Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad Bu Mirna
Dunia Bu Mirna runtuh dalam sekejap. Kenyataan yang baru saja menghantamnya terasa jauh lebih menyakitkan daripada hantaman mana pun.
Semua kebanggaan, semua kalimat-kalimat sombong yang dulu ia lontarkan kepada Xena, kini berbalik menjadi duri yang menusuk-nusuk jantungnya sendiri.
Tubuh Bu Mirna lemas. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang mulai keriput. Menantu idaman yang selama ini ia agung-agungkan, yang ia bela mati-matian hingga tega mengusir Xena, ternyata adalah seorang wanita yang penuh dengan tipu daya.
"Kamu wanita iblis, Nadine! Kamu pembohong! Wanita rendahan! Kamu sengaja menjebak anakku, sengaja membawa anak itu ke rumah ini untuk menipu kami! Berani-beraninya kamu mengotori keluarga saya!" Teriak Bu Mirna.
Nadine sama sekali tidak gentar. Alih-alih takut dengan makian mertuanya, ia justru melipat kedua tangannya di dada. Topeng keibuan dan kelembutan yang selama ini ia pakai telah lepas sepenuhnya.
"Wanita rendahan? Wanita iblis?" Nadine mengulang kata-kata itu dengan nada mengejek, lalu terkekeh sinis. "Jaga bicara Ibu ya. Kalau saya ini wanita iblis dan pembohong, lalu Ibu apa? Bukankah kita berdua ini sama saja? Kita ini tidak ada bedanya, Bu."
"Kurang ajar! Saya tidak sama dengan wanita ular seperti kamu!" jerit Bu Mirna histeris.
"Sama, Bu Mirna. Sangat sama. Ibu dengan egoisnya mendepak Xena hanya karena mengira dia mandul, tanpa tahu fakta sebenarnya. Ibu memuja-muja saya hanya karena saya membawa anak kecil yang Ibu kira darah daging Mas Reyhan. Kita sama-sama egois, sama-sama silau oleh ekspektasi sendiri. Jadi, jangan merasa paling suci di rumah ini!"
Bu Mirna menggeleng-gelengkan kepalanya, menutup kedua telinganya, enggan menerima kenyataan bahwa dirinya disamakan dengan Nadine.
Nadine melangkah maju, mendekati Bu Mirna yang masih limbung.
"Dan Ibu mau tahu kenapa rahim saya sampai harus diangkat?! Itu semua karena kelakuan anak lelaki kebanggaan Ibu ini! Gara-gara ulah Mas Reyhan yang bikin saya celaka!"
Mendengar tuduhan itu, Reyhan yang sejak tadi terdiam seketika mengangkat kepalanya.
"Cukup, Nadine! Jangan putar balikkan fakta. Kamu mengalami insiden itu sampai rahimmu harus diangkat itu karena kamu yang terus-menerus mengejar-ngejar aku! Kamu yang terobsesi padaku, padahal kamu tahu aku sudah punya Xena!"
"Tapi kamu meladeni aku, Mas. Kalau kamu setia, kalau kamu laki-laki benar, kamu tidak akan pernah masuk ke dalam perangkapku! Kamu menikmati setiap detik perselingkuhan kita, sampai akhirnya malam sialan itu terjadi! Karena panik takut ketahuan Xena, kamu sampai tega mencelakaiku. Aku kehilangan masa depanku sebagai seorang wanita karena kamu! Jadi, sudah sepantasnya kamu dan keluargamu membayar semua ini!"
Ruang tamu itu seketika hening. Bu Mirna merasa seolah-olah pasokan oksigen di dalam ruangan itu telah habis. Kepalanya berputar. Semuanya dipenuhi oleh dosa dan kebohongan.
Bu Mirna yang sudah kalang kabut dan didera rasa panik yang luar biasa, langsung membalikkan badannya menghadap Reyhan. Ia merangkak mendekati anak laki-lakinya itu. Ia merengek, lalu naik mencengkeram lengan kemeja anaknya.
"Rey... Ibu mohon, Rey... Ceraikan dia, Reyhan! Ceraikan wanita iblis ini sekarang juga!" rengek Bu Mirna dengan suara melengking, air matanya menyembur keluar tak terkendali. "Ibu tidak sudi punya menantu seperti dia! Dia sudah menipu kita! Dia mandul, kamu juga... astaga! Ceraikan dia, Rey! Usir dia dari rumah ini!"
