Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Ilusi di Kedalaman Nol
Sentuhan di bahu Alana terasa seperti ribuan jarum es yang ditusukkan sekaligus ke sarafnya. Ia berbalik dengan gerakan kilat, energi indigo meledak dari telapak tangannya secara naluriah untuk menciptakan jarak aman. Namun, sosok yang berdiri di hadapannya di tengah kota karang yang berpendar redup itu bukanlah Elin yang ia kenal di bawah cahaya mercusuar.
Sosok itu memiliki wajah Elin, struktur tulang Elin, bahkan bekas luka kecil di pelipis kiri yang didapatnya saat membantu kakek Surya memperbaiki atap menara sepuluh tahun lalu. Namun, kulitnya berkilau perak seperti sisik ikan laut dalam yang licin, dan matanya tidak memiliki pupil hanya dua kolam cairan hitam pekat yang memantulkan cahaya indigo Alana dengan cara yang sangat mengerikan. Ia tampak seperti patung lilin yang dipahat dari duka dan air garam.
"Elin?" bisik Alana, suaranya terdengar berat dan terdistorsi oleh tekanan air yang luar biasa di luar dinding transparan kota itu.
"Elin yang kau kenal sedang beristirahat, Alana," suara itu keluar tanpa gerak bibir sedikit pun, merambat melalui getaran molekul air di sekitar mereka seolah-olah ruangan itu sendiri yang sedang berbisik. "Aku adalah memorinya yang telah disempurnakan. Aku adalah versi Elin yang tidak akan pernah menahan mu. Elin yang akan bersatu denganmu untuk menghancurkan perbatasan dimensional yang diciptakan kakekmu yang pengecut."
Alana mundur selangkah, guratan emas di lengannya berdenyut panas, memberikan sinyal peringatan yang membakar. Ia merasakan kegelapan yang hampa dari sosok di depannya. "Kau bukan dia. Elin tidak pernah menginginkan kehancuran. Elin mencintai tanah Nagasari, ia mencintai aroma kopi pagi dan suara angin di pohon pinus. Kau hanyalah bangkai frekuensi yang mencoba menirunya!"
Sosok tiruan itu tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan lempeng tektonik di dasar bumi. "Tanah Nagasari adalah kebohongan besar, Alana. Nagasari hanyalah laboratorium di atas awan, sama seperti tempat ini adalah laboratorium di bawah air. Kita semua hanyalah variabel dalam persamaan Surya yang belum selesai. Dan sekarang, variabel itu harus diselesaikan melalui kehancuranmu."
Di Ruang Isolasi – Jantung Leviathan
Elin yang asli terperangkap di dalam sebuah kapsul kristal yang dialiri cairan biru gelap yang sangat kental dan berminyak. Ia bisa melihat Alana melalui dinding transparan bangunan utama, namun ia tidak bisa mengeluarkan suara. Setiap kali ia mencoba menggerakkan ototnya, cairan itu menyedot energinya, mengubahnya menjadi arus listrik statis yang dialirkan ke arah gerbang raksasa di tengah kota.
"Lihatlah, Elin," Silas berdiri di luar kapsul, menatap layar monitor dengan pandangan rakus. "Gadis itu sedang memberikan seluruh cahayanya pada tiruan yang kami ciptakan. Semakin dia marah, semakin besar energi langit yang ia lepaskan. Dan energi itu... itulah kunci frekuensi tinggi yang kami butuhkan untuk menjebol segel palung ini."
Elin memejamkan matanya, menahan perih di sekujur tubuhnya. Ia berhenti melawan secara fisik. Ia teringat apa yang pernah dikatakan Alana di malam-malam sunyi mereka: Emosi manusia adalah satu-satunya frekuensi yang tidak memiliki pola matematis, ia adalah kekacauan yang indah.
Ia mulai memanggil memori tentang Nagasari. Bukan memori tentang perang atau rasa sakit, tapi memori tentang detail terkecil yang membuatnya merasa hidup: aroma tanah basah setelah hujan petir, suara tawa penduduk desa saat pesta panen, dan rasa hangat telapak tangan Alana yang sedikit bergetar saat mereka duduk diam di beranda. Ia mengumpulkan semua rasa "kemanusiaan" itu dan menekannya menjadi satu titik api yang membara di tengah dadanya.
Darah biru gelap di nadinya mulai mendidih, memberontak terhadap cairan mesin yang mengungkungnya. Ia bukan lagi sekadar penangkal petir pasif. Ia mulai menjadi pemancar.
