Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.
Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.
Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Bertanding Di Kandang Lawan
Aku, Firman, dan Tato yang terpilih dalam tim sepakbola diberi kesempatan beristirahat penuh setelah penyerahan simbolis bantuan sosial ke Desa Tumiyang.
Waktu yang diberikan kami manfaatkan untuk tidur setelah semalaman mengikuti jurit malam.
Sebenarnya Aku ragu apakah nanti sore kami bisa main tanpa rasa lelah.
"Kenapa malah ada acara main bola setelah begadang," gumam Firman. "Apalagi kita malah istirahat di tenda," keluhnya lagi.
"Mungkin pak Tarjo sedang menguji kita Man .... Toh nanti di turnamen tujuh belasan kita juga main dua hari sekali," jawabku.
"Ya sih ... cuma kita kan tidur di kasur bukan kayak gini ... tidur di tikar." Firman terkekeh mentertawakan nasib tim sepakbola kami.
"Sudahlah masih mending kita diberi waktu istirahat. Lumayan loh ada sejam dua jam jika kita manfaatkan," timpal Tato.
Tak mudah untuk memejamkan mata jika bersama teman akrab. Untungnya tak ada Erwin yang sedang mengambil seragam dan sepatu tim saat kami mencoba tidur.
Jika ada bocah itu sudah pasti kami bakalan repot dengan ocehannya seperti semalam.
***
Sepulang jurit malam Erwin terus ribut menyoal rencana pengambilan seragam dan sepatu tim bola bersama Arin.
Terantuk batu nisan di kuburan membuat jidatnya benjol sebesar bakso.
"Pokoknya gimana caranya biar besok kempes Jul," pinta Erwin memelas saat kami selesai mengikuti jurit malam.
"Tapi kamu ndak pusing kan ?" tanya Juli.
"Demi Arin .... gegar otak pun tak kan kurasakan." Seringai Erwin mulai keluar, membayangkan berduaan bareng idaman hatinya.
"Ah mana mungkin kamu gegar otak," bantah ku sengit mendengar bualan Erwin. "Kamu tuh gegar otak kalau bokong mu yang kena hantaman benda keras !" sambung ku.
"Apa kamu gak paham biologi dengan cidera kepala ku Pras !" Bocah jabrik itu masih ngeyel. Bibirnya mulai menyeringai merasakan pijitan tangan Juli di jidat nya yang benjol, "aduh, pelan Jul," keluhnya kemudian.
"Paham .... Justru karena itu Aku tahu otakmu ada di bokong," sela ku. Kantuk ku hilang entah ke mana melihat kesialan Erwin meringis menerima pijitan Juli.
Seisi tenda tertawa mendengar perbantahan diriku dengan Erwin.
Begitulah akhirnya, kami malah saling mengolok dan mengobrol sampai jam empat pagi.
Yang menjadi obrolan semakin seru di tenda sangga Yos Sudarso tentu saja keberhasilan sangga kami yang berhasil mendapat poin tertinggi di acara jurit malam berkat keberhasilan kami menemukan bendera merah putih di acara itu.
Sangga Yos Sudarso menurutku banyak dinaungi keberuntungan. Tanpa persiapan dengan anggota sangga yang tak punya kemampuan mumpuni malah membuat sangga kami diperhitungkan dalam Kemah Bakti Sosial.
Keberadaan diriku, Firman, dan Tato dalam tim sepakbola yang akan melawan tim pemuda kampung setempat juga membuat anggota sangga Yos Sudarso senang.
Setidaknya imej bocah warung yang semaunya sendiri terpatahkan dengan apa yang dilakukan sangga Yos Sudarso selama mengikuti perkemahan.
Tinggal pertandingan sepakbola itu yang akan kami ikuti di acara terakhir perkemahan.
"Yang penting kamu jangan macem-macem Win," pesan Firman saat kami mulai membahas pertandingan sepakbola itu. "Dah, aku mau tidur dulu."
Tumben malam itu Erwin tak banyak tingkah. Mungkin jidatnya yang benjol lebih dipikirkannya. "Dah kalian tidur dulu, besok pagi aku juga banyak urusan dengan Arin," katanya sebelum kami semua tidur dengan pikiran masing-masing ....
***
"Bangun Pras !" Tato yang paling awal terbangun mulai membereskan isi tenda.
"Jam berapa ?" tanya ku. Meregangkan otot kaki dan tangan, Aku masih berbaring setelah pulas tertidur lagi pagi tadi.
