saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 20. luka antara sahabat
Setelah hari yang penuh kepedihan saat Zahra menyampaikan keinginan putus dan Raka menolak dengan tegas, suasana di lingkungan rumah dan halaman desa menjadi semakin kaku namun sekaligus semakin terbuka bagi kedekatan yang terlarang. Karena merasa hubungan dengan Raka sudah tidak lagi berjalan wajar dan hatinya sudah sepenuhnya condong ke lain arah, Zahra tidak lagi berusaha menyembunyikan perasaannya seteliti sebelumnya. Ia mulai lebih sering mencari keberadaan Rendra, berjalan beriringan, atau sekadar duduk berbincang hal yang dulu hanya berani dilakukan diam-diam dan jauh dari pandangan orang lain. Di sisi lain, Rendra pun tidak lagi menahan diri sekuat dulu, ia hadir di samping Zahra dengan sikap tegas dan perhatian yang nyata, seolah menjadi pendukung utama gadis itu saat ia merasa hancur dan bingung.
Namun di balik kedekatan yang semakin terang itu, ada hati lain yang perlahan terasa teriris hati Rana. Gadis yang selama ini menjadi saksi, teman berbagi, dan sahabat dekat Zahra itu ternyata diam-diam telah menaruh rasa suka yang dalam kepada Rendra. Awalnya ia berpikir keberadaannya aman, bahkan sempat ikut membantu rencana penjodohan namun kini ia sadar, objek perasaannya justru semakin erat terikat oleh orang yang paling ia percayai sahabatnya sendiri. Rasa kecewa, sakit hati, dan perasaan dikhianati perlahan menguasai batinnya.
Sejak penolakan Raka, Zahra merasa seolah batas pengekangan yang selama ini membelenggunya semakin longgar. Ia merasa tidak perlu lagi berpura-pura seolah tidak ada apa-apa antara dirinya dan Rendra, meski hubungan resmi dengan Raka belum putus. Setiap kali Raka sedang sibuk atau pergi ke luar sebentar, Zahra tanpa ragu menghampiri Rendra entah di beranda, di dekat kebun, atau bahkan saat Rendra sedang bersiap pergi ke toko.
Suatu siang yang cerah, misalnya, Zahra terlihat membantu Rendra membersihkan barang-barang yang akan dibawa ke toko. Tangannya bergerak lincah, matanya bersinar riang saat mendengarkan cerita Rendra tentang masa-masa sulit merintis usaha. Tangan mereka sering kali bersentuhan tak sengaja, dan kali ini tidak ada lagi rasa kaget atau tarik-menarik yang malu-malu hanya kehangatan yang saling disambut.
“Kau tahu, Zahra... sejak kau ada di sini, hari-hariku terasa lebih berwarna. Rasanya berat beban hidup terasa lebih ringan jika bisa dibagi,” ujar Rendra pelan, suaranya penuh kelembutan yang tak lagi disembunyikan.
Zahra tersenyum manis, pipinya memerah samar. “Aku pun begitu, Mas. Rasanya di dekatmu aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa rasa takut atau ragu.”
Pemandangan ini tidak luput dari mata Rana yang kebetulan lewat membawa nampan berisi minuman. Langkahnya terhenti seketika di pinggir jalan setapak. Matanya menangkap betapa akrabnya mereka berdua cara Rendra menatap Zahra, cara Zahra tersenyum mendengarkan, keakraban yang seharusnya menjadi miliknya jika saja takdir berpihak padanya. Hati Rana terasa sesak hebat, napasnya terhenti sejenak. Ia buru-buru memalingkan wajah, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang, lalu berjalan pergi dengan langkah yang terburu-buru agar tidak terlihat.
Sore harinya, saat suasana agak tenang, kenangan Rana kembali berputar pada masa-masa awal ia mengenal Rendra. Dulu, saat Rendra masih terlihat tegas dan kaku, Rana yang selalu ada di dekatnya membuatnya tertawa, mendengarkan keluh kesahnya, dan berusaha mendekat dengan cara yang halus. Ia berpikir perasaannya akan tumbuh dan berbalas, sampai akhirnya Zahra datang orang yang ia sambut dengan tangan terbuka, yang ia anggap sahabat sejati.
Rana teringat betapa ia dulu bahkan ikut mendukung rencana Zahra menjodohkan dirinya dengan Rendra padahal dalam hati ia berharap hal itu bisa menjadi awal bagi hubungan nyata. Namun kini ia sadar, rencana itu hanyalah alasan Zahra sendiri untuk mendekatkan diri pada Rendra, atau setidaknya menjadi jalan bagi perasaan tersembunyi Zahra untuk tumbuh makin besar.
“Bagaimana bisa, Zahra? Bagaimana bisa kau yang paling aku percaya, yang selalu aku anggap seperti saudara sendiri... justru yang mengambil hati dia dariku?” batin Rana dengan pedih. “Kau tahu betapa aku mengagumi Mas Rendra, tapi kau tetap saja mendekat, diam-diam saling berkirim pesan, diam-diam pergi bersama... Apakah persahabatan kita tidak ada artinya sama sekali bagimu?”
