Gibran Tanuwijaya Gilbert, duda anak satu yang harus merelakan kepergian istrinya disaat lagi sayang-sayangnya, cinta Gibran sangat besar terhadap almarhum istrinya sehingga membuat Gibran menutup hatinya rapat-rapat untuk wanita manapun.
Kehadiran Livia yang merupakan guru sang anak mampu memporak-porandakan hatinya. Livia yang merupakan seorang janda tanpa anak itu sangat menyayangi anak Gibran begitu pun sebaliknya.
Akankah Gibran tetap menutup rapat hatinya atau akan menuruti keinginan anaknya yang sangat menginginkan seorang Ibu?
Supaya nyambung dan kalian tahu siapa Gibran, kalian baca dulu CINTA DOSEN GENIUS...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
💔
💔
💔
💔
💔
Setelah puas bermain sepak bola, Gibran dan Livia terduduk di lantai dengan napas yang masih ngos-ngosan.
"Mas sudah berapa lama jadi donatur disini?" tanya Livia.
"Hmm..kira-kira lima tahunan."
"Oh, pantas saja aku ga pernah melihat Mas karena waktu itu aku sudah keluar dari Panti ini dan mengajar di Bali."
"Wah, kamu ngajar sampai Bali juga?"
"Iya Mas, dulu ada tawaran ngajar disana dan gajinya pun lumayan besar jadi aku pergi kesana."
"Terus sekarang kenapa kamu memilih ngontrak, kenapa kamu tidak tinggal disini saja?"
"Coba Mas lihat, anak-anak yang tinggal di Panti ini semakin banyak bahkan mereka ada yang hanya tidur di ruang tv karena tidak kebagian kamar, masa iya aku yang sudah bisa mencari uang sendiri masih harus tinggal disini kasihan anak-anak yang lainnya."
"Aku baru tahu kalau kamu ternyata dibesarkan disini? aku baru tahu barusan karena tidak sengaja melihat ada foto kamu disini, selama aku kesini aku tidak pernah lama hanya menyerahkan uang kepada Bu Lastri habis itu pergi lagi jadi tidak sadar kalau ada foto kamu juga disana," seru Gibran.
"Iya Mas, aku anak Panti orang tuaku membuangku," sahut Livia dengan menundukan kepalanya.
"Kalau orang tuamu tahu, sekarang puterinya tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan baik hati pasti mereka akan menyesal karena sudah membuang kamu."
Livia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Gibran. "Tidak Mas, mereka sudah membuangku dan itu artinya mereka tidak menginginkan kehadiranku jadi tidak akan ada kata menyesal buat mereka."
Gibran dan Livia mendadak terdiam tidak ada satu pun yang berbicara hingga akhirnya Livia pun bangkit dari duduknya.
"Maaf Mas, sudah sore aku mau pamit dulu kepada Bu Lastri."
"Ya sudah barengan saja, aku juga mau pamit takutnya Gilsya sudah pulang dan mencari aku."
Gibran dan Livia pun menemui Bu Lastri untuk pamitan, setelah pamitan keduanya pun pergi dari rumah Panti itu. Gibran melihat Livia yang sedang mengotak-ngatik ponselnya.
"Kamu sedang apa?"
"Lagi mau pesan GRAB, Mas."
"Sudah ayo masuk, biar aku antarkan kamu pulang."
"Tidak usah Mas, rumah kita itu berlawanan arah nanti merepotkan lagi dan Mas pun pasti bakalan ribet karena harus putar arah."
"Ayo masuk jangan banyak alasan, lagipula ini sudah sore bahaya kalau pulang sendirian."
Sesaat Livia terlihat berpikir, hingga akhirnya Livia pun menyetujui ajakan Gibran. Livia pun segera masuk ke dalam mobil Gibran dan Gibran mulai melajukan mobilnya menuju kontrakan Livia.
"Mas, tolong sampaikan permintaan maafku kepada Gilsya."
"Tidak mau, bilang saja sendiri," sahut Gibran.
"Ishh..."
Tidak lama kemudian mobil Gibran pun sampai di depan kontrakan Livia dan Livia pun segera turun.
"Terima kasih Mas."
"Iya."
Livia pun segera masuk ke dalam kontrakannya, baru saja Gibran akan melajukan mobilnya tiba-tiba ponselnya berbunyi dilihatnya nama Mommy Tasya disana.
📞"Hallo, ada apa Mom?"
📞"........"
📞"Apa? baiklah Gibran akan segera kesana."
Gibran pun memutuskan sambungan teleponnya dan langsung menuju tempat yang sebutkan oleh mertuanya itu.
