Tiba-tiba menjadi gadis penebus hutang, Aina harus merelakan dirinya dinikahi oleh pria paruh baya, sosok yang lebih pantas menjadi ayahnya.
Namun, siapa sangka, ternyata pria tersebut adalah orang yang terhubung dengan masa lalunya.
Lalu bagaimana Aina keluar dari bayang-bayang itu, sementara masa lalu terus mengejarnya. Bahkan mengikatkan tali tak kasat mata di kakinya.
Salam anu👑
Ig @nitamelia05
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Ujian Baru
Danesh langsung mendorong keras tubuh Gavin saat pemuda itu hendak menghambur ke arah jasad Erzan. Dia tidak rela tubuh Erzan disentuh oleh seorang pengkhianat.
"Untuk apa kamu datang? Hem, bukankah ini yang kamu ingin kan? Melihat ayahmu mati supaya kamu bisa menikahi wanita murahan itu?!" sentak Danesh setelah berhasil memukul mundur adiknya.
Bibir Gavin bergetar hebat, sementara matanya menganak sungai. Dia memang ingin merebut Aina dari tangan ayahnya, tetapi bukan seperti ini yang dia harapkan. Dia tetap ingin Erzan hidup, dan sadar akan perbuatannya.
"Aku bersumpah, aku tidak pernah memiliki niat seperti itu!" balas Gavin sungguh-sungguh, tapi Danesh selalu melayangkan tatapan permusuhan.
"Omong kosong!" Danesh kembali maju dan mendorong dada Gavin, hingga pemuda itu terhuyung. "Aku yakin semua yang kamu tunjukkan ini hanyalah sandiwara. Sementara dalam hatimu tertawa senang, karena akhirnya Daddy dapat kamu kalahkan!"
Semua pasang mata menonton perdebatan sengit itu, seolah tak ada yang mampu untuk memisahkan.
"Aku tidak seperti yang Kakak pikirkan!" sentak Gavin, tetapi Danesh tak peduli, dia malah terus memojokkan adiknya.
"Lalu ke mana kamu semalam? Hah, bukankah kamu membawa pergi wanita hina itu? Katakan di mana kamu di saat Daddy sekarat?!" teriak Danesh, dia ingin kembali menghajar adiknya yang sedari tadi tidak melawan.
Akan tetapi tiba-tiba Alex keluar dan menghentikannya. "Tuan Muda, cukup!"
Seketika itu juga Danesh menghentikan laju tangannya. Dia mendesaah kasar.
"Sekarang bukanlah saatnya untuk berdebat. Mari kita antar Tuan Besar bersama-sama. Berikan yang terbaik di hari terakhirnya," sambung pria itu. Sebagai seseorang yang sudah lama menemani Erzan, Alex tentu tahu bagaimana hubungan keluarga mereka.
Gavin tampak tergugu, sementara Danesh langsung meninju udara untuk menguapkan kekesalannya.
Semua orang siap untuk mengantarkan jenazah Erzan ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Namun, sebelum masuk ke dalam mobil, Alex lebih dulu mendekati Gavin dan menepuk bahu pemuda itu.
"Uncle tahu kamu kecewa kepada ayahmu, tapi tolong maafkan dia. Jangan lagi ada dendam di hatimu."
Mendengar itu, air mata Gavin kembali mengalir, sementara Alex melanjutkan langkahnya. Sekarang, dia malah merasa bersalah.
*
*
Proses pemakaman berjalan dengan lancar. Danesh membiarkan Gavin tetap berada di sana, tetapi tak sudi untuk melihat wajah adiknya itu.
Sampai saat ini Danesh masih belum tahu bahwa sebenarnya Gavin adalah adik angkatnya. Karena dia selalu mengingat apa kata Margin, dan menganggap pemuda itu malapetaka di keluarganya.
Setelah Erzan berhasil dikebumikan, orang-orang yang turut mengantar pun berangsur pulang. Namun, tidak dengan Gavin, dia terus berada di sisi makam sang ayah, dan tergugu di sana.
"Maaf ..., maaf sudah membuat Daddy pergi dengan cara seperti ini," lirihnya dengan suara bergetar.
Karena walau bagaimanapun, Erzan lah yang paling baik dalam merawat dirinya. Pria itu selalu melindunginya di saat dia bertengkar dengan Danesh, atau pun menerima pukulan dari ibunya.
"Terima kasih sudah menjadi ayahku. Aku tidak akan menyesalinya. Ku mohon tenang di sana, karena aku sudah memaafkanmu, Dad. Titip salam untuk kedua orang tuaku ya. Semoga kalian bertemu dan saling menyapa," ucap Gavin, lalu kembali menundukkan kepalanya. Dia sudah tak sanggup lagi berkata-kata.
*
*
*
Hari berganti hingga terhitung sudah seminggu lamanya Erzan dinyatakan meninggal dunia. Dan tepat pada hari ini hasil autopsi telah keluar.
Sebagaimana dari hasil lab, menunjukkan bahwa adanya kerusakan pada jantung akibat apa yang dikonsumsi oleh Erzan.
Dan Danesh menggunakan kesempatan itu. Hari ini juga dia membuat laporan, hingga polisi mendatangi apartemen Gavin.
"Selamat sore, Tuan Gavin," sapa polisi tersebut. Sementara Gavin yang tak paham dengan situasi yang sedang dia hadapi hanya bisa menunjukkan raut kebingungan.
"Sore, Pak."
"Berdasarkan laporan yang dibuat oleh Tuan Danesh, anda terpaksa kami tahan atas tuduhan pembunuhan terhadap Tuan Erzan. Untuk selanjutnya anda bisa menjelaskannya di kantor polisi."
Deg!
Jantung pemuda itu terasa tersentak, Aina yang saat itu sedang bersamanya sontak ikut keluar dan melihat ada dua orang polisi di sana.
"Ada apa ini, Gav?" tanya Aina, tetapi Gavin tidak menjawab, dia malah menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol.
Aina yang terperangah sontak menahan lengan Gavin. "Gav, jawab aku!"
Gavin menoleh ke samping dan menatap Aina dengan nanar. Ternyata kematian Erzan tak lantas membuat masalah selesai, kini hubungan tabu mereka harus menemui ujian baru, karena Gavin harus ditahan.
"Kamu di sini saja dan tunggu aku pulang. Aku pastikan aku hanya pergi sebentar," ucap Gavin, dan Aina langsung menangis saat itu juga.
Dia menggeleng keras, tak ingin Gavin meninggalkannya. Namun, apa daya, kini pemuda itu telah menjadi tersangka. Danesh benar-benar tak bisa berdamai dengannya.
Sebelum benar-benar pergi, Gavin mengecup puncak kepala Aina. Dan gadis itu hanya bisa menangis.
***
Hihi beginilah lika-likunya gaes. Inget ya, masih ada Danesh dudungprettt😌😌
itu akibat tabur tuai Margin, udh mantan suami di srlingkuhin, boroknya du tinggalin di urus mantan msh aja otak jahat suruh anaknya bunuh PP sambung nya. sadis ngk tuh, kena situ padal berlapis habis itu tinggal Terima karma mu😡