"Kamu di diagnosa kanker otak stadium 3,tapi masih gejala awal jadi tingkat kesembuhan masih ada 75 % lagi,asal secepatnya operasi"
"Jika aku tidak operasi?"
"Jangan gila,kau bahkan tidak akan bertahan sampai 5 bulan"
"Kalau begitu biarkan saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengurungkan
Kepergian Damar,membuat ketiga wanita itu tak bertahan lama di sana dan pergi dengan cepat.
Tak selang waktu lama,Tristan datang tampak sedikit terburu-buru hingga menghela nafas lega setelah sampai dan duduk di depannya.
"Maaf kau sudah menunggu lama,ada pasien yang tiba-tiba drop sehingga harus di lakukan operasi mendadak"
"Tidak apa-apa,santai saja"
"Mm...kau sudah memesan makanan mu?"
"Iya,dan sebenarnya aku sudah sekalian memesan untuk mu dan sebentar lagi datang"
"Oh wow itu sangat bagus,aku juga sudah sangat lapar karena sejak pagi tadi aku bahkan belum sempat memakan apapun,perut ku bahkan sudah sangat perih sekarang"
Tristan mengendik dengan sedikit mengeluh,hal itu membuat Adeline merasa iba.Mengingat bagaimana pria itu bertahan hidup sejak Ia mengenalnya dan mengetahui kalau dia adalah yatim piatu.
Tapi bersyukur,tuhan benar-benar memberikan nya sebuah hadiah dan takdir yang begitu sempurna,dan lihatlah dia sudah bahagia sekarang dan tak pernah kekurangan uang atau makanan lagi.
Melihat bagaimana sahabatnya itu makan dengan begitu lahap, seperti orang yang benar-benar kelaparan kembali mengingatkan masa lalu mereka,hal itu membuat nya ingin menangis tapi tak ada air mata yang mengalir hanya senyum bahagia.
"Pelan-pelan saja,kau bisa tersedak nanti",peringat nya kemudian memberikan air minum dengan sigap saat pria itu mulai tersedak.
Tristan hanya menunjukkan senyuman nya karena mulutnya yang penuh,dan segera meneguk habis air minumnya."Terimakasih kau memberikan nya tepat waktu,kalau tidak aku mungkin sudah tiada karena rongga ku penuh makanan yang tersendat hahaha"
Tristan tertawa, menganggap itu hanya sebuah candaan namun bagi Adeline itu adalah sebuah kata yang tidak seharusnya di katakan.
"Berhenti bermain-main dengan ucapan mu,jangan pernah mengatakan tentang kematian, Ucapan adalah", ucapnya memperingatkan dengan lembut namun tegas hingga tatapan nya hanya tertuju pada sahabatnya itu."Dan kalau makan itu pelan-pelan saja",tambahnya.
Tristan kembali tertawa setelah menelan makanannya,"Kenapa kau serius sekali tentang itu,dan kau ini juga semakin cerewet ya", ucapnya dan terus menikmati makanannya tanpa menganggap serius ucapan sahabatnya itu.
Adeline menghela nafas melihat ketidakpedulian sahabatnya itu,"Terserah,aku hanya memberitahu mu"
"Baiklah-baiklah tuan putri"
Tristan juga akhirnya menanggapi dengan serius,dan berhenti makan seperti orang rakus dan seperti orang yang kelaparan satu bulan.
Saat Tristan akhirnya selesai dengan makan nya,pria itu akhirnya tampak lebih tenang dan lega,hingga Ia bersendawa tanpa canggung.
"Sekarang katakan,apa hal yang ingin kau beritahu pada ku sekarang aku sudah siap mendengarkan apapun yang akan kau katakan"
Ucapnya sembari bersandar.
"Kau juga ingin mengatakan sesuatu pada ku kan, bagaimana kalau kau saja yang dulu mengatakan nya lalu setelah itu giliran ku"
Ya,Ia sedikit ragu memberitahukan Tristan tentang kesehatan nya saat ini, khawatir kalau Ia akan merepotkan pria itu.Tapi Ia butuh seseorang yang benar-benar peduli padanya dan mensupport nya dalam proses penyembuh nya nanti.
Di bawah meja,Ia sudah mengeluarkan selembar kertas,namun kembali menahannya.
Saat itu reaksi Tristan juga berubah,Ia yang tadi bersandar menjadi duduk dengan ekspresi wajah yang sedikit berubah namun Ia seolah terus memperlihatkan kalau dia baik-baik saja dengan senyuman nya yang jelas terlihat tidak natural.
"Kenapa?,aku sudah menunggu kau akan mengatakan apa"
Tristan menghela nafas,Ia yang sejak tadi rileks benar-benar terlihat berbeda dengan sedikit dingin dan serius,hingga ekspresi wajahnya yang selalu positif vibe dengan wajah yang selalu nampak ceria berubah serius.
