NovelToon NovelToon
Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: RIOR

Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Jejak Darah Menuju Kadipaten

Perjalanan menuju pusat Kadipaten Blambangan tidak dilakukan melalui jalur utama yang biasa dilewati oleh para kafilah dagang atau patroli prajurit resmi.

Satria Pamungkas memilih memotong kompas, menembus rimbunnya hutan sekunder dan perbukitan kapur yang gersang.

Sifatnya yang pragmatis membuat ia selalu menghindari risiko yang tidak perlu, terutama ketika ia membawa seorang Putri Mahkota dari kerajaan agung yang sedang diincar banyak pihak.

Dyah Sekar Ayu berjalan di belakang Satria dengan langkah yang stabil.

Meskipun ia terbiasa hidup mewah di dalam lingkungan keraton, latihan kerasnya di Ranah Satria membuatnya mampu mengimbangi kecepatan berjalan Satria tanpa mengeluh sedikit pun.

Kemben sutra hijaunya kini telah dilapisi jubah kain kasar berwarna cokelat tanah untuk menyamarkan identitasnya, namun keanggunan alaminya tetap memancar dari setiap gerak-geriknya.

Sepanjang perjalanan, mata jeli sang putri tidak pernah lepas dari punggung tegap Satria. Ia terus memperhatikan bagaimana pemuda di depannya ini bergerak—sangat efisien, tanpa suara, dan selalu waspada terhadap setiap pergerakan sekecil apa pun di sekitarnya.

"Satria," panggil Dyah Sekar Ayu, memecah keheningan di antara mereka setelah beberapa jam berjalan. "Jika ingatanku tidak salah, Kadipaten Blambangan saat ini dijaga oleh lima Senopati utama yang berada di puncak Ranah Satria. Belum lagi sang Adipati sendiri, Bhre Wirabhumi versi Blambangan, yang kabarnya telah menyentuh Ranah Senopati Tahap 3. Dengan kekuatanmu yang sekarang, menyerbu langsung ke sana sama saja dengan bunuh diri."

Satria menghentikan langkahnya sejenak. Ia tidak berbalik, hanya sedikit memiringkan kepalanya. "Siapa bilang aku akan melakukan penyerbuan terbuka?"

"Lalu apa rencanamu?" tanya Sekar Ayu, menaikkan sebelah alisnya yang indah. "Seorang sepertimu pasti tidak akan mengandalkan keberuntungan belaka, bukan?"

Satria mendengus pelan, seulas senyum dingin tersungging di sudut bibirnya. "Musuhmu bukanlah sebongkah batu yang kokoh, Gusti Ayu. Mereka adalah manusia yang penuh dengan ketakutan, keserakahan, dan kecurigaan. Kita hanya perlu menusuk titik terlemah mereka dari kegelapan, membiarkan mereka saling mencurigai, baru kemudian menghabisi mereka satu per satu saat mereka lengah."

Mendengar jawaban itu, binar kekaguman kembali muncul di mata es Dyah Sekar Ayu.

Intuisi Dewi Sri yang baru saja tersalin ke dalam jiwa Satria secara samar juga memengaruhi kedekatan mental mereka, membuat sang putri merasa bahwa cara berpikir pemuda di depannya ini sangat sejalan dengan taktik perang tingkat tinggi yang biasa dipelajari di akademi militer keraton.

[Bip! Tingkat pemahaman dan keselarasan jiwa Heroine Dyah Sekar Ayu meningkat menjadi 45%.]

[Feedback Loop aktif: Anda mendapatkan pasokan energi Prana pasif berkala.]

Satria merasakan aliran Prana di dalam dantiannya bergetar lembut, memperkuat fondasi Ranah Wira Tahap 5 miliknya. Ia tidak membuang waktu dan segera memanggil sistem di dalam benaknya. “Sistem, buka Toko Pawon Pusaka. Aku butuh sesuatu untuk menunjang rencana penyusupan ini."

