NovelToon NovelToon
Dandelion

Dandelion

Status: tamat
Genre:Patahhati / Mafia / Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:65.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lilaura Callisto

[Judul sebelumnya: Highest Life]

Taufan Ravael, seorang pemuda yang selalu menebar senyum dan keceriaan pada orang orang di dekat nya. Setidaknya itu yang orang lain lihat dari nya, tanpa mengetahui jika itu hanyalah topeng belaka.

menyembunyikan duka dan rasa sakit karena kehilangan kedua orang tua nya, dan menghabiskan 6 tahun hidupnya tanpa kasih sayang.

Orang tua nya meninggal akibat kebakaran di rumah nya dan kedua saudara nya membenci nya sejak saat itu.

Harus terus bertahan melawan penyakit yang semakin lama kian menggerogoti dirinya, apa Taufan bisa terus bertahan dan kembali mendapatkan kebahagiaan dan kehangatan keluarga seperti apa yang selalu ia impikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilaura Callisto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Rapuhnya Sang Pengumbar Tawa

Gelapnya malam menyelimuti bumi, mengganti cerahnya langit biru siang tadi. Ratu malam hadir menggantikan sang raja yang pergi membagi kehangatannya pada belahan bumi lain. Purnama yang kala itu berkuasa dengan mempesona menerangi salah satu kota kecil yang beranjak terlelap.

Dalam sepi, suara deru motor terdengar memasuki kompleks perumahan di kota kecil itu. Putaran rodanya berhenti sempurna ketika mencapai halaman di sebuah rumah. Lampu sorotnya padam seketika saat lelaki berbalut hoodie hitam bercorak merah itu mematikan mesin.

"Ugh, sepertinya beberapa hari terakhir ini aku terlalu memaksakan diri. Aku sampai harus pulang malam terus." Keluhnya sembari memijat pundak nya yang terasa kaku.

Yah, semua tahu. Putra sulung dari keluarga Ravael itu kini menjadi tulang punggung keluarga, sekaligus memainkan peran sebagai orang tua bagi kedua adiknya. Dengan kesibukan mengurus pendidikan juga rumah tangga, tentu tak mudah baginya yang baru menginjak umur 21 tahun itu untuk mengerjakan segala hal. Terlebih kehidupan yang ia hadapi mulai terasa rumit.

Belum sempat ia memasukan motornya ke garasi, ia dikejutkan oleh teriakan yang disusul dengan suara pecahan benda. Ia mendongak, kedua netra ruby nya mendelik ke arah balkon, tempat dimana kamar Taufan berada. Ia yakin suara itu berasal dari lantai dua rumahnya.

Darahnya mendesir cepat seiring perubahan suasana hati yang mendadak tegang. Ototnya bergerak reflek, ia melesat cepat masuk ke rumah menaiki anak tangga, sebelum pada akhirnya ia mencapai kamar adik pertamanya. Ruangan itu tertutup dan keheningan disekitarnya membuatnya semakin khawatir.

"Sial, terkunci!" Geramnya ketika menyadari pintu itu dikunci dari dalam.

Tok Tok Tok!

"Buka pintunya, Taufan!"

Hali menggedor pintu itu tak sabar, sekian detik ia menunggu seseorang untuk keluar namun pintu berwarna biru itu tak kunjung terbuka.

Tok Tok Tok!

"Taufan!? Hei, apa yang terjadi?"

Berkali-kali ia memanggil penghuni ruangan itu, namun tak ada jawaban. Kini pikirannya dibayangi akan hal hal buruk yang mungkin terjadi pada Taufan. Untuk sesaat ia mengesampingkan egonya, membiarkan logikanya mengambil alih. Melupakan sejenak masalah yang membelitnya.

Tok Tok Tok!

"Taufan kau baik-baik saja? Jawab aku! Hoy! Argh sial!" Hali berdecak kesal, lebih terdengar frustasi. Kesabaran si sulung itu habis, kecemasan membuatnya semakin emosi. Ia tak bisa lagi menunggu sampai seseorang di dalam membukakan pintu.

