Sejak kecil Celia selalu dilimpahi cinta dalam keluarganya. Sehingga ia rasakan proteksi yang berlebihan dari ayah serta yang lainnya hingga ia sulit untuk menemukan pasangannya.
Pada akhirnya Celia jatuh cinta pada lelaki yang merupakan teman kecilnya. Karena jarak yang terpisah jauh dan hubungan masa lalu yang kompleks antara orangtuanya dan juga orang tua Collin menjadikan ia harus rela melakukan hubungan cinta itu secara diam-diam.
Apa yang terjadi jika ayahnya menentang hubungan itu dan menyediakan calon lain sebagai suaminya ?
Ini hanya cerita 2 manusia yang memperjuangkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeeGorjes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Celia
Happy reading ♥️
Renata menghampiri Fabian yang saat ini merajuk. Wanita itu mencari suaminya ke ruang makan di mana seharusnya mereka makan bersama sebelum pemuda yang merupakan kekasih Celia itu datang bertandang. Wanita yang tak lagi muda itu mendapati suaminya duduk dan terdiam di depan meja makan.
Sementara Aksa kembali menikmati hidangan makan malamnya yang sisa beberapa sendok saja.
Renata menghela napas panjang. Suaminya masih seperti remaja yang baru mengalami puber. Merajuk dan cemburu pada orang lain yang dicintai oleh seseorang yang begitu ia cintai.
Bagaimanapun juga, Fabian adalah cinta pertama Celia. Sebagai orang yang pertama kali mencintai gadis itu, Fabian masih sedikit tak rela kalau anak gadisnya sudah akan beranjak dewasa.
“Mom, Aksa sudah selesai. Permisi,” ucap pemuda yang baru saja menandaskan menu makan malamnya.
Pemuda itu pamit untuk menuju kamarnya, tak ingin mengganggu kedua orangtuanya yang saat ini sedang dalam ego yang tinggi.
“Istirahatlah.” Renata menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.
Renata mendekat pada suaminya. Wanita itu menggeser kursi dan duduk di dekat suaminya. Wanita itu meraih tangan suaminya yang terkepal. Berusaha mendinginkan emosi yang tadi sempat mencuat ke permukaan.
“Kenapa kamu sangat menentang Celia dengan Collin?” tanya Renata lembut.
Fabian mengembuskan napas berat. Pria itu sedang berusaha mengontrol emosinya yang sedang tak stabil itu.
Sebenarnya Fabian tak sepenuhnya menentang hubungan Celia dan Collin. Hanya saja, mengapa harus anaknya Jamie?
“Aku melihat kamu kurang nyaman saat pemuda itu menyebutkan nama Jamie. Aku juga cemburu. Maafkan aku.”
“Cemburu??” tanya Renata dengan berkerut alis.
“Ya. Bagaimana tidak cemburu kalau anakmu akan menikah dengan anak dari seseorang yang pernah menyukai pasangan kita?” Jawab Fabian sembari menundukkan kepalanya. Pikirannya kembali pada masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam.
“Tapi itu sudah menjadi bagian masa lalu kita, Bi,” ucap Renata berusaha memendam perasaannya.
Fabian menarik tangannya dari genggaman tangan lembut istrinya.
“Semudah itu kamu mengatakannya?” tanya Fabian lagi.
Renata mengernyit berusaha mencerna perkataan suaminya.
“Coba bayangkan, kalau kamu ada di posisiku. Anak kita, menyukai anak dari masa laluku. Apa kamu akan terima begitu saja?” Fabian begitu emosional saat ini.
“Aku yakin kamu pun tak semudah itu menerima. Terlebih ada perasaan kita yang harus kita jaga.” lanjutnya lirih.
Renata terdiam. Dia pun tak bisa membayangkan kalau dia ada di posisi Fabian. Mengingat masa lalu mereka saat Fabian dengan Lea saja sudah membuat Renata kesal. Apalagi membayangkan kalau berbesanan dengan masa lalu kita?
Dan juga benar kata Fabian. Kita juga perlu memperhatikan dan menjaga perasaan pasangan kita. Meski masa lalu sudah usai, belum tentu kita atau pasangan kita semudah itu menerima masa lalu kita kembali mendekat, apalagi menjadi sebuah keluarga.
Kecuali ...
“Sepertinya kita perlu membicarakan ini dengan baik kepada Celia,” ujar Renata.
Bagaimanapun bagi Renata, pendapat Celia juga sangat penting. Gadis itu bahkan berniat untuk kabur demi Collin. Tak ada jaminan bagi gadis itu untuk tak melakukan hal serupa.
“Panggil Celia ke sini. Aku yakin dia belum makan malam,” titah Fabian kepada istrinya.
Renata mengangguk lalu bangkit menemui Celia yang tadi bertemu dengannya di ruang tengah.