Di Kota Karang
Alana baru saja akan melepaskan ledakan energi besar ke arah sosok tiruan Elin ketika ia merasakan sebuah interupsi frekuensi yang aneh. Di tengah frekuensi samudera yang dingin dan monoton, muncul sebuah nada yang sangat akrab sebuah "suara" yang beraroma teh melati dan kayu tua yang hangat.
Alana... jangan lepaskan cahayanya... itu umpan... aku di sini...
Alana terpaku. Ia menoleh dengan tajam ke arah sebuah bangunan berbentuk kubah di kejauhan yang tersembunyi di balik barisan tabung kristal. Di sana, ia melihat Elin yang asli, layu di dalam cairan biru. Ia menyadari seketika bahwa sosok di depannya hanyalah "hologram biologis" yang dirancang untuk memancing amarahnya agar melepaskan energi puncak.
"Jadi itu permainanmu, Silas?" Alana berbalik, tatapannya kini bukan lagi penuh ketakutan, melainkan penuh otoritas yang dingin dan menusuk.
Sosok tiruan di depannya mulai kehilangan bentuk, mencair menjadi massa air hitam yang kembali ke lantai. Silas keluar dari balik bayang-bayang tiang karang, memegang sebuah kendali kristal yang berpendar merah.
"Kau terlambat menyadarinya, Sang Navigator. Gerbangnya sudah mulai terpicu oleh amarahmu tadi," Silas menunjuk ke arah gerbang raksasa dari logam kuno di belakang mereka.
Pintu besar itu mulai bergetar hebat. Retakan cahaya putih yang menyilaukan mulai muncul di sela-sela logamnya yang berkarat. Samudera di sekitar kota karang mulai berputar, menciptakan pusaran gravitasi maut yang akan menarik seluruh daratan di atas sana ke dalam palung jika gerbang itu terbuka sepenuhnya tanpa kendali penyeimbang.
"Kau butuh penyeimbang untuk membuka gerbang itu secara aman, bukan? Kau butuh aku dan Elian sebagai kunci hidup," Alana melangkah maju, guratan emas di tubuhnya kini bersinar hingga ke ujung jarinya, membelah kegelapan ruangan. "Tapi kau lupa satu hal tentang hukum kakekku. Elian bukan hanya penyeimbang kekuatanku. Dia adalah alasanku untuk tetap menjadi manusia di tengah semua kegilaan ini!"
Alana tidak menyerang Silas secara langsung. Ia justru melakukan hal yang paling tidak masuk akal: ia berbalik dan menghantamkan kedua tangannya ke dinding kaca raksasa yang menahan jutaan ton air samudera.
"Alana, apa yang kau lakukan?! Kau akan membunuh kita semua!" teriak Silas, wajahnya berubah menjadi topeng kepanikan.
"Aku akan membawa samudera ini masuk ke dalam frekuensiku, daripada membiarkanmu membawanya keluar!" jawab Alana dengan suara yang menggetarkan fondasi palung. "Jika kau ingin gerbang ini terbuka, maka kau harus menerima seluruh cahaya langit yang kubawa ke dalamnya sekarang juga!"
Kaca raksasa itu pecah dengan suara ledakan yang memekakkan telinga. Jutaan ton air laut menghantam kota karang dengan kekuatan kiamat yang menghancurkan segala instrumen Silas. Namun, Alana tidak tenggelam. Ia berdiri tegak di tengah pusaran air yang menggila, memegang tangan Elian yang baru saja pecah dari kapsulnya berkat gelombang kejut Alana.
Saat cahaya indigo langit dari tubuh Alana bertemu dengan kegelapan samudera dari nadi Elian di dalam raga mereka yang bersentuhan erat, sebuah ledakan putih murni yang buta terjadi sebuah frekuensi absolut yang belum pernah tercatat dalam sejarah ribuan tahun kakek Surya. Di tengah ledakan putih itu, sosok Arlo muncul kembali. Namun, ia tidak lagi dalam bentuk cahaya perak yang lembut. Ia mengenakan seragam tempur baja hitam yang sama dengan Arthur Vance, dan ia berkata dengan nada yang membuat jantung Alana berhenti sesaat:
"Kerja bagus, Alana. Akhirnya, tahap ketiga dari eksperimen ini bisa dimulai. Terima kasih telah menghancurkan segel terakhir untukku."