NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

"Mbak, ini terlalu ringan! Laki-laki ini sudah hampir merenggut nyawamu!" protes Hakam dengan rahang mengatup rapat.

Ia menatap Adrian dengan pandangan penuh kebencian.

Abah pun sempat terdiam lama, gurat kekecewaan masih tercetak jelas di wajah sepuhnya.

Sebagai seorang ayah, rasanya tidak adil membiarkan bajingan yang telah menyiksa putrinya lolos begitu saja dari dinginnya lantai penjara. Namun, saat melihat tatapan mata Fatma yang begitu teduh namun penuh keteguhan, Abah akhirnya menghela napas panjang. Beliau mengusap lembut kepala putrinya.

"Jika ini jalan yang kamu pilih untuk menyudahi dendam, Nduk. Abah dan Hakam akan menghormati keputusanmu," ucap Abah dengan suara berat.

Beliau berpaling menatap Adrian dengan tatapan menghujam.

"Tapi ingat, Adrian. Ini adalah kesempatan terakhirmu. Jika kamu melanggar satu saja dari sepuluh syarat ini, Abah sendiri yang akan menyeretmu ke kantor polisi."

Adrian mendongak, air matanya menetes ke lantai keramik rumah sakit.

Tubuhnya gemetar, bukan lagi karena amarah, melainkan karena rasa bersalah yang menggunung dan takdir baru yang kini berada di tangan istrinya.

Ia menyadari, hidupnya sebagai pria angkuh dan berkuasa telah berakhir.

Kini, ia memulai babak baru sebagai "tahanan spiritual" di bawah pengawasan ketat keluarga Fatma.

"Aku setuju. Aku terima semua syaratmu, Fatma. Demi Allah, aku akan penuhi semuanya," ucap Adrian dengan suara parau dan bergetar pasrah.

Mendengar persetujuan itu, Hakam tidak membuang waktu.

Dengan napas yang masih memburu menahan emosi, ia segera mengeluarkan secarik kertas, pulpen, dan dua buah materai dari dalam tasnya.

Di atas meja nakas rumah sakit, Hakam menuliskan poin demi poin dari sepuluh syarat mutlak yang diucapkan Fatma dengan tulisan tangan yang tegas dan rapi.

Kertas perjanjian itu disodorkan dengan kasar ke hadapan Adrian.

Tanpa bantahan ataupun keraguan, Adrian menempelkan ibu jarinya pada bantalan tinta, lalu membubuhkan tanda tangan serta cap jempolnya tepat di atas materai.

Papa Adrian ikut menandatangani berkas tersebut sebagai saksi utama dari pihak keluarga laki-laki, menegaskan bahwa mereka tidak akan memberikan celah toleransi sedikit pun.

Tok!

Tok!

Tok!

Di saat bersamaan, pintu kamar rawat terbuka. Dokter spesialis yang menangani Fatma masuk diikuti oleh seorang perawat untuk memeriksa kondisi berkala pasien pasca melewati masa kritis.

"Permisi, maaf mengganggu waktunya sebentar. Saya harus memeriksa tekanan darah dan perkembangan luka jahit di pergelangan tangan Ibu Fatma," ucap dokter tersebut dengan ramah namun profesional.

Suasana kamar yang tadinya tegang seketika mencair demi memberikan ruang bagi tim medis.

Perawat dengan cekatan memeriksa cairan infus dan bedside monitor, sementara dokter memeriksa refleks mata dan denyut nadi Fatma yang perlahan-lahan mulai menunjukkan grafik yang lebih stabil.

Adrian terpaksa bangkit dari lututnya dan mundur beberapa langkah ke sudut ruangan, memberikan jarak.

Ia menatap punggung Fatma yang tertutup selimut rumah sakit dari kejauhan, menyadari bahwa perjalanan panjang untuk menebus dosa-dosanya yang kelam baru saja dimulai.

Dokter meletakkan kembali stetoskopnya, lalu membetulkan letak selimut Fatma dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menyenggol punggung pasien yang terluka.

Ia berbalik menatap keluarga yang tengah menunggu dengan cemas.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Papa Adrian, mewakili rasa tegang yang menyelimuti seisi ruangan.

Dokter itu menghela napas, namun seulas senyum tipis terbit di wajahnya.

"Secara keseluruhan, kondisi fisik Ibu Fatma sudah jauh lebih stabil dibanding saat pertama kali tiba. Tekanan darahnya mulai normal dan pendarahan di pergelangan tangannya sudah berhenti total. Hanya saja, demamnya masih agak tinggi karena efek peradangan dari luka-luka di punggungnya. Ibu Fatma masih membutuhkan istirahat total dan pemantauan intensif selama beberapa hari ke depan, terutama untuk pemulihan trauma psikisnya."

Mendengar penjelasan dokter, embusan napas lega terdengar dari seisi ruangan.

Setelah dokter dan perawat pamit keluar, Fatma perlahan memutar kepalanya, menatap satu per satu orang-orang yang ia cintai.

"Hakam..." panggil Fatma, suaranya masih sangat lemah.

"Tolong antar mereka pulang."

Fatma mengalihkan tatapannya pada Papa dan Mama Adrian.

"Papa, Mama, sebaiknya Papa sama Mama pulang ke Yogyakarta sekarang. Kasihan Aisyah, dia pasti kebingungan ditinggal mendadak."

Mama Adrian kembali berkaca-kaca, teringat pada anak perempuan mereka yang masih kecil di rumah.

Beliau melangkah maju, mencium kening Fatma dengan penuh rasa sayang dan bersalah.

"Maafkan keluarga kami, ya, Nduk. Papa dan Mama pulang dulu. Cepat sembuh, Sayang."

Papa Adrian ikut mengangguk, mengusap bahu Fatma sebelum berbalik menatap Adrian dengan pandangan memperingatkan.

"Abah juga harus pulang," lanjut Fatma, beralih menatap ayah kandungnya yang masih terduduk di kursi roda dengan wajah pucat.

"Kondisi Abah belum pulih benar setelah serangan jantung tadi. Abah dan Umi harus istirahat di pondok."

Fatma menoleh ke arah Hakam. "Tolong ya, Hakam, antar Abah dan Umi sampai ke pesantren dengan selamat."

"Lalu, siapa yang menjaga Mbak Fatma di sini?" tanya Hakam, menatap cemas ke arah kamar rawat yang luas itu.

"Biar masmu yang merawatku," jawab Fatma tenang.

Mendengar keputusan itu, Hakam seketika meradang.

Dadanya naik turun menahan kepanikan dan kemarahan yang mendadak kembali membubung.

"Mbak Fatma yakin?! Bagaimana kalau dia menyiksa Mbak lagi saat kami tidak ada?! Dia itu monster, Mbak!"

Hakam sangat ketakutan jika kakaknya akan kembali menggunakan kekerasan saat suasana sepi.

"Ada saya, Den Hakam," sebuah suara tegas memotong dari ambang pintu.

Bryan melangkah masuk dengan tegap. Mantan anak buah Adrian itu menatap Hakam dengan pandangan meyakinkan, lalu beralih menatap Adrian dengan sorot mata yang dingin dan waspada.

"Saya yang akan tetap tinggal di sini untuk menjaga Ibu Fatma. Saya jamin, Pak Adrian tidak akan bisa menyentuh ataupun menyakiti Ibu Fatma seujung kuku pun tanpa melewati saya terlebih dahulu," tegas Bryan.

Kehadiran Bryan sebagai saksi sekaligus pelindung fisik membuat Hakam agak meredakan ketegangannya.

Perjanjian di atas materai sudah ditandatangani, dan kini ada Bryan yang mengawasi.

Adrian sendiri hanya bisa menunduk dalam-dalam di sudut ruangan, menyadari bahwa ia kini diawasi bagai seorang tahanan di rumah sakit itu sendiri.

Abah memutar roda kursi rodanya lebih dekat ke sisi ranjang, sementara Umi langsung membungkuk untuk mendekap tubuh ringkih putri tunggal mereka.

Tangis Umi kembali pecah dalam keheningan kamar rawat, memeluk Fatma dengan kehangatan yang luar biasa, seolah ingin menghapus setiap jengkal rasa sakit yang telah ditorehkan oleh Adrian di tubuh suci itu.

Abah meraih jemari Fatma, menggenggamnya erat dengan tangan sepuhnya yang gemetar. Sorot mata sang ulama menatap lurus ke dalam manik mata putrinya, menyalurkan ketegasan seorang ayah yang tidak akan sudi lagi melihat darah dagingnya dihinakan.

"Kalau dia berulah lagi, kalau dia menyakitimu lagi walau hanya sekecil debu, langsung kamu ceraikan saja dia, Nduk. Jangan pernah menoleh ke belakang lagi," ucap Abah dengan suara baritonnya yang berat, bergetar penuh penekanan yang menghujam langsung ke ulu hati Adrian di sudut ruangan.

Mendengar petuah sang ayah, Fatma memaksakan seulas senyum tipis di wajahnya yang masih sepucat kertas.

Senyuman yang tidak lagi membawa ketakutan, melainkan keteguhan hati yang baru.

"Iya, Abah. Fatma akan ingat pesan Abah," bisik Fatma lembut, mencoba menenangkan badai di dada orang tuanya.

"Abah tenang saja. Fatma bisa menjaga diri sekarang."

Umi mengecup kedua pipi Fatma bergantian sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dengan berat hati.

Hakam melangkah maju, memegang kendali kursi roda Abah.

Sebelum berbalik, Hakam memberikan tatapan peringatan yang luar biasa tajam kepada Adrian, seolah menegaskan bahwa satu langkah salah saja dari kakaknya akan berujung fatal.

"Kami jalan dulu, Mbak. Jaga dirimu baik-baik," pamit Hakam lirih.

Bryan dengan sigap membukakan pintu kamar rawat, mengangguk hormat saat Abah, Umi, dan Hakam melangkah keluar meninggalkan ruangan.

Papa dan Mama Adrian pun mengikuti dari belakang setelah mengucapkan perpisahan terakhir mereka, bersiap untuk kembali ke Yogyakarta.

Pintu kayu kamar rawat itu perlahan tertutup rapat, menyisakan bunyi klik yang mengunci keheningan.

Di dalam ruangan luas yang beraroma obat itu, kini hanya tersisa Fatma yang terbaring lemah, Bryan yang berdiri tegap bagai benteng di dekat pintu, dan Adrian yang masih bersimpuh di sudut kamar dengan kepala tertunduk dan bersiap menghadapi malam pertama penebusan dosanya yang panjang.

1
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!