Dijebak oleh kakak tiri dengan seorang pemuda pada malam ulang tahun teman. Siapa sangka, orang yang satu kamar dengan dia ternyata seorang tuan muda yang paling berpengaruh di kota itu.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? Ikuti terus kelanjutan kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Keduanya terlihat sangat lucu dengan satu sama lain yang sama-sama tidak ingin mengalah. Pak sopir dan Hero hanya bisa saling pandang lalu saling melempar senyum.
"Dengar nih!"
"Iya, tuan muda. Katakan saja!"
"Papa minta kamu pindah rumah, karena dia pikir, kamu lebih baik tinggal di rumah dari pada di apartemen. Karena menurut papa, apartemen itu kecil."
"Tapi .... "
"Tunggu! Aku belum selesai bicara, Merlin."
"Oh, baiklah."
"Kamu pasti ingin mengingatkan aku soal apa yang sudah sama-sama kita sepakati, bukan? Tenang, Merlin. Papa minta kamu pindah rumah, bukan tinggal di mansion keluarga Prasetya. Jadi, tidak akan merusak apa yang sudah sama-sama kita sepakati."
"Maksud kamu?" tanya Merlin masih tidak mengerti dengan penjelasan Dicky yang panjang lebar barusan.
"Gini, papa minta aku ajak kamu pindah dari apartemen ke rumah yang baru dia beli."
"Apa? Papa mu beli rumah untuk kita tempati?"
"Iya."
"Tunggu! Kita? Apa kamu juga akan tinggal di rumah itu dengan aku?"
"Tentu saja tidak. Aku akan tetap tinggal di mansion. Selama aku dan kamu masih berstatus siswa, maka kita tidak akan tinggal satu rumah."
"Oh, syukurlah kalau begitu." Merlin berucap dengan nada lega. Anehnya, dalam hati dia merasa kecewa.
"Ya, kamu tenang saja. Hubungan kita akan tetap aman."
Tanpa terasa, mobil yang mereka tumpangi sampai ke tempat tujuan. Namun, keduanya masih sibuk ngobrol walau mobil sudah terparkir di tempat parkiran. Karena mereka sibuk ngobrol, mereka tidak menyadari hal itu.
"Mm ... tuan muda, nona muda. Kita sudah sampai," ucap Hero dengan nada sedikit takut.
"Apa? Sudah sampai?" tanya keduanya secara bersamaan.
"Ya, tuan muda, nona muda. Kita susah sampai sejak lima menit yang lalu."
"Hah? Sudah selama itu sampainya? Kenapa tidak bicara dari tadi?"
"Maaf, nona muda. Saya tidak enak hati."
"Tapi akhirnya, kamu bicara juga," kata Dicky dengan kesal.
"Maaf, tuan muda."
Ketika Merlin ingin beranjak turun, Dicky dengan cepat menahan tangannya. Hal itu membuat tubuh Merlin yang mungil sedikit terpental mundur kembali. Tubuh itu dengan bangganya menabrak tubuh Dicky. Yang membuat mereka berdua saling berpelukan dengan posisi mata yang saling tatap dengan jarak yang sangat dekat.
Mereka saling tatap cukup lama. Sampai akhirnya, bunyi dering ponsel menyadarkan mereka dari tatapan tersebut.
Sontak saja, Merlin beranjak dengan cepat menjauh dari Dicky. Sedangkan Dicky terfokus pada ponsel yang ada di tangannya saat ini.
"Halo, Pa. Ada apa?" tanya Dicky langsung setelah menggeser layar ponsel itu.
"Kamu di mana, Dic? Papa udah ada di depan rumah kalian nih?"
"Apa? Maksud papa gimana?"
"Papa sedang berada di rumah kalian. Rumah yang akan Merlin tempati nanti. Kamu di mana sekarang?"
"Di ... di apartemen, Pa."
"Ya ampun, Dicky. Kenapa kamu masih di sana sih? Bukankah papa bilang kalau hari ini, kita akan lihat rumah baru kalian."
"Maaf, Pa. Aku lupa. Aku akan ajak Merlin ke sana sekarang juga."
"Iya. Cepat! Papa tunggu."
"Iya, Pa."
Panggilan diputuskan oleh papanya. Dicky menatap layar itu untuk beberapa saat.
"Huh .... " Dia mengeluh pelan.
Dicky kembali mengutak-atik ponselnya dengan cepat. Lalu, terdengar suara seseorang dari seberang sana.
"Halo, tuan muda."
"Hero, minta Merlin untuk turun lagi. Bawa serta semua barang-barang miliknya turun ke bawah."
"Ada apa, tuan muda?"
"Papa minta aku ajak Merlin pindah hari ini juga. Aku malas berdebat dengan papa."
"Baik, tuan muda."
