Cinta adalah sebuah anugerah dari Sang Pemberi Hidup namun terkadang manusia bisa salah melabuhkan cinta. Tapi bagaimana jika sebuah kesalahan fatal malah bisa mengartikan kata cinta?
Dalam sebuah tugas.. sang ajudan menemani istri muda sang jenderal yang ternyata adalah seorang 'kupu malam'.
A. Kesalahan dari pertemuan itu akhirnya membuatnya memahami arti hidup yang sesungguhnya dan dari kehidupan baru ini pula dirinya mengenal arti cinta dan sabar
B. Kisah masa lalunya yang tiba-tiba saja kembali benar-benar menghantam rumah tangganya di saat sang istri tengah mengandung buah hatinya. Mampukah situasi kembali membaik atau akan terpisah karena hadirnya sang mantan.
***
Tidak membawa unsur SARA saat berkomentar, apalagi membawa instansi tertentu, harap mengikuti alur cerita dan bagi yang tidak tahan konflik harap SKIP.
Cerita hanya rekayasa dalam karya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Cari perkara ( 2 ).
Bang Alden merebahkan tubuh lelahnya saat Nadilla dan putranya sudah tidur lelap. Ia membuang nafas berat sembari memijat pangkal hidungnya.
Batinnya tiba-tiba nyeri saat Nadilla mengatakan ingin selingkuh bahkan ia mengingat jelas bahwa Nadilla sudah memiliki seorang kekasih.
'Ya Tuhan, inikah hukuman dariMu untuk ku. Dulu aku menyiksa batin Lea dengan menduakannya dan Lea tidak bisa berkata apapun, saat Lea tau aku menyentuh wanita lain, dia tetap diam dalam tangisnya. Sekarang aku merasakan pahit dan sakitnya, memang benar di hatiku belum ada cinta, tapi kenapa aku tidak sanggup membayangkan istriku bersentuhan dengan pria lain?? Rasa tidak rela, ingin marah dan terbersit rasa kesal yang tidak bisa aku uraikan. Kenapa Tuhan????'
"Saya tidak tau lagi bagaimana mengendalikan situasi ini Nad. Bagaimana caranya membuatmu terus ada bersama saya??" Gumamnya hingga pagi tiba kemudian tertidur.
//
"Kenapa kamu masuk tenda saya????" Tegur Bang Ghazzal terburu-buru menyambar kaosnya, ia juga kelabakan menutupi co_lor yang ukurannya bisa di katakan sangat pendek, celana pendek kebanggaan kesatuan.
"Dimana Nadilla??"
"Mana saya tau. Memangnya saya induknya???" Jawab Bang Ghazzal dengan mode cepat memakai kaos loreng meskipun tampilan obrasannya berada di luar. Ia pun memakai sarung agar gadis kecil onar itu tidak melihat penampilan santainya.
"Bohong.. jangan menyembunyikan tahanan. Abang juga ingin tersangkut kasus pidana???" Ucap Shena seakan merumitkan suasana yang sudah tercipta tenang.
"Kasus pidana apa?????? Saya tidak pernah terlibat kasus pidana." Jawab Bang Ghazzal seperti orang bodoh yang berdebat dengan gadis kecil karena masalah random.
"Abang membantu Bang Alden menculik Nadilla. Ini sudah cukup bukti untuk Shena menjebloskan Bang Alden ke tahanan juga Abang sebagai otak terjadinya penculikan tersebut." Kata Shena dengan tegas.
"Ini sudah malam dan kamu masuk tenda perwira untuk mencari bahan masalah. Kamu ngelindur ya, makanya jadi anak jangan suka makan permen kaki." Suara Bang Ghazzal meninggi namun tidak ada yang berani memisahkan keduanya. Di satu sisi Bang Ghazzal adalah Dantim dan disisi lain Shena adalah putri seorang PaTi. "Keluar kamu dari tenda saya atau........"
"Atau apa?? Mau melakukan kekerasan terhadap wanita???? Ingat.. hukum di negara kita ada emansipasi wanita." Ucap Shena semakin menjadi.
"Ya Allah, Astagfirullah hal adzim.. Lailaha Illallah..!!" Bang Ghazzal meraup wajahnya dengan kesal. "Saya sudah ngantuk berat Shen, tolong jangan berulah..!!" Pinta Bang Ghazzal berusaha sabar sesabar sabarnya pria.
"Dimana Nadilla????" Shena melompat dan membenturkan kepalanya hingga menghantam kening Bang Ghazzal.
braaakkk...
"A*u.." umpatnya tanpa sadar namun sesaat kemudian ia melihat raut wajah Shena panik dan ketakutan karena sudah menghajarnya.