Ia mengambil jarak, diambilnya ancang ancang untuk mendobrak pintu bercat biru itu.

BRAK..

"Argh! Sial, ternyata keras juga." Ujarnya sembari menahan sakit di lengan kirinya. Baru kali itu ia merasa ilmu bela diri yang pelajarin ya tak berguna melawan pintu di hadapan nya. Meski begitu, ia tak bisa berhenti. Ia yakin sesuatu yang buruk sedang terjadi pada adiknya. Ya, perasaannya mengatakan demikian.

BRAK..

BRAK..

Dua tiga kali ia gagal. Emosinya mencapai puncak, pintu itu tak kunjung terbuka sementara lengannya sudah nyeri tak karuan. Akhirnya ia memilih untuk menendang pintu itu sekuat tenaga hingga penguncinya lepas.

BRAK..

Hali terkesiap, sepasang ruby itu membulat sempurna mendapati ruangan itu kacau balau.

Barang barang berserak, beberapa diantaranya pecah tak berbentuk, hingga pandangannya jatuh pada sosok Taufan yang bersimpuh di lantai. Tangan kanannya menggenggam pecahan kaca yang kini mengarah pada pergelangan tangannya.

"A-aku sudah tidak bisa hidup lagi."

Kata itu terdengar lirih namun berhasil mencapai pendengaran seseorang yang terpaku di ambang pintu.

Hali langsung menepis benda tajam itu dari tangan Taufan, berusaha menyingkirkannya benda tajam yang nyaris menyayat nadi adiknya itu sejauh mungkin.

Plak...

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Taufan. Bekas telapak tangan nampak kentara di wajah pucat itu, membekas merah dan perih.

"Apa yang kau lakukan!?" Seru Hali tak habis pikir.

"...Kak-Hali?" suara parau itu lirih terdengar.

Detik itu, jantung Hali terasa seolah tertusuk ribuan jarum saat melihat sosok menyedihkan dihadapannya. Pandangan yang kosong, jejak air mata masih membekas di pelupuk mata, kulit yang terasa dingin, juga beberapa luka yang muncul di tubuhnya akibat pecahan kaca masih nampak mengeluarkan darah segar.

Entah ia harus berkata apa. Hali seolah ditampar kenyataan pedih dan perlahan meruntuhkan sisi keras hatinya.

"Kenapa kau lakukan ini?" Hali melunak, memandang sendu sosok adiknya yang nyaris meregang nyawa.

Perlahan sisi kemanusiaan Taufan kembali. Cairan bening kembali menyelimuti iris blue sky miliknya, menggenang dan perlahan turun, jatuh melewati pipi.

"A-aku.. Hiks.. Aku yang sudah membunuh ayah dan ibu, hiks.. A-aku selalu menyusahkan kak Hali. Hiks, aku membuat Ken menangis,-hiks... aku kakak yang tidak berguna. Hiks.. Hiks.. dan sekarang temanku meninggal juga karena aku.." Ia memberi jeda, nafasnya mulai tak beraturan dan pandangannya semakin buram.

"J-jika saja aku tidak terlahir di dunia ini, ayah dan ibu tidak akan meninggal. Hiks.. Kalian bisa hidup bahagia bersama mereka. Yuki juga, dia tidak akan meninggal secepat ini..." Ucap nya kian menjadi.

"Kalau kehadiranku membuat orang lain menderita dan malah meninggalkan aku, UNTUK APA AKU HIDUP?!" Taufan berteriak, tangisannya pecah seketika. Ia terlihat seperti kehilangan akalnya. Jiwanya terguncang, tubuhnya gemetar hebat.

Wajah pucat itu sudah dihiasi oleh air mata.

