Pengumuman! sedang masa di revisi dari bab 85
Maaf, atas ketidaknyamanannya, mungkin akan ada pengubahan jalan ceritanya, terima kasih
Bagaimana jadinya ketika seorang wanita Mafia bertukar tubuh dengan seorang gadis SMA yang merupakan kekerasan sekolah, tak hanya itu gadis itu juga merupakan putri dari cinta pertamanya? Akankah dia bisa menjalani kehidupan itu? Dan membantunya membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya? Simak kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xianyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
" Hai. " sapa Sang malaikat maut seraya melambaikan tangannya dengan muka tanpa dosanya membuat Ruksa ingin sekali meninju wajah itu dan menjadikannya bubur, lalu ia berikan pada hewan anjing.
Namun, ia harus menahannya, sebab ia tak mungkin membuat keributan dan menghancurkan ken- acara keluarganya bersama ayah Dania. Meski sebenarnya sudah hancur sejak kedatangan makhluk itu.
Sebisa mungkin ia menenangkan diri dan menganggap bahwa makhluk itu tak pernah ada. Memfokuskan matanya pada film yang masih berlangsung itu.
Akan tetapi, seakan ingin menguji kesabarannya, makhluk yang menyebutnya dirinya itu sebagai malaikat maut itu, tertawa terbahak-bahak, menjerit tepat di samping telinganya, tak hanya itu saja, bahkan kerena tubuhnya yang tak bisa diam itu membuat popcorn yang dipegangnya menjadi berhamburan kemana-mana.
Kini kepala Ruksa telah penuhi oleh popcorn milik sang malaikat maut. Kedua tangannya menggenggam erat ujung bajunya, salah alisnya berdenyut. Menahan amarah yang sudah terbendung di dalam dirinya.
Namun semakin ia menahan amarahnya, semakin menjadi pula sikap makhluk itu membuat Ruksa tak bisa menahannya lagi, ia pun menoleh seraya mendelik tajam.
" Bisa diem nggak? Dan juga lo ngapain di sini? " tanya Ruksa dengan sedikit berbisik.
Mahkluk itu mengusap air matanya akibat terlalu banyak tertawa ia pun menoleh pada Ruksa, dalam hitungan detik raut wajahnya berubah menjadi dingin. " Ay lagi salto, ya nonton lah masa itu dua mata nggak bisa lihat dengan jelas. Makanya kalau pake kacamata jangan yang tebal-tebal jadi nggak bisa lihat dengan jelas kan." Sarkasnya
" Bukan itu yang gue maksud tapi . . .
" Dek tolong jangan berbicara, ganggu orang lain yang lagi ketawa." Sela salah satu penonton yang berada di belakang kursinya.
Dahi Ruksa mengernyit, dan melihat ke sekeliling dan mendapati bahwa semua orang yang berada di bioskop tengah tertawa terbahak-bahak termasuk ayah Dania, bahkan makhluk itu pun ikut tertawa. Hanya dirinya seorang yang tidak tertawa sama sekali.
Ia pun melirik layar yang menunjukan peran protagonisnya tengah dikerubungi oleh ratusan kecoak.
Bukannya ingin tertawa, Ruksa malah ingin memuntahkan semua isi perutnya.
Namun, Karena tak ingin menambah masalah, ia pun hanya bisa melontarkan kata maaf seraya tertawa canggung, lalu kembali menatap layar yang masih memperlihatkan sang protagonis dengan ratusan kecoak di tubuhnya.
Lucu dari mananya anjir? batinnya.
Setelah film itu selesai, perut Ruksa tak bisa berhenti bergejolak, seakan-akan isi perutnya bisa keluar saat itu juga, bahkan rona di wajahnya sudah pucat pasi.
Ruslan yang menyadari hal tersebut menjadi panik dan menawarkannya untuk pergi ke rumah sakit.
Akan tetapi, Ruksa menggelengkan kepalanya seraya melambaikan tangannya dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan hanya butuh ke toilet saja.
" Kamu yakin tak perlu ke rumah sakit? "
" Sangat yakin. "
Ruslan pun menghembuskan nafasnya, tangannya mengelus puncak kepala putrinya. " Jika ada sesuatu kamu bisa hubungi ayah, kalau begitu ayah akan menunggu mu di sana. " ujarnya seraya menunjuk ke arah sebuah restoran cepat saji.
*
Setibanya di kamar mandi, degup jantung Ruksa masih tak berhenti berdebar, bahkan rona merah sudah menjalar di kedua pipinya. Kini rona di wajahnya sudah menyerupai sebuah tomat.
