Zainna Keisha Nugraha, seorang Mahasiswi kampus ternama di Jakarta harus menerima pernikahannya dengan seorang Profesor yang merupakan salah satu dosennya yang berstatus sebagai duda beranak satu. Inna menerima pernikahan ini karena sudah terlanjur sayang pada Putri kecil yang sangat manis dengan nasib yang sama dengannya yaitu ditinggalkan oleh ibu kandungnya. Namun Inna juga harus menelan pahit bahwa suaminya masih sangat mencintai istri pertamanya dan sangat sulit untuk Inna dapat menggantikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desih nurani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Enam
Samuel mematung saat melihat wajah pucat istrinya dan hatinya terasa sakit. Begitu pun dengan Inna, ia sangat terkejut saat melihat wajah suaminya yang babak belur.
"Mas kamu...." Belum selesai Inna bicara Samuel sudah terlebih dahulu memeluknya. Inna sedikit tersentak karena kaget.
Ada apa dengannya? Pikir Inna.
"Mas." Panggil Inna yang bingung dengan apa yang suaminya lakukan. Samuel semakin mengeratkan pelukannya. Ia tak akan melepaskan gadisnya, tak akan pernah.
"Maaf." ucap Samuel yang berhasil membuat tubuh Inna mendadak kaku.
Dia minta maaf? Ah, apa aku mimpi?
Randy yang hendak menyusul Inna karena penasaran siapa yang bertamu di tengah malam, langsung menghentikan langkahnya saat melihat adegan mesra di depan matanya. Randy menyunggingkan senyuman dan membiarkan keduanya menikmati waktu berdua.
"Semoga ini jadi awal yang baik," ucap Randy yang langsung pergi ke kamarnya.
"Mas kita masuk ya, udara di luar dingin." Ajak Inna setelah sekian lama terdiam. Samuel mengangguk, lalu keduanya beranjak ke kamar. Inna meminta Samuel duduk di sofa. Lalu mengambil kotak obat dilaci, setelah itu kembali menghampiri Samuel yang sedari tadi terus memperhatikannya. Inna merasa canggung karena terus ditatap oleh suaminya. Inna mengeluarkan alkohol dan obat luka, kemudian mengobati luka memar di wajah suaminya.
"Kok bisa seperti ini sih, Mas?" Tanya Inna membersihkan darah kering di beberapa sudut wajah Samuel. Samuel tidak menjawab pertanyaan Inna, ia masih setia menatap wajah cantik istrinya.
"Ssstt..." Samuel mendesis saat Inna memberi alkohol pada lukanya.
"Tahan dikit, Mas." ucap Inna. Bahkan saat ini wajah mereka sangat dekat. Samuel terus menatap Inna hingga membuat sang empu salah tingkah.
"Ma-mas kenapa menatap Inna seperti itu?" tanya Inna gugup. Lalu Samuel langsung mendekatkan wajahnya dengan wajah Inna, menyusupkan jemarinya di tengkuk sang istri. Mengecup lembut gundukan daging kenyal itu dengan lembut, hingga berakhir dengan ******* dan gigitan kecil. Tanpa sadar, Inna mendesah kecil karena terbuai dengan sentuhan suaminya. Bahkan kedua tangannya kini sudah melingkar di leher Samuel. Cukup lama mereka bergumul dalam gairah. Melupakan segala rasa sakit.
Samuel melepaskan ciumanya dan menagkup wajah Inna dengan kedua tangannya. Mengecup kening istrinya begitu dalam. Samuel kembali menyatukan bibir mereka, tetapi kali ini tak berlangsung lama. Napas keduanya memburu, terdiam dalam kecanggungan. Inna mengerjapkan matanya beberapa kali, masih tidak percaya dengan yang di alaminya saat ini.
Apa ini mimpi? Jika ini mimpi, jangan bangunkan aku ya Allah. Biarkan aku menikmatinya untuk sesaat.
Samuel menarik Inna dalam dekapan. Memeluk gadis itu hingga kembali ke alam sadarnya. Inna tersadar, jika ini bukanlah mimpi. Ini nyata. Seulas senyuman terbit dibibirnya yang manis.
"Maafkan aku Inna." ucap Samuel tulus.
"Mas." Panggil Inna seraya melepaskan pelukan Samuel. Lalu menatap manik mata Samuel begitu dalam.