"Baru jam dua an," jawab Tato.
"Ok ..... Kita beres-beres sambil tunggu Erwin dan yang lain." Aku bergegas bangun membantu Tato dan Firman yang sibuk membersihkan sampah.
Sebagian peserta kemah sudah kembali ke lapangan setelah mengikuti kerja bakti.
Masing-masing sangga mulai membongkar tenda.
Jam empat sore nanti lapangan tempat kami berkemah harus sudah siap untuk dipakai bermain bola, sebelum upacara penutupan Kemah Bakti Sosial.
Tak lama Igun, Iwan, Juli, dan Toni terlihat datang mendekat.
"Dah kalian tunggu aja di sana," kata Juli setelah bergabung dan menyuruh Aku, Firman, dan Tato menyingkir ke keteduhan pepohonan di pinggir lapangan.
Lapangan sepakbola yang memanjang dari Utara ke Selatan membuat sinar matahari sore terpayungi kanopi pepohonan di sisi Timur dan Barat lapangan Desa Tumiyang.
Tribun alami dari batang pohon yang sengaja di tata rapi di sisi Barat dan Timur lapangan membuat siapapun betah duduk-duduk di situ. Kontur nya yang lebih tinggi membuat pandangan penonton tak terhalang jika melihat ke sisi lapangan dari situ.
"Enak juga nonton dari sini Pras," kata Tato setelah kami duduk di sana.
"Kan pak Kades kayak pak Tarjo, senang sepakbola. Pantas saja kenyamanan dan lapangan untuk bermain diperhatikan betul." Aku membenarkan ucapan Tato.
"Kayaknya itu Tribun penonton VIP." Tunjuk Firman ke arah bangunan dekat tenda panitia.
Ada beberapa kamar mandi dan WC berderet memanjang di bangunan itu.
Beberapa penduduk setempat mulai berdatangan ke bangunan itu dan mulai menggelar beberapa kursi di dibawah tenda panitia.
"Tuh Erwin datang," kata Firman lagi melihat mobil yang memasuki pinggir lapangan.
Beberapa anggota tim sepakbola kami kulihat mulai mendekat ke arah mobil yang terparkir.
"Yuk kita ke sana !" ajak Firman melihat Erwin mulai menurunkan dan membagikan seragam dan sepatu yang di di ambilnya dari sekolah.
Dan seperti yang kuduga, Erwin memanfaatkan betul kesempatan berdekatan dengan Arin. Berkali-kali dia sengaja menempel dekat saat membagikan seragam dan sepatu dari atas mobil ....
***
"Wah si Raden kok ada di sini !" Firman mencolek tanganku.
"Aduh si brengsek .... Bakalan rame nih." Sontak saja Aku terperanjat mengenali sosok yang ditunjuk Firman barusan.
Ya .... Sosok itu si Pram. Musuh bebuyutan Aku, Firman, dan Erwin sejak kami tinggal bersama di kampung Sokanegara.
Si Pram yang juga sama terkejutnya dengan kami menyeringai ke arah ku saat berpapasan.
"Halo pren .... Kita ketemu lagi." Aku berbasa basi mencoba membuka percakapan.
Dan sepertinya si Pram masih menyimpan dendam masa lalu kepadaku. Melengos pergi tak menjawab sapaan ku, lalu beringsut bergabung dengan rombongan pemain calon lawan kami.
"Wah dia ikut main rupanya .... pakai nomer lima .... Bakalan ketemu kamu Pras." Melihat si Pram memakai seragam lawan, Firman memperingatkan diriku. Apalagi dia memakai nomer punggung bek tengah. Bek sentral yang mau tidak mau akan sering berhadapan dengan diriku nanti.
"Masalahnya dia main keras atau tidak Man," jawabku.
Bukan takut dengan si Pram yang mendadak saja muncul. Yang kutakutkan adalah jika pertandingan nanti menjadi tidak fair.
Memang ada wasit sih, tapi apa wasit akan membiarkan permainan keras yang berpotensi menimbulkan persinggungan emosi antar pemain, itulah yang mengusik pikiranku.
Dan Aku yakin itu bakalan terjadi melihat seringai sengit si Pram ke arahku tadi ....
***
hehe ada ada aja kelakuan Pras sama teman-temannya
sebagai gen z merasa bersyukur karena ospek paling pake name tag kardus, cari tanda tangan osis, 😭😭🐳