"Aku takut.. Aku takut sendirian.. Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi. Lebih baik aku mati daripada melihat orang-orang yang aku sayangi menderita dan pergi meninggalkan aku!"

Hali benar-benar tertohok mendengar penuturan Taufan. Ia tak memahami beban berat yang selama ini Taufan tanggung seorang diri, hingga mencapai batasnya dan berniat untuk mengakhiri hidupnya.

Ini karena dirinya.

Ini salahnya.

Grep..

Kedua tangan Hali meraih tubuh kecil itu, membawanya dalam dekapan hangat. Memberikan sentuhan lembut untuk menenangkan adiknya. Bisa ia rasakan deru nafas Taufan yang tak beraturan, jantungnya berdegup cepat.

"Tidak ada yang menderita karena mu. Kematian ayah dan ibu itu sudah takdir, begitu juga dengan seluruh kehidupan di dunia ini. Kau tak perlu menanggung perasaan itu lagi. Maafkan aku yang tidak ada di sampingmu di saat saat tersulit dalam hidupmu. Harusnya aku lebih memperhatikanmu. Maafkan aku-yang sudah menelantarkan mu selama ini. Ini semua salahku. Maaf maafkan aku."

Dalam diam air matanya jatuh, penyesalan dan rasa bersalah membuatnya tak sanggup lagi merangkai kata. Hanya ucapan maaf yang berkali-kali ia sampaikan atas keegoisannya selama ini. Ia sudah gagal menjadi seorang kakak. Ia semakin mengeratkan pelukannya, tak akan lagi membiarkan sosok dalam dekapannya itu sendirian lagi

Malam itu Taufan menangis meraung-raung dalam pelukan sang kakak. Menumpahkan semua air mata, kesedihan, ketakutan dan luka yang selama ia pendam seorang diri. Semua beban mengalir bersamanya. Lelah yang menyelubungi pikiran, hati juga tubuhnya membuat manik blue sky itu dipupuk kantuk hingga akhirnya mata itu terpejam. Ia terlelap dalam pelukan hangat dari sosok kakak yang selama ini ia rindukan.

Hali memastikan Taufan telah tertidur sebelum melepas pelukannya dan membaringkannya di tempat tidur. Belum pernah ia dapati kondisi Taufan yang menyedihkan seperti ini. Pemandangan itu menyayat hati, luka yang didapat Taufan dari perkelahian. kemarin belum sembuh sama sekali, kini bekas sayatan pecahan kaca menambah luka baru di tubuh adiknya.

Tangannya meraih benda di atas nakas, sebuah kotak obat yang semalam ia gunakan untuk merawat luka Taufan. Dan malam itu ia melakukan hal yang sama, mengobati dengan perlahan dan membalutnya dengan hati-hati.

Hali mendudukkan dirinya di sisi ranjang, menatap wajah Taufan yang pucat. Satu tangannya terulur, jemarinya sedikit menyilakan surai hitam yang agak basah akan keringat. Mengusap lembut sisi wajah Taufan, lalu beralih ke ujung mata itu yang menyisakan jejak air mata. Bahkan dalam lelapnya pun Taufan nampak tak tenang, ekspresinya menyiratkan kesedihan mendalam dan penderitaan.

Ia tak tahu apa yang dirasakannya, menyaksikan adiknya dalam keadaan. seperti ini. Sedih? Iba? Sesal? Barangkali semua.

Iris ruby itu berkaca, sebuah anak sungai kembali mengalir dari pelupuk mata. "Apa yang sudah aku lakukan?"

Isak tangis perlahan terdengar mengisi ruangan itu. Hali terlarut dalam perasaan bersalahnya. Belum pernah sekalipun ia jumpai versi terlemah adiknya seperti ini. Sebelumnya, ia tak pernah peduli tentang perasaan Taufan, tentang apa dilakukan adik pertamanya itu, entah memberontak, mengamuk bahkan menangis sekalipun. Karena ia tak lagi menganggapnya sebagai saudara, hanya sekedar orang asing yang hidup bersamanya.