"Kamu kenapa Mas? Ini sangat aneh," tanya Inna bingung dengan perubahan sikap Samuel.
"Jangan pernah tinggalkan aku Inna. Berjanjilah padaku," ucap Samuel yang kembali membuat Inna terkejut.
"Maksud kamu Mas?" tanya Inna bingung.
"Berjanji lah untuk terus disampingku, aku tahu selama ini kamu banyak terluka karena aku, Inna. Tapi aku mohon, jangan pernah menyerah untuk meyakinkan aku untuk bisa mencintai kamu. Kita mulai semuanya dari awal. Kamu mau kan?" jelas Samuel yang berhasil menyentuh hati Inna. Inilah yang selalu Inna impikan dan tunggu-tunggu.
Inna mengangguk sebagai jawaban, lalu kembali dalam pelukan suaminya.
"Terima kasih." ucap Samuel mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut.
"Kita akan mulai seperti perjanjian awal." Kata Samuel yang berhasil membuat Inna terkejut.
"Perjanjian awal?" tanya Inna melepaskan pelukannya. Menatap Samuel dengan ketakutan yang mendalam.
"Ya, tidak ada kata perceraian dalam pernikahan kita." Sahut Samuel membuat hati Inna lega.
"Ya ampun Mas, Inna kira tadi mas mau bilang apa." Ujar Inna tersenyum lega. Ah, Samuel terpesona dengan senyuman itu.
"Berjanji lah untuk tidak meninggalkan aku Inna." Pinta Samuel seraya mengecup punggung tangan Inna.
"Inna janji, Mas. Inna akan selalu ada di dekat kamu dan Elya. Inna janji." Jawab Inna tersenyum sambil menyentuh pipi Samuel.
"Terima kasih." ucap Samuel merasa lega. Inna pun mengangguk pelan.
"Jelaskan bagaimana Mas bisa terluka seperti ini?" Tanya Inna yang sejak tadi penasaran dengan luka di wajah suaminya.
"Bukan apa-apa," jawab Samuel seraya mengusap pipi mulus istrinya. "Kamu harus istirahat, kamu masih sakit."
"Mas...."
"Istirahat lah." Potong Samuel. Inna pun menyerah dan mengangguk patuh. Lalu keduanya pun beranjak menuju ranjang.
***
Inna membuka matanya saat mendengar suara azan di masjid. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Sebelum menangkap dada bidang milik suaminya. Inna masih tidak percaya, jika dirinya akan terbangun dalam dekapan Samuel.
"Ternyata itu bukan mimpi." Inna tersenyum sambil menatap wajah Samuel yang masih terlelap. Inna menyentuh hidung mancung suaminya karena gemas. Sang pemilik yang merasa terganggu mulai membuka matanya perlahan. Ia tersenyum manis pada Inna.
"Mas, kamu tersenyum?" Tanya Inna tak percaya Samuel memberikan senyuman manis untuknya.
"Tidak, tadi aku menangis." Sahut Samuel yang berhasil membuat Inna tertawa.
"Ini pertama kali Mas tersenyum begitu manis pada Inna. Itu kejadian langka." Kata Inna yang berhasil membuat Samuel merasa bersalah.
"Mas minta maaf, Sayang." ucap Samuel yang berhasil menciptakan rona merah di pipi istrinya.
"Mas selalu menghindarimu, itu karena Mas tak bisa menahan diri saat didekatmu. Bibir ini, selalu berhasil menghilangkan kesadaranku. Mas cuma tidak mau merusak masa depanmu, Inna." Jelas Samuel seraya menyentuh bibir seksi istrinya. Inna yang mendengar itu terkesiap.
"Inna istri kamu, Mas. Semuanya... milik Mas." Balas Inna sedikit gugup.
"Ya, Mas tahu itu. Mas cuma takut mengecewakanmu di kemudian hari."
"Mas, kita akan mulai dari awal, kita lupakan masa lalu ya?"
"Ya, terima kasih untuk semuanya, Sayang." Samuel membawa Inna kepelukannya. Inna pun tersenyum senang. Cukup lama mereka tenggelam dalam kehangatan.
"Sudah subuh Mas, bangun. Solat dulu ke masjid. Sepertinya Papa sudah siap." Kata Inna menarik diri dari dekapan Samuel.
"Sebentar lagi, kita solat di rumah saja." Ucap Samuel kembali menarik Inna dalam dekapannya.