Rasa kecewa itu bercampur rasa marah yang tertahan bukan hanya pada Zahra, tapi juga pada dirinya sendiri karena terlalu lama diam dan menyembunyikan perasaan, memberi kesempatan bagi orang lain untuk masuk lebih dulu dan menduduki tempat yang ia inginkan.
Kesempatan berbicara berdua akhirnya tiba di sebuah sudut rumah yang agak sepi. Zahra, yang baru saja selesai berbincang panjang dengan Rendra, berjalan riang menemui Rana yang sedang duduk sendirian di bangku kayu.
“Rana... dari tadi aku tidak melihatmu. Kenapa duduk sendirian di sini? Ayo ikut kita Mas Rendra baru saja bercerita hal yang sangat menarik,” ajak Zahra dengan nada yang masih penuh semangat dan bahagia.
Namun Rana tidak menjawab seperti biasanya. Ia hanya menatap Zahra dengan pandangan yang dingin, jauh, dan penuh kekecewaan yang jelas terlihat.
“Kau benar-benar tidak tahu apa-apa, ya, Zahra?” ujar Rana pelan namun tajam, membuat senyum di bibir Zahra perlahan hilang.
“Apa maksudmu, Rana? Kenapa bicara begitu padaku? Ada masalah apa?” tanya Zahra mulai merasa gelisah.
Rana menghela napas panjang, lalu berkata dengan suara yang bergetar karena menahan emosi: “Aku sudah lama diam, sudah lama menyembunyikan apa yang kurasakan, bahkan sempat berpura-pura mendukung saat kau mencoba menjodohkan aku dengan dia padahal aku berharap itu benar-benar terjadi. Tapi ternyata... aku baru sadar bahwa selama ini kau yang diam-diam merebut hatinya perlahan-lahan.”
Zahra tertegun kaget, wajahnya pucat seketika. “Rana... aku... aku tidak tahu kau...”
“Tentu saja kau tidak tahu karena aku tidak pernah mengatakannya dengan lantang,” potong Rana cepat, matanya berkaca-kaca. “Tapi sebagai sahabat, seharusnya kau bisa merasakan, atau setidaknya tidak sengaja melangkah sejauh ini. Sekarang lihatlah dirimu dan Mas Rendra selalu bersama, saling mencari, seolah dunia milik berdua saja. Kau tahu betapa sakitnya melihat itu, Zahra? Terutama saat yang melakukannya adalah sahabat sendiri.”
Zahra terdiam tak mampu menjawab. Ia baru sadar sepenuhnya bahwa perbuatannya yang ia anggap sebagai perasaan yang tak bisa ditahan ternyata telah melukai hati orang yang paling dekat dengannya. Rasa bahagia yang baru saja ia rasakan bersama Rendra kini seketika berubah menjadi rasa bersalah yang berat.
Tidak hanya Zahra yang merasakan perubahan itu. Rendra pun mulai menyadari bahwa sikap Rana terhadapnya berubah drastis. Dulu gadis itu selalu ceria, antusias menyapa, dan tidak pernah ragu mendekat. Kini ia sering menghindar, menjawab singkat, dan menatapnya dengan pandangan yang campur aduk antara rindu, kecewa, dan rasa jauh yang tiba-tiba.
Suatu saat Rendra sempat mencoba bertanya: “Rana, ada apa belakangan ini? Seolah-olah kau menjauh dari kami.”
Namun Rana hanya menjawab singkat sambil memalingkan wajah “Tidak ada apa-apa, Mas. Hanya mungkin aku sedang lelah saja.”
Rendra tahu jawaban itu tidak jujur. Ia bisa menebak sebagian alasannya mungkin karena ia sendiri yang terlalu terbuka dan dekat dengan Zahra, membuat Rana yang menyimpan perasaan tersisihkan. Namun Rendra tidak bisa memaksakan perasaannya sendiri untuk berubah demi menghibur hati orang lain; hatinya sudah terlanjur memilih dan terikat kuat pada Zahra.
Di tengah keributan perasaan ini, Raka masih terus bergerak mengamati segalanya. Ia melihat betapa dekatnya Zahra dan Rendra, betapa dinginnya Rana terhadap Zahra, dan betapa tegangnya suasana di antara mereka semua semua hal yang semakin memperkuat kecurigaannya bahwa ada sesuatu yang besar disembunyikan darinya.
Zahra kini berada di persimpangan yang semakin sulit di satu sisi ada Rendra yang dicintainya dan makin dekat, di sisi lain ada Raka yang menolak melepaskan dan makin curiga, serta ada Rana sahabatnya sendiri yang kini terluka dan kecewa mendalam karena merasa dikhianati. Rasa bahagia yang ia cari ternyata membawa jejak luka bagi orang-orang di sekitarnya, dan ia sadar bahwa benang kusut ini belum akan selesai justru semakin rumit dan siap meledak kapan saja.