Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. Saat Cinta Menjadi Penawar
Musim panas tahun kesepuluh setelah Tang Hyun dan Permaisuri Xinyue menikah seharusnya menjadi musim yang tenang, karena perang besar sudah selesai, "Proyek Tangan Kiri" sudah berjalan di dua belas provinsi, dan anak-anak mereka sudah cukup dewasa untuk menjaga diri sendiri, tetapi ketenangan itu pecah pada malam bulan purnama ketika seorang utusan dari barat datang dengan wajah pucat dan dengan jubah yang sobek di bagian dada, membawa berita bahwa di Pegunungan Kabut Merah telah muncul kembali "Gerbang Asmara", sebuah teknik terlarang dari Sekte Iblis yang sudah lama dikubur dan yang dikatakan hanya bisa digunakan oleh mereka yang bersedia mengorbankan jiwanya sendiri, sebuah teknik yang tidak membunuh dengan pedang melainkan membunuh dengan hati, karena ia membuat orang yang terkena melihat orang yang paling mereka cintai sebagai musuh, dan melihat musuh sebagai satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan mereka, dan utusan itu berkata dengan suara gemetar bahwa Xinyue, yang sedang dalam perjalanan pulang dari mengunjungi klinik di perbatasan, telah disergap oleh tiga murid Sekte Iblis yang menggunakan teknik itu dan sekarang dibawa ke dalam kabut, dan bahwa jika dalam tujuh hari tidak ada yang menariknya keluar, maka pikirannya akan hancur dan dia tidak akan pernah bisa kembali menjadi dirinya sendiri lagi.
Berita itu sampai ke Tang Hyun ketika dia sedang mengajar kelas "Pengobatan untuk Tubuh yang Tidak Sempurna" di Akademi Bunga Plum, dan cangkir teh di tangan kirinya jatuh dan pecah di lantai, tetapi dia bahkan tidak menoleh, karena di dunia ini hanya ada satu suara yang bisa membuat "Tangan Kiri yang Tidak Menyerah" berhenti bernapas, yaitu nama Xinyue, dan begitu mendengar itu dia langsung berdiri, meninggalkan 200 murid yang bingung, dan berjalan keluar dengan langkah yang tidak cepat tetapi membuat semua orang di koridor minggir karena mereka bisa merasakan bahwa gunung es sedang berjalan.
Tang Ming yang sekarang sudah menjadi Kaisar dewasa langsung menyusul ayahnya di halaman, "Ayah, tunggu. Kirim pasukan. Kirim pengawal Klan."
"Tidak," jawab Tang Hyun tanpa menoleh, "kalau aku bawa pasukan, maka mereka akan membunuhnya sebelum kita sampai. Ilmu 'Gerbang Asmara' hanya bisa dipatahkan dari dalam, dengan orang yang dia cintai. Dan orang itu adalah aku."
"Tapi ilmu itu berbahaya, Ayah," kata Tang Ming, "bisa membuatmu gila juga."
Tang Hyun berhenti dan menatap putranya, "Lebih baik aku gila karena mencoba menyelamatkannya, daripada waras karena membiarkannya mati."
Malam itu, Tang Hyun berangkat sendiri ke barat, hanya membawa kotak obat, satu botol penawar yang dia buat sendiri dari darahnya, dan satu helai pita merah yang dulu Xinyue ikatkan di rambutnya saat pernikahan mereka, pita yang sudah pudar tetapi masih berbau melati, dan sepanjang perjalanan tujuh hari itu dia tidak tidur, dia hanya berjalan dan berpikir tentang setiap momen bersama Xinyue, tentang pertama kali dia melihatnya di jamuan istana, tentang malam dia berlutut dan berjanji akan melindunginya, tentang bagaimana dia yang mengajarinya bahwa cinta bukan tentang memiliki melainkan tentang melepaskan agar orang itu bisa tumbuh, dan dia mengulang semua itu di kepalanya seperti mantra, karena dia tahu bahwa "Gerbang Asmara" bekerja dengan memutar balik ingatan, dan satu-satunya cara untuk melawannya adalah dengan memiliki ingatan yang lebih kuat.
Ketika dia sampai di Pegunungan Kabut Merah pada malam ketujuh, kabut itu berwarna merah muda dan berbau manis seperti madu beracun, dan di tengah kabut itu dia bisa mendengar suara tawa, suara tangis, dan suara Xinyue yang memanggil namanya, tetapi dengan nada yang salah, nada yang dingin dan jauh, dan di depan sebuah kuil tua yang sudah runtuh, tiga murid Sekte Iblis berdiri dengan jubah hitam, dan di tengah mereka, Xinyue duduk di atas altar batu, dengan mata kosong, dengan senyum yang bukan senyumnya, senyum yang terlalu manis dan terlalu palsu.
