Praya Asteria, gadis Muda berumur 22 tahun yang rela menjadi istri kedua karena cinta, Asteria dinikahi pria tampan berwibawa berumur 37 tahun, pria itu menikahi Asteria hanya untuk memuaskan nafsunya saja di karenakan istri tercinta yang sedang sakit dan tidak bisa melayani sebagai seorang istri yang seutuhnya, Praya mencintai dengan tulus suaminya tapi tidak dengan suaminya yang bernama bara, karena sejak awal bara menikahi Praya hanya untuk di jadikan teman tidurnya saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daisha.Gw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Bara
beberapa hari lalu.
walaupun Dista cacat, Dista masih tetap berusaha menjalankan perannya sebagai seorang istri untuk Bara, ia yang selalu menyiapkan baju untuk suaminya, Dista juga yang mengumpulkan baju-baju Bara untuk di cuci.
Saat itu Dista sedang mengumpulkan baju-baju Bara untuk di pisah, tanpa sengaja Dista menemukan noda merah di salah satu baju kaos oblong Suaminya.
"lipstik? milik siapa? perasaan aku nggak pernah pakai warna ini" Disita cium baju kaos itu, wanginya pun berbeda, ada dua bau farpum yang menempel di baju kaos suaminya.
selang beberapa hari kemudian, Dista akhirnya bisa menyimpulkan semua kecurigaannya, suaminya itu memiliki wanita lain di hidupnya, Dista tidak marah, justru ia senang, ia senang akhirnya Bara bisa membuka hati untuk wanita lain. bukannya ingin lancang,tapi ponsel bara terus berdering tidak henti-hentinya. nama yang tertera di sana cukup membuat Dista terkejut.
"Praya " bola mata Dista membulat sempurna, nama itu mengingatkannya pada sang adik tercinta.
Praya biarkan ponsel itu berdering, dengan cepat Dista beralih pada Rom chat ke-duanya saat panggilan itu terputus, terkejutnya Dista dengan satu fakta jika Praya adalah istri kedua Suaminya.
*"Mas, kamu nginep di rumah ku ya mas malam ini"
"iya"
....
"mas, aku butuh kamu, kamu bisa datang nggak"
"Praya! bisa nggak sih kamu berhenti mengubungi saya jika saya sedang bersama Dista, kamu itu begitu mengganggu"
"iya Maaf mas"
....
"mas, obat penahan kehamilan ku habis, Kalau kamu ke rumah Minta Tolong beliin, ya" ponsel di tangan Dista hampir saja terhempas jatuh membentur lantai." obat penahan kehamilan" gumam Dista
"iya, nanti saya beliin, kamu sudah mandi?"
"sudah, aku juga sudah pakai baju lingerie yang kamu beli waktu itu"
"pintar, saya akan pulang sekitar satu jam lagi
dada Dista Sesak, tangannya bergetar, fakta gila apa ini" Kalian berzinah di belakang ku, mas" gumam Dista, walaupun berat ia tetap berusaha menyelesaikan membaca pesan suami dan wanita simpanan suaminya.
....
"mas, aku ini istri kamu juga, kamu tau nggak mas sikap kamu itu menyakiti aku"
"sadarlah Praya, kamu itu tidak lebih dari sekedar istri di atas ranjang, saya menikahi kamu hanya untuk memuaskan nafsu saya, saya mencintai Dista lebih dari apapun"
"iya mas aku tau semua itu, aku Hanya perlu kamu ada menjadi sosok Suami untuk ku mas"
"dan itu tidak akan pernah terjadi, uang yang saya kasih setiap kita selesai berhubungan sudah cukup menjadi uang tanggung jawab saya sebagai suami kamu"
Dista benar-benar tidak sanggup lagi melanjutkan bacaannya, di letakkannya kembali ponsel milik bara, Dista gerakkan kursi rodanya menuju ruangan pakaian, ia ingin menangis menumpahkan segalanya di dalam sana.
akhirnya Dista mengerti hubungan antara Bara dengan Karyawan wanitanya itu, Dista sakit? jelas Dista sakit dan terluka dengan kebohongan Bara, Dista selalu meminta bara untuk menceraikannya dan mencari penggantinya, tapi kenapa justru Bara memilih menikah diam-diam seperti itu, kenapa Bara tidak jujur dengannya, apa lagi dari fakta pesan mereka, terlihat jelas jika bara hanya menjadikan Praya sebagai pemuas nafsunya saja, Dista menjadi merasa bersalah dengan wanita muda itu. untuk nama wanita itu yang sama seperti nama adik nya, Dista pikir itu hanya kebetulan semata, apa lagi setelah Dista mengirim Seseorang untuk memata-matai Praya, ternyata wanita itu bernama Praya saja.
"nggak mungkin itu Praya adik ku, Praya adik ku memiliki tanda lahir di bagian tubuh bagian dalamnya, jika mas Bara sudah menyentuh wanita itu, mas bara nggak mungkin tega tidak memberitahu aku jika ia menemukan adik ku"
22 tahun yang lalu.
kelahiran Praya adik Dista.