"Mas." Protes Inna berusaha melepaskan diri dari pelukan Samuel.
"Ck, cerewet." Samuel mengecup bibir Inna sekilas sebelum melesat ke kamar mandi.
Sedangkan Inna masih mematung karena ulahnya. Lalu senyuman itu kembali terbit di bibirnya. Ah, pagi yang indah.
Seperti biasa, Inna membereskan tempat tidurnya terlebih dahulu. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara ponsel milik suaminya. Inna mencari benda itu dan ternyata ponsel Samuel masih tercarger. Inna memcabutnya dan melihat nama Yola tertera dilayar. Dengan berani inna mengangkat telpon Itu.
"Halo El, jangan lupa ya nanti siang makan ditempat favorit kita. Satu lagi, pagi ini kamu bisa gak jemput aku, El? Mobilku tidak mau hidup." ucap Yola dari balik telepon. Inna terdiam mematung mendengar ucapan Yola.
"El, kamu masih di sana kan?" Sambung Yola saat tidak mendapat respon dari Samuel. Inna langsung menekan tombol end saat melihat Samuel keluar dari kamar mandi.
Inna meletakkan ponsel Samuel ditempat semula dan langsung beranjak keluar. Samuel yang melihat itu mengernyit bingung.
Setelah pulang dari masjid dan berganti pakaian, Samuel langsung bergegas mencari istrinya. Yang ternyata sedang memasak di dapur. Samuel duduk dikursi sambil memperhatikan Inna yang tidak menyadari kedatangannya.
Inna berbalik dan sedikit tersentak kaget saat melihat Samuel.
"Astagfirullah."
Samuel tersenyum geli saat melihat ekspresi wajah Inna.
"Mas ngapain disitu?" tanya Inna mencoba menghilangkan keterkejutannya. Lalu kembali berkutat dengan alat masak.
"Bisa buatkan kopi?" tanya Samuel tidak menghiraukan pertanyaan istrinya. Inna menatap Samuel sekilas, lalu mengambil gelas dan membuatkan kopi untuk suaminya. Kemudian memberikan secangkir kopi pada Samuel sebelum kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Samuel terus menemani Inna sampai selesai masak. Lalu mereka pun makan bersama seperti biasa. Pagi ini Randy tidak ikut bergabung. Ia tidak ingin mengganggu anak-anaknya yang tengah memadu kasih.
Setelah sarapan, Samuel pun berpamitan untuk berangkat ke kampus. Inna pun mengantarnya sampai depan rumah. "Mas berangkat dulu, Sayang." Samuel mencium pucuk kepala Inna.
"Hati-hati, Mas." Balas Inna seraya mencium punggung tangan Samuel.
"Tidak perlu ke kampus, istirahat di rumah. Pokus untuk kesehatan kamu," ujar Samuel sebelum masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi meninggalkan pekarangan rumah. Inna masih terdiam menatap kepergian suaminya. Kemudian ia pun bergegas ke dalam rumah.
"Pa Inna ikut nebeng kekampus ya?" rengek Inna pada Randy yang hendak berangkat kerja.
"Tidak Inna, kamu harus istirahat. Tadi suami kamu pesan sama Papa, untuk memastikan kamu tetap di rumah." Randy menolak keinginan Inna.
"Tapi Pa, Inna bosan sendirian di rumah. Lagian mobil Inna juga di kampus dari kemarin." Inna terus merengek agar Randy mengikuti keinginanya.
"Papa...."
"Baiklah, tapi jika Samuel marah kamu tanggung sendiri." Ujar Randy yang berhasil membuat Inna bahagia. Inna tidak peduli dengan kemarahan Samuel. Justru karena lelaki itulah Inna mendesak untuk pergi ke kampus. Ia ingin tahu apakah Samuel benar-benar pergi bersama Yola atau tidak.
"Makasih Papa." ucap Inna yang langsung masuk ke mobil Randy. Randy yang melihat tingkah putrinya itu hanya bisa menggelengkan kepala.
Sesampainya di kampus, Inna melihat ke parkiran dosen dan melihat mobil suaminya terparkir di sana. Inna sedikit lega, tetapi tak menutupi kemungkinan Samuel akan pergi bersama Yola sepulang dari kampus. Mengingat itu, Inna semakin kesal. Bahkan suaminya itu sama sekali tak memberitahunya. Padahal mereka sudah berjanji untuk memulai semuanya dari awal. Dan sekarang, Inna harus main kucing-kucingan untuk menciduk perselingkuhan suaminya. Huh, sangat menyebalkan.
