Keputusasaan yang membuat Audrey Cantika harus menandatangani perjanjian pernikahan yang dibuat secara sepihak oleh laki-laki berkuasa bernama Byakta Arsena.
"Lahirkan seorang anak untukku, sebagai tebusannya aku akan membayarmu lima miliar," ucap laki-laki itu dengan sangat arogan.
"Baik! Tapi ku mohon berikan aku uang terlebih dahulu, setelah itu aku akan melakukan apapun yang Tuan inginkan, termasuk melahirkan seorang anak," jawab Audrey putus asa.
Laki-laki itu mendengus saat Andrey meminta uang, ia berpikir semua wanita sama saja, yang mereka pikirkan hanya uang dan uang tanpa mementingkan harga dirinya.
Yuk ikuti terus!! ☺️☺️
Mohon bijak dalam memilih bacaan dan jika suka ceritanya silahkan tinggalkan like komen dan klik ♥️
Jika tidak suka bisa langsung tinggalkan, tanpa memberi komentar yang membuat penulisnya down 🙏☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifah_Musfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RLM bab 26
Mobil melaju dengan kecepatan maksimal, Byakta terus menggerutu setiap kali lampu merah menghentikan perjalanannya, ia sudah tidak sabar untuk sampai ke rumah.
"Melisa datang ke rumah, bibi Lauren memberitahuku tadi," ucap Bastian sambil menarik pedal gas dan mobil pun kembali melaju.
"Melisa? Siapa Melisa?" tanya Byakta acuh.
Bastian menoleh sejenak melihat raut wajah Byakta yang bisa saja saat nama Melisa disebutkan, bahkan laki-laki itu terkesan seperti orang yang tidak kenal.
"Kau tidak kenal Melisa?"
"Memangnya siapa dia, sampai aku harus mengenalnya!" jawab Byakta tetap acuh.
Laki-laki itu malah memeriksa ponselnya, siapa tahu Audrey menghubunginya lagi, tapi ternyata tidak.
"Dia mantan istrimu yang ke tiga, sialan!" jelas Bastian kesal.
"Oh, untuk apa dia datang ke rumah? Apa urusan kita belum selesai dengannya?"
"Entahlah, aku sudah mentransfer lima ratus juta untuknya. Jadi, seharusnya kita sudah tidak ada lagi urusan dengannya," jawab Bastian.
"Biarkan saja, dia. Aku tidak peduli dengannya," ujar Byakta.
Mobil pun sampai ke rumah, suasana tampak lenggang, Audrey yang biasanya duduk di gazebo depan, kini tidak nampak batang hidungnya.
Byakta dan Bastian masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah yang begitu luas.
Sesampainya di dalam, keduanya melihat Bibi Lauren sedang menenangkan Melisa, entah ada apa dengan wanita itu, ia tampak menangis tersedu-sedu.
Byakta yang memang tidak peduli dengan orang lain, sekalipun itu mantan istrinya, ia terus berjalan lurus menuju tangga hendak menemui Audrey.
Langkahnya terhenti kala bibi Lauren memanggilnya, "By, kemarilah. Ada yang ingin Bibi sampaikan pada mu,"
"Aku ada urusan penting dengan istriku, Bi. Aku akan kembali jika sudah selesai," sahut Byakta tanpa menoleh sedikitpun untuk melihat Melisa.
"Ini lebih penting dari apa pun saat ini," ucap Bibi Lauren tegas.
Byakta memutar bola mata malas, ia berbalik menghadap ke arah dimana Bibi Lauren berada. Ia melihat wanita yang bernama Melisa itu masih tersedu-sedu.
"Ada apa?" ucap Byakta cuek.
"Duduklah, ada yang ingin disampaikan Melisa padamu," titah Bibi Lauren tegas.
Byakta pun duduk, ia menyilangkan kakinya angkuh dan menatap malas wanita di hadapannya itu.
Wajahnya tampak berantakan, mata sembab, riasannya pun sangat kacau disebabkan air matanya.
"Katakan!" ketus Byakta yang mulai muak.
Dengan masih sesenggukan, wanita itu mencoba mengucapkan sesuatu dari mulutnya.
"S-saya hamil," katanya terbata-bata.
Byakta mengernyit heran, "lalu, apa hubungannya denganku?"
"S-saya hamil anak anda, Tuan," jelas Melisa.
Sementara Byakta dan juga Bastian terkejut mendengar penjelasan wanita seksi itu.
"Bagaimana bisa? Bukankah sudah jelas sebelum bercerai anda memang tidak hamil!" Bastian angkat bicara.
Kenapa bisa terjadi, ini mustahil, begitu batin Bastian berkata. Karena sebelum bercerai ia sudah memastikan kalau wanita-wanita itu memang tidak hamil atas perintah Byakta.
Ia tidak mungkin salah, selama ini ia bekerja dengan baik dan mendetail, satu saja kesalahan yang ia lakukan adalah membawa Audrey tanpa mencari tahu lebih dulu latar belakangnya.
"Tapi kenyataannya memang itulah yang terjadi, Tuan. Saya bisa memastikan kalau anak yang saya kandung, memang anaknya Tuan Byakta,"
Sementara di dekat tangga Audrey mendengar semuanya, gadis itu menutup mulutnya, ia tidak percaya dengan kenyataan ini, bagaimana bisa ada wanita lain yang mengaku mengandung anak suaminya juga.
Audrey mengelus perutnya yang masih datar, ia mulai berpikir akan bagaimana nasib anaknya nanti, sudah jelas wanita itu yang terlebih dahulu hadir di hidup Byakta daripada dirinya.
Byakta yang sejak tadi hanya diam pun angkat bicara "Berapa bulan kandungan mu?" tanya Byakta datar.
"Sudah empat bulan, Tuan," jawab Melisa tenang.
Bastian melihat sejak tadi memang wanita itu nampak tenang, seolah-olah memang ia ingin menunjukkan kalau tidak ada kebohongan dalam dirinya.
'tidak mungkin, ini pasti salah, aku yakin wanita ini ingin menjebak Byakta dengan kehamilannya itu, aku akan memastikan semuanya' Gumam Bastian dalam hati.
"Nona Audrey," ucap Bastian kaget.
Sejak kapan gadis itu ada disana dan mendengar semuanya? Batin Bastian.
Byakta langsung menoleh ke arah yang dituju oleh Bastian, dan benar saja, Audrey sedang berdiri disana dengan mata berkaca-kaca.
Karena semua orang sudah memergokinya, buru-buru ia berjalan naik ke tangga menuju kamarnya.
Tiba-tiba rasa bersalah kembali menyelimuti hati Byakta, dengan sigap ia langsung mengejar Audrey ke kamarnya.
Entah apa yang membuatnya seperti itu, tapi hatinya mengatakan kalau ia harus mengejar Audrey saat ini.
Tidak ada yang bisa menghentikan Byakta, begitu juga dengan bibi Lauren, ia membiarkan Byakta melakukan kewajibannya sebagai suami, yaitu mengejar istrinya yang kelihatannya sedang marah.