Ruksa sadarlah, tenangkan dirimu. Jangan bersikap berlebihan.
" Cie~ yang lagi jatuh cinta. Tapi perlu Ay ingatkan bahwa yu.. .
" Iya tahu, ngomong-ngomong. Lo ngapain di sini? Jangan bilang kalau Lo juga lagi menikmati malam mingguan. "
" Kalau iya kenapa? Lagi pula nggak ada aturan bahwa malaikat maut di larang malam mingguan. "
Mulut Ruksa pun hanya bisa menganga lebar mendengar pernyataan yang sangat sulit di terima oleh kedua telinganya. Karena kepalanya masih terasa pusing ia pun memilih untuk tidak meladeni makhluk itu, dengan pergi meninggalkannya yang masih sibuk merias diri.
Langkah Ruksa pun terhenti dan menatap makhluk itu sejenak lalu menggelengkan kepalanya heran, tingkahnya sudah seperti remaja yang sedang di mabuk cinta.
Karena hari sudah malam, dan besok dirinya dan ayah Dania harus membuka toko, keduanya akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun di tengah perjalanan mereka di hadang oleh sekelompok geng motor.
" Serahin uang lo, atau nyawa lo yang akan melayang. " ujar salah satu seorang remaja yang berusia sekitar 16 tahun, yang merupakan ketua geng kelompok itu. Salah satunya memegang sebuah celurit yang di arahkan pada Ruslan.
Tak ingin timbul masalah yang tidak di perlukan. Dengan patuh, Ruslan pun mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan seluruh uang yang di milikinya.
Meski begitu, remaja itu tampak tidak puas dengan uang yang di berikan oleh Ruslan, dia pun memintanya untuk menyerahkan sepeda motor butut miliknya
Namun kali ini Ruslan menolak, sebab kendaraan itu merupakan saksi bisu bagaimana ia bisa melewati berbagai cobaan kehidupan hingga sekarang.
Karena tak menuruti keinginan dari mereka. Anak remaja itu pun langsung menyerang Ruslan dengan celurit tangannya, akan tetapi, karena tak memiliki kemampuan dasar, serangan yang di layangkan itu meleset. Dan berakhir dengan tubuhnya yang di banting ke tanah.
Anak remaja itu pun meringis kesakitan memegangi pinggangnya.
" Lo semua kenapa pada diam?! Cepat serang pak tua itu. " teriak remaja itu.
Seketika para bawahannya menyerbu Ruslan secara bersamaan.
Bukannya takut, ayah Dania malah menyeringai dan menyuruh putrinya untuk berada tepat di belakang punggungnya.
Dengan tenangnya, Ruksa menuruti perkataan ayah Dania, ia pun terduduk di atas sepeda motornya seraya melihat pria itu yang tengah beraksi.
Sepertinya, mereka memilih korban yang salah, sebab, pada masa SMA. Ruslan di beri gelar anjing gila, di mana ia tak akan melepaskan mangsanya. Tak ada siapa pun yang bisa menghentikan amukan pria itu termasuk dirinya.
Pria itu sering kali terlibat tawuran dan sering kali ia memenangkan tawuran tersebut, sebagian orang memanggilnya raja dari segala raja, karena mampu menaklukkan beberapa sekolah hanya seorang diri.
Tanpa membutuhkan waktu lama, pria itu bisa membereskan sekelompok remaja itu, dia pun merogoh ponselnya dan memanggil polisi.
Akan tetapi, ekspresi wajah pria itu tiba-tiba berubah, Ruksa yang masih terduduk terheran-heran melihat pria itu berlari kearahnya dengan raut yang sulit di artikan.
Karena penasaran, ia pun menoleh ke belakang dan mendapati salah satu mereka tengah mengayunkan sebuah tongkat baseball ke arahnya, karena jarangnya yang dekat membuat Ruksa tak bisa menghindari pukulan itu, ia pun hanya bisa memejamkan kedua matanya.
Dugh!!
Perlahan, Ruksa pun membuka kedua matanya dan mendapati ayah Dania yang tengah memeluknya, menjadikannya tameng dari pukulan itu.
Darah pun menetes ke wajah Ruksa, membuatnya yang melihat tersebut menjadi geram dan ingin membunuh pria remaja itu.
Namun siapa sangka bahwa hantaman itu tak membuat Ruslan ambruk, dan malah sebaliknya. Sorot matanya menjadi gelap, tangannya mengepal lalu melayangkan tinju itu pada wajah sang remaja hingga membuat remaja itu pingsan.