Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkit dari Keterpurukan
☘️ FLASHBACK
Demam yang melanda tubuh Alesha akhirnya perlahan surut setelah tiga hari terbaring lemah.
Namun meski suhu badannya kembali normal, hatinya terasa masih membeku, seolah terendam dalam genangan kesedihan yang tak kunjung surut.
Ketika ia akhirnya mampu bangun dan melangkah keluar kamar, tatapannya terasa kosong, senyumnya hilang, dan kata‑katanya menjadi sangat sedikit.
Bagi orang lain, ia terlihat seperti gadis yang pasrah menerima kenyataan, padahal di dalam dirinya, ada kekacauan besar yang berusaha ia kendalikan dengan cara yang paling ekstrem, yaitu mematikan perasaannya sendiri.
Ia sadar, jika terus larut dalam tangisan dan penyesalan, ia hanya akan tenggelam lebih dalam dan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Pesan perpisahan yang dikirimkannya kepada Zehar, janji sepuluh tahun yang diikatkan dengan bantuan keluarga Argantara, serta beban harapan kedua orang tuanya, semua itu baginya adalah lumpur tebal yang mencoba menariknya ke dasar.
Untuk bisa keluar, ia harus menemukan pijakan yang kuat, dan satu‑satunya hal yang bisa ia kendalikan saat itu adalah otak dan tenaganya sendiri.
“Kalau hati sudah tidak bisa aku andalkan, biarkan saja ia mati sebentar. Biarkan akal dan cita‑citaku yang memimpin jalan,” gumamnya dalam hati, membuat keputusan yang tegas namun terasa sangat pahit.
Sejak hari itu, hidup Alesha berubah total. Ia menghapus segala kenangan yang bisa mengingatkannya pada masa lalu, menyimpan foto‑foto lama ke dalam kotak tertutup, menyisihkan benda‑benda pemberian, dan memblokir semua saluran komunikasi yang bisa menghubungkannya dengan Zehar atau lingkaran pertemanan lama yang mungkin membawanya kembali pada kesedihan.
Waktunya kini terbagi hanya menjadi dua hal, belajar dan membantu pekerjaan rumah tangga.
Ia tidak lagi memiliki waktu untuk melamun, tidak lagi memikirkan apakah hatinya sedang sakit atau hancur. Ia menganggap perasaan itu sebagai gangguan yang harus dibungkam seketika.
Di kampus, Alesha menjadi sosok yang tak kenal lelah. Ia selalu datang paling awal dan pulang paling akhir.
Setiap mata kuliah dicatatnya dengan sangat rinci, setiap buku bacaan dibacanya hingga selesai, dan setiap tugas dikerjakannya jauh sebelum batas waktu yang ditentukan.
Jika teman‑temannya menghabiskan waktu luang untuk bersantai atau berkumpul, Alesha justru memanfaatkannya di perpustakaan, mempelajari materi lebih dalam dan mencari pengetahuan tambahan di luar kurikulum kuliah.
Reyhan yang melihat perubahan drastis pada putrinya merasa khawatir. Ia tahu ini adalah cara Alesha melindungi dirinya dari rasa sakit, namun kadang melihatnya bekerja terlalu keras membuat hatinya terasa perih.
Sedangkan Zaskia, ia merasa ini adalah hal wajar. Ia malah melihat putrinya dengan perasaan kagum tanpa perduli apa yang ada dalam hati gadis itu.
Tapi sebagai seorang ibu, ia tetap menunjukkan rasa pedulinya terhadap anak yang ia lahirkan sendiri.
“Alesha, Nak… istirahatlah sebentar. Sudah tengah malam, matamu pasti sudah lelah,” ujar Zaskia suatu malam sambil membawakan segelas susu hangat ke meja belajar putrinya.
Alesha hanya mengangkat wajah sebentar, matanya terlihat sayu namun tetap tegas.
“Tidak apa‑apa, Bu. Semakin banyak yang aku pelajari, semakin sedikit ruang di kepalaku untuk memikirkan hal‑hal yang tidak perlu. Biarkan saja aku begini, ini lebih baik daripada menangis tanpa arah.”
Zaskia hanya bisa menghela napas panjang dan meninggalkannya, menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa mengubah tekad putrinya saat itu.
Di tengah fokusnya yang tinggi, kehadiran Erhan menjadi satu‑satunya gangguan yang harus ia hadapi setiap hari.
Sesuai kesepakatan, Erhan memang berusaha mendekatinya, datang berkunjung ke rumah sesekali, menjemputnya ke kampus, atau mengajaknya makan di luar.
Sikap Erhan memang sopan, perhatian, dan tidak pernah memaksakan kehendak, namun bagi Alesha, kehadirannya terasa seperti pengingat terus‑menerus bahwa kebebasannya telah terikat.
Ia melihatnya bukan sebagai calon pasangan, melainkan sebagai bagian dari harga yang harus dibayarkan demi keamanan keluarganya.
“Kamu tidak perlu menjemputku, Mas Erhan. Aku bisa pulang sendiri,” ujar Alesha suatu sore dengan nada datar, tanpa senyum sedikit pun.
Erhan tersenyum sabar, sudah memahami sikap dingin gadis itu.
“Aku tahu kamu bisa, Alesha. Aku hanya ingin memastikan perjalananmu aman. Ingat, kita sepakat untuk saling mengenal tanpa tekanan. Aku tidak akan memaksamu untuk menyukaku dalam waktu singkat. Aku hanya ingin ada jika kamu butuh bantuan apa pun.”