***
Saat ini Mommy Tasya dan Daddy Alvian sedang berada di rooftop kantor Daddy Alvian, bahkan Alta dan Bee pun sudah ada disana. Dibawah semua karyawan sudah bersiap dengan segala alat-alat yang dibutuhkan.
Nasya terlihat berdiri di ujung gedung, dia berniat ingin bunuh diri karena merasa patah hati dan malu oleh Gibran karena sudah ketahuan mengancam Livia.
"Nasya sayang, kamu jangan nekad ayo turun Nak," seru Mommy Tasya dengan deraian airmata.
"Iya sayang, kita bicarakan baik-baik," sambung Daddy Alvian.
"Apa kurangnya Nasya, kenapa Kak Gibran membenci Nasya!" teriak Nasya.
Alta dan Bee hanya bisa menghembuskan napasnya, mereka tahu bagaimana sikap Gibran sampai kapan pun Gibran tidak akan bisa mencintai Nasya tapi Nasyanya saja yang terlalu memaksakan kehendaknya.
"Sayang, ayo turun kita bicarakan baik-baik ya Daddy janji akan bicara kepada Gibran."
"Tidak Daddy, Kak Gibran sudah sangat membenci Nasya. Selama ini Nasya tinggal jauh dari kalian, Nasya juga ingin seperti Alsya yang banyak disayangi oleh semua orang!" teriak Nasya.
"Kalau kamu ingin seperti Alsya, rubah kelakuan kamu!" seru Gibran.
Semua orang menoleh ke arah Gibran, Gibran sudah berdiri disana dengan kedua tangan dia masukan ke dalam kantong celananya.
"Memangnya kelakuan aku seperti apa Kak? kenapa Kakak benci sekali kepadaku? padahal aku itu tulus menyayangi Gilsya tapi kenapa Kakak malah memilih Guru Gilsya dibandingkan aku yang sudah lama menyukaimu."
"Pertama aku tidak menyukaimu, kedua sifat kamu membuat aku muak, ketiga kamu selalu memaksakan kehendak kamu tanpa memikirkan perasaan orang lain dan itu bertolak belakang dengan sikap Alsya mangkanya Alsya banyak disukai semua orang," seru Gibran.
Gibran perlahan mendekati Nasya tapi Nasya sedikit demi sedikit malah mundur. "Jangan mendekat Kak, atau aku akan loncat!" teriak Nasya.
"Loncat saja kalau kamu mau," seru Gibran dengan santainya sembari terus mendekati Nasya.
"Gibran!" teriak Daddy Alvian.
Daddy Alvian tidak terima Gibran berkata seperti itu, Daddy Alvian berniat menghampiri Gibran tapi Alta menahannya.
"Percayakan semuanya pada Gibran," seru Alta.
Perlahan tapi pasti Gibran pun berdiri tepat di samping Nasya yang sudah berderai airmata.
"Kenapa diam? bukannya kamu mau bunuh diri? ayo loncat!" seru Gibran.
Nasya terlihat bergetar melihat ketinggian gedung itu membuat dirinya kembali mundur.
"Kamu itu bisanya hanya menggeretak saja, kalau kamu niat bunuh diri kamu tidak akan mengumpulkan orang sebanyak ini untuk melihat adegan bunuh diri kamu," seru Gibran.
Dengan cepat Gibran menarik tangan Nasya sehingga Nasya pun turun.
"Perbuatanmu itu sungguh konyol, memangnya dengan kamu mengancam bunuh diri akan membuat hati aku menjadi luluh? tidak Nasya. Kamu itu cantik pasti diluar sana banyak pria yang mengantri untuk mendapatkan cinta kamu tapi maaf aku tidak bisa aku hanya menganggap kamu sebagai adik tidak lebih jadi tolong kamu mengerti."
Nasya menundukkan kepalanya dengan airmata yang terus mengalir, Gibran yang merasa terenyuh dengan Nasya akhirnya menarik tubuh Nasya ke dalam pelukannya.
"Aku yakin kamu adalah wanita baik, dan aku juga tahu kamu tulus menyayangi Gilsya tapi maaf aku tidak bisa menjadikan kamu sebagai Maminya Gilsya, semoga kamu bahagia dan mendapatkan pria tulus yang benar-benar mencintai kamu," seru Gibran.
Nasya tidak bisa bicara, dia hanya bisa menangis tersedu-sedu dipelukan Gibran begitu pun kedua orang tua Nasya hanya bisa menangis terharu.
💔
💔
💔
💔
💔
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Monica emang ga waras mau membunuh bapak angkat nya.
ga waras, Gila