Percayakah kamu adanya kesempatan kedua?
Seolah semesta ingin menghukum sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi Senja, gadis Arogan yang selalu bersikap sesuka hatinya, entah bagaimana saat membuka mata setelah dibunuh oleh kekasih dan asistennya, Senja berada dalam dunia novel yang dia tulis sendiri.
Lantas, bagaimana kisah Senja di dunia Novel?
Siapkan imajinasi liar Anda, berpetualang dengan Airin Senja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Pertama
Seseorang di luar pintu messnya menggedor dengan begitu keras, mengagetkan gadis itu karena sedang melamun memikirkan seseorang dengan jantung yang terus berdebar. Setengah jam dia merenung, menimbang apakah sebaiknya dia kembali menghubungi pria itu atau membiarkannya saja seperti itu.
Senja memang mengunci pintu dari dalam, tidak ingin diganggu siapapun, apalagi sampai dipanggil untuk bertugas di rumah sakit.
Senja bangkit dan membuka pintu kamarnya. Tina yang baru datang dari rumah sakit tampak terengah-engah, dengan wajah pucat dan kelelahan.
"Kau berlari ke sini? Ada apa? Apa sesuatu yang terjadi di rumah sakit?" tanya Senja yang menebak Tina baru saja dari rumah sakit karena gadis itu memakai jas putihnya.
"Tidak, tidak ada yang terjadi di rumah sakit, semua aman terkendali, yang tidak aman adalah jantungku, karena seseorang sedang menunggumu! Memaksaku untuk berlari, memberitahu padamu bahwa dia menunggumu di parkiran rumah sakit di sebelah timur pintu masuk.
Senja terdiam mencoba menebak siapa yang dimaksud oleh Tina, tapi belum sempat menemukan orangnya, Tina langsung melanjutkan ucapannya.
"Bisakah kau bergegas, Din? Aku takut jika kau terlambat datang, dia akan menghukumku. Kau tidak tahu sorot matanya saja membuat aku ketakutan."
Glek!
Untuk kali pertama dalam hidup Senja, dia juga deg-degan hanya untuk menemui seseorang, padahal dulu siapapun yang datang padanya akan dihadapi dengan keberanian.
Senja tidak punya pilihan lain, demi melihat sahabatnya itu bisa bernapas dengan lega, dia pun segera menemui pria yang tidak misterius sama sekali itu. Dia sudah bisa menebak, pria mana yang membuat Tina ketakutan. Dia adalah pria yang memiliki mata setajam elang, tentu saja Tina akan merasa tertekan ketika diperintah oleh nya untuk memanggil dirinya.
Sekali mengedarkan pandangannya, Senja sudah melihat pria itu bersandar di mobilnya, dengan langkah gontai dia pun mendatangi Edward. Beruntung pria itu memakai kacamata hitam hingga Senja tidak perlu menatap mata pria itu yang mampu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih kencang dari semestinya, bahkan terkadang hampir berhenti!
"Kau mencariku?" tanya Senja setelah berdiri tepat dihadapan pria itu.
Hufffh, dia benci sekali dengan debar jantungnya yang berdegup kencang, tidak pernah seperti ini, dia gugup bahkan salah tingkah berhadapan dengan Edward, membuatnya merasa tidak percaya diri, mengingat kembali apakah dia sudah memakai deodoran, memoles bibirnya dengan lip tint serta melapisi wajahnya dengan skin care rutinnya.
"Harusnya aku yang bertanya, kau tadi menghubungiku, tapi tanpa mengatakan apapun kau memutuskan panggilan itu. Ada apa denganmu? Mengapa kau jadi gadis yang plin plan?" serang Edward.
Pria itu begitu gembira setelah beberapa waktu lamanya moodnya begitu buruk karena sikap Senja yang cuek padanya. Gadis itu tidak berhasil terpancing. Umpan yang dilempar Edward nyatanya tidak disambut baik oleh Senja.
Ingin sekali dia mengguncang tubuh wanita itu dan mengatakan bahwa dirinya ingin berduaan dengan gadis itu dan mengajaknya makan malam hanya sebagai alasan.
Frustrasi dengan keadaannya, Edward jadi uring-uringan bahkan tidak datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan ayahnya, hanya Susan dan juga Leon yang tentu saja keduanya mendapat pengawalan yang lebih ketat dari biasanya yang pergi mengunjungi ayah mereka di rumah sakit.
Tapi siang ini ketika dia mendapatkan telepon dari Senja, hatinya bersorak-sorai gembira, seketika kembali ceria padahal dia sendiri belum tahu apa gerangan alasan gadis itu menghubunginya.
