Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Ahli Kapal dari Dunia Atas
Di sebuah pelabuhan besar yang terletak di Kota Timur, sebuah bangunan kayu yang luas berdiri tidak jauh dari deretan dermaga yang dipenuhi kapal-kapal dagang. Dari luar, bangunan itu tampak sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan berbagai peralatan pertukangan, tumpukan kayu berkualitas tinggi, serta beberapa kapal yang sedang diperbaiki.
Di tengah kesibukan tersebut, seorang pria paruh baya terlihat sedang bekerja di samping sebuah kapal besar yang hampir selesai diperbaiki. Pakaiannya sudah dipenuhi debu kayu, sementara kedua tangannya bergerak dengan terampil memeriksa setiap bagian lambung kapal. Sesekali ia mengetuk permukaan kayu dengan alat khusus untuk memastikan tidak ada bagian yang rapuh atau longgar.
Pria itu kemudian memasang sebuah papan kayu terakhir sebelum mundur beberapa langkah dan mengamati hasil pekerjaannya dengan saksama. Setelah memastikan semuanya terpasang dengan baik, ia menganggukkan kepala dengan puas.
Pria paruh baya itu menghela napas panjang sambil meletakkan alat kerjanya di atas meja kayu yang berada di dekatnya. Pandangannya tertuju pada kapal besar yang baru saja selesai diperiksa. Setelah memastikan tidak ada lagi bagian yang perlu diperbaiki, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan tersenyum tipis.
"Sepertinya pekerjaan seperti ini jauh lebih cocok untukku dibandingkan menjadi kultivator di dunia sana," gumamnya pelan. Senyum kecil masih menghiasi wajahnya ketika ia melanjutkan, "Setidaknya aku tidak perlu menghadapi pertarungan hidup dan mati setiap hari lagi."
Bagi banyak orang, kehidupan seorang kultivator mungkin terdengar mengagumkan. Kekuatan, kejayaan, dan umur panjang adalah impian yang dikejar oleh tak terhitung jumlahnya orang. Namun bagi dirinya yang telah mengalami berbagai hal di masa lalu, ketenangan seperti ini justru terasa jauh lebih berharga.
Saat ia sedang menikmati ketenangan tersebut, pintu bangunan tiba-tiba terbuka.
Seorang pembantu bergegas masuk dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa.
"Tuan."
Mendengar panggilan itu, pria tersebut bahkan tidak menoleh. Ia hanya mengambil cangkir minumnya sebelum bertanya dengan nada santai, "Ada apa lagi?"
Pembantu itu segera menghentikan langkahnya.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Tuan."
Namun jawaban yang diterimanya tidak jauh berbeda dari biasanya.
Pria itu langsung menggeleng sambil mengembuskan napas pelan.
"Katakan aku saat ini sedang sibuk."
Ia melirik ke arah kapal yang sedang diperbaiki.
"Aku tidak ingin diganggu."
Pembantu itu tampak ragu-ragu.
"Tapi, Tuan..."
Pria tersebut mengangkat alis.
"Orang itu bilang urusannya sangat penting."
Mendengar hal itu, pria paruh baya tersebut hanya mendengus.
"Penting atau tidak, aku tetap tidak mau diganggu."
Baginya, hampir semua orang yang datang mencarinya selalu membawa alasan yang sama. Oleh karena itu, ia tidak terlalu tertarik mendengarkannya.
Namun kali ini pembantu itu kembali berbicara dengan nada yang lebih hati-hati.
"Dia juga mengatakan bahwa dirinya adalah salah satu teman dekat Tuan dari Dunia Atas."
Ucapan itu membuat suasana langsung berubah.
Tangan pria tersebut yang semula hendak mengambil cangkir tiba-tiba berhenti di udara.
Untuk pertama kalinya sejak pembantu itu masuk, ia benar-benar menoleh.
"Teman dekat... dari Dunia Atas?"
Nada suaranya terdengar jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
Tatapannya langsung tertuju kepada sang pembantu.
"Dari mana dia tahu itu?"
