NovelToon NovelToon
Hati Sang Pewaris

Hati Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: La Lu Na

Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?

Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.

Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?

Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.

‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Matahari fajar dan senja sama-sama menampakkan sinar kekuningan. Tapi mengapa banyak yang menyambut fajar dengan semangat, sedangkan senja kadang dinikmati dengan santai. Itu karena setiap fajar, matahari terbit dengan harapan baru, sedangkan senja hadir kadang setelah kesempatan berlalu.

Setiap pagi itu sama, hanya esensinya saja yang berbeda. Karena ada harapan dan kesempatan baru setiap pagi. Seperti pagi ini. Dua orang gadis beda usia berboncengan dengan motor matic warna merah, keluaran perusahaan otomotif dengan brand ambasador pembalap ternama valentino rossi.

Berpacu kecepatan dengan pengemudi lain setiap pagi sudah menjadi kebiasaannya. Tapi ada yang berbeda dengan penampilan pengendara motor matic itu. Hari ini, selain memboncengkan gadis berseragam puih-abu, Ia juga memakai jaket parka warna biru elektrik. Warna kesukaannya. Dilihat dari warnanya yang masih cerah jaket itu sepertinya masih baru. Mungkin baru sekali ini Ia pakai.

Laju motornya terpaksa harus berhenti, ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Gadis yang memakai helm retro warna biru elektrik, senada dengan jaketnya itu berhenti tepat disamping sebuah mobil berwarna silver. Kedua gadis itu tetlihat berbincang, sambil meregangkan jemari tangan yang sedari tadi digunakan untuk memutar gas. Tidak jelas apa yang mereka bincangkan karena keduanya memakai masker.

Tin….

Suara klakson dari mobil disampingnya mengejutkan kedua gadis itu. Kaca mobil dibuka, menampilkan sosok wajah yang sangat mereka kenal. Pemilik mobil tersenyum sambil menunjuk jaket yang dikenakan si gadis. Walau sebagian wajahnya tertutup masker, pria tersebut tahu gadis itu sedang tersenyum karena sudut matanya berkerut.

Gadis itu mengangguk pelan, ketika melihat ada pria baruh baya yang duduk disebelah pengemudi mobil. Lampu lalu lintas sudah berubah hijau, gadis itu membunyikan klakson lalu memutar kembali gas. Meninggalkan dua pria di dalam mobil silver yang juga ikut melajukan kendaraannya. Keadaan lalu lintas yang padat, membuat pengemudi mobil itu kehilangan dua gadis yang berboncengan. Mereka sudah melesat jauh mendahuluinya, berebut jalan dengan pengemudi lain.

“Siapa, Tar? Kamu kenal mereka?” pria paruh baya yang duduk di kursi penumpang bertanya kepada pengemudi mobil silver. Irsyad, seorang dosen yang masih aktif mengajar di sebuah universitas swasta.

“Aneesha, Pa” menjawab tanpa mengalihkan fokus pada jalan raya didepannya yang penuh kendaraan.

“Anak sambungnya Fares?” tanya pria paruh baya yang tak lain adalah Papanya itu.

“Iya, Pa.”

“Kamu sering bertemu dengannya Tara? Dia kerja di kantor Ayahnya juga?”

“Tidak, Pa. Hanya sesekali, Dia pengajar honorer, tidak ingin ikut campur dengan usaha Pak Fares.” Tara menjawab dengan ekspresi datar.

“Oh ... Kupikir karena Dia sadar hanya sebagai anak sambung, tidak seperti kedua adiknya."

“Pa, Kami berteman sejak kecil. Bahkan sebelum Papa mengambilku dari panti. Pak Fares sudah banyak membantuku. Tidak ada salahnya kan, Tara membalas budi baik Pak Fares. Berteman dengan putrinya yang tidak punya banyak teman, dan Pak Fares tidak pernah menganggap Aneesha anak sambungnya. Beliau menyayangi tanpa membedakan.” walaupun Papanya tidak meminta penjelasan dari Tara, tetap saja pria itu ingin mengatakan isi hatinya untuk menyanggah perkataan Papanya.