Namun setelah ia tahu segala hal tentang Taufan, mendengar tangisan pilunya dan beban berat yang selama ini ditanggungnya seorang diri, hatinya menjadi sakit. Sangat sakit sampai terasa sesak.

Meski ia yakin, rasa sakit yang Taufan rasakan jauh lebih besar dibandingkan dirinya. Taufan bukan hanya kehilangan kedua orang tuanya, ia kehilangan kasih sayang keluarga, ia kehilangan harapan, dan baru-baru ini ia kehilangan orang-orang yang di sayang nya. Rasa bersalah itu mengisi setiap sudut di rongga hati Hali. Mengoyak perasaan yang dulunya membeku. Ia merutuki segala keegoisan nya selama ini.

Ketika malam semakin larut, Taufan bergerak gelisah, wajahnya kian memucat dan rintihan kecil lolos dari bibir yang agak kering itu. Nafasnya yang terengah engah terhembus panas dan berat. Suhu tubuhnya meningkat drastis. Keringat dingin menguncur deras membasahi keningnya. Di sela rintihannya, ia meracau dengan mengatakan kata maaf berulang kali.

Saat ini bukan hanya fisik Taufan yang sakit, namun psikisnya pun sedang tidak baik. Kondisinya membuat Hali cemas, sepanjang malam Taufan terus meracau dan menyebut nama orang-orang yang telah meninggalkannya.

"Yuki... A-yah ibu maafkan aku.. Hiks.." rintih Taufan dalam tidurnya. Bahkan air matanya kembali jatuh meski ia tak sadarkan diri.

Hatinya hancur melihat keadaan adiknya yang lemah dan ketakutan. Ia masih ingat Taufan yang dulu, yang sering sekali bercanda, menertawakan hal-hal kecil dan menyikap dunia dengan riang.

Tangan dingin itu digenggamnya. Kini ia sadar bahwa ia tak membenci adiknya. Ia mulai kembali menerimanya, menghapus segala kebencian dalam hatinya dan mulai menyisihkan tempat untuk adiknya.

"Maafkan aku ...Taufan."

Semalaman tubuh Taufan menggigil diserang demam, dan selama itu juga Hali terjaga untuk merawatnya. Ketika hari mulai pagi, ia baru menghubungi dokter Tadashi yang merupakan dokter keluarga sekaligus sahabat mendiang ayah mereka.

Beliau sempat terkejut mendapati kondisi Taufan yang terluka nyaris di sekujur tubuhnya, sampai mempertanyakan apa yang terjadi padanya. Ia mulai memeriksa denyut jantung, tensi darah dan pernapasan Taufan sembari mendengar penjelasan Hali. Kemudian ia mengambil sebuah suntikan, memasukan suatu cairan ke pembuluh darah Taufan.

"Bagaimana keadaannya?" Nada keraguan terdengar dalam pertanyaan Hali.

"Sepertinya dia terlalu tertekan dan banyak pikiran, traumanya membuatnya depresi sampai sampai kondisinya drop. Ditambah kondisi fisiknya yang memang tidak bagus, ini memperparah kondisinya. Akan lebih baik jika dia dirawat di rumah sakit." Saran pria paruh baya itu sembari menyimpan stetoskopnya.

"Aku nggak mau." Suara parau yang terdengar pelan itu menciptakan keheningan. Sorot matanya menatap Hali lemah, "Jangan bawa aku ke rumah sakit. Ngga mau." Bisik nya setengah memohon. Taufan baru saja terbangun dan sosok yang pertama kali menebus retinanya adalah kakaknya.

Hali tercekat saat menatap mata biru itu berkaca-kaca, seolah ia benar-benar memohon untuk tidak membawanya ke tempat itu. Hali luluh, ia tersenyum lembut, "Yah, aku tidak akan membawamu ke rumah sakit. Dokter bisa berikan resep obatnya? Aku yang akan merawatnya."