"Kenapa kau diam saja?",Ia merasa kalau sahabatnya itu juga ingin mengatakan hal yang besar, jadi Ia menjadi semakin penasaran.
"Adeline sebenarnya kedatangan ku hari ini menemui mu,aku ingin meminta pendapat mu tentang sebuah perjodohan?"
"..."
Hening beberapa saat, Adeline menatap sahabatnya itu cukup lama,sebelum akhirnya menjawab.
"Kau di jodohkan?",tanya nya dengan suara yang tercekat di tenggorokannya.
Tristan mengangguk dengan wajah yang pasrah."Iya"jawabannya kemudian dengan senyum tertahan.
"Tentu saja itu bagus,jika kalian merasa cocok itu bahkan lebih baik karena mereka tidak mungkin memilih wanita sembarangan,dan di keluarga kaya itu sebenarnya hal yang lumrah untuk berkesinambungan bisnis dan kerja sama antar dua keluarga"
Tristan beberapa saat memandang sahabatnya itu,memang benar yang di katakan kalau perjodohan yang di lakukan tidak lain untuk kesepakatan bisnis."Benar,ini memang untuk kerja sama bisnis dua keluarga,tapi aku bahkan tidak tau bagaimana wanita itu dia juga tidak tau bagaimana aku"
"Aku hanya khawatir kalau kami bahkan tidak akan cocok, mungkin saja dia sebenarnya punya orang lain yang Ia cintai...,sama seperti ku",lanjutnya dengan senyum samar.
"Mm...kalian bisa saling berkenalan dan menghabiskan waktu beberapa hari, sebelum memutuskan untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius"
Mendengarnya, Tristan menghela nafas dalam sebelum akhirnya Ia kembali tersenyum lebar."Benar juga,aku memang tidak salah membicarakan hal ini pada mu untuk meminta pendapat"
"Kau memang yang terbaik.Kebetulan mereka akan membawa ku besok bertemu dengan nya jadi aku sedikit bingung sebenarnya"
Adeline akhirnya kembali memasukkan kertas yang tadinya sudah Ia keluarkan,mengurungkan niatnya memberitahu sahabatnya itu tidak mau membuat nya semakin repot.
Dan sebagai sesama wanita, pastinya tau bagaimana perasaan saat pasangan nya terlalu memperhatikan wanita lain."Mungkin seharusnya aku memang tidak usah mengharapkan perhatian orang lain", gumamnya dengan senyum mengejek diri nya sendiri.
"Baiklah sudah cukup tentang ku,jadi apa yang ingin kau beritahu pada ku?"
"Mmm,sebenarnya aku...",Ia berpikir beberapa saat, tidak mungkin tiba-tiba mengatakan kalau Ia tidak ingin mengatakan apapun kan.
"Sebenarnya..."
"Apa?"
"Itu sebenarnya aku, sebenarnya aku sedang mencari keberadaan mama ku.Seoarang mengatakan pada ku kalau dia masih hidup dan melihatnya di negara B kota xx beberapa waktu yang lalu"
Pada akhirnya Ia juga mengatakan hal yang penting.
"Kau mau mencarinya?"
"Mm"
"Untuk apa?,dia sudah meninggalkan mu sejak kecil.Dia sendiri tidak pernah mencari mu sekalipun sampai saat ini,lalu untuk apa kau mencarinya?"
Tristan merasa sedikit tidak suka,Ia tau bagaimana selama Ia bersama dengan Adeline, bagaimana menderita nya gadis kecil itu berpisah dan terus merindukan orangtuanya bertahun-tahun,namun mereka bahkan tidak mencari atau mencoba menghubungi nya lewat apapun,sampai sekarang mereka bahkan tidak peduli padanya,dan itu membuat nya marah.
"Aku tau,tapi aku pikir kalau dia sebenarnya juga mencari keberadaan ku,hanya saja tidak menemukan ku", ucapnya tersenyum namun senyum itu juga nampak menyiratkan kesedihan.
"Kalau begitu aku akan membantu mu mencari keberadaan nya"
"Tidak usah,aku akan mencari nya sendiri", tolaknya langsung karena tidak ingin merepotkan pria itu.
"Kenapa kau jadi bersikap begini,aku sudah mengatakan kalau kau bisa meminta apapun padaku"
"Kalau kau mencarinya seorang diri itu akan memakan cukup lama.Kebetulan aku juga mengenal beberapa orang di kota itu,aku bisa meminta bantuan mereka mencari mama kamu dengan cepat"
"Kau cukup memberikan nama dan foto nya"
"Baiklah kalau begitu.Terimakasih ", ucapnya kemudian dengan tulus, bertemu lebih cepat dengan sang mama jauh lebih baik.
***
pengen lihat adel bangkit dan melihat karma si dua perempua jahat itu
jangan mau Terima apapun dr mereka Adeline..