“Kalian hanya sekedar teman, kan?” Danu menatap Tara, putra angkat yang selalu menurut apa perkataannya.

“Ya, hanya teman.” Tara menelan salivanya kasar, ada sesuatu yang tidak bisa Ia ungkapkan. Menjadi seorang anak adopsi, kadang harus membuatnya mengesampingkan keinginan demi berbakti kepada orangtua angkatnya.

***

Hari jum’at, bagi orang jawa merupakan hari keramat. Bagi sebagian orang ada yang mengatakan hari raya para penghuni surga. Bahkan ada sebagian para pelaku usaha yang menjadikan jum’at sebagai hari libur. Demi memberikan waktu untuk para karyawannya melaksanakan ibadah di hari jum’at.

Hari jum’at menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Karena banyak instansi yang memotong jam kerja karyawannya pada hari jum’at. Begitu juga dengan kantor milik Fares. Sudah sejak pertama kali Ia merintis usaha sampai saat ini, jam kerja karyawannya dihari jum’at hanya sampai jam 2 siang saja. Sedangkan hari biasa sampai jam 4 sore.

Karena pemangkasan jam kerja itulah, sebuah mobil berwarna silver sudah terparkir didekat pintu gerbang sebuah sekolah menengah atas milik sebuah yayasan ternama. Mesin mobil dalam keadaan mati, tapi pengemudinya masih duduk di kursi kemudi dengan kacamata hitam yang bertengger dihidungnya. Sudah sejak 15 menit yang lalu Ia disini, menyandarkan punggung pada sandaran kursi sambil mendengarkan musik yang diputar dari audio mobilnya.

Sekolah itu sudah dalam keadaan setengah sepi, hanya terlihat beberapa guru dan karyawan yang baru saja keluar dari pintu gerbang. Pria itu sedang memejamkan mata, sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi ketika pintu samping mobilnya terbuka.

“Nunggu lama, ya, Kak?” seorang gadis dengan setelan celana bahan dan baju batik, serta jilbab warna merah marun, masuk lalu duduk di kursi penumpang mobil tersebut.

Pria itu mengangkat kepala, lalu menegakkan posisi duduknya. Beberapa jam yang lalu pria itu menghubungi gadis ini, untuk menjemputnya. Padahal pagi tadi Ia tahu, gadis ini mengendarai motor, dengan santainya Ia meminta adik si Gadis untuk membawa pulang motornya.

“Lama ... banget. Rasanya sudah 17tahun, aku menunggumu, Sha.” menjawab sambil memutar volume audio yang terlalu keras tadi.

“Sejak kapan Kakak jadi lebay gitu?” gadis yang sedang melepas jaket dan tas ranselnya itu melirik pria disampingnya.

“Sejak tiap hari bersama Ayahmu selama lebih dari 8 jam.”

Gadis itu mencebik, tak membalas perkataan pria disebelahnya. Jaket dan tas ransel sudah berpindah ke pangkuannya.

“Mau kemana Kita?” mesin mobil dinyalakan, keduanya lantas memasang seatbealt. Kemudian mobil mulai melaju pelan, meninggalkan gedung sekolah tempat gadis itu bekerja.

“Kemana saja asal bersamamu ...."

“Tuh, kan. Anak sama Ayah sama saja, suka ngegombal tapi kalau digombalin nggak mau.”

“Ha ha ha ... makan dulu ya, Kak! Aku lapar, pengen makan mieayam bakso.” senyum mengembang di bibir gadis itu, kala berbicara makanan kesukaannya.

mobil melaju pelan di jalan yang tak terlalu lebar, bersama dengan beberapa motor yang dikendarai anak-anak usia sekolah. Tiap hari jum’at, anak-anak itu akan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler sesuai dengan pilihannya. Itulah yang menyebabkan guru cantik berjilbab merah marun ini tetap pulang sore, di hari jum’at. Karena Ia adalah salah satu pengampu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah ini.