Dokter itu menghela nafas panjang, kemudian ia mengambil secarik kertas, "Baiklah, kau bisa membeli obat ini di apotek. Sepulang kerja nanti aku akan mampir lagi untuk mengecek kondisinya. Pastikan dia istirahat penuh dan jangan biarkan dia terbebani oleh pikirannya."

"Ya, terima kasih banyak."

Beberapa saat setelah Taufan sadar, matanya kembali terpejam. Nafasnya mulai teratur dan denyut jantungnya kembali normal, sepertinya obatnya mulai bekerja.

"Aku sudah memberinya obat penenang, untuk saat ini biarkan dia istirahat. Dan Hali, ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Bisa kita bicara di luar saja, agar dia tidak terganggu."

"Tentu.."

Hali dibuat tercengang oleh penjelasan dokter Tadashi. Bagaimana tidak? Penyakit Taufan juga semakin parah, mengetahui adanya bakteri penyebab pneumonia yang kini bersarang di paru-paru Taufan. Hal itu membuat Taufan merasa tersiksa bahkan dalam setiap tarikan nafas jika sedang kambuh.

Kenyataan pahit itu menamparnya dengan begitu keras. Lidahnya kelu sampai tak sanggup berkata lagi. Ternyata keadaaan Taufan lebih buruk dari kelihatannya.

"Kuatkan dirimu Hali, kau harus lebih tegar dari adikmu. Saat ini yang paling dibutuhkannya adalah dukung. Mulai sekarang rawatlah dia dengan baik." Pesan dokter Tadashi sebelum meninggalkan kediaman milik mendiang sahabatnya itu.

Nafasnya memburu, dadanya terasa sesak, perasaan sungguh ini sangat menyiksa batinnya. Kini yang tersisa hanya sosok Hali yang membekap mulutnya sendiri karena tangisnya.

"Sial! Aku juga tidak mau kehilangan lagi. Maaf... Taufan..."

TBC

1
Ayasha sakura
Luar biasa
diliat doang kagak di baca
ohhh... lagu ini toh....
diliat doang kagak di baca
w-w-what? bla-Black card?! wawwwwwww
diliat doang kagak di baca
Ciee.. hali ciee
diliat doang kagak di baca
Nama panjang hali siapa?

hali ravael? atau halilintar ravael?
diliat doang kagak di baca
Kau malah ngedoa in nya hal 🤣
diliat doang kagak di baca
ohh... ini om nya yg di luar negeri itu kan?
diliat doang kagak di baca
sabar khai... sabar... walaupun kau seperti menjadi obat nyamuk
diliat doang kagak di baca
waduh... sejata makan tuan pula nih
diliat doang kagak di baca
waduh mervin... kau belum kapok?
diliat doang kagak di baca
akhirnya datang!!
diliat doang kagak di baca
wahh.. sama yasha, kita sama-sama anak tunggal
diliat doang kagak di baca
ini udah kek kelihatan perpus istana
diliat doang kagak di baca
jadi arga adiknya khai? waw..
diliat doang kagak di baca
ku kira hali itu cewek
diliat doang kagak di baca
lah aku baca ini jam 23.42🙂 itu bukan begadang.... aman.. itu karna ada acara dirumah... jadinya lambat tidurnya
diliat doang kagak di baca
lidah arga sungguh fasih ya
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Marzina Wertani
Ya ampun ni orang sinis banget dah, Weh! liat dulu kemampuan Taufan baru berkomentar, bukannya langsung menanyakan hal yang membuat kepercayaan orang bisa done.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Marzina Wertani
Nampaknya ia begitu mudah Care dengan orang lain, dan Taufan terlihat cukup mudah percaya dengan orang yang tipikel sepertinya.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Marzina Wertani
Ya ampun Taufan pasti ketiduran cukup lama, bagaimana ia bisa sampai ke sekolah tepat waktu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!