Berusaha bersikap, cool Edward mengangkat telepon dari Senja. Namun, baru mengatakan satu kalimat justru telepon diputus oleh gadis itu yang membuatnya kembali kesal dan seketika melempar ponselnya dengan kasar ke atas ranjang.
Berkutat dengan pikiran bahwa gadis itu sebenarnya ingin mengajaknya bicara membuat Edward memutuskan untuk datang ke rumah sakit bertemu dengan Senja.
Alasan mengenai telepon yang diputus cukup kuat untuk mencari gadis itu, menimbang bahwa dia tidak perlu malu karena yang memulainya adalah Senja, siapa suruh dia memberikan umpan dengan menghubunginya.
"Oh, itu.. aku salah pencet," ucap Senja sombong, pandangannya tertuju ke arah lain, dia gugup dan juga wajahnya memerah bak kepiting rebus.
"Hei! Aku sudah bersabar kepadamu ya! Apa kau pikir kau bisa seenaknya mempermainkanku? Kau bilang apa tadi, salah pencet?! " salak Edward hampir saja tanduknya keluar.
Senja sendiri mengutuk kebodohannya, mengapa pula dia mengatakan salah pencet! Kenapa tidak mengakuinya saja, bahwa dia menyesal dan ingin menebusnya dengan cara mengajak pria itu makan malam. Namun, Senja yang harga dirinya setinggi gunung Himalaya tidak mungkin menarik perkataannya lagi.
"D gadis sombong! Tidak bisakah kau merendahkan hatimu sedikit saja untuk mengakui bahwa kau memang ingin menghubungiku?!" ucap Edward membuka kacamatanya, dia ingin menatap wajah cantik gadis sombong yang ada di hadapannya itu tanpa terhalang apapun.
Senja mengangkat dagunya masih menatap ke arah lain, berusaha untuk mengalihkan pikirannya yang terus merayunya untuk mengalihkan tatapan pada wajah pria itu. Senja begitu membenci pikirannya, yang memuji ketampanan pria itu siang ini, membuat jantungnya tidak henti-hentinya berdetak lebih kencang.
"Baiklah kalau kau memang tidak ingin mengatakan apapun padaku, sebaiknya aku pergi! Ternyata aku membuang waktu untuk datang menemuimu," ujar Edward membuka pintu mobilnya.
Terjadi pergolakan di hati Senja, tentu saja dia tidak ingin pria itu pergi, tapi kalau untuk menahannya, Senja malu. Lantas bagaimana caranya agar menghentikan kepergian pria itu?
Senja masih bertahan dengan keegoisannya, dia tidak mengatakan apa-apa walaupun hatinya berontak. Pria itu bahkan sudah menutup pintu mobilnya, mesin mobil mulai terdengar seiring dengan rasa panik yang dirasakan oleh Senja.
Habislah sudah kesempatan untuk berdua dengan pria itu! Namun, ternyata salah satu diantara dua orang yang mempunyai harga diri setinggi langit itu akhirnya mengalah.
"Kau tidak ingin masuk?" tanya Edward membuka kaca mobilnya, sama sekali tidak memandang gadis itu saat mengatakan kalimatnya.
Edward sudah cukup maju satu langkah, tinggal Senja yang harus mendekat ke langkah pria itu. Dia pun bergegas mengitari mobil mewah milik Edward dan masuk ke dalam.
Keduanya menutup rapat mulut mereka selama dalam perjalanan. Barulah setelah Edward buntu, bingung harus membawa gadis itu ke mana, membuat pria itu harus membuka mulutnya bertanya pada Senja.
"Kau ingin kita pergi ke mana?" tanyanya kikuk.
"ke mana saja," jawab Senja malu-malu.
Edward sendiri pun bingung, pasalnya dia tidak pernah berkencan dengan gadis manapun. Kalaupun dia menemani gadis yang pernah suka dengannya, Edward hanya diam, mengikuti ke mana arah yang dikatakan para gadis itu.
"Kau sudah makan?" Akhirnya akal sehat Edward muncul, begitu sulit mencari topik pembicaraan dengan gadis itu. Dia lebih memilih untuk menaklukkan kolegannya yang tersulit untuk mengajak kerjasama daripada harus mencari topik pembicaraan dengan Senja.
Anehnya, Edward selalu memikirkan sebelum mengatakan sesuatu. Apakah nanti gadis itu akan menyukai pendapatnya atau tidak, dia ingin terlihat sempurna di hadapan Senja agar menarik perhatian gadis itu dan berhasil membuat Senja terpikat padanya.
Ya, Edward kini menyadari kalau dirinya menyukai gadis itu. Entah sejak kapan, tapi yang pasti sikap tegas dan juga punya pendirian membuatnya menyukai karakter Senja.