Sebuah warung mieayam bakso yang terletak di sebuah ruko menjadi tujuan mereka. Warung ini berada di deretan pertokoan dengan jalan yang cukup ramai, Tara sedikit kesulitan untuk memarkir mobilnya. Beruntung tukang parkir disitu sudah kenal baik, karena memang warung mieayam bakso ini adalah langganan mereka.

“Mie ayam bakso dua ya, Bang.” Aneesha langsung memesan.

“Berdua aja, Mas Tara? Yang dua mana?” tanya abang penjual kepada Tara dan Aneesha yang baru saja masuk ke warung.

“Mana ada kencan berempat, Bang. Kencan ya, cuma berdua.” Tara menepuk bahu abang penjual, sedangkan Aneesha sudah mengambil tempat duduk dibangku yang kosong.

“Wah, jadian? Siap-siap amplop nih, sebentar lagi pasti ada yang nyebar undangan.” Canda abang penjual sambil terus sibuk meracik mieayam pesanan pembeli.

“Ck, nggak usah nunggu nyebar undangan Bang Ali. Sekarang aja kalau mau ngasih amplop Neesha terima dengan senang hati.” Aneesha ikut menanggapi candaan penjual mieayam bakso bernama Ali itu.

“Amplop kosong banyak tuh, Sha. Mau?” Bang Ali melirik Aneesha kemudian kembali sibuk dengan aktivitasnya.

Aneesha hanya mencebikan bibir, Tara sudah duduk didepannya sekarang.

“Mau minum apa?” Tanya Tara.

“Teh tawar aja deh, Kak. Kan aku dah manis” jawab Aneesha datar, sambil memainkan ponselnya. Tara terkekeh, kemudian memesan minum untuk mereka.

Warung ini tidak terlalu besar, tapi cukup ramai pengunjung. Karena memang rasanya yang enak dan penjual yang ramah, menjadi daya tarik tersendiri untuk warung ini. Tara dan Aneesha biasa makan disini, tentunya bersama Bima dan Lion.

“Sha!”  “Kak!” Tara dan Aneesha saling memanggil bersamaan, kemudian tertawa.

“Kamu dulu, deh.” Tara mengalah, mempersilakan Aneesha berbicara duluan.

“Kenapa kasih hadiah Aku jaket?” tanya Aneesha sambil meletakkan ponselnya di meja.

Tara tersenyum, “Aku sering melihatmu mengendarai motor tanpa memakai jaket.”

“Padahal debu dan asap knalpot dijalan itu nggak bagus kalau kena tubuhmu yang hanya terbalut kain seperti ini.” Tara menunjuk ujung lengan blose batik yang dipakai Aneesha.

“Oya? Aku nggak tahu Kita sering ketemu dijalan.” Aneesha tampak ragu, mengingat-ingat sampai keningnya berkerut.

“Sering, Sha. Kamu aja yang nggak sadar, pernah juga Kita berhenti bersebelahan di lampu merah.” Tara menarik tangan yang tadi berada diatas meja, memberi akses kepada karyawan warung untuk meletakkan pesanan minum mereka.

“Suka nggak, Sha? Aku salah pilih warna, ya?” Tara menautkan alisnya.

“Nggak, Kak. Aku suka koq. Warna kesukaan Aku banget, cuma agak kebesaran dikit. Tapi aku suka, makasih, ya, Kak.” Aneesha memberi senyum termanisnya, menunjukkan pipi cubby nya yang selalu merona jika tersenyum.

Pembicaraan mereka terhenti karena Bang Ali mengantarkan pesanan mereka. Segera mereka menuangkan kecap, saus dan sambel ke dalam mangkok berisi mieayam dengan butiran bakso diatasnya. Tak lupa pangsit sebagai pelengkap hidangan itu.

“Sha, boleh aku tanya sesuatu?” Ucap Tara sambil mengambil sumpit dan sendok kemudian mengelapnya dengan tissu. Ia menyerahkan sumpit dan sendok itu kepada Aneesha. Hal yang sudah biasa Ia lakukan jika makan bersama sahabat sejak kecilnya itu.

“Heemm… tanya apa Kak?” Aneesha menerima sumpit dan sendok yang diberikan Tara, kemudian mengaduk mieayamnya.