[Bip! Menampilkan Toko Sistem - Kategori 1 (Kitab Ajian & Mantra):]

• Mantra Pengalih Rupa (Tingkat Satria) - Harga: 4.500 Poin. (Mengubah penampilan wajah dan aura Prana selama 6 jam).

• Ajian Langkah Sunyi (Tingkat Satria) - Harga: 3.500 Poin. (Menghilangkan hawa keberadaan dan suara langkah kaki secara mutlak).

Satria melihat sisa poinnya yang berada di angka 10.500. "Beli Ajian Langkah Sunyi melalui metode Integrasi Jiwa untuk diriku sendiri, dan manifestasikan Mantra Pengalih Rupa dalam bentuk fisik Kitab Lontar."

[Bip! Memotong total 8.000 Poin Sistem. Proses selesai.]

Wush!

Sebuah pengetahuan mistis tentang bagaimana cara melipatgandakan Prana di telapak kaki dan meredam getaran suara langsung menyatu dengan sumsum tulang Satria.

Di saat yang sama, sebuah gulungan lontar kuno berikat tali ijuk hitam muncul di tangan kirinya.

Satria berbalik, melemparkan gulungan lontar itu tepat ke arah dekapan Dyah Sekar Ayu. Sang putri dengan sigap menangkapnya, menatap benda itu dengan kerutan di dahi.

"Apa ini?" tanya Sekar Ayu.

"Mantra Pengalih Rupa," jawab Satria datar. "Pelajari itu sekarang secara manual. Di dalam gulungan itu terdapat aksara kuno yang akan menuntun alur Pranamu untuk merubah struktur otot wajah secara sementara. Dengan wajah aslimu yang terlalu mencolok itu, kita tidak akan bisa melewati gerbang pos pemeriksaan pertama Blambangan tanpa memicu keributan."

Dyah Sekar Ayu membuka gulungan tersebut. Begitu matanya membaca baris-baris kalimat yang tertulis di atas daun lontar, matanya melebar karena terkejut.

Struktur mantranya sangat rumit, namun sangat jenius—jauh lebih sempurna daripada mantra penyamaran yang dimiliki oleh dinasti Kadiri.

"Mantra ini... sangat luar biasa. Dari mana kamu mendapatkan pusaka-pusaka rahasia seperti ini, Satria?" tanya Sekar Ayu sambil menatap Satria dengan tatapan penuh selidik dan rasa penasaran yang mendalam.

"Jangan banyak bertanya jika ingin tetap hidup," sahut Satria dingin, mengabaikan pertanyaan sang putri. "Kamu punya waktu tiga puluh menit untuk menguasai tahap dasarnya sebelum kita mencapai perbatasan Kadipaten."

Dyah Sekar Ayu mendengus kesal karena sikap dingin Satria, namun ia tidak membantah. Ia segera duduk bersila di atas sebuah batu datar, meletakkan lontar di pangkuannya, dan mulai mengalirkan Prana-nya mengikuti petunjuk teks tersebut.

Satria berdiri beberapa langkah di depannya, bertindak sebagai penjaga sekaligus mentor yang sesekali memberikan koreksi tajam saat aliran Prana Sekar Ayu melenceng dari jalur yang seharusnya.

Interaksi intens dan intim yang tercipta selama latihan manual ini perlahan-lahan mulai mengikis jarak sosial di antara mereka. Sang Putri Mahkota yang arogan kini harus tunduk pada arahan tegas dari sang pemuda kasta rendah.

Dua puluh menit berlalu, Dyah Sekar Ayu mengembuskan napas panjang.

Wajah cantiknya yang tadinya begitu memukau perlahan-lahan bergeser, struktur tulang pipinya sedikit melebar, dan warna kulit pualamnya berubah menjadi sedikit lebih sawo matang—mengubahnya menjadi sesosok gadis desa biasa yang manis namun tidak akan menarik perhatian berlebih.

"Bagaimana?" tanya Sekar Ayu dengan suara yang juga sedikit disamarkan menjadi lebih serak.