Bang Ghazzal yang sudah mengantuk akhirnya pura-pura terkapar dan kejang sampai akhirnya diam dan memejamkan matanya.
"Baaang.. Abaang bangun..!!!! Shena nggak sengaja nih." Shena mengguncang lengan Bang Ghazzal yang sudah tidak bereaksi. Ingin berteriak tapi takut Papanya akan marah. "Baang.. nggak mati khan?" Gumamnya.
Dengan berbekal ilmu kesehatan ala kadarnya, ia pun merawat Bang Ghazzal.
"Bagaimana nih?? Di lepas pakaiannya dulu kali ya. Kata Papa kalau korban kecelakaan seluruh jalan nafasnya harus di longgarkan." Ucapnya masih bergumam sendiri dalam kepanikan. "Apa celana perlu di lepas?? Ini darurat khan ya.."
Bang Ghazzal mati gaya, ingin menghindar pun rasanya tak mungkin. 'Matilah aku, kalau aku tiba-tiba bangun pasti akan ada keributan selanjutnya, tapi kalau aku diam, pasti aku akan jadi bahan malpraktek bocah bodhor satu ini.'
"Tuh.. apa ku bilang, ada yg tidak beres, kalau tidak keseleo pasti otot tubuhnya tegang. Badan Abang ada yang kaku, tapi aku takut. Boleh di pegang nggak sih??" Oceh Shena bingung sendiri.
Degup jantung Bang Ghazzal rasanya nyaris putus. Nafasnya berderu cepat tak beraturan, ia memercing sampai keringat dingin. Malu, kesal, takut menjadi satu saat dirinya terpaksa harus pasrah dalam keadaan dan kesalahan.
'Ampun Ya Allah. Memang aku yang salah.'
Bang Ghazzal pura-pura terbatuk lalu menarik Shena berbaring di dalam dekapannya. Shena yang takut tak berani berkutik di dalam dekapan Bang Ghazzal.
***
"Apaaa??? Di tenda Letnan Ghazzal??? Memangnya ada apa putri saya masuk tenda Letnan Ghazzal???" Papa Daluman dan Papa Enggano membuka tenda tersebut dan melihat apa yang ada di dalam sana.
"Ghazzaaaaaall..!!!"
"Siaaap..!! Astagfirullah..!!"
Plaaaakk..
...
"Siap salah..!!!!"
Papa Enggano menangani huru hara pagi ini karena Papa Daluman mendadak mengalami darah tinggi.
"Shena hanya mau cari Nadilla Om." Kata Shena terisak.
"Nadilla pindah ke hotel permata bersama Bang Alden. Bang Alden cemas dengan angin yang masih tidak stabil jadi dengan pertimbangan anak juga, Bang Alden membawa keluarga kecilnya ke hotel." Jawab Papa Enggano. "Lalu sekarang masalahnya kenapa kamu bisa sampai melakukannya dengan Letnan Ghazzal??"
Papa Enggano dan Papa Daluman sempat syok karena saat menggerebek keduanya, dress Shena tersingkap tinggi dan mereka berdua masuk dalam selembar sarung, lebih parahnya lagi Letnan Ghazzal hanya tertutup selembar sarung tersebut. Tak bisa di bayangkan bagaimana syoknya Papa Daluman saat itu. Beliau bahkan tidak sanggup melihat wajah putrinya.
"Kamu tidak membenarkan tapi juga tidak menolak teguran kami Zal, kami tidak tau apa yang terjadi pada kalian berdua semalam tapi jelas sudah mencari mautmu sendiri." Ucap Papa Enggano. "Sebagai laki-laki tentu kamu paham segala konsekuensi dari perbuatan yang sudah kamu lakukan, hanya kalian saja dan Tuhan yang tau apa yang terjadi malam tadi."
"Siap..!! Saya akan menemui Pak Daluman secara pribadi..!!"
...
"Opo pot??? Kepergok tidur sama Shena di tenda???" Bang Alden sampai kaget mendengar pengakuan sahabatnya. "Bodoh kah dungu kau ini??? Apa kamu nggak bisa mengambil pelajaran dari masalahku?????? Kamu punya Syanti pot..!!!! Cari perkara ko' nggak kira-kira kamu pot. Jangan sampai kamu merasakan apa yang aku rasakan. Awakmu iki piye to Zal." Sungguh Bang Alden ikut pusing merasakan apa yang tengah terjadi pada sahabatnya.
"Tak tau darimana aku harus menceritakannya. Semalam aku dan Shena.............."
.
.
.
.
sue looo