"Jadi ini 'Tangan yang Menyembuhkan'," kata pemimpin mereka, seorang wanita dengan wajah cantik tetapi mata mati, "Kau datang untuk mengambil kembali wanitamu? Terlambat. Dia sudah melihat kebenaran. Bahwa kau adalah monster. Bahwa istana adalah penjara. Dan bahwa kami adalah keluarganya yang baru."
Tang Hyun tidak menjawab, dia hanya berjalan maju, selangkah demi selangkah, sampai dia berdiri tepat di bawah altar, dan dia menatap Xinyue, "Xinyue," katanya pelan.
Xinyue menoleh, dan matanya tidak mengenalinya, "Kau siapa?" tanyanya dengan suara manis, "Kau bau darah. Kau bau kebohongan. Pergi."
Hati Tang Hyun terasa seperti ditusuk, tetapi dia tidak mundur, dia malah duduk di tanah, di bawah altar, di tempat yang sama dengan posisi Xinyue, "Aku Tang Hyun," katanya, "suamimu. Ayah dari anak-anakmu. Orang yang kau ajari cara membuat teh yang tidak pahit."
"Kau pembohong," kata Xinyue, "suamiku mati sepuluh tahun lalu. Dibunuh oleh Klan Tang."
"Tidak," jawab Tang Hyun, "dia hidup. Dan dia ada di sini. Karena dia berjanji tidak akan meninggalkanmu, bahkan jika dunia memintanya."
Murid Sekte Iblis tertawa, "Percuma. Dia tidak akan ingat. Gerbang Asmara tidak bisa dipatahkan dengan kata-kata."
"Benar," kata Tang Hyun, "maka aku tidak akan menggunakan kata-kata."
Dia mengeluarkan pisau kecil dan mengiris telapak tangan kirinya, membiarkan darahnya menetes ke dalam botol penawar, lalu dia mengangkat botol itu dan meminumnya sendiri, karena dia tahu bahwa penawar untuk ilmu godaan bukan racun, melainkan kejujuran, kejujuran yang harus dia telan terlebih dahulu agar tubuhnya bisa menjadi jembatan.
Begitu penawar itu masuk, rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, karena "Gerbang Asmara" menyerang balik siapa pun yang mencoba masuk, dan Tang Hyun merasakan ingatannya dipelintir, dia melihat Xinyue menikamnya, dia melihat anak-anaknya membencinya, dia melihat dirinya sendiri membakar desa, semua ilusi yang dirancang untuk membuatnya benci pada orang yang dia cintai, tetapi di tengah semua itu dia menggenggam pita merah di tangannya, dan dia mengingat, dia mengingat tangan Xinyue yang mengompres dahinya saat dia demam, dia mengingat cara dia tertawa ketika Tang Lei membuat kekacauan, dia mengingat malam di paviliun ketika dia berkata, "Aku memilihmu, setiap hari."
"Aku tidak peduli apa yang kau tunjukkan padaku," teriak Tang Hyun ke arah kabut, "karena aku tahu mana yang nyata!"
Dan dengan sisa tenaganya, dia melempar botol penawar ke atas, ke arah Xinyue, dan botol itu pecah di atas kepala istrinya, dan cairan merah menetes ke wajah dan rambut Xinyue, dan untuk beberapa detik tidak terjadi apa-apa, hanya keheningan, lalu Xinyue mengerjap, dan matanya yang kosong mulai berkedip, dan senyum palsu itu menghilang, digantikan oleh kebingungan, dan kemudian oleh rasa sakit, karena dia baru sadar di mana dia berada.
"Tang... Hyun?" bisiknya.
"Aku di sini," jawab Tang Hyun, dan suaranya pecah, "aku selalu di sini."
Xinyue menatap tangannya, lalu menatap ketiga murid Sekte Iblis yang sekarang mundur karena melihat ilmu mereka gagal, dan dia berdiri dengan goyah, "Mereka bilang... mereka bilang kau yang menyakitiku."
"Mereka berbohong," kata Tang Hyun, "seperti yang selalu mereka lakukan."
Xinyue turun dari altar, dan begitu kakinya menyentuh tanah, dia langsung berlari dan memeluk Tang Hyun erat, dan Tang Hyun yang tubuhnya masih lemas karena efek penawar memeluknya kembali dengan tangan kirinya, "Maaf," isak Xinyue, "maaf karena aku tidak bisa melawan."
"Bukan salahmu," jawab Tang Hyun, "itu bukan kau. Itu ilmu. Dan aku tahu kau akan kembali. Karena aku percaya padamu. Sama seperti kau percaya padaku waktu itu."
Ketiga murid Sekte Iblis mencoba melarikan diri, tetapi pengawal Klan Tang yang sudah mengepung gunung dari jauh muncul dan menangkap mereka, dan sebelum dibawa pergi, pemimpin wanita itu menatap Tang Hyun dan berkata, "Kau beruntung. Cinta adalah racun paling lemah."
"Tidak," jawab Tang Hyun, "cinta adalah penawar paling kuat."
