakek dan Papa tak berguna disini. Hanya ilmu mu yang berguna." Kenang Gaffi akan sosok Ammar. Ia ingat bagaimana ayahnya itu saat terjadi kebakaran di Villa mereka. Ammar menggunakan sabuk nya dan menyelamatkan anak-anak mereka yang tidur di lantai dua. Kini ilmu itu digunakan pula oleh Gaffi untuk mendapatkan buah kelapa. Sedari kemarin Salsa terus muntah. Ia ingin makan ikan tapi tak ada seiris pun yang berhasil masuk ke lambung istrinya. Sang istri membayangkan sebuah ikan yang di goreng bukan di panggang atau di rebus.
Perjuangan Gaffi tak cukup sampai di memetik buah kelapa. Ketika ia berhasil mendapatkan 5 butir buah kelapa. Ia justru bingung bagaimana membawa kelapa itu. Tangkainya sudah ia patahkan. Belum lagi caranya menghasilkan minyak dari kelapa itu.
"Hah.... Gaffi... Gaffi... Kamu harus angkat topi pada mereka yang bisa membahagiakan istri mereka walau ekonomi nya terbatas. Tidak mudah ternyata menjadi orang yang memiliki keterbatasan." Ucap Gaffi yang menertawakan dirinya sendiri. Ia pun membuka bajunya dan ia buka kelapa itu hingga tingga bagian dalamnya saja. Ia masukan satu persatu ke dalam baju yang sudah ia ikat ujung. Lali ia gantungkan pada satu tali yang menjuntai di sebuah pijakan kakinya. Ia pun pulang ke arah gua dengan hanya mengenakan sebuah singlet. Otot-otot kekarnya tentu saja terlihat dengan sempurna. Salsa yang melihat Gaffi pulang dan membawa kelapa, membuat istri Gaffi itu tersenyum lebar.
"Ternyata kamu bisa romantis juga..." bisik Salsa pada Gaffi.
Gaffi bingung karena tak paham maksud istrinya. Seketika Salsa menarik pedang yang berada di sisi kiri Gaffi. Ia menusuk satu kelapa lalu menikmati air kelapa itu. Gaffi pun tersenyum simetris.
"Aku tidak mau anak ku nanti harus memakai celemek karena tak kesampaian sesuatu." Ucap Gaffi seraya menggelengkan kepalanya. Salsa tampak membawa satu kelapa yang baru ke arah Ifah. Perempuan itu menolaknya.
Gaffi tak menghiraukan dua perempuan yang sibuk terlibat obrolan tentang bagaimana mereka bisa menemukan hacker itu. Gaffi justru menarik satu batu yang berbentuk mirip sendok. Ia pecahkan batu itu lalu, ia mengeruk kelapa tadi hingga kelapa tadi menjadi kecil-kecil. Setelah berhasil ia memasak kelapa itu cukup lama. Salsa sebenarnya terganggu dengan aroma kelapa yang di masak Gaffi. Tetapi ia tak ingin berdebat dengan Gaffi. Kehadiran Ifah membuat Salsa lebih banyak menahan diri untuk tidak menimbulkan permasalahan atau cekcok antara dirinya dan Gaffi.
'Dia sedang membuat minyak kelapa. Aku tak percaya dia bisa secerdas itu ' Batin Ifah yang dalam diam mengamati gerak gerik Gaffi. Setelah hampir dua jam, Gaffi tersenyum bahagia. Ia menuangkan minyak yang sudah ia tanak ke atas ikan yang ia letakkan diatas batu.
"Kau menggoreng ikan?" Kedua netra Salsa membesar. Gaffi melirik ke arah sang istri. Ia hanya berdehem.
Salsa betul-betul menanti ikan itu matang dengan sempurna. Setelah ia menghabiskan satu ikan goreng, ia tampak tersenyum bahagia. Entah kenapa perlahan hatinya mulai mencair karena perhatian dari Gaffi. Malam hari saat Salsa memastikan bahwa Ifah sudah tidur. Ia segera masuk ke dalam selimut yang terbuat dari akar dan daun kering milik Gaffi.
"Terimakasih... Untuk usaha mu membahagiakan aku." Ucap Salsa setengah berbisik di teliy Gaffi. Putra Ammar itu pun memeluk erat tubuh istrinya. Malam itu mereka tidur dalam satu selimut.
Hari berganti hari, mereka lalui kehidupan mereka di gua dan hutan itu hanya bertiga. Hingga satu hari saat sinar mentari masuk ke dalam Gua, tanda pagi telah tiba. Ifah melihat Salsa masuk dengan rambut yang basah. Begitu pula dengan Gaffi yang menyusul dari belakang nya.
'Cih... Mereka pasti kembali menikmati kegiatan bersama!' Batin Ifah kesal.
Seperti biasa, Gaffi akan pergi setelah memastikan bahwa kondisi di sekitar gua aman. Ia akan kembali ke gua ketika matahari tepat berada di atas kepala. Gaffi akan berburu dengan alat seadanya. Entah apapun itu asal halal untuk istri dan juga satu teman mereka. Disaat Gaffi sedang mencari makan, juga mencari tanda-tanda kehidupan lainnya. Istrinya justru sedang terlibat obrolan panas dengan Ifah.
"Aku ingin suami mu menikahi aku!" Suara dingin dari Ifah dan tatapan tajam dari kedua netranya membuat Salsa yang sedang memisahkan sabut-sabut kelapa yang kasar dan halus. Ia sedang berencana untuk membuat baju hangat atau selimut jika nanti bayi mereka lahir. Sabut kelapa yang berada di tangan Salsa terjatuh. Tatapannya bertemu dengan Ifah.
"Ulangi apa yang kau katakan?" Beo Salsa.
"Aku perempuan normal. Aku manusia juga. Aku juga butuh sesuatu yang kamu selalu dapatkan dari Gaffi! Pergi dari gua ini atau berbagi suami untuk ku!" Suara Ifah bergema di dalam gua itu.
Dengan memegang satu pinggang nya, Salsa berdiri dan berjalan mendekati Ifah. Kini jarak mereka begitu dekat, alih-alih membuang pandangannya, Ifah justru kian menantang Salsa. Jiwa labil Salsa kembali muncul. Ia memegang dagu Ifah cukup keras sedangkan Ifah melakukan pembalasan dengan memegang pergelangan tangan Salsa.
Kini dua wanita itu saling menunjukkan kekuatan mereka masing-masing.
"Harga dirimu lebih rendah daripada anjing!"
"Heh... Jangan lupa Tuan Puteri Salsa. Bukankah di agama kita memperbolehkan suami untuk poligami? Lantas salahnya dimana? Ku dengar kemarin kamu tak cukup mampu melayani suami mu karena lelah dengan kondisi hamil."
Plak!
anak dari alleyah dalam novel istri yang dianggap buta?????