“Ehm… jadi Kamu pernah tinggal di panti? Ah, maaf bukan maksudku mengungkit masa lalumu. Tapi Aku penasaran.” Tara mengambil sumpit dan sendok untuk dirinya sendiri.

Aneesha terdiam, menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk mieayam. Kemudian meletakkan sumpit dan sendok, melipat kedua tangan diatas meja. Tara menatap mata bulat berwarna hitam milik gadis didepannya ini, yang sedang tersenyum.

“Kakak ingin aku ceritakan kenapa Aku bisa tinggal disana?” Aneesha mengatakannya tanpa beban.

“Kalau Kamu keberatan, Aku nggak maksa, koq.” Tara mengaduk mieyam, kemudian mencicipi kuahnya.

“Bunda dan Tante Gita bersahabat sejak kuliah, tapi setelah lulus mereka berpisah. Tante Gita kerja disini, sedangkan Bunda di jakarta. Dan ..., “ Aneesha menghela napas, lalu tersenyum.

Aneesha melanjutkan ceritanya,“Tante Gita yang bantu Bunda dapat kerjaan disini waktu hamil aku.”

“Sampai kamu lahir?” tanya Tara karena Aneesha menjeda ceritanya.

Aneesha menggeleng pelan, “Aku lahir di Magelang, Kak. Keluarga bunda disana. Kita pernah mampir kesana dulu sepulang dari muncak Merbabu.”

“Oh, ya. Aku ingat, rumah joglo dengan halaman luas?” Aneesha mengangguk membernarkan ucapan Tara.

“Saat umurku dua bulan, Mbah kakung meninggal. Lalu Bunda kembali lagi ke kota ini. Tapi kesulitan dapat tempat tinggal. Tau sendiri, kan. Gimana penilaian orang sama perempuan yang punya anak tanpa suami?” Aneesha menghela nafas lalu meminum teh yang asapnya masih sedikit mengepul.

“Bunda nggak sendiri, ada Bude Kirana sama Tante Gita yang bantu. Tapi waktu itu keadaan merekapun belum stabil. Belum lagi harus nyari pengasuh untukku karena Bunda harus kerja. Nah, waktu itu Bude Kirana minta tolong sama Nenek Salma.” Aneesha mulai melahap mieayam baksonya sedikit demi sedikit.

“Bu Salma Hamidah? Pengurus panti yang dulu?” tanya Tara, Ia juga sudah menikmati mieayam baksonya yang berwarna merah karena kebanyakan saus dan sambal.

Aneesha mengangguk, menyelesaikan kunyahannya. Kemudian melanjutkan cerita, “Sebenarnya Nenek Salma ingin Bunda dan Aku tinggal dirumahnya. Tapi Ia takut akan menimbulkan fitnah dari tetangga, karena nenek Salma punya seorang anak laki-laki yang masih bujang.”

“Pak Firman?” tanya Tara, wajahnya penuh keringat karena kepedasan. Dia mulai menangkap benang merah dari cerita Aneesha.

“He’em. Maka dari itu, Nenek Salma membawa Kami tinggal di panti.” Aneesha melahap sisa mie ayamnya yang tinggal separo.

Tara sudah lebih dulu menghabiskan miliknya, sekarang Ia sedang mengelap wajah yang penuh keringat dengan tissu, wajahnya merah karena kepedasan. Es teh dihadapannya sedikit lagi tandas.

“Aku penasaran, bagaimana Pak Fares dan Bu Riani bertemu.” Ucap Tara.

“Kapan-kapan Aku ceritakan, Kak.” Aneesha terus melahap isi mangkuknya, sampai hanya menyisakan sawi bagian batang saja. Ia memang tidak suka makan bagian batang sawi.

“Kenapa nggak cerita sekarang aja? Biar Kita lama disini.” Ucap Tara, sekarang Ia sudah meredakan sensasi terbakar di mulutnya karena kepedasan.

“Kalau sekarang bisa cepat tamat dong cerita ini, pembaca nggak penasaran lagi. ha ha....” Aneesha menjawab dengan kalimat yang aneh bagi Tara.