"nak, adik bayi punya tanda lahir Lo"
"mau lihat mah" Farah membuka baju bayi yang di kenakan putrinya, terdapat tanda kecil berwarna coklat pudar di bagian dada Praya, bentuknya tidak beraturan, warnanya coklat pudar.
"wahh, adik bayi ada tanda nya mah"
"iya sayang "
kembali ke masa sekarang, di mana Dista sedang menikmati udara sejuk yang menerpa wajahnya dari balkon kamar.
"mas bara nggak mungkin menutupi jika wanita muda yang ia nikahi itu adikku, aku yakin wanita itu bukanlah Praya"
"mas bara tau adik Praya memiliki tanda di bagian dadanya, dan mas bara pun sudah melakukan hubungan suami-istri dengannya, pasti mas bara sudah lihat dada wanita itu" monolog Dista.
...
"kenapa tidak mengangkat telpon, hah!" Praya diam dengan terus membelakangi Bara.
"kamu dengar saya ngomong nggak Praya!" bentak Bara tidak terima dengan keterdiaman sang istri.
"mas, bisa nggak sih kamu nggak bentak-bentak, kepala ku sakit mas" ucap Praya lirih, Bara lempar jaketnya ke sembarang arah, ia tarik lengan kecil Praya agar mengahadapn ya
"mas! kamu apa-apaan sih" kesal Praya
"kamu yang apa-apaan Praya, saya tanya kenapa kamu mengabaikan panggilan saya"
"ARGHHHHHH, Diam mas! diam! " Praya sapu bersih semua benda yang ada di atas mejanya, Praya mengacak-acak rambutnya sendiri.
"DIAM!, AKU MUAK MENDENGAR SUARA KAMU MAS, KAMI SELALU SAJA INGIN DI MENGERTI, TAPI KAMU NGGAK BISA NGERTIIN AKU, AKU INI ISTRI KAMU JUGA MAS, APA SUSAHNYA HARGA AKU SEBAGAI WANITA KALAU MAS NGGAK BISA NGERTIIN AKU SEBAGAI ISTRI" Praya menjerit sejadi-jadinya, Matanya merah dengan air mata yang turun berderai.
"aku juga sama kaya istri kamu itu, mas. aku juga punya hak yang sama untuk di hargai dan di cintai" bentak Praya terdengar lirih.
"kamu itu hanya ---" Praya tau apa yang akan di katakan Bara, dengan segera ia memotong ucapan Bara, ia bungkam mulut suaminya dengan ciumannya.
Praya lanjutkan kalimat Bara dengan melakukan tindakan, ia tau kedudukannya di sisi Bara, hanya untuk menjadi istri yang bisa memuaskan nafsu bara saja, dan itu Praya lakukan sekarang
mereka melakukan seperti apa yang seharusnya terjadi, Praya dengan sakit hatinya, Bara dengan nafsunya
....
"ini uang mu" seperti biasanya, Bara lempar uang ke atas tubuh Praya yang terbungkus selimut.
"akhirnya kamu sadar juga Praya, kalau kamu itu hanyalah istri yang bertugas memuaskan nafsu saya semata, tidak lebih. dan saya juga selalu membayar tubuh mu itu kontan setiap kita selesai berhubungan, saya harap kamu selalu sadar dengan derajat mu di hidup Saya" Praya menutup mata, air matanya menetes saat hati tidak sanggup lagi menahan semua hinaan Bara padanya.
bara nikmati teh hangat buatannya sendiri sembari menunggu hujan yang turun mereda, Praya bangun, ia pegang erat selimut yang melilit tubuh polosnya. Praya kumpulan Semua uang yang berserakan karena ulah Bara tadi, bara menyunggingkan senyum sarkas melihat Praya mengumpul uang yang ia lempar, Praya benar-benar terlihat menyedihkan di mata Bara, sudah seperti wanita yang menjual Tubuhnya demi uang.
"kamu apa kan uang-uang itu, Praya. bukan kan uang itu terlalu banyak untuk mu?" bara bertanya dengan nada meledek. Praya tidak menjawab lagi.
"makasih mas uangnya" Bara Mengangguk samar
"em ,itu sudah menjadi hak mu, uang itu bayaran untuk setiap kerja keras mu di atas kasur tipis itu untuk memuaskan hasrat Saya, Praya" praya menyunggingkan senyum
"kenapa mas tidak menyewa wanita penghibur saja, kenapa mas justru menikahi 'ku"
"saya tidak ingin berubah zina Praya, kenapa saya harus membeli jajanan yang tidak terjaga kehigenisannya kalau saya bisa mendapatkan yang baru dan bersegel " Bara menyunggingkan senyum remeh menatap Praya.
"Kamu benar mas, dengan uang kamu bisa lakukan apapun yang kamu mau, termasuk membeli tubuh ku, aku mencintai kamu begitu tulus, tapi balasan kamu justru menyakitkan untuk ku"Praya mengangkat wajahnya menatap bara, bara sempat bingung dengan senyum yang di lakukan Praya.
"aku ingin bercerai, tuan bara yang terhormat "