Dengan perasaan kesal, Inna beranjak menuju kelas. Awas aja kalau ketemu, aku bakal mogok bicara. Kesal Inna dalam hati.
"Inna... lo kekampus? Katanya lo sakit?" Seru Dita saat melihat Inna masuk kelas.
"Gw bosan di rumah." Jawab Inna seraya duduk di kursi.
"Lo belum sehat tau. Tu liat muka Lo aja masih pucet gitu." Protes Dita sambil memperhatikan wajah Inna.
"Gw gak papa, Ta." ucap Inna tersenyum masam.
"Juju belum datang?" tanya Inna yang belum saat tak menemukan keberadaan Juju.
"Belum." Jawab Dita kembali memainkan poselnya. Sedangkan Inna cuma bisa menghela napas berat. Lalu tak lama dosen pun masuk.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumusalamw." Sahut semua mahasiswa kompak. Inna kaget saat melihat suaminya yang masuk ke kelas. Jantung Inna pun berdetak tak karuan.
Mampus, pasti dia marah liat aku masuk kelas hari ini. Aduh... kenapa harus masuk ke sini sih?
"Kok suami lo sih yang masuk?" bisik Dita pada Inna.
"Mana gw tau." Jawab Inna yang langsung memalingkan wajahnya dari Samuel yang saat ini tengah menatapnya.
"Hari ini saya menggantikan buk Anggi karena beliau sakit." Ujar Samuel seraya menghidupkan laptopnya. Sesekali ia melirik istrinya yang terus menunduk.
"Assalamualaikum." Ucap Juju memasuki kelas. Sontak semua mata pun tertuju padanya.
"Wa'alaikumusalam. Kenapa kamu terlambat?" Samuel menatap Juju tajam.
Juju tak menyangka jika Samuel yang masuk kelas hari ini. Ia menelan air ludahnya karena gugup. "Itu Prof. mobil saya ngambek. Jadi telat deh." Jawab Juju sambil cengengesan.
"Biasakan disiplin. Sekarang kamu duduk." Perintah Samuel datar.
Uh, selamat gw. Juju merasa lega karena hari ini Samuel tak menghukumnya.
"Terima kasih, Prof." Juju pun langsung berlari dan duduk disebelah Dita.
"Kebisaan deh Lo, Ju." Bisik Dita.
"Gw lupa narok kunci mobil." Balas Juju sambil senyum-senyum gak jelas. Mendengar itu, Dita dan Inna pun menghela napas berat.
Satu jam lebih Samuel mengisi pelajaran. Selama itu juga ia terus memperhatikan Inna yang sama sekali tak ingin menatapnya. Samuel merasa ada yang aneh dengan istrinya. Usai pelajaran, Samuel melihat Inna yang bangun dari posisinya.
"Gw ke toilet dulu ya. Kalian duluan aja ke kantin." Ujar Inna yang dijawab anggukan oleh kedua sahabatnya. Lalu ia pun langsung bergegas meninggalkan kelas, mengabaikan suaminya yang masih ada di sana.
Saat Inna hendak masuk ke toilet, mendadak tubuhnya tertarik ke belakang hingga punggungnya membentur dinding. Inna kaget dan langsung melihat pelaku yang menarik dirinya. "Mas."
ceritanya keren,bagus
dan mantap
sukses
semangat
mksh
Ini kata Jidan pada Samuel
"Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"
Tau tidak Jidan itu kekasihnya didi dan di episode 28 dia melamar didi. Ini keistimewaan pebinor di novel2 egois, apapun kelakuannya selalu dibenarkan,
Kenapa novel harus egois dan tidak adil, pelakor dilakanat dibuat hina dan dihancurkan sedangkan pebinor begitu dipuja2, diistimewakan, dispesialkan, apapun salahnya selalu dibenarkan
Simple pertanyaan untuk author
Jika suami atau kekasihmu sangat perhatian dan membela mati matian istri orang lain, dan suami mengatakan seperti Jidan katakan pada samuel, (ini kata Jidan pada samuel "Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"). Apa kau akan bilang suamiku hebat karena perhatian dan mau merebut istri orang dan mencintai istri orang ituu