Kata‑kata itu memang jujur, namun bagi Alesha, tetap saja terasa mengganggu.
Ia menjawab seperlunya, berbicara seperlunya, dan menjaga jarak emosional sejauh mungkin. Ia tidak ingin membuka sedikit pun celah di hatinya yang sudah ia tutup rapat.
Ia memang membiarkan Erhan mendekat, namun ia memastikan perasaannya tetap diam, tidak tumbuh, dan tidak bergerak sedikit pun.
Fokus utamanya tetap satu, yaitu belajar dan menjadi mandiri.
Bulan demi bulan berlalu, dan kerja keras Alesha mulai membuahkan hasil. Dalam setiap ujian semester, ia selalu menduduki peringkat teratas.
Prestasinya menarik perhatian para dosen dan rektor kampus.
Ia aktif dalam diskusi ilmiah, mengikuti seminar, dan bahkan mulai menulis makalah yang dipublikasikan di jurnal kampus.
Kesedihan yang dulu melumpuhkannya kini berubah menjadi api yang membakar semangatnya, membuatnya melaju lebih cepat dari teman‑temannya yang lain.
Hingga tibalah saat kelulusan.
Di tengah ruang upacara yang penuh dengan keluarga dan tamu undangan, nama Alesha disebut sebagai lulusan terbaik angkatannya, dengan indeks prestasi kumulatif yang hampir sempurna.
Saat menerima piagam penghargaan dan berjalan ke depan panggung, tatapannya tenang, tidak ada rasa berlebihan, hanya rasa lega karena satu tahap sudah ia lewati dengan baik.
Reyhan dan Zaskia menangis haru di tempat duduk mereka, merasa bangga sekaligus sedih melihat betapa beratnya jalan yang harus ditempuh putri mereka untuk mencapai titik ini.
Di sisi lain, Argantara dan keluarganya juga hadir, tersenyum puas melihat calon menantu mereka terbukti memiliki kualitas yang luar biasa.
Setelah lulus, kesempatan berikutnya datang dengan sendirinya.
Argantara mengusulkan agar Alesha mendaftar pada program manajemen trainee di perusahaannya sendiri, Argantara Investama, sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang keuangan, properti, dan perdagangan dengan jaringan yang luas.
“Alesha, ini kesempatan yang sangat bagus. Program ini hanya menerima lulusan terbaik dan persaingannya sangat ketat. Jika kamu bisa lolos, karirmu akan terjamin dan kamu bisa belajar banyak hal untuk masa depanmu,” ujar Argantara saat mengajukan tawaran itu.
Mendengar nama perusahaan itu, hati Alesha sedikit berdebar.
Ia sadar, bekerja di sana berarti ia akan semakin dekat dengan keluarga itu, semakin terikat pada kesepakatan yang ada.
Namun di sisi lain, ia juga menyadari bahwa ini adalah jalan tercepat untuk menguasai kemampuan, mengumpulkan pengalaman, dan suatu hari nanti mungkin memiliki posisi yang lebih baik.
Ia tidak ingin selamanya dianggap sebagai orang yang hanya hidup karena belas kasihan mereka.
Ia ingin membuktikan bahwa ia memiliki nilai lebih dari sekadar janji perjodohan.
“Aku bersedia mencoba, Pak. Aku akan mengikuti seleksinya seperti pelamar lain, tanpa bantuan khusus apa pun,” jawab Alesha dengan nada tegas.
Argantara mengangguk menghargai sikap itu.
“Baiklah, akan aku atur agar kamu mengikuti prosedur yang sama dengan peserta lain. Mari kita lihat kemampuanmu yang sesungguhnya.”
Dalam proses seleksi yang meliputi tes tulis, wawancara, dan studi kasus, Alesha tampil dengan kemampuan yang jauh di atasrata-rata.
Pengetahuannya yang luas, kemampuan analisis yang tajam, serta ketenangan dalam menghadapi tekanan membuat para tim penilai terkesan.
Tanpa perlu bantuan orang dalam, ia dinyatakan diterima secara resmi masuk ke program manajemen trainee.
Hari pertama masuk kerja, Alesha melangkah masuk ke gedung perkantoran megah itu dengan kepala tegak.
Ia tahu di sini ia akan berada di lingkungan yang terkait erat dengan Erhan dan keluarganya, namun ia memutuskan untuk bekerja secara profesional sepenuhnya.
Ia datang lebih awal, pulang paling lambat, mempelajari setiap tugas yang diberikan dengan teliti, dan membuktikan bahwa posisinya di sana bukan karena koneksi, melainkan karena kemampuan yang ia miliki.
Orang‑orang di sekitarnya melihatnya sebagai sosok yang cerdas, rajin, dan pendiam.
Mereka tidak tahu bahwa di balik kesuksesan yang mulai ia raih itu, ada hati yang masih terbungkus rapat, masih menyimpan luka lama, dan masih berjalan maju hanya karena ambisi yang dibangun di atas puing‑puing perasaannya.
Alesha telah bangkit dari lumpur keterpurukan, berdiri tegak dengan kemampuan sendiri, meski jalan yang ia pilih terasa sepi dan berat.
Ia telah mengubah segalanya, kecuali satu hal, ia tetap menunggu, sabar menjalani waktu, dan berharap bahwa di akhir masa sepuluh tahun itu, ia masih bisa memiliki kendali atas nasibnya sendiri.
kalah saing kmu erhan
real sahabat ini mah😍
kalau bisa up banyak y. plis 🙏