Langkah wanita itu terhenti saat melihat pintu utama rumahnya masih terbuka. Dia tersadar akan sesuatu saat melihat pintu rumah itu terbuka lebar. Renata segera berlari ke kamar Celia, memastikan bahwa anak gadisnya kembali ke kamarnya.
“Celia?” panggil wanita itu saat membuka kamar putrinya.
Kosong.
Semuanya masih ada di tempatnya. Hanya saja pemilik ruangan itu tak terlihat keberadaannya.
Renata mengetuk pintu samping yang merupakan kamar Aksa. Berharap pemuda itu tahu ke mana perginya sang kakak.
“Aksa?”
“Ya, Mom? Ada apa?” tanya pemuda itu segera membuka pintu saat mendengar panggilan Mommy-nya saat mengetuk pintu.
“Apa kamu melihat Celia?” tanya Renata.
Aksa menautkan alisnya. Dia masih berusaha menyerap pertanyaan Mommy-nya itu.“Bukankah kalian menguncinya di kamar?”
Renata memejamkan matanya. Wanita itu memijit pelipisnya yang seketika bedenyut. “Mommy perlu bantuan sekali lagi. Kakakmu sepertinya keluar dari rumah ini.”
“Bagaimana bisa, Mom? Bukankah jendela dan pintu kamar terkunci? Bagaimana mungkin bisa kabur?”
“Nanti kamu akan tahu. Sekarang bantu Mommy mencari kakakmu,” pinta Renata.
“Mommy coba cari ke seluruh penjuru rumah, Aksa yang akan mencoba mencarinya di luar.”
Tanpa banyak bertanya lagi, pemuda itu bergegas turun ke lantai dasar. Keluar dari rumah itu melalui pintu utama, berharap masih bisa mendapatkan kakaknya yang mungkin pergi tak terlalu jauh.
Renata mengangguk dan berusaha mencari jejak putrinya yang mungkin masih bisa ditemukan di dalam rumah itu.
Kepanikan yang dibuat oleh Renata, membuat Fabian menghampiri istrinya yang saat ini tampak sedikit pucat wajahnya. Pria itu merasa sesuatu tak beres sedang terjadi.
“Apa yang terjadi?” tanya Fabian.
“Celia, Bi. Dia tak ada di kamarnya.”
“Apa?!”
Fabian tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mendengar putrinya saat ini tak di kamarnya. Seketika pria itu menduga bahwa anak gadisnya pergi bersama dengan Collin, pemuda yang beberapa saat lalu datang ke rumahnya.
“Lelaki itu pasti sudah merencanakannya. Dia pasti sudah merencanakan untuk membawa serta putri kita,” ujar Fabian berpikiran negatif tentang Collin.
Beberapa saat kemudian, Aksa datang dari luar rumah. Pemuda yang sebelumnya mencari keberadaan sang kakak di sekitar rumahnya, kini kembali ke rumah dengan tangan hampa.
“Aku tak bisa menemukan Kak Celia.”
“Apa kamu sudah mencarinya dengan benar?” tanya Fabian.
“Sudah, Dad. Tak mungkin juga Kak Celia pergi jauh dalam waktu dekat. Kecuali ada orang lain yang membawanya pergi.
Renata dan Fabian saling bertukar pandang. Kali ini Renata tak bisa menyangkal kenyataan bahwa Collin tak membawa pergi putri mereka.
“Sudah ku duga. Sepertinya lelaki itu ke rumah ini berniat untuk menculik Celia.”
Fabian tampak mengepalkan tangannya. Rahangnya saat ini tampak mengeras karena kemungkinan Collin yang membawa Celia pergi lagi tanpa pamit.
Sudah ketiga kalinya. Dan sepertinya Fabian mengurungkan niatnya untuk melunakkan hatinya menerima pemuda itu.
“Semua ini juga karena kamu, Bi!” pekik Renata pada akhirnya.
Fabian menoleh ke arah istrinya yang saat ini kedua matanya tampak berkaca-kaca.
“Kalau saja kamu tak terlalu mengekang Celia dan juga tak menolak permintaan Collin tadi, kita tak akan kehilangan putri kita. Semuanya salahmu, Fabian!”
Tangis wanita itu saat ini sudah pecah. Dia tampak menyesali keputusannya yang mendukung Fabian yang begitu posesif pada lelaki yang menyukai Celia. Padahal pemuda yang menyukai anak gadisnya sudah mendatangi kediaman mereka secara baik-baik. Namun, hati suaminya tetap tak berubah.
Sementara Fabian tertegun dengan istrinya yang tiba-tiba meledakkan emosinya. Melihat Renata yang menangis seperti itu, membuat hati kecilnya terusik.
Apakah selama ini dia sangat keterlaluan dan melewati batas?
“Apa kamu memiliki nomor ponsel Jamie?”
Renata menggelengkan kepalanya dengan wajah tertunduk.
“Mana mungkin aku masih menyimpan nomornya sementara kamu masih cemburu berlebihan padanya?”
To be continued ♥️
Thanks for reading ♥️
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya
maaciw zheyeenk 🥰