Namun Reyhan sama sekali tidak memberikan respons yang diinginkan ibunya. Pria itu hanya diam membeku. Tubuhnya terasa kaku, mentalnya sudah hancur sejak surat teguran di tempat kerja. Reyhan hanya bisa tertunduk lesu, memejamkan mata rapat-rapat seraya memijit pelipisnya yang terasa mau pecah.
Buku nikah yang baru saja ditandatanganinya di hadapan penghulu tadi terasa seperti borgol yang mengikat lehernya ke tiang gantungan. Di mata hukum, Nadine kini adalah istri sahnya. Menggugat cerai wanita itu setelah semua kekacauan ini, dan dengan ancaman Nadine yang bisa saja memenjarakannya,akan benar-benar membunuh karier dan sisa hidupnya.
Nadine yang melihat kepanikan dan histeria Bu Mirna hanya bisa terkekeh kecil. Suara kekehannya terdengar sangat meremehkan, memandang rendah wanita tua yang beberapa jam lalu masih tersenyum menanti makanan gajian.
"Lihat itu, Bu... lihat anak kesayangan Ibu. Dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan menceraikan saya, untuk sekadar menatap muka Ibu saja dia sudah tidak punya muka. Mas Reyhan tahu betul, kalau dia berani melepaskan saya, saya tidak akan segan-segan menghancurkan apa yang tersisa dari hidupnya."
Bu Mirna semakin histeris. Ia tidak memedulikan ucapan Nadine dan terus mengguncang-guncang tubuh Reyhan dengan kasar. "Reyhan! Kamu dengar Ibu tidak?! Jawab Ibu, Rey! Ceraikan dia! Jangan diam saja seperti orang bodoh! Reyhaaaannn!"
"DIAM, IBU!!!"
Bentakan menggelegar itu lolos begitu saja dari tenggorokan Reyhan. Suaranya begitu keras hingga menggema di rumah. Reyhan menyentakkan tangannya, melepaskan cengkeraman Bu Mirna hingga wanita itu terhuyung ke belakang.
"Bisa diam tidak, Bu?! Aku ini pusing! Kepala ku rasanya mau pecah! Jangan terus-menerus merengek dan menuntutku! Ibu tidak tahu apa yang aku hadapi di kantor, dan sekarang di rumah seperti ini! Cukup, Bu! Cukup!"
Bu Mirna terkesiap, membeku dengan mulut setengah terbuka. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup, Reyhan anak yang selalu ia manjakan, anak yang selalu menurutinya, membentaknya dengan nada sebuas itu.
Tanpa memedulikan ibunya yang syok, Reyhan lantas berbalik dengan kasar dan melangkah lebar-lebar menuju kamarnya, lalu membanting pintu dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman meretakkan perasaan seorang ibu.
Nadine melirik Bu Mirna sekilas, melemparkan senyum kemenangan yang amat sangat tipis, sebelum akhirnya melangkah santai menyusul masuk ke dalam kamar yang sama, meninggalkan Bu Mirna sendirian di ruang tengah.
Bruk.
Tubuh Bu Mirna langsung merosot, jatuh terduduk di atas lantai. Kedua lututnya sudah tidak mampu lagi menopang berat badannya. Ia meratapi nasibnya yang hancur lebur dalam satu malam.
Di tengah kesunyian rumah ini, bayangan masa lalu mendadak berkelebat di benak Bu Mirna. Ia teringat bagaimana hangatnya rumah ini dulu ketika Xena masih ada di sini. Ia teringat bagaimana Xena selalu memasakkan makanan kesukaannya, dan dengan sabar menerima setiap sindiran serta perlakuan tidak adil darinya.
Xena, wanita yang selalu ia cap tidak sempurna dan pembawa sial karena tidak bisa memberikan cucu, ternyata adalah malaikat pelindung yang rela mengorbankan harga dirinya demi menjaga nama baik Reyhan dan perasaan Bu Mirna sebagai seorang ibu.
Sementara Nadine? Wanita yang ia sanjung sebagai menantu sempurna, ternyata adalah angin topan yang membawa kehancuran bagi keluarganya.
"Aku sudah salah, aku salah menilai orang, aku salah pilihan," Bu Mirna memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Penyesalan itu datang terlambat, dan rasanya begitu mencekik.
"Aku harus bertemu Xena. Hanya dia yang bisa menyelamatkan Reyhan. Aku harus bertemu Xena untuk bisa keluar dari situasi ini."
Bersambung.
jd pnsran,gmna nsib emaknya reyhan???kn dia biang keroknya....
mntn mrtua gila msh aja usaha....
mga xena cpt hmil deh,biar yg onoh pd bungkam......