Merlin yang kebetulan berada di samping Hero, mendengar sekilas apa yang Hero dan Dicky bicarakan barusan. "Ada apa, Hero?" Merlin bertanya untuk memastikan apa yang dia dengar.
"Tuan muda minta nona turun sekarang. Tuan muda bilang, bawa semua barang nona ikut serta. Karena tuan besar ingin nona pindah ke rumah baru saat ini juga."
"Hah? Sekarang? Apakah tidak bisa nanti saja, Hero? Soalnya, aku sangat lelah sekarang."
"Maaf, nona muda. Itu perintah yang tuan muda katakan. Saya hanya mengikuti apa yang tuan muda katakan saja. Tidak berani membantah, nona."
"Ah, apa pedulinya aku sama perintah dari Dicky. Biarkan saja dia."
Selesai berucap, Merlin ingin beranjak meninggalkan Hero. Namun, dengan cepat Hero menahan tangan Merlin agar tidak jadi pergi.
"Tunggu, Nona. Saya mohon, tolong jangan persulit, tuan muda. Ini perintah dari tuan besar, bukan perintah langsung tuan muda."
"Apa maksud kamu, Hero? Bukankah, tuan besar yang kamu maksudkan itu papanya Dicky. Jadi .... "
"Nona. Hubungan antara tuan besar dengan tuan muda tidak terlalu baik. Jadi, tolong jangan menambah keruh suasana lagi."
Merlin tertegun. Sejujurnya, dia merasa sangat bingung dengan penjelasan yang Hero berikan. Tapi, dia tidak ingin menjadi penyebab kekeruhan lagi. Sudah cukup masalah yang dia timbulkan kemarin-kemarin itu.
"Baiklah. Tunggu aku ambil apa yang perlu aku ambil di dalam sana. Aku gak akan lama."
Merlin lalu meninggalkan Hero di depan pintu apartemen tersebut. Namun, tidak lama kemudian, dia keluar lagi dengan kantong plastik di tangannya.
"Sudah. Ayo pergi, Hero!"
"Baik, Nona muda."
_____
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam lebih, mobil yang Merlin tumpangi akhirnya sampai ke tempat tujuan. Itu adalah sebuah rumah megah dengan dua lantai. Berada di tengah-tengah keramaian perkomplekan elit jantung kota tersebut.
Namun, suasana rumah itu terasa sangat asri dan nyaman meski berada dalam perkompelakan. Karena lahan rumah itu sangat berbeda dari rumah lainnya. Rumah itu terasa sangat luas halamannya dengan ditanami berbagai pohon liar juga di kelilingi dengan taman di sekitar rumah.
Saat melihat rumah itu, Merlin tidak bisa berucap. Karena hatinya sangat mengagumi rumah indah nan sejuk tersebut. Matanya hampir tidak bisa berkedip karena mengangumi rumah ini.
"Bagaimana, Merlin? Apa kamu suka dengan rumahnya?" tanya papa mertuanya sambil tersenyum manis.
"Suka, om. Suka banget malahan."
"Om?"
"Eh ... itu .... "
"Panggil papa dong. Sama kayak Dicky manggilnya. Karena kamu sekarang juga sudah jadi anakku."
"Iy--iya, Pa. Papa, maaf."
"Nah, gitukan enak."
"Syukur deh kalo kamu suka. Rumah ini sudah papa beli sejak lama sebetulnya, hanya saja, tidak di huni."
"Papa awalnya berniat beli rumah baru buat kamu. Tapi, saat papa pikir lagi, jika beli rumah baru, maka tidak akan nemu yang kek gini lagi. Berada di tengah perkomplekan yang ramai, namun dengan suasana pedesaan. Kan gak akan ada jual langsungnya."
"Papa pikir, kamu cocok tinggal di tempat ini. Di tempat ramai, namun asri. Karena kamu anak perempuan yang masih muda. Kamu butuh tinggal di tempat seperti ini. Tidak jauh dari keramaian orang, namun berasa tenang karena pemandangan alamnya. Makanya, papa batalkan niat papa buat beli dan papa serahkan rumah ini buat kamu."
nikah muda ny
dpt jodoh putri cengeng lagi 😁😁😁
siapa dia...
wlu pun kau serang nyonya,
tapi kau terlalu Egois, ingin ter lalu mengatur hidup nak mu
picik sekali pemikiran mu
toh yg buat kepurltusan dan bunuh diri kan adek mu sendiri.
tich dicky blom nogmong ke adk mu.
kenapa hrs dicky yg di salah kan atas kematian ny .
uang 20 M, gak ada apa2 ny buat mereka...
ah..awaq wong misqin iki 100 rebu sdh sangat berarti 😁😁😁
klu hdp Meelyn bakal sengsara
dasar emak sana anak sama aja.
sama2 gak tau diri
ini lg papa Merlyn kok bisa nuta y mata hati ny, pada anak kandung Sendiri
target ny salah sasaran ..😀😀😀
malah bunuh diri 😱