Pembantu itu hanya menggeleng karena dirinya sendiri tidak mengetahui jawabannya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Berbagai kemungkinan mulai muncul di benak pria tersebut. Ia sudah cukup lama meninggalkan kehidupan lamanya. Tidak banyak orang yang mengetahui keberadaannya di tempat ini, apalagi mengetahui asal-usulnya yang sebenarnya.
Karena itulah rasa penasaran perlahan mulai muncul.
Akhirnya ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan berkata, "Baiklah. Bawa dia masuk."
Pembantu itu segera menganggukkan kepala.
"Baik, Tuan."
Setelah menerima perintah tersebut, ia langsung berbalik dan meninggalkan ruangan.
Sementara itu, pria paruh baya tersebut kembali duduk dengan tenang. Namun kali ini pikirannya tidak lagi tertuju pada kapal yang sedang diperbaiki.
Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup.
"Menarik."
Senyum tipis perlahan muncul di sudut bibirnya.
"Aku jadi penasaran siapa sebenarnya orang itu."
Entah siapa tamu misterius yang sedang menunggunya di luar, satu hal sudah pasti. Orang tersebut bukanlah orang biasa. Karena jika benar berasal dari Dunia Atas dan mengetahui identitasnya, maka kedatangannya hampir pasti membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kunjungan biasa.
Tidak lama setelah itu, pintu ruangan kembali terbuka. Pembantu yang tadi pergi masuk terlebih dahulu, diikuti oleh dua orang yang berjalan di belakangnya.
"Tuan," ucap sang pembantu sambil memberi hormat, "ini orang yang ingin bertemu dengan Tuan."
Pria paruh baya yang sejak tadi duduk menunggu segera mengalihkan pandangannya ke arah kedua tamu tersebut. Namun begitu melihat wajah salah satu dari mereka, ekspresinya langsung berubah.
Matanya membesar karena terkejut.
"Xin?!"
Ia bahkan langsung berdiri dari kursinya tanpa sadar.
Sementara itu, Tuan Xin tetap terlihat santai seperti biasa. Dengan kendi arak di tangan, ia meneguk minumannya terlebih dahulu sebelum tersenyum tipis.
"Lama tidak bertemu, Wuji."
Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum kembali berhenti pada pria paruh baya itu.
"Sepertinya kau menikmati kehidupan barumu di sini, ya."
Wuji hanya menatapnya beberapa saat tanpa menjawab. Seolah sedang memastikan bahwa orang yang berdiri di hadapannya benar-benar Tuan Xin dan bukan seseorang yang mirip dengannya.
Beberapa detik kemudian, ia menghela napas panjang.
"Xin."
Nada suaranya terdengar rumit, antara terkejut, heran, dan sedikit tidak percaya.
"Kenapa kau ada di Dunia Bawah ini?"
Tatapannya semakin tajam.
"Ada urusan apa sampai mencariku?"
Mendengar pertanyaan itu, Tuan Xin hanya tersenyum kecil tanpa menunjukkan tanda-tanda tergesa-gesa untuk menjawab.
Di sampingnya, Ling Yue memilih tetap diam sambil mengamati percakapan keduanya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat seseorang berbicara kepada Tuan Xin dengan nada setara seperti itu.
Dilihat dari reaksi mereka, jelas bahwa keduanya sudah saling mengenal sejak lama.
Namun hubungan mereka juga tidak terlihat seperti sahabat dekat yang sering bertemu.
Ada semacam rasa hormat yang tersembunyi di balik sikap Wuji, sementara Tuan Xin sendiri tampak memperlakukan pria itu seperti seorang kenalan lama yang sudah bertahun-tahun tidak dijumpai.
Mendengar pertanyaan itu, Tuan Xin hanya tersenyum santai. Ia meneguk araknya terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab, "Aku datang ke sini karena ingin meminta bantuanmu."
Kalimat tersebut justru membuat ekspresi Wuji berubah semakin waspada. Alih-alih merasa tersanjung, pria paruh baya itu langsung menyipitkan matanya dan memandang Tuan Xin dengan penuh kecurigaan.