Satria menatap perubahan itu, lalu mengangguk puas. "Cukup bagus. Sekarang, ayo jalan."

Mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di tepi sebuah tebing yang menghadap langsung ke arah pos penjagaan perbatasan Blambangan.

Di bawah sana, terlihat sebuah jembatan kayu besar yang membelah sungai deras, dijaga oleh belasan prajurit bersenjata tombak lengkap dengan bendera Kadipaten Blambangan yang berkibar congkak.

Namun, penglihatan tajam Satria mendapati ada sesuatu yang tidak beres. Di tiang-tiang jembatan, terdapat beberapa kepala manusia yang sudah membusuk dipajang di dalam keranjang bambu.

Di bawah tiang tersebut, sekelompok penduduk desa sedang berlutut sambil menangis histeris di hadapan seorang perwira berwajah bopeng yang sedang tertawa terbahak-bahak.

"Ampun, Gusti Senopati... kami benar-benar tidak tahu apa-apa tentang pelarian Satria Pamungkas!" ratap seorang lelaki tua dengan pakaian compang-camping.

Perwira berwajah bopeng itu, yang ternyata adalah salah satu Senopati rendahan bernama Ki Jalu Utomo, melangkah maju dan menjambak rambut lelaki tua itu dengan kejam. "Bohong! Desa kalian adalah tempat bajingan itu sering membeli persediaan makanan! Jika dalam tiga hitungan kalian tidak memberi tahu di mana sisa keluarga Satria bersembunyi, aku akan memenggal kepala anak perempuanmu ini!"

Ki Jalu Utomo menunjuk ke arah seorang gadis muda yang sedang menangis ketakutan di samping lelaki tua tersebut.

Dyah Sekar Ayu yang melihat pemandangan itu dari atas tebing merasakan amarahnya mendidih. Sebagai seorang calon penguasa, ia membenci penindasan sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Ia menoleh ke arah Satria, berharap melihat percikan emosi yang sama di wajah pemuda itu karena namanya disebut-sebut.

Namun, wajah Satria tetap sedingin es, datar tanpa ekspresi sedikit pun. Sifat anti-heronya membuat ia tidak tergerak oleh penderitaan moral penduduk desa tersebut.

Baginya, kemunculan Ki Jalu Utomo di tempat ini bukanlah sebuah tragedi, melainkan sebuah peluang emas yang dihadiahkan oleh sistem.

"Dia adalah salah satu anjing setia Adipati yang ikut mengeroyokku kemarin malam," ucap Satria, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. Sepasang matanya mengunci leher Ki Jalu Utomo dengan tatapan seorang predator. "Kekuatannya berada di Ranah Wira Tahap 7. Dia menyukai penyiksaan."

"Kau akan menyelamatkan mereka?" tanya Sekar Ayu berbisik.

"Menyelamatkan mereka?" Satria membalikkan tubuhnya menatap Sekar Ayu dengan tatapan mencemooh. "Aku tidak peduli mereka hidup atau mati, Gusti Ayu. Tapi kepala perwira itu... dan poin intimidasi dari seluruh prajurit di bawah sana... adalah milikku."

Sebelum Dyah Sekar Ayu sempat mencerna kalimat tersebut, tubuh Satria tiba-tiba kabur dari pandangannya.

Berkat Ajian Langkah Sunyi yang baru saja dipelajarinya, Satria melesat turun dari tebing tinggi itu seperti seekor burung hantu malam—tanpa suara, tanpa hembusan angin, dan membawa maut yang mengintai di balik kegelapan senja yang mulai turun.

1
Anata diya
/Smile//Smile//Smile/
Ranah Pengangguran Bintang 5
Semangat Thor!!! Jangan Sampai Putus Ditengah Jalan....
Tante Mimi
Bagus.. ceritanya seru, tapi sayang bab-nya masih sedikit /Sob/ semangat, jangan lupa update yang banyak/Chuckle/
RIOR'CC
Jangan Lupa Follow & Like Guys 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!