“Lho, kan malah bagus, kebanyakan pembaca seneng kalau baca cerita yang dah tamat. Males mereka nunggu on going.” Kini Tara juga ikut menanggapi dengan gurauan.

“Ya, nanti authornya nggak ada kerjaan dong, Kak. Authornya pengangguran kasihan, belum femes lagi.”

“Ha ha ha ... Kita lagi ngomongin apa, sih?” Tara tertawa dengan obrolan tak penting mereka.

“Nggak tahu, Kakak yang mulai.”

“Udah stop! Panas nanti kuping Dia” Tara menghentikan obrolah tidak penting, yang malah entah membahas apa.

“Yang pasti dulu Bunda itu kenal duluan sama om Firman, udah temenan lama malahan. Tapi ternyata Ayah yang nikahin Bunda, padahal mereka baru kenal dua bulan. Parahnya lagi yang siapin semua perlengkapan dari lamaran sampai resepsi Ayah sama Bunda ya Om Firman.” Aneesha terkekeh mengingat cerita Ayahnya waktu menikahi Riani.

“Wah, Pak Firman hebat. Jagain jodoh orang dong?”

“Nggak gitu juga, kali.” Aneesha melahap suapan terakhir mieayamnya, Kini isi mangkok mereka sudah sama-sama kosong.

Tidak ada beban saat Aneesha menceritakan masa lalu Bundanya kepada Tara, mungkin bagian cerita ini sudah bisa Ia terima. sehingga tidak membuatnya sesak ketika bercerita.

.

.

.

Bersambung......

Masih penasaran? Tahan.... tahan dulu, ya. Biar author ada kerjaan. Ha ha....

*Part ini harusnya Aku up kemarin, tapi karena Aku lagi sok sibuk, jadi baru sempat up hari ini. Maaf ya.... *

Nanti malam Aku up 1 part lagi.

Jangan lupa, Like, Komentar, dan rate ya..... makasih cintanya untuk Aneesha.....

1
Chalimah Kuchiki
siapa suamiiii jenarrr wweeeh
Chalimah Kuchiki
kami? kami siapa suami jenar.... mungkinkah pak hara
Chalimah Kuchiki
diganti sama pak hara kesayangankuuuu
Maria Kibtiyah
sesuatu yang di paksakan pada akhirnya pasti tidak bahagia ... menyesal pada akhirnya
Maria Kibtiyah
ica anaknya si tara
Maria Kibtiyah
kayaknya yg tunangan indira itu hamzah deh
Maria Kibtiyah
semua orang tau apa yang bakal terjadi sama tara dan aness kecuali aness
Maria Kibtiyah
tuh cewek apakah si maria .. hehe namaku juga maria😁
Maria Kibtiyah
pasti berhubungan sama ortu angkat si tara
Maria Kibtiyah
apa yg nelp si reyfan itu indira secara indira kan di prancis
Maria Kibtiyah
kayaknya bpk angkat si tara gak setuju deh
Chalimah Kuchiki
🤣 ya ampun adik kecil udh ga polos wkkw perasan aku dulu pas MP ga gini weh wkwk tetep malu2 akunya ga kaya aneesha
Chalimah Kuchiki
cie pak hara udh ngobrol aama jenar
Chalimah Kuchiki
sabar ya pak hara ada jenar dimasa depan
Chalimah Kuchiki
hadir enyong dari kebumen 🤭
Chalimah Kuchiki
2012-2018 aku di jkt sering bolak balik ke tangerang. karena punya temen cina benteng terus mainnya ke pasar lama tangerang. sekarang aku dibalikppn dari akhir 2018. ah jadi kangen pasar lama tangerang
Chalimah Kuchiki
dipasar lama dulu aku sering beli es podeng makan sambil ngemper di depan toko kosmetik
Chalimah Kuchiki
aku sih yes karo sama reyfan 🤭
Chalimah Kuchiki
mas tama ya tau bgt aku lah.... dia idamanku juga, perjuangan mendapatkan pocut dan icad
Chalimah Kuchiki
aku fans berat pak hara ❤️☝️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!