Perjalanan pulang memakan waktu lima hari, dan selama itu Xinyue tidak pernah melepaskan tangan Tang Hyun, bahkan ketika tidur, bahkan ketika makan, seolah takut jika dia melepaskan, maka ilusi itu akan kembali, dan Tang Hyun membiarkannya, karena dia tahu rasa takut itu, dia pernah merasakannya juga.
Ketika mereka sampai di Chang'an, Kaisar Tang Ming dan seluruh istana menyambut mereka, tetapi Tang Hyun dan Xinyue langsung pergi ke Paviliun Bunga Plum, karena mereka butuh ketenangan, bukan sorak-sorai.
Di malam pertama di rumah, Xinyue duduk di samping tempat tidur Tang Hyun yang masih lemah, "Kau minum penawar itu sendiri," katanya, "kau bisa mati."
"Aku tahu," jawab Tang Hyun, "tapi aku lebih takut hidup tanpa kau."
Xinyue menangis, bukan tangis keras, melainkan tangis lega, "Aku melihat hal-hal mengerikan. Aku melihat kau membunuh anak-anak kita. Aku melihat diriku menikam jantungmu."
"Aku juga melihatnya," kata Tang Hyun, "tapi kita tahu itu tidak nyata. Karena yang nyata adalah ini. Kita. Di sini."
Xinyue menggenggam tangan kiri suaminya, tangan yang sekarang memakai alat dari kulit, "Kau menyelamatkanku lagi."
"Aku akan selalu menyelamatkanmu," jawab Tang Hyun, "selama aku masih bernapas."
Seminggu kemudian, Tang Ming mengadakan sidang tertutup untuk membahas "Gerbang Asmara", dan Tang Hyun yang masih belum pulih sepenuhnya diminta bersaksi, dan dia berkata di depan semua menteri, "Ilmu ini tidak bisa dilawan dengan pedang. Hanya bisa dilawan dengan mengingat. Mengingat siapa kita. Mengingat siapa yang kita cintai. Karena kebencian bisa memutarbalikkan fakta, tapi tidak bisa memutarbalikkan hati."
Keputusan Kaisar adalah membakar semua gulungan tentang "Gerbang Asmara" dan menjadikan pelajaran tentangnya sebagai bagian dari kurikulum akademi, bukan untuk dipelajari, melainkan untuk diwaspadai.
Sebulan kemudian, ketika Tang Hyun sudah bisa berjalan, dia dan Xinyue kembali ke paviliun seperti biasa, dan Xinyue menuang teh untuk suaminya, teh yang sekarang tidak lagi pahit, karena dia sudah belajar resep baru dari Tang Yue.
"Kau tahu," kata Xinyue, "waktu aku di dalam kabut itu, ada satu momen ketika aku hampir percaya pada mereka. Sampai aku mencium bau melati. Bau pita yang kau pegang."
Tang Hyun tersenyum, "Maka pita itu penawarnya."
"Bukan," kata Xinyue, "kaulah penawarnya."
Mereka duduk dalam diam, dan kelopak bunga plum musim panas jatuh ke dalam cangkir mereka, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Tang Hyun merasa bahwa tekadnya diuji, dan dia tidak gagal, karena dia memilih cinta daripada kebencian, memilih mengingat daripada melupakan, memilih Xinyue daripada dirinya sendiri.
Malam itu, sebelum tidur, Tang Hyun menulis di jurnalnya, "Hari ini aku menyelamatkan istriku. Bukan dengan racun. Bukan dengan pedang. Dengan mengingat. Dengan bertahan. Dengan cinta."
Xinyue membaca tulisan itu dari belakang bahunya, lalu dia memeluknya dari belakang, "Aku juga menulis sesuatu," katanya, "di hatiku. Bahwa aku akan melakukan hal yang sama untukmu, jika suatu hari kau yang tersesat."
Tang Hyun menoleh dan mencium kening istrinya, "Maka kita aman. Karena kita punya dua penawar."
Di luar, bulan purnama bersinar terang di atas atap istana, dan di kejauhan terdengar suara Tang Yue dan Tang Lei tertawa, suara yang mengingatkan mereka bahwa keluarga mereka masih utuh, karena seorang suami menolak menyerah, dan seorang istri menolak hilang.
Dan di dalam hati Tang Hyun, dia tahu bahwa ini bukan akhir, karena dunia akan selalu punya cara baru untuk memisahkan orang, tetapi selama dia dan Xinyue terus memilih satu sama lain, maka tidak ada ilmu, tidak ada sekte, tidak ada kabut yang bisa menahan mereka.
Karena cinta Tang Hyun bukan kata-kata, cinta Tang Hyun adalah tindakan, dan tindakan itu adalah berjalan ke dalam kabut merah, minum racun, dan menarik istrinya keluar dengan tangan kiri yang gemetar tetapi tidak pernah lepas.