"Kau datang mencariku dan meminta bantuan?" ulangnya perlahan seolah ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar. Beberapa saat kemudian ia menggeleng pelan sambil menghela napas. "Entah kenapa aku punya firasat buruk."
Mendengar itu, Tuan Xin hanya tertawa kecil tanpa berusaha membantah.
Reaksi tersebut justru membuat firasat Wuji semakin buruk.
Tanpa membuang waktu, ia menoleh ke arah pembantunya yang masih berdiri di dekat pintu.
"Kau keluar dulu."
Pembantu itu terlihat ragu-ragu. Tatapannya bergantian berpindah antara Wuji dan kedua tamu yang baru datang.
"Tapi, Tuan..."
Wuji segera mengangkat tangannya untuk menghentikan kekhawatiran tersebut.
"Aman."
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Orang ini tidak akan membunuhku."
Ia melirik Tuan Xin sesaat sebelum melanjutkan, "Dia adalah temanku pada masa lalu."
Meskipun masih tampak khawatir, sang pembantu akhirnya menganggukkan kepala.
"Baik, Tuan."
Setelah membungkukkan badan dengan hormat, ia segera meninggalkan ruangan dan menutup pintu di belakangnya.
Begitu pintu tertutup rapat, suasana di dalam ruangan langsung berubah.
Tidak ada lagi orang luar yang bisa mendengar percakapan mereka.
Kini hanya tersisa tiga orang.
Tuan Xin yang masih duduk santai dengan kendi araknya.
Ling Yue yang berdiri tenang di sampingnya.
Dan Wuji yang masih memandang kedua tamunya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Wuji kembali duduk di kursinya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Setelah memastikan tidak ada lagi orang lain di dalam ruangan, ia menatap Tuan Xin dengan ekspresi serius.
"Katakan."
Nada suaranya terdengar datar.
"Ada urusan apa?"
Tuan Xin tidak langsung menjawab. Seperti biasa, ia terlebih dahulu meneguk arak dari kendi kecilnya sebelum meletakkannya di atas meja. Setelah itu, senyum santai muncul di wajahnya.
"Aku ingin kau membantu kami menyalin Gulungan Penguasa Benua Timur."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan langsung hening.
Wuji tidak segera menjawab.
Ia hanya menatap Tuan Xin tanpa berkedip selama beberapa detik, seolah sedang berusaha memastikan bahwa lelaki tua itu tidak sedang bercanda.
Namun semakin ia melihat ekspresi Tuan Xin, semakin jelas bahwa pria itu benar-benar serius.
Akhirnya Wuji menghela napas panjang.
"Kau sudah gila."
Ia menggelengkan kepala perlahan.
"Aku tahu sejak dulu kau suka melakukan hal-hal berbahaya."
Tatapannya berubah semakin tajam.
"Tapi kali ini kau benar-benar gila."
Ia menunjuk Tuan Xin dengan jari telunjuknya.
"Kau ingin menyeretku ke dalam masalah di dunia ini."
Nada suaranya mulai terdengar kesal.
"Jika itu terjadi, reputasiku sebagai tukang kapal akan hancur."
Mendengar keluhan tersebut, Tuan Xin justru tertawa kecil.
Seolah semua yang dikatakan Wuji bukan masalah besar.
"Tenang saja."
Ia melambaikan tangannya dengan santai.
"Aku tidak meminta kau ikut bertarung."
Wuji masih terlihat tidak percaya.
Karena pengalaman mengajarinya bahwa ketika Tuan Xin berkata "tenang saja", biasanya justru saat itulah masalah besar akan muncul.
Namun Tuan Xin tetap melanjutkan penjelasannya.
"Yang kubutuhkan hanya kapalmu."
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Untuk membawa seseorang yang sangat penting pergi ke Benua Barat nanti."
Mendengar itu, alis Wuji sedikit terangkat.
Kali ini ekspresinya berubah dari kesal menjadi penasaran.
"Seseorang yang sangat penting?